<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162</id><updated>2012-01-19T20:41:06.142+07:00</updated><category term='lomba web log'/><category term='sekolah'/><category term='pendidikan'/><category term='SEAMOLEC'/><title type='text'>Essay-essay Pemikiran Pendidikan</title><subtitle type='html'>Blog ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang peduli dengan dinamika Pemikiran Pendidikan. Permasalahan-permasalahan pendidikan baik yang bersifat filosofis, maupun dalam tataran praxis, penulis uraikan dalam blog ini, khususnya pendidikan di Indonesia.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>85</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4738171197364800170</id><published>2011-09-20T08:43:00.001+07:00</published><updated>2011-09-20T08:43:31.085+07:00</updated><title type='text'>Disparitas Pendidikan</title><content type='html'>Kesenjangan pendidikan semakin nyata kita temui. Bukan dari perspektif geografis antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat yang sering didiskursuskan, tetapi kesenjangan itu kini semakin dekat jaraknya, antara sekolah di kota dan di pinggiran dalam satu wilayah, antara yang berlabel dan tidak berlabel, antar jenis atau rumpun pendidikan, atau antar yayasan yang saling berebut pangsa pasar dalam memperoleh siswa baru. Disparitas pendidikan tidak saja menandakan bahwa kastanisasi pendidikan benar adanya, tetapi juga kurangnya penghayatan dari pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan atas eksistensi sekolah. Dengan mudah kesenjangan itu dapat kita lihat dengan mata telanjang bagaimana sekolah-sekolah yang dianggap sebagai dewa penolong masyarakat dalam membangun knowledge anaknya telah penuh sebelum penerimaan peserta didik baru dimulai, adanya sumbangan pendidikan yang sifatnya memilih dengan besaran yang variatif, dan tentu servis dari pendidik yang deskriminatif. Pendidik cenderung memilih lembaga pendidikan dengan kasta lebih tinggi dengan asumsi insentif tambahannya akan linier dengan  kelas sekolahnya.Disparitas pendidikan akan semakin nyata terlihat jika kita mencermati sekolah di pinggiran. Pada tingkat SD/MI dan SMP/MTs di daerah pinggiran terutama sekolah swasta mulai kesusahan mendapatkan siswa baru. Munculnya banyak yayasan yang mendirikan lembaga pendidikan  menjadi sumber utama meruncingnya persaingan sekolah dalam mendapatkan siswa. Maklum, eksistensi sekolah swasta bergantung jumlah siswanya, semakin banyak siswa yang diperoleh semakin banyak pula dana yang akan diperolehnya.Kasus penerimaan peserta didik baru yang berlangsung beberapa minggu yang lalu sungguh mengusik hati penulis. Di daerah pinggiran, persaingan mendapatkan siswa baru sungguh gila-gilaan. Tak ubahnya coblosan pemilihan lurah atau presiden, dalam kasus ini dikenal pula istilah serangan fajar, pembagian semboko, dan tentu dibumbu-bumbui dengan agitasi murahan. Banyak sekolah yang menerapkan sistem ijon sebagaimana tengkulak padi yang membeli padi sebelum siap dipanen.Banyak pengelola pendidikan yang sudah gerilya untuk merayu calon peserta didik baru sebelum kelulusan diumumkan. Dengan spanduk, promo ke sekolah, dan yang lebih tragis lagi adalah door to door dengan iming-iming sekolah gratis, dibawakan seragam, dan tak lupa pula orang tuanya dirayu dan diyakinkan untuk sekolah yang dikelolanya. Bahkan guru dan pihak lain pun diberi kesempatan untuk mensukseskan promosi penerimaan peserta didik baru. Ada sekolah yang menghargai satu siswa dengan bonus Rp 20.000,- sampai dengan Rp 50.000,- kepada individu yang turut andil mendaftarkan calon siswa ke lembaga pendidikan yang dikelolanya.Pada level SMP/MTs lebih parah lagi, pengelola sekolah/yayasan sudah mengkalkulasi dulu untung dan ruginya mengeluarkan budjet untuk promosi. Untung dan rugi tersebut berdasar pada dana BOS yang akan diterimanya. Dengan besaran BOS sekian, dana promosi sekian, akan dengan mudah diperoleh besarnya keuntungan yang didapat. Belum lagi dampak ke depan, jika siswa banyak maka diharapkan memperoleh grant yang banyak pula dari lembaga donor/pemerintah.Dengan berbagai propaganda, orang tua siswa di daerah pinggiran penulis cermati mudah untuk tergoda, maklum sekolah gratis plus mendapatkan sedikit fasilitas seperti seragam dan buku akan meringankan beban ekonomi yang semakin hari semakin berat. Berbeda dengan orang tua siswa yang memiliki perekonomian kelas menengah ke atas, bujuk rayu itu tidak akan mempan karena mereka memilih sekolah mahal, yang berlabel dan memiliki kasta yang tinggi karena mereka mampu membayarnya.Ada dua fenomena yang paradoksal, sekolah yang dikategorikan bermutu (dengan dibuktikan oleh label yang dimiliki) akan memperoleh banyak dana (keuntungan) dari calon peserta didik yang berlomba-lomba menyumbang dengan pilihan nominal yang tinggi, sementara dipihak lain harus membujuk rayu calon siswa untuk sekolah di lembaga yang dikelolanya dengan harapan memperoleh keuntungan pula, meskipun menggantungkan dari bantuan pemerintah.Dua gambaran tersebut di atas menandaskan bahwa disparitas memang benar adanya, tetapi kesemuanya bermuara pada satu hal yakni perolehan dana (baca: keuntungan). Pendidikan kita, disadari atau tidak telah mengamini, bahkan jauh-jauh hari telah mempraktikkan apa yang menjadi konsensus GATS (General Agrreement on Trade in services) dimana menempatkan pendidikan sebagai bisnis jasa. Dengan malu-malu kita menyadari bahwa ranah pendidikan telah mempraktikkan kapitalisme secara massif. Disparitas pendidikan apapun bentuknya pertanda tidak baik bagi kelangsungan lembaga pendidikan di Tanah Air. Pengambil kebijakan perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurai dan mereduksi disparitas tersebut. Regulasi pendirian sekolah baru harus diperketat, begitu juga standar penerimaan peserta didik baru harus ditetapkan. Dalam konteks pendirian sekolah baru budaya ewuh-pekewuh harus dihilangkan. Penulis mencermati banyak pejabat penentu kebijakan pendirian sekolah baru tak kuasa menahan keinginan tokoh masyarakat yang akan mendirikan sekolah baru, meskipun letak sekolah baru tersebut nantinya berdekatan dengan sekolah yang sudah ada terlebih dahulu. Dalam aturan pendirian sekolah baru yang biasa disosialisasikan, sekolah sejenis pada jenjang sama minimal berjarak 5 km. Namun fakta dilapangan menyimpang dari ketentuan tersebut. Di daerah penulis dalam jarak 5 km ada lima lembaga pendidikan dengan jenis dan tingkat yang sama. Bahkan ada pula sekolah yang saling berhadap-hadapan sehingga persaingannya ketat sekali, bukan dalam wilayah akademik, tetapi dalam memperoleh siswa.Regulasi dalam penerimaan siswa baru juga harus ketat, mencuri start mestinya dilarang. Ketidaktegasan ini berakibat tidak meratanya potensi peserta didik dalam sekolah, disamping kecemburuan antar lembaga yang menjurus pada persaingan tidak sehat. Dengan tindakan tegas dan praktik regulasi yang tidak menyimpang penulis yakin disparitas pendidikan akan tereduksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4738171197364800170?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4738171197364800170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4738171197364800170' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4738171197364800170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4738171197364800170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/09/disparitas-pendidikan.html' title='Disparitas Pendidikan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-8108296500418207865</id><published>2011-09-20T08:40:00.002+07:00</published><updated>2011-09-20T08:40:37.029+07:00</updated><title type='text'>Transformasi Manajemen Madrasah</title><content type='html'>Madrasah sebagai embrio pendidikan pribumi di Tanah Air menempati posisi strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sinergisitas corak kepesantrenan dan pendidikan formal tidak saja membekali peserta didik knowledge (pengetahuan) yang cukup, tetapi juga membentuk peserta didik dengan perilaku (behavior)  yang relatif baik. Belakangan eksistensi madrasah mulai dibanding-bandingkan dengan sekolah umum yang oleh masyarakat diasumsikan  lebih menjanjikan dari sisi kualitas pendidikan. Asumsi, stigma, dan apapun namanya adalah opini yang perlu kita cermati.Membicarakan madrasah sama halnya dengan membicarakan institusi/lembaga Islam yang menyelenggarakan pendidikan formal. Dan apapun yang namanya institusi/lembaga dalam perspektif  Arie de Geus (dalam Kasali, 2006) merupakan sosok makhluk hidup (a living organism). Sebagai sosok makhluk hidup maka eksistensinya karena dilahirkan yang suatu saat akan sakit, tua, bahkan mati.Dalam kaca mata usia, madrasah yang telah lama ada digolongkan sebagai sosok makluk hidup yang telah tua. Karena usianya yang telah tua, madrasahpun tak dapat menghindar dari penyakit tua.  Dalam usianya yang tua yang dibutuhkan adalah individu-individu yang membuatnya berjiwa muda, berpenampilan dewasa (bukan tua), dan perawatan yang baik agar fresh dan berenergi. Dalam konteks ini diperlukan transformasi manajemen madrasah, dari manajemen tradisional ke manajemen modern, dari pendekatan jadul ke pendekatan kekinian.  Transformasi manajemenMunculnya banyak lembaga pendidikan baru disatu sisi menandakan menggeliatnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan dan dilain pihak memunculkan potensi persaingan antar lembaga pendidikan. Baik pendidikan swasta maupun negeri kini menawarkan program unggulan. Ada yang mengklaim sekolah plus, ada yang model full day school, ada yang membuka kelas olimpiad, dan ada pula sekolah alam. Belum lagi sekolah yang terstandarisasi sehingga muncul RSBN, SSN, RSBI, dan SSI.Melihat fenomena yang ada, pengelola madrasah tidak boleh hanya menjadi penonton, apalagi alienatif. Madrasah mau tidak mau harus berevolusi dengan tidak menanggalkan core keilmuannya sebagai pendidikan yang bercita rasa pesantren. Evolusi dalam konteks transformasi manajemen madrasah dimaknai sebagai upaya mempertahankan dan melangsungkan madrasah untuk lebih adaptif, menyesuaikan diri, dan lebih berdaya untuk meneruskan eksistensinya.Transformasi manajemen madrasah dapat merujuk pada dua perubahan manajemen yakni perubahan operasional dan perubahan strategis. Perubahan operasional merupakan perubahan-perubahan kecil yang  sifatnya parsial (Kasali, 2006). Dalam konteks madrasah perubahan parsial dapat berupa perubahan desain kurikulum, seragam sekolah, dan penampilan madrasah. Munculnya banyak sekolah yang uniform-nya mirip tentara merupakan strategis operasional yang bersifat parsial. Madrasah dalam perubahan operasional dan melakukan dekonstruksi kurikulum atas dasar filosofi KTSP, dan redesain tata organisasi madrasah agar lebih smart.Perubahan strategis (strategic change) mengarah pada tiga perubahan mendasar yang meliputi perubahan budaya dan nilai, perubahan arah/fokus, dan perubahan cara kerja. Dalam perubahan budaya (shift culture) tidak boleh tercerabut dari lingkungan madrasah dengan corak dasar kepesantrenan. Budaya unggul yang perlu ditanamkan adalah budaya equalitas (kesamaan) tanpa memandang nasab siapa sehingga kesenjangan kasta dan pengkultusan individu tereduksi, syukur-syukur dihilangkan dan diganti saling menghargai dan menghormati. Budaya ilmiah dengan penemuan, inquiri, dan pendekatan berbasis masalah harus lebih ditanamkan. Begitu juga budaya disiplin dan beretos kerja yang tinggi.Perubahan arah/fokus berorientasi pada keunggulan komparatif yang dibangun. Sebagai sekolah umum yang berciri khas agama madrasah tidak cukup memenuhi standar nasional pendidikan, tetapi harus lebih sebagai keunggulan komparatif yang dimiliki. Ibarat orang jualan, jika semua menjual kecap, maka madrasah harus menjual saos agar tetap diburu pembeli, sebab penjual kecap semuanya mengklaim kecapnya nomor satu. Keunggulan komparatif dapat dibangun dengan basis dua model, model pertama penguatan pada kitab turats dan model kedua pada diversifikasi pendekatan pembelajaran dan life skill untuk menghasilkan lulusan yang kuat dalam keilmuan dan memiliki skill yang sifatnya pragmatis.Perubahan strategis yang ketiga adalah perubahan cara kerja untuk meningkatkan efisiensi dan penghasilan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Dalam perubahan cara kerja yang dibutuhkan oleh pengelola madrasah adalah bagaimana setiap kerja terukur, tidak sekedar berjalan apa adanya. Kerja terukur membutuhkan parameter atau standarisasi. Ini penting dilakukan agar setiap pekerjaan yang dilakukan ada ruh dan semangat kerja. Ruh dn semangat kerja menandakan kinerja yang sungguh – sungguh yang akhirnya bermuara pada hasil yang maksimal, man jadda wa jadda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-8108296500418207865?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/8108296500418207865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=8108296500418207865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8108296500418207865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8108296500418207865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/09/transformasi-manajemen-madrasah.html' title='Transformasi Manajemen Madrasah'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7519504018905182444</id><published>2011-06-18T08:21:00.000+07:00</published><updated>2011-06-18T08:22:45.667+07:00</updated><title type='text'>Altruisme Guru</title><content type='html'>UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dan diikuti PP No. 74 Tahun 2008 tentang guru menempatkan pekerjaan guru sebagai sebuah profesi. Dan  profesionalitas guru  sesuai dengan produk hukum di atas ditempuh melalui program sertifikasi guru. Mereka yang telah lulus sertifikasi guru ditasbihkan sebagai guru profesional.&lt;br /&gt;Dalam kajian profesi, ada empat syarat suatu pekerjaan dikatakan sebagai sebuah profesi. Pertama; memiliki theoritycal knowledge. Syarat ini menegaskan bahwa profesi apapun harus dilandasi pengetahuan teoritis. Profesional seseorang dibangun melalui pengetahuan. Tanpa adanya knowledge maka pekerjaannya tak lebih seperti tukang, hanya berlandaskan pengalaman empiris, miskin teori. Kedua; adanya self regulated training and practice. Seorang profesional memiliki otonomi yang luas, bekerja tidak dalam bayang-bayang atasan ataupun supervisor. Memiliki otoritas untuk mengembangkan skill melalui pelatihan yang benar-benar dibutuhkan untuk mendukung profesinya. Ketiga; authority of clients. Seorang professional memiliki otoritas atas kliennya. Otoritas seorang guru sama halnya dengan penasihat hukum terhadap klien, dokter terhadap pasien, dan profesi lainnya. Dan syarat terakhir adalah community rather than self interest orientation. Seorang profesional mementingkan komunitas dibanding motif pribadi. Dalam perspektif  filsafat, berbuat baik terhadap orang lain tanpa memperhatikan imbalan dan ganjaran lainnya disebut sebagai perilaku altruis.&lt;br /&gt;Altruisme berasal dari bahasa Latin, alter yang berarti orang lain. Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Altruisme pada dasarnya dianjurkan oleh semua agama. Dalam Islam ada ajaran yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Artinya keberadaannya dibutuhkan oleh orang lain. Menjadi pencerah, tempat solusi bagi orang-orang disekitarnya. Diposisi manapun individu yang altruis selalu menunjukkan kebaikan sebagaimana ajaran ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergerusnya altruisme guru&lt;br /&gt;Tiga syarat yang meliputi theoretical knowledge, self regulated training and practice, dan authority of clients relatif mudah dipenuhi oleh guru, namun syarat yang keempat yakni community rather than self interest orientation susah untuk diwujudkan. Di era materialisme, hanya manusia-manusia pilihan yang mampu menanggalkan motif pribadi dan orientasi materi. &lt;br /&gt;Tidak terpenuhinya seluruh syarat profesi menandakan bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, tidak sembarang individu mencapai derajat guru sejati.Yang mudah dicapai baru pada tataran guru administratif. Guru administratif tidak akan memiliki ruh dan ghiroh sebagaimana guru sejati.  &lt;br /&gt;Ada banyak faktor yang menyebabkan tergerusnya altruisme guru. Sebab-sebab itu dapat dilihat sebagai dampak yang sistemik, di sisi lain faktor tersebut berwujud motif pribadi yakni peningkatan kesejahteraan. Dampak yang sistemik utamanya karena faktor aturan yang “memaksa”. Misalnya Ujian Nasional dan portofolio untuk sertifikasi guru yang tidak mudah. Adanya produk-produk peraturan yang tidak mudah untuk dijangkau memaksa guru melakukan”penyesuaian” dengan caranya sendiri. Dan selanjutnya mudah ditebak, reaksi tersebut berpotensi menggerus kapasitas guru sebagai manusia yang baik.&lt;br /&gt;Wilayah pendidikan mestinya wilayah suci yang mengajarkan nilai-nilai luhur yang include dalam setiap materi pelajaran. Azzumardi Azra pernah menyatakan bahwa apa yang dilihat atau yang terjadi di negara adalah apa yang dilihat dan terjadi di sekolah. Carut marut di Tanah Air adalah proyeksi atas carut marut yang terjadi di sekolah. Lalu siapa yang salah?, gurunya, kurikulumnya, atau sistemnya?. Menyalahkan salah satu komponen tidaklah menyelesaikan masalah.  &lt;br /&gt;Guru sebagai ujung tombak pembelajaran sejatinya menjadi kunci dalam transfer pengetahuan dan nilai-nilai luhur. Yang menjadi persoalan adalah jika gurunya sendiri tergerus jiwa altruismenya bagaimana dapat menanamkan nilai-nilai luhur tersebut kepada siswanya. Tergerusnya altruisme guru menjadikan pembelajaran hambar, kehilangan elan vitalnya. Yang tercipta hanyalah generasi-generasi kognitif yang (oleh St. Kartono) disebut generasi yang besar kepalanya namun kerdil hatinya.&lt;br /&gt;Meningkatkan pendidikan tidak cukup hanya memenuhi fasilitas dan insfrastruktur tetapi juga faktor mental pendidik. Pendidikan yang bermutu membutuhkan jiwa-jiwa altruis dari sang Guru. Salah satu pekerjaan rumah LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik) dan pemerintah adalah bagaimana mendesain calon-calon guru memiliki jiwa altruis yang kelak akan menjadi katalisator peningkatan mutu pendidikan yang sesungguhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7519504018905182444?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7519504018905182444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7519504018905182444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7519504018905182444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7519504018905182444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/06/altruisme-guru.html' title='Altruisme Guru'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-716949475875129632</id><published>2011-05-25T09:23:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T09:25:37.986+07:00</updated><title type='text'>Kinerja Guru</title><content type='html'>Kinerja merupakan terjemahan dari istilah Inggris, performance yang berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, atau hasil kerja/unjuk kerja/penampilan kerja (LAN, 1992). Wirawan (2001:13) menyatakan “kinerja sering juga disebut dengan kinetika kerja atau performance:, kinerja juga merupakan suatu fungsi dari hasil atau apa yang dicapai seorang karyawan dan kompetisi yang dapat menjelaskan bagaimana karyawan dapat mencapai hasil tersebut. Stoner (1992: 206) mengemukakan teori bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, ability (kemampuan) dan role perception (pemahaman peran) atau pemahaman seseorang atas tugas dan perilaku yang diperlukan untuk mencapai kinerja.&lt;br /&gt;Menurut Mahmudi (2005:20 faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:&lt;br /&gt;a. Faktor personal/individu, meliputi: pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki setiap individu.&lt;br /&gt;b. Faktor kepemimpinan, melipiti: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan pemimpin. &lt;br /&gt;c. Faktor tim, meliputi: semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama  tim, kekompakan dan keeratan anggota tim.&lt;br /&gt;d. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi,  dan kultur kinerja dalam organisasi.&lt;br /&gt;e. Faktor kontekstual (situasional) meliputi: tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Steers&amp;Proter (1991) bahwa tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian kompensdasi yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat meraka bekerja. Pemberian kompensasi yang tidk tepat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Ketidaktepatan pemberian kompensasi disebabkan oleh (1), pemberian jenis kompensasi yang kurang menarik (2) pemberian penghargaan yang kurang tepat tidak membuat para pekerja merasa tertarik untuk mendapatkannya. Akibatnya para pekerja tidak memiliki keinginan meningkatkan kinerjanya untuk mendapatkan kompensasi tersebut.&lt;br /&gt;Dalam rangka pen ingkatan kinerja, paling tidak ada tujuh langkah yang dapat dilakukan:&lt;br /&gt;1. Mengetahui adanya kekurangan dalam kinerja&lt;br /&gt;2. Mengenai kekurang yang ada dan tingkat keseriusannya&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menjadi penyebab kekurangan baik yang berhubungan dengan pegawai itu sendiri&lt;br /&gt;4. Mengembangkan rencana tindakan tersebut&lt;br /&gt;5. Melakukan evaluasi apakah masalah tersebut sudah selesai atau belum&lt;br /&gt;6. Mulai dari awal, apabila perlu.&lt;br /&gt;Ada beberapa cara untuk memberikan kekuatan (empowerment) kepada karyawan agar bekerja lebih efektif (Walker, 1980;265)  yaitu:&lt;br /&gt;1. Memastikan bahwa pekerja memperolah sumber daya yang diperlukan khususnya sumber daya informasi, kemudian untuk mengakses informasi akan meningkatkan peranan (sense of involvement)&lt;br /&gt;2. Memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada individu atau tim untuk bertindak dan mengatur dirinya sendiri.&lt;br /&gt;3. Membantu mengembangkan hubungan lateral (lateral relationship) dalam sebagai sarana atau fasilitas problem solving dan learning. &lt;br /&gt;Adapun ukuran kinerja menurut T.R. Mitchell (19890 dapat dilihat dari lima hal;&lt;br /&gt;1. Quality of work,  kualitas hasil kerja&lt;br /&gt;2. Promptness, ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan&lt;br /&gt;3. Innitiative,  prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan&lt;br /&gt;4. Capability, kemempuan menyelesaikan pekerjaan&lt;br /&gt;5. Communication, kemampuan membina kerja sama dengan pihak lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Lingkungan Kerja&lt;br /&gt;Alex S. Nitisemito (1991:184), “lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan.Neuner dan Kallaus (1972) mengelompokkan interaksi faktor-faktor psikologi dan fisiologi dalam lingkungan kantor menjadi empat, yaitu lingkungan penglihatan (faktor cahaya, warna), lingkungan atmosfer (kelembaban, sirkulasi, udara, suhu), lingkungan permukaan (kebersihan) dan lingkungan pendengaran (peredam suara, tata surya).&lt;br /&gt;Lingkungan kerja terdiri dari dua dimensi yaitu dimensi lingkungan fisik yang bersifat nyata dan dimensi lingkungan non fisik yang bersifat tidak nyata. Lingkungan fisik berkenaan dengan kondisi tempat atau ruangan dan kelengkapan material atau peralatan yang diperlukan karyawan untuk bekerja. Sedangkan lingkungan non fisik berkenaan dengan suasana sosial atau pergaulan (komunikasi) antar personel dilingkungan unit kerja masing-masing atau dalam keseluruhan organisasi kerja. Lingkungan kerja fisik meliputi peralatan, bangunan kantor, perabot, dan tata ruang. Termasuk juga kondisi jasmaniah tempat pegawai bekerja meliputi desain tata letak, cahaya (penerangan), warna, suhu, kelembaban, dan sirkulasi udara. Sedangkan yang termasuk ke dalam non fisik yaitu suasana sosial, pergaulan antar personil, peraturan kerja (tata tertib) dan kebijakan perusahaan.&lt;br /&gt;C. Kinerja Guru&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tuga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai, meliputi:&lt;br /&gt;1. Kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang, suara, mata atau pandangan, kesehatan, pakaian, pendengaran, dan hal yang bersifat psikis seperti humor, ramah, intelek, sabar, sopan santun, rajin, kretaif, kepercayaan diri, optimis, kritis, objektif, dan rasional.&lt;br /&gt;2. Kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka, disiplin, berdekikasi, tanggung jawab, suka menolong, bersifat membangun, tertib, adil, pemaaf, jujur, demokratis, dan cinta anak didik.&lt;br /&gt;3. Kemampuan profesional, meliputi 10 kemampuan profesional guru: menguasai bidang studi, menguasai aplikasi, mengelola KBM, mengelola kelas, menguasai media, menggunakan landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi, mengenal fungsi dan program BK, administrasi sekolah, dan mengenal penelitian pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-716949475875129632?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/716949475875129632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=716949475875129632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/716949475875129632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/716949475875129632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/05/kinerja-guru.html' title='Kinerja Guru'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1849487031448983658</id><published>2011-05-25T09:22:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T09:23:03.997+07:00</updated><title type='text'>Kepribadian</title><content type='html'>Jika Anda ingin benar-benar menguasai kepribadian dalam perspektif psikologi, Anda dapat membaca buku karya Calvin S. Hall &amp; Gardner Lindzey yang berjudul Theories of Personality. Dalam bahasa Indonesia, buku tersebut disunting oleh Supratiknya dengan judul teori-teori holistic terbitan kanisius.&lt;br /&gt;Mempelajari teori kepribadian diharapkan memberi nilai tambah knowledge Anda mengenai apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku manusia. Dengan kata lain, teori kepribadian akan menyibak tingkah laku manusia. Menyibak tingkah laku manusia tidak cukup hanya dengan angket karena akan memberikan hasil yang berpotensi bias.&lt;br /&gt;Dimensi teori kepribadian terdiri atas:&lt;br /&gt;1. Struktur kepribadian: aspek kepribadian yang relatif stabil, merupakan pembentuk sosok kepribadian. Meskipun dirubah, suatu sat dia akan muncul lagi.&lt;br /&gt;2. Proses kepribadian: dinamika tingkah laku/kepribadian&lt;br /&gt;3. Pertumbuhan dan perkembangan: perubahan struktur dari masa bayi dan factor-faktor yang mempengaruhinya.&lt;br /&gt;4. Psikopatology: gangguan kepribadian&lt;br /&gt;5. Perubahan tingkah laku: modifikasi tingkah laku &lt;br /&gt;Dalam kaitanya dengan pandangan manusia (kepribadian manusia) ada tiga mazhab yg populer di dunia Barat:&lt;br /&gt;1. Mazhab pertama; mazhab pesimistik; memandang manusia pada dasarnya jahat.&lt;br /&gt;2. Mazhab kedua; mazhab deterministik; perkemb manusia dapat diarahkan dari luar, bersifat impersonal dan direktif&lt;br /&gt;3. Mazhab ketiga; mazhab optimistic; manusia memiliki potensi positif dengan diterima dan didampingi (humanistic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kepribadian (Murray): pandanganya ; masa lampau atau sejarah individu benar-benar sama pentingnya seperti keadaan individu beserta lingkungannya di masa kini. Masa lalu menentukan kepribadian masa kini (psikoanalisis).&lt;br /&gt;Struktur kepribadian terdiri dari ego, id, dan superego.&lt;br /&gt;id: impuls primitive, membawa kea arah baik dan jahat (naluriah)&lt;br /&gt;ego: menekan impuls ego. Mengorganisasi id agar motifnya ke naluri yang baik&lt;br /&gt;Superego: ambisi pribadi yang diperjuangkan, mengarah pada sesuatu yg berbudaya.&lt;br /&gt;Dianamika kepribadian: dipengaruhi oleh proses fisiologis dan neurologist. Berkaitan dengan motivasi individu&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kaitan antara teori kepribadian dg kompetensi kepribadian guru?&lt;br /&gt;Mestinya teori kepribadian ini menjadi knowledge bagi guru untuk mengetahui hakekat kepribadian sekaligus menjadi filter bagi pengadaan guru kedepan. Perlu adanya rekam jejak kepribadian untukm memperoleh hasil yg baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1849487031448983658?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1849487031448983658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1849487031448983658' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1849487031448983658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1849487031448983658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/05/kepribadian.html' title='Kepribadian'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-8601771702917037168</id><published>2011-05-25T09:12:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T09:17:31.928+07:00</updated><title type='text'>PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN      KOMPUTER          PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS XI SEMESTER GENAP BAB AKHLAK TERPUJI DALAM PERGAULAN RE</title><content type='html'>Kualitas pembelajaran menjadi kunci dalam peningkatan sumber daya manusia. Pembelajaran yang berkualitas merupakan pembelajaran yang terencana dan sengaja diciptakan (intentional learning), bukan belajar yang terjadi secara insidental (incidental learning). Gagne (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Senyampang dengan pendapat Gagne, Patricia L. Smith dan Tillman J. Ragan (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan yang spesifik. Dari kedua pendapat di atas, kata yang perlu digarisbawahi adalah adanya unsur sengaja diciptakan yang secara implisit  menggambarkan bahwa kesengajaan tersebut disusun secara sistematis dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Dengan demikian penyusunan lesson plan harus benar-benar faktual dan terukur operasionalnya.&lt;br /&gt;Pembelajaran yang diciptakan membutuhkan perencanaan yang matang, sesuai alokasi waktu, mengandung setidaknya satu kompetensi dasar, terdapat langkah-langkah pembelajaran, menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan faktor pendukung lainnya, menyajikan model evaluasi, dan menunjukkan sumber referensi yang digunakan.&lt;br /&gt;Desain pembelajaran merupakan kegiatan yang penting untuk dilaksanakan sebelum seorang guru melaksanakan aktifitas pembelajaran di kelas. Desain sistem pembelajaran terdiri atas empat komponen yang memiliki hubungan fungsional antara materi pembelajaran, kompetensi pembelajaran , strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat komponen tersebut digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                Gambar 1. Desain Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sumber:Bermawy Munthe (2010:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi pembelajaran secara anatomis terdiri atas materi yang berisikan sekumpulan fakta (memuat subjek pelaku/tokoh, tempat kejadian, dan waktu), konsep (berisi definisi, eksplanasi atas suatu teori, dan identifikasi dari suatu objek), prosedur (berupa urutan yang sifatnya mekanis) dan prinsip (dalam bentuk dalil, hukum, atau aksioma). Kompetensi dari suatu mata pelajaran menggambarkan kemampuan yang harus dipenuhi (berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dari suatu materi pembelajaran. Dengan demikian jelaslah kaitan hubungan fungsional antara materi dan kompetensi pembelajaran karena sebelum menentukan kompetensi pembelajaran harus diurai terlebih dahulu anatomi dari suatu materi pelajaran. Hubungan antara anatomi materi pelajaran dan kompetensi pembelajaran akan bermuara pada penyusunan indikator dan perencanaan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat bagian tersebut digambarkan dalam gambar 2 di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Hubungan antara materi, kompotensi, dan &lt;br /&gt;                   kisi-kisi soal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran merupakan mata rantai ketiga yang menghubungkan antara materi pelajaran dan kompetensi dari suatu materi. Strategi yang ideal hendaknya linier dengan materi dan kompetensi yang dicapai. Sebagai contohnya jika materinya adalah berenang, maka kompetensinya adalah dapat berenang, dan strategi yang paling tepat adalah praktik renang.&lt;br /&gt;Dewasa ini perkembangan strategi dan model pembelajaran sangat cepat dan beragam. Pembelajaran model ceramah yang menggunakan pendekatan teacher centered telah dianggap konvensional meskipun untuk materi tertentu pembelajaran ceramah masih diperlukan. Dalam direct instruction pembelajaran ceramah diimplementasikan pada materi yang sifatnya deklaratif dan prosedural di mana  model tersebut masih merupakan kegiatan pembelajaran yang ideal.&lt;br /&gt;Perkembangan model pembelajaran dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Jean Piaget, John Dewey, Vygotsky, David Ausubel, dan Savin. Dari pemikiran tokoh-tokoh tersebut muncul berbagai model pembelajaran seperti CTL (contextual teaching and learning, pembelajaran bermakna, pembelajaran sosial,pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif). Dari sekian banyak model pembelajaran tersebut, model computer assisted instruction paling intensif dikembangkan seiring dengan pesatnya program aplikasi komputer. Model computer assisted instruction memiliki banyak keunggulan antara lain:&lt;br /&gt;1. Siswa dapat belajar mandiri&lt;br /&gt;2. Pembelajaran lebih terasa fun&lt;br /&gt;3. Siswa langsung mengetahui skor yang diperoleh (authentic value)&lt;br /&gt;4. Menambah motivasi belajar&lt;br /&gt;5. Aplikasi dan pemanfaatan teknologi&lt;br /&gt;6. Sangat potensial untuk pengembangan home schooling&lt;br /&gt;7. Sebagai bentuk integrasi teknologi dan agama&lt;br /&gt;Menyimak banyaknya keunggulan dari model computer assisted instruction maka implementasi model tersebut dalam pembelajaran aqidah akhlak menjadi bernilai strategis karena:  &lt;br /&gt;1. Pembelajaran selama ini menggunakan pendekatan teacher centered sehingga siswa relatif pasif dalam pembelajaran.   &lt;br /&gt;2. Pembelajaran rumpun agama cenderung dogmatis sehingga nalar siswa tidak terasah.&lt;br /&gt;3. Pembelajaran cenderung membosankan karena monoton.&lt;br /&gt;4. Adanya kesan teknologi terpisah dengan agama sehingga membuat guru rumpun agama tidak memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;Dengan menyimak keunggulan pembelajaran berbasis teknologi dan nilai strategisnya maka pembelajaran mandiri berbantuan komputer menjadi urgen untuk diimplementasikan dalam praksis pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Pembuatan Media pembelajaran Aqidah Akhlak&lt;br /&gt;Setiap mempelajari materi pembelajaran muara terakhirnya adalah terpenuhinya standar kompetensi lulusan dalam tiga ranah pendidikan yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pembelajaran aqidah akhlak unsur yang ada meliputi kognitif dan afektif sehingga pembuatan media pembelajaran ini diharapkan: &lt;br /&gt;1. Siswa dapat belajar mandiri; dari mempelajari materi hingga mengevaluasi diri.&lt;br /&gt;2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari mata pelajaran aqidah akhlak sehingga prestasi siswa dalam mata pelajaran tersebut meningkat.&lt;br /&gt;3. Dari rasa senang dalam belajar akan menimbulkan kesadaran tentang esensialnya materi aqidah akhlak dalam hidup. &lt;br /&gt;4. Mengakomodasi semua gaya belajar siswa karena media mengandung unsur visual (melalui tampilan tulisan, grafik, dan gambar di monitor komputer), auditorial (melalui suara), dan kinestetik (gerakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Waktu Penggunaan Media&lt;br /&gt;Dalam desain model pembelajaran dikenal dengan empat kegiatan yakni define, design, development, and decimination. Media ini pada mulanya berupa program Power Point konvensional tanpa diberi sentuhan animasi dan aplikasi teknologi lainnya. Seiring dengan interaksi penyusun dengan dunia teknologi, program tersebut dikembangkan hingga terbentuk media pembelajaran interaktif seperti sekarang. Setelah melalui tahapan diskusi dengan komunitas di madrasah dan konsultasi dengan para outsider akhirnya media pembelajaran ini didesiminasikan di kelas-kelas dalam bentuk simulasi. Dan setelah dipandang menarik, pembelajaran aqidah akhlak dirubah dari pembelajaran di kelas secara klasikal menjadi model pembelajaran mandiri di laboratorium multi media di Madrasah aliyah Alhikmah 2. Foto-foto (terlampir) dalam pembelajaran ini diambil di    tahun pelajaran 2009/2010.&lt;br /&gt;E. Deskripsi dan Cara Penggunaan Media Pembelajaran&lt;br /&gt;1. Deskripsi Media Pembelajaran &lt;br /&gt;Media ini menggunakan beberapa program yaitu :&lt;br /&gt;a. Microsoft  Power Point&lt;br /&gt;b. Total.Recorder.Editor.Pro.12.0.1 &lt;br /&gt;c. Camtasia &lt;br /&gt;d. Animasi &lt;br /&gt;2. Petunjuk Penggunaan&lt;br /&gt;Penggunaan media ini mudah dan bisa diakses oleh semua siswa dengan melihat petunjuk – petunjuk di bawah ini :&lt;br /&gt;a. Buka dengan menekan dua kali klik&lt;br /&gt;b. Pertama akan diantarkan oleh sebuah intro &lt;br /&gt;c. Kemudian akan berlanjut ke home / tampilan awal &lt;br /&gt;d. Home berisi beberapa menu yaitu : &lt;br /&gt;• Profile yang mengirformasikan data pembuat program media pembelajaran ini.&lt;br /&gt;• Apersepsi yaitu gambaran yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diterangkan agar siswa terbantu memahami materi yang di terangkan.&lt;br /&gt;• SK/KD  berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar materi yang terdapat dalam media ini.&lt;br /&gt;• Materi, yang berisi  point – point atau sinopsis dari kompetensi dasar. Poin-poin dari kompetensi dasar secara lebih luas dijelaskan lebih lanjut dengan menu tools audio yang di gambarkan dengan sebuah gambar Speaker. Selain dengan menggunakan tools bar audio, poin dalam materi ini ada juga yang langsung dijelaskan yakni slide yang menggunakan Camtashia dimana tanpa mengklik speaker (dalam tools bar) suara akan langsung keluar.. &lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan langkah-langkah penggunaan media pembelajaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Langkah-langkah pembelajaran&lt;br /&gt;1. Silabus&lt;br /&gt;2. RPP&lt;br /&gt;3. Sintaks atau alur pembelajaran&lt;br /&gt;Pembelajaran akan efektif jika dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang telah terencana. Berikut ini disajikan sintak pembelajaran dengan berbantuan media computer (computer assisted instruction):&lt;br /&gt;Fase Kegiatan Guru&lt;br /&gt;Fase 1&lt;br /&gt;Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran aqidah akhlak bab akhlak terpuji dalam pergaulan remaja&lt;br /&gt;Fase 2&lt;br /&gt;Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa secara deklaratif dan diikuti tata cara penggunaan media pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;Fase 3&lt;br /&gt;Membimbing siswa belajar mandiri Membimbing siswa saat belajar mandiri menggunakan media pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;Fase 4&lt;br /&gt;Evaluasi Mengevaluasi siswa dalam pemanfaatan media sekaligus meng-input hasil belajar siswa&lt;br /&gt;Fase 5&lt;br /&gt;Memberi penghargaan Memberi apresiasi kepada siswa yang dapat belajar secara efektif dengan media pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Evaluasi Pembelajaran&lt;br /&gt;Evaluasi pembelajaran dalam media ini menggunakan tes tertulis dengan tipe soal pilihan ganda. Soal-soal evaluasi telah tersaji di menu bar yakni menu evaluasi. Siswa yang akan mengikuti evaluasi tinggal masuk ke menu evaluasi dan dapat langsung mengerjakan soal  dengan mengikuti petunjuk yang telah disajikan. Setelah mengerjakan soal media ini akan secara otomatis menampilkan skor nilai yang diperoleh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-8601771702917037168?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/8601771702917037168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=8601771702917037168' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8601771702917037168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8601771702917037168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/05/pembelajaran-mandiri-berbantuan.html' title='PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN      KOMPUTER          PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS XI SEMESTER GENAP BAB AKHLAK TERPUJI DALAM PERGAULAN RE'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4515172251854295816</id><published>2011-03-30T10:11:00.000+07:00</published><updated>2011-03-30T10:13:34.929+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Anak Usia Dini</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Anda tentu sangat familiar dengan film Samson dan Delila. Personifikasi Samson adalah manusia dalam asuhan binatang, besar di rimba belantara, dapat berkomunikasi dengan semua penghuni rimba namun tidak bisa berkomunikasi dengan sesama manusia. Fenomena Samson sama halnya dengan Hayy bin Yaqzan yang besar dalam asuhan Rusa. Hayy memiliki sifat dan skill sebagaimana rusa yang dapat berlari dengan sangat kencang, gesit, dan lincah. Apa yang dapat kita baca dari film tersebut?. Sebagian besar dari kita tentu mengamini bahwa pendidikan dan pembiasaan akan membentuk kemampuan seseorang. Individu yang tidak mengenyam pendidikan bagaimanapun besarnya potensi yang dimiliki tidak akan efektif beraktualisasi di dunia modern yang menganut life based knowledge and technology.&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai sebuah kebutuhan telah disadari benar oleh masyarakat. Keyakinan bahwa pendidikan merupakan salah satu variabel kesuksesan hidup menjadi pendorong utama setiap individu untuk menjadi manusia pembelajar. Atas dorongan kebutuhan dan keyakinan sebagaimana ajaran agama yang menganjurkan menuntut ilmu semenjak dalam ayunan hingga menjelang ajal menempatkan pendidikan sebagai “barang mewah” yang dicari setiap manusia. Dampaknya jelas, diversifikasi pendidikan menjadi varian baru dalam bidang jasa pendidikan. Salah satu diversifikasi pendidikan yang semakin mendapatkan tempat adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).&lt;br /&gt;Dalam pandangan yang pragmatis, bagi sebagian orang PAUD adalah alternatif “penitipan anak” bagi pasangan suami isteri yang sibuk dari pada menitipkan anak dalam asuhan “pembantu”. Anak dalam bimbingan para guru di PAUD bagi masyarakat dianggap lebih safe dan lebih banyak mengandung unsur edukatif.&lt;br /&gt;Dalam sejarahnya, keberadaan PAUD di manca negara diawali keinginan untuk “menyelamatkan” anak yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Sebagaimana penelitian yang menyebutkan bahwa anak-anak yang berasal dari profesional lebih banyak dalam perkembangan kata-kata dibanding anak-anak para pekerja dan penganggur. Anak-anak dari keluarga profesional dan pekerja cenderung memperoleh feed back yang membesarkan hati, sementara anak-anak dari keluarga penganggur cenderung memperoleh feed back yang mengecilkan hati. Anak-anak yang sejak kecil berada dalam kondisi tertekan akan cenderung mengalami kesulitan di masa dewasanya dan terjebak dalam kenakalan. Dari latar belakang tersebut munculah pendidikan pra sekolah yang di Indonesia populer dengan Pendidikan Anak Usia Dini.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, keberadaan PAUD tidak saja sebagai wahana penitipan anak, namun juga sebagai persiapan meningkatkan ketercapaian prestasi akademik. Bahkan lebih serius lagi, pendidikan pranatal disertai pengaturan gizi telah dipersiapkan oleh para orang tua untuk memperoleh kualitas maksimal dalam bidang akademik. Bahkan orang tua menyiapkan waktu khusus untuk pendidikan parenting agar tidak salah langkah dalam mengurus anak. Salah satu materi penting dalam parenting pranatal adalah memaksimalkan potensi perkembangan otak janin yang dalam kandungan akan berkembang dengan kecepatan 250.000 sel setiap menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus diajarkan di PAUD ?.&lt;br /&gt;Diskursus tentang apa yang harus diajarkan pada Pendidikan Anak Usia Dini merupakan diskursus yang terus berkembang. Sebagaian masyarakat menginginkan anaknya diberi dasar-dasar calistung (baca, tulis, hitung), dan sebagian lagi menginginkan PAUD tak ubahnya tempat bermain bagi anak-anak karena dunia anak adalah dunia bermain. Di Amerika Serikat dan Inggris, saat ini telah terjadi pergeseran orientasi, PAUD tidak lagi sebagai wahana bermain anak-anak tetapi mengarah ke pembelajaran keterampilan dasar. Di Flanders dan Hungaria, PAUD lebih menekankan pembelajaran permainan, konstruksi spontan, dan latihan baca tulis (Muijs dan Reynold, 2010). Bagi penulis, materi terbaik yang diberikan anak-anak di PAUD adalah dasar-dasar keterampilan, baik keterampilan calistung maupun keterampilan sosial, namun dikemas dalam nuansa bermain. &lt;br /&gt;Latihan menghitung dapat dikemas dalam permainan balok, latihan menulis dapat dimulai dari hal-hal yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak, begitu pula dengan materi membaca. Keterampilan sosial dan komunikasi penting karena masa-masa di PAUD adalah masa transisi dari rumah ke sekolah. Ayah dan ibu yang secara emosi dan  psikologi sangat dekat harus digantikan oleh orang lain. Bahasa tubuh, gesture,  yang sangat dipahami oleh ayah dan ibu kadang tidak dimengerti oleh orang lain sehingga anak harus berlatih komunikasi dengan orang lain. Demikian juga anak-anak harus menyerap informasi baru dari orang lain yang tentu caranya berbeda dengan kebiasaan di rumah. Intensitas komunikasi antar anak dan guru akan sangat menunjang keterampilan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi yang secara langsung akan menentukan sukses tidaknya masa transisi. Ketidaksuksesan masa transisi berakibat anak-anak phobi sekolah atau minta pindah sekolah. Untuk itu orang tua harus secara intens membangun komunikasi dengan guru dan memantau anaknya dalam fase-fase kritis.&lt;br /&gt;Orang tua harus secara kontinyu membaca buku komunikasi sekolah dengan orang tua tentang perkembangan anaknya sehingga dapat mengambil tindakan dengan tepat. Dan bagi sekolah, buku komunikasi sangat penting tidak saja sebagai bagian dari service sekolah terhadap kostumer tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral sekolah terhadap orang tua yang telah percaya menyekolahkan anaknya.&lt;br /&gt;Kompetensi apa yang diharapkan dari anak pra sekolah?&lt;br /&gt;Kompetensi bergantung pada materi. Kompetensi merupakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dari suatu subjek materi pelajaran. Lalu apa kompetensi anak-anak yang harus dikuasai di PAUD. Dari uraian materi di atas dapatlah disimpulkan bahwa kompetensi yang harus dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi (baik reseptif maupun ekspresif), keterampilan bersosialisasi, dan keterampilan dasar-dasar calistung. Sebagai orang tua secara mudah dapat kita lihat perkembangan anak yakni dengan daya interest anak untuk berangkat sekolah, materi cerita anak di rumah, dan  tentu input yang diberikan oleh sekolah. Jika anak-anak tidak betah di sekolah berarti ada yang tidak sukses dalam fase transisi, jika anak tidak pernah cerita di rumah tentang sekolah dan teman-temannya serta gurunya berarti sekolah gagal dalam menciptakan kesan asyik bagi anak didiknya.&lt;br /&gt;Muijs dan Reynold mendefinisikan keterampilan kesiapan sekolah meliputi:&lt;br /&gt;1. Keterampilan sosial, menghormati orang lain, bekerja secara kooperatif, dan berlatih mendengarkan orang lain.&lt;br /&gt;2. Keterampilan komunikasi: seperti meminta bantuan ke orang lain, mengutarakan pikiran dan perasaan&lt;br /&gt;3. Perilaku terkait tugas; tidak mendisrupsi (mengganggu) orang lain, menyelesaikan tugas dari guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi belajar PAUD&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran di PAUD tentu linier dengan materi dan kondisi anak-anak. Sebagaimana diuraikan di atas dimana materi dikemas dalam nuansa bermain, maka PAUD sudah seharusnya menggunakan strategi belajar yang menyenangkan, cenderung direktif dan konkrit. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan cerita, percakapan, dan demonstratif yang sekaligus mengandung unsur eksplorasi kemampuan anak. Mengeksplorasi kemampuan anak penting karena akan melatih anak untuk beraktualisasi di kelas. Di Amerika Serikat, pendidikan pra sekolah yang sangat berpengaruh adalah program High Scope. Di sekolah ini model pembelajarannya bersifat langsung dengan objek riil sehingga siswa aktif. Sementara di Italia, pendidikan pra sekolah yang dikenal dengan proyek Regio Emillio menerapkan pembelajaran tematik berbasis proyek dengan menekankan interaksi antara guru dan murid. &lt;br /&gt;Strategi pembelajaran di PAUD dapat dilakukan dengan model sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bermain: mengembangkan bahasa reseptif dan ekspresif&lt;br /&gt;2. Drama dan sandiwara pendek: membantu perluasan pemikiran dan pembentukan karakter&lt;br /&gt;3. Diskusi dalam format bermain&lt;br /&gt;4. Mengkategorikan objek: sebagai bentuk klasifikasi&lt;br /&gt;5. Kerja berpasangan atau berkelompok&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, anak-anak dalam tingkatan PAUD kini telah diperkenalkan dengan dunia komputer. Pembelajaran berbasis komputer kini telah menjadi bagian dari model pembelajaran PAUD. CD-CD tentang materi PAUD kini telah banyak beredar di pasar dan dapat pula didown load untuk menggantikan sebagian objek pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dalam PAUD&lt;br /&gt;Masa kanak-kanak sering disebut sebagai fase golden growth. Pada fase ini perkembangan otak sangat cepat begitu juga dengan kemampuan fisik yang lain. Perubahan yang begitu cepat tentu menjadikan penilaian sesaat menjadi tidak tepat, tidak reliabel. Dengan demikian model tes standar sebagai bentuk assesmen tidak tepat lagi. Model yang relatif tepat adalah model portofolio atau rekam jejak siswa. Portofolio dan rekaman dapat dijadikan bahan analisis untuk mengevaluasi tingkat perkembangan siswa. Selain itu dapat pula dengan model pengamatan terstruktur yang kontinyu sehingga perkembangannya dapat jelas disimak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4515172251854295816?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4515172251854295816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4515172251854295816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4515172251854295816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4515172251854295816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/03/pendidikan-anak-usia-dini.html' title='Pendidikan Anak Usia Dini'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7962517930002772173</id><published>2011-03-07T08:37:00.002+07:00</published><updated>2011-03-07T08:41:27.286+07:00</updated><title type='text'>PENDEKATAN BEHAVIORISME DALAM KONSELING</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati (Rita L. Atkinson, 1999:8). Dengan pendekatan perilaku, tokoh psikologi asal Amerika Serikat John B. Watson mempelajari individu. Menurut Watson individu tidak dapat dipelajari dengan pendekatan instropeksi karena hanya individu itu sendirilah yang dapat mengintropeksi pengamatan dan perasaannya sendiri.  Dari pendapat Watson inilah munculnya aliran behaviorisme. Behaviorisme menurut Gerald Corey (2003:197-198) adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;Behavior atau tingkah laku tidaklah muncul satu set lengkap dalam diri manusia sebagai sebuah bawaan lahir. Namun perilaku terbentuk sebagai sebuah interaksi manusia dengan dunia disekelilingnya. Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar.  Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang membentuk kepribadian. Gerald Corey (2003:320) menyatakan bahwa manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial-budaya yang deterministik. Dalam arti tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian. &lt;br /&gt;Tingkah laku sebagai hasil belajar dan pengondisian berarti tingkah laku dibentuk melalui hukum-hukum belajar dan terkondisikan dengan cara memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Hukum-hukum belajar dalam kaitannya dengan tingkah laku meliputi hukum pembiasaan klasik, pembiasaan operan, dan peniruan.&lt;br /&gt;Eksperimen tentang pembiasaan klasik pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Rusia bernama Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan cara memberi stimulus terkondisikan pada anjing melalui sinar lampu. Dengan stimulus yang diberikan anjing akan melakukan asosiasi dan mengulang-ulang respon jika diberikan stimulus yang sama. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar akan dilakukan dan mengalami penguatan jika diberikan situmus atau rangsangan. Sebagai contohnya siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus. &lt;br /&gt;Eksperimen tentang pembiasaan operan pertama kali dilakukan oleh B.F. Skinner. Dalam eksperimen ini diperlukan media sebagai stimulus tidak langsung. Dalam kaitannya dengan belajar  maka belajar untuk mendapatkan hadiah, bukan akibat langsung dari belajar, namun merupakan media untuk mendapatkan sesuatu atas prestasi belajar. Sebagai contohnya adalah mendapatkan hadiah sepeda jika nilai bagus. Nilai bagus adalah akibat langsung dari belajar, namun sepeda bukan akibat langsung dari belajar namun akibat yang timbul karena nilai yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dasar behaviorisme&lt;br /&gt;Dalam pendekatan behavioristik memandang bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan – kecenderungan positif dan negatif yang sama. Kecenderungan itu dibentuk oleh kondisi sosial dan budaya. Para behavioris menyakini bahwa lingkungan dan faktor genetik menentukan tingkah laku, namun pembuatan putusan yang dilakukan oleh individu merupakan tingkah laku. Behavioris cenderung memandang manusia sebagai organisme pemberi respons sehingga manusia dikategorikan sebagai makhluk yang mekanistik, tidak sebagai makhluk otonom yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bahkan dalam behaviorisme radikal tidak memberi tempat kepada asumsi bahwa tingkah laku  manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi Konseling Behavioral&lt;br /&gt;Tujuan dari konseling behavioral adalah menghapus atau menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan tingkah laku adaptif sesuai keinginan klien. Tingkah laku bermasalah diasumsikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negative/tidak tepat, atau tingkah laku yang tidak sesuai tuntutan lingkungan.&lt;br /&gt;2. Tingkah laku yang salah pada hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.&lt;br /&gt;3. Manusia bermasalah cenderung merespon negative dari lingkungannya.&lt;br /&gt;4. Tingkah laku manusia merupakan hasil belajar dan dapat diubah dengan prinsip-prinsip belajar.&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah konseling behavioral adalah:&lt;br /&gt;1. Assesment: mengeksplorasi dinamika perkembangan klien. Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang sebenarnya pada saat itu meliputi: kesuksesan dan kegagalan, kekuatan dan kelemahan, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya.&lt;br /&gt;2. Goal Setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assaement konselor dan kliaen menyusun dan merumuskan tahapan berikut: (a) Konselor dank lien mendefinisikan masalah yang dihadapi klien, (b) klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling ; (c ) konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien ; (b) apakah tujuan itu realistic ; (c) kemungkinan manfaatnya; (d) kemungkinan kerugiannya; (e) konselor dank lien menetapkan teknik yang akan dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akakn dicapai, atau melakukan referral.&lt;br /&gt;3. Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang akan digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.&lt;br /&gt;4. Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai tujuan konseling.&lt;br /&gt;5. Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.&lt;br /&gt;Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral&lt;br /&gt;1. Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.&lt;br /&gt;2. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan&lt;br /&gt;3. Memberikan penguatan terhadap respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan&lt;br /&gt;4. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung)&lt;br /&gt;5. Merencanakan prosedur pemberian penguatan tingkah laku yang diinginkan dengan system kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi atau keuntungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik konseling Behavioral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan Asertif&lt;br /&gt;Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desensitisasi Sistematis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkondisian Aversi &lt;br /&gt;Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7962517930002772173?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7962517930002772173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7962517930002772173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7962517930002772173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7962517930002772173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/03/pendekatan-behaviorisme-dalam-konseling.html' title='PENDEKATAN BEHAVIORISME DALAM KONSELING'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7983667746562522535</id><published>2011-03-07T08:19:00.000+07:00</published><updated>2011-03-07T08:20:50.676+07:00</updated><title type='text'>Draf Pengembangan MA Bina Cendekia</title><content type='html'>“Menuju Madrasah Aliyah Bina Cendekia sebagai Madrasah Pilihan”&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt; Draft pengembangan ini disusun sebagai wacana pengembangan Madrasah Aliyah Bina Cendekia sebagai Madrasah Pilihan. Orientasi madrasah dan image building yang diwacanakan bukanlah sebagai madrasah unggulan, plus, atau trade mark lainnya. Bagi penyusun makna pilihan mencitrakan sebuah kebutuhan bagi pemilihnya.&lt;br /&gt; Sesuatu yang dipilih, terlebih sekolah/madrasah sudah barang tentu karena memiliki keunikan dan memenuhi ekspektasi masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Sebagai sebuah perumpamaan jika kita membeli sesuatu tentu karena kita butuh dan barang yang kita beli jelaslah hasil dari sebuah pilihan. Keputusan memilih biasanya didasarkan pada nilai guna, kualitas barang, harga, orisinalitas, dan tren yang sedang berkembang. Barang mahal yang sedikit kegunaannya tentu akan mubadzir jika dipilih dan dibeli. Barang yang kualitasnya bagus namun sudah out of date tentu tidak menggugah selera lagi. Dan barang yang orisinil tentu akan dipilih dibanding yang imitasi karena lebih presisi dan berkualitas.  Begitu juga barang yang murah namun tidak ada kualitasnya tentu juga bukan menjadi barang pilihan karena akan cepat usang dan tidak berguna. &lt;br /&gt; Begitu pula madrasah, madrasah yang akan menjadi pilihan adalah  &lt;br /&gt;madrasah yang memiliki keunggulan baik kompetitif maupun komparatif. Keunggulan kompetitif berorientasi pada be the best. Memiliki daya saing yang kuat, memiliki indeks prestasi akademik yang tinggi dan atribut kompetitif lainnya seperti grade akreditasi, pencapaian hasil Ujian Nasional, prestasi dalam ajang olimpiade, dan daya serap out put di perguruan tinggi favorit baik dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt; Keunggulan komparatif berorientasi pada be the different. Memiliki daya beda yang tinggi dibanding institusi sejenis dalam satu level. Keunggulan komparatif dapat dibangun melalui keunggulan lokal baik dalam bidang seni, budaya, dan sumber daya alam yang ada. Keunggulam komparatif memiliki nilai strategis karena menjadi ciri khas. Ciri khas yang dibangun dengan serius didukung research yang kontinyu akan memberi kekuatan bagi sebuah institusi. Dan nilai yang sifatnya lokal itu pada gilirannya akan menjadi icon bagi wilayah itu sendiri sebagaimana kekhasan dialek dalam bahasa. &lt;br /&gt; Sinergi antara keunggulan kompetitif dan komparatif harus dibangun dengan kreasi dan inovasi yang sustainibilitasnya terjaga. Kreatifitas yang inovatif orientasinya pada be the first. Institusi yang memiliki daya be the first  akan leading dibanding institusi lainnya.&lt;br /&gt; Uraian di atas mendeskripsikan bahwa syarat utama untuk menjadi madrasah pilihan adalah memiliki tiga nilai utama yakni be the best, be the different,  dan be the first. Bagaimana dengan Madrasah Aliyah Bina Cendekia?. Sebagai sebuah institusi baru maka beberapa agenda penting yang harus segera dilakukan akan penyusun uraikan dalam langkah-langkah strategis MA Bina Cendekia di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah Strategis MA Bina Cendekia&lt;br /&gt;1. Membentuk Tim Monev (Monitoring dan Evaluasi)&lt;br /&gt;Tim Monev terdiri atas Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah, dan Tim Kreatif . Tim Monev tugas utamanya adalah menjabarkan delapan standar pendidikan, melaksanakan delapan standar pendidikan, memantau dan mengevaluasi delapan standar pendidikan tersebut. Orientasi akhir yang diharapkan adalah terciptanya budaya berorganisasi dalam lingkungan madrasah sehingga setiap saat madrasah siap untuk diakreditasi karena sistem administrasi yang akurat dan orisinil. Adanya Tim Monev juga akan membentuk tradisi tulis dan tilas dalam diri setiap pendidik dan tenaga kependidikan di MA Bina Cendekia.&lt;br /&gt;2. Menyusun Renstra&lt;br /&gt;Renstra (Rencana Strategis) perlu disusun dengan melibatkan yayasan dan seluruh stakeholder MA Bina Cendekia baik renstra jangka pendek, menengah, dan panjang. Renstra juga harus berpijak pada analisis SWOT MA Bina Cendekia. Adanya renstra dapat menjadi motivasi dan menjaga ritme pergerakan pendidik dan tenaga kependidikan di MA Bina Cendekia.&lt;br /&gt;3. Menjadikan Kegiatan Ekstrakurikuler sebagai Kekuatan Komparatif&lt;br /&gt;Kegiatan ekstrakurikuler yang dikemas dalam kegiatan pengembangan diri harus dibangun secara sungguh-sungguh. Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam membangun keunggulan komparatif sekaligus memiliki daya magnetik yang luar biasa bagi siswa dan calon siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang berkualitas dapat menjadi media pemasaran madrasah.&lt;br /&gt; 4. Penyusunan Kurikulum yang Integral &lt;br /&gt;Yayasan Bina Cendekia Utama yang terdiri atas tiga jenjang pendidikan dari MI hingga MA mempunyai nilai strategis dalam penyusunan kurikulum. Nilai strategis tersebut terletak pada adanya pondok pesantren dan kegiatan ekstrakurikuler yang terstruktur. Kurikulum pondok pesantren harus integral dan kontinyu dari jenjang MI, MTs, dan MA. Begitu pula kegiatan ekstra yang terstruktur memiliki kurikulum yang berkelanjutan. Dan kurikulum integral tersebut harus disosialisasikan ke orang tua dan siswa itu sendiri sehingga ada motivasi yang tinggi untuk menuntaskan kurikulum dari MI hingga MA.&lt;br /&gt;5. Menyusun Tim Fundraising&lt;br /&gt;Tim Fundraising (Penggalian Dana) perlu dibentuk meskipun yayasan telah memilki dana yang relatif cukup. Ada berbagai pilihan yang mungkin untuk dipilih antara lain: membangun jejaring secara vertikal dengan instansi terkait, mendirikan koperasi, atau jika mungkin lembaga penerbitan karena memilki nilai ekonomis yang relatif tinggi. Adanya lembaga penerbitan akan mendorong guru untuk menulis sekaligus sebagai media pemasaran madrasah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7983667746562522535?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7983667746562522535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7983667746562522535' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7983667746562522535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7983667746562522535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2011/03/draf-pengembangan-ma-bina-cendekia.html' title='Draf Pengembangan MA Bina Cendekia'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7140350134831760417</id><published>2010-10-12T12:32:00.001+07:00</published><updated>2010-10-12T12:32:57.971+07:00</updated><title type='text'>Motif Mendirikan Sekolah: Motif Pendidikan atau Ekonomi?</title><content type='html'>Yayasan pendidikan semakin banyak berdiri di mana-mana. Dari yayasan pendidikan yang mengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai dengan yayasan pendidikan yang mengelola perguruan tinggi. Pendiri yayasan pendidikan pun bermacam-macam latar belakangnya, dari yang pribadi/keluarga, pondok pesantren/institusi keagamaan, organisasi sosial, dan lain sebagainya. Apa motif dibalik pendirian yayasan pendidikan yang semakin menjamur di Tanah Air?. Benarkan karena dana pemerintah yang sangat besar (20%) memiliki daya magnetik terhadap motif pendirian yayasan pendidikan di Tanah Air?.&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan di atas memang dibutuhkan penelitian yang mendalam, tidak bisa dijawab dengan serampangan karena akan mendeskriditkan pihak lain. Namun apa yang akan dipaparkan penulis dalam kasus ini adalah pengalaman penulis pribadi ketika diajak beberapa rekan untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan. Dari perbincangan awal dengan beberapa rekan dan saudara penulis  secara eksplisit jelas menggambarkan bahwa motif pendirian yayasan pendidikan tidak lebih sebagai mesin uang karena memandang pendidikan merupakan kebutuhan bahkan candu bagi masyarakat modern, tak terkecuali masyarakat di Tanah Air. Mereka beranggapan bahwa sekolah merupakan ATM yang tidak ada matinya.&lt;br /&gt;Sebagian besar memandang bahwa pendidikan merupakan lahan bisnis yang menggiurkan. Memang pandangan rekan penulis dari kaca mata bisnis tidak salah. Insting bisnis dalam ranah pendidikan merupakan sesuatu yang tepat dalam konteks masyarakat saat ini. Mari kita simak bagaimana biaya pendidikan di Tanah Air saat ini. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan Taman Kanak-kanak saat ini biayanya sangat variatif. Dari yang tidak berkelas sampai yang memiliki label biayanya selangit, apalagi yang mengadopsi Full Day School. Biaya masuknya dalam kisaran tiga jutaan rupiah dan biaya bulanannya sekitar tiga ratusan ribu rupiah. Itu baru tingkat PAUD dan TK. &lt;br /&gt;Dan semakin tinggi tingkat satuan pendidikan akan linier dengan tingginya biaya pendidikan, dengan catatan sekolahnya memiliki prestise, bukan sekolah dalam kategori biasa-biasa saja. Dan jika dikalkulasi dan dibandingkan dengan biaya operasional maka bukan hanya BEP (Break Event Point) yang didapat namun laba yang menggiurkan. Belum lagi mimpi-mimpi untuk mendapatkan bantuan atau block grand dari pemerintah dan lembaga donor lainnya. Sebuah bisnis yang menggiurkan bukan?.&lt;br /&gt;Melihat perkembangan menjamurnya yayasan pendidikan di Tanah Air memang tidak bisa digeneralisasi bahwa yayasan-yayasan itu profit oriented. Dalam kaca mata penulis ada pula yang secara intens menanamkan ideologi agama, namun  dengan catatan sekolah-sekolah tersebut tetap saja mahal?!.&lt;br /&gt;Lalu salahkan pandangan dan orientasi yang profit oriented dan menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis. Bukankah dalam GATS sendiri sekolah juga merupakan komoditas yang layak dibisniskan?. Dalam perspektif GATS (General Agreement of Trade in Service) pendidikan baik dalam tingkatan pendidikan dasar, menengah, tinggi, pendidikan orang dewasa, dan pendidikan lain merupakan perdagangan jasa. Dan namanya sebuah perdagangan tentu kompetisi demi mengejar profit adalah hal yang lumrah. Dan hal itu memang sudah dan akan terjadi di Tanah Air.&lt;br /&gt; Jika sejak awal orientrasinya memang bisnis, maka praksisnya dapat ditebak akan terjadi disoerintasi dan rawan konflik. Baik konflik antara guru dan pengelola yayasan ataupun rasa ketidakpuasan siswa dan orang tua atas pelayanan akademik. Guru berpotensi mengeluh karena akan timbul relasi pengelola yayasan dan guru seperti relasi patron klien, tak ubahnya relasi majikan dan buruh. Dan ketidakpuasan siswa timbul karena motivasi guru yang akan melemah  karena sibuk dengan keluhannya akibat konflik kepentingan dengan pengelola yayasan, pengadaan fasilitas pembelajaran yang terlalu ngirit, timbulnya biaya-biaya yang tidak terduga dengan mengatasnamakan pengembangan pendidikan, dan masih banyak faktor lainnya. Dan lambat laun sustainibilitas sekolah disanksikan jika kondisi yang demikian tidak disadari oleh pengelola yayasan.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana agar pendirian yayasan pendidikan membawa implikasi yang baik untuk stakeholder pendidikan?. Tidak ada salahnya kita komparasikan dengan pendirian sekolah di negara lain.  Di Amerika Serikat yang notabene penggagas sekaligus pendorong GATS ternyata lebih realistis dan berorientasi pada eksperimentasi pendidikan dibanding motif ekonomi ketika sekelompok orang atau lembaga mendirikan sekolah baru. &lt;br /&gt;Kasus ini dapat kita lihat ketika sekelompok  guru Sekolah Negeri di Indianapolis dengan semangat tinggi menempuh perjalanan yang jauh untuk bertemu dengan Howard Gardner (penulis Frames of Mind)  di Kutztown. Tujuan sekelompok guru yang terdiri atas delapan orang guru itu adalah untuk mendirikan sekolah dasar K-6. Motif pendirian sekolah dasar K-6 tersebut bukan semata-mata karena uang tetapi karena terinspirasi oleh teori MI (Multiple Intelligences) yang ditulis oleh Howard Gardner. Dari hasil sharing antara delapan guru dan Howard Gardner akhirnya disepakati pendirian sekolah dasar sebagai aplikasi teori Multiple Intelligences.&lt;br /&gt;Dengan bimbingan Patricia Bolanos yang energetik dan visioner akhirnya delapan guru tersebut melakukan lobi, merencanakan kurikulum, dan setelah beberapa peristiwa yang menegangkan dan beberapa mengecewakan akhirnya diberi izin untuk mempunyai sekolah negeri “pilihan” di kota Indianapolis (Howard Gardner, 2003). Dalam perkembangannya sekolah eksperimentasi tersebut sangat sukses dan menjadi sekolah pilihan.&lt;br /&gt;Dari kasus pendirian sekolah dasar di Indianapolis tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita bahwa mendirikan sekolah baru harus memiliki visi yang jelas, memiliki daya pembeda (be the different), dan membutuhkan kerja keras karena desain kurikulum dan model yang ditawarkan tidak sebagaimana sekolah yang sudah ada.&lt;br /&gt;Mendirikan institusi pendidikan baru tidak cukup hanya karena memiliki modal, relasi, atau kekuasaan. Apalagi niatan utamanya menjadikan sekolah sebagai mesin ATM. Sekolah atau lembaga pendidikan baru harus mengadopsi prinsip be the first, be the best, dan be the different agar menjadi problem solver dan bukannya malah menjadi part of problem dalam perjalanan pendidikan di Tanah Air.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7140350134831760417?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7140350134831760417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7140350134831760417' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7140350134831760417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7140350134831760417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/10/motif-mendirikan-sekolah-motif.html' title='Motif Mendirikan Sekolah: Motif Pendidikan atau Ekonomi?'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-5528092193242851342</id><published>2010-10-03T11:23:00.001+07:00</published><updated>2010-10-03T11:23:56.309+07:00</updated><title type='text'>anomali sekolah gratis</title><content type='html'>Iklan sekolah gratis di layar kaca memang mengharukan. Narasinya heroik. Seorang bocah dari keluarga miskin menangis karena tak bisa sekolah. Tangisan tersebut berubah menjadi rasa optimistis ketika mendengar sekolah gratis. Bocah itu dan kedua orangtuanya berpelukan, bersyukur atas kebijakan yang didengar dari radio. Iklan yang melibatkan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo itu diakhiri dengan kalimat penegasan: “Sekolah Bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan yang kedua diperankan oleh Cut Mini. Berbeda dengan iklan pertama, iklan ini di-setting lebih pada dunia keseharian, yang melibatkan orangtua siswa dengan beragam profesi, antara lain tukang ojek dan sopir angkot. Iklan ini juga memberi pencerahan tentang profesi anak-anak di masa depan, tanpa memandang profesi orangtuanya. Iklan ini juga diakhiri dengan kalimat: “Sekolah bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang menyimak iklan itu akan larut dalam situasi emosional. Tampak sekali ada pembelaan atas kaum papa. Iklan itu mengingatkan kita kepada John Comenius dalam masterpiece-nya Didactica Magna, sebuah Seni Pengajaran yang Agung. Inti dari Didactica Magna adalah “pendidikan untuk semua” (education for everyone), pencerahan bagi peserta didik, dan pendidikan sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan sekolah gratis di layar kaca tersebut menyiratkan makna bahwa sekolah memang untuk semua (education for all). Tidak memandang anak orang kaya atau miskin, berasal dari kota atau desa, tak membedakan laki-laki atau perempuan, dan dikotomi status lainnya. Rakyat Indonesia tentu mengamini apa yang disajikan oleh iklan tersebut. Harapan pun membuncah. Biaya untuk anak sekolah bisa digunakan untuk biaya hidup lainnya yang semakin hari semakin berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya situasi emosional yang tersaji dalam iklan berbeda dengan kenyataan di lapangan. Situasi emosional sebagaimana tersaji dalam iklan itu berubah menjadi situasi penuh amarah dan ketidakpercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada sekolah yang benar-benar gratis (tidak memungut uang ini itu), tetapi di sisi lain ada sekolah yang sangat mahal, bersembunyi di balik status sekolah. Seakan-akan iklan itu hanya untuk sekolah negeri yang biasa-biasa saja, namun bukan untuk sekolah negeri yang statusnya bertaraf internasional (RSBI) atau sekolah yang mengklaim sebagai sekolah plus. Klaim atas status tidak jarang menjadi alat dan alibi untuk menarik pembiayaan yang mahal, yang kadang di luar kalkulasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan untuk masuk SD favorit biaya lebih dari Rp 5 juta, untuk masuk SMP favorit di atas Rp 7 juta, apalagi masuk SMA favorit tentu di atas Rp 10 juta. Anehnya, yang antre banyak sehingga semakin menyuburkan kapitalisme pendidikan di Tanah Air. Kondisi ini tentu bertentangan dengan konsep sekolah untuk semua. Dan iklan sekolah gratis itu seakan tidak punya pengaruh apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekolah (yang statusnya bagus atau favorit di lingkungannya) membuka pendaftaran sebelum masa pendaftaran resmi, dengan biaya mahal pula. Sistemnya inden layaknya beli barang mewah. Yang bisa mendaftar hanya anak orang-orang tajir. Bahkan, ada sekolah yang menerima pendaftaran di tengah tahun ajaran dengan iklan yang sangat narsis: hanya untuk cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan tersebut seakan menafikan proses pendidikan sehingga anak yang tidak cerdas dipandang tidak layak untuk sekolah di sekolah yang beriklan tersebut. Anehnya praktik-praktik itu tidak mendapat teguran dari dinas terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarnya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menjadikan kapitalisme pendidikan semakin menjamur sejatinya juga paradoks dengan iklan tersebut. Dua kebijakan itu sesungguhnya mengandung makna yang bertolak belakang. Di satu sisi menegaskan sekolah gratis, di sisi lain memberi ruang gerak penyelenggara pendidikan untuk berpraktik kapitalis. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan yang diambil tidak konsisten. Terjadi anomali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orangtua siswa berasumsi, gratis itu berarti tanpa membayar apa pun. Asumsi itu wajar karena sebagian besar orangtua sudah termakan iklan sekolah gratis. Bahkan, banyak orangtua mengeluh ketika dimintai biaya untuk pengadaan buku atau sumber belajar lainnya meski itu menjadi hak milik anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan apa yang disajikan di iklan dan di lapangan disebabkan oleh informasi yang tidak lengkap. Mispersepsi ini berpotensi pada sikap apriori masyarakat terhadap dunia pendidikan. Mestinya yang dimaksud gratis tersebut dijabarkan dengan jelas sehingga informasinya tidak terpotong-potong. Apakah gratis pendaftarannya, gratis SPP-nya, gratis uang gedungnya, atau gratis uang pengembangannya? Semua harus dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga dijelaskan berdasarkan statusnya. Apakah SD/SMP swasta dengan SD/SMP negeri berlaku hal yang sama? Tentu ini juga harus jelas, sebab sekolah swasta eksis karena pembiayaan dari orangtua siswa, jika ada dari pemerintah seperti BOS (bantuan operasional sekolah) tidak akan cukup untuk biaya operasional sekolah. Penjelasan lain yang diperlukan oleh masyarakat adalah sekolah gratis sampai tingkat apa? Apakah hanya sampai wajar sembilan tahun atau sampai tingkat SMA? Penjelasan-penjelasan tersebut penulis pandang mendesak untuk disosialisasikan, tidak cukup hanya melalui iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali sekolah gratis akan semakin parah jika penyelenggara pendidikan dan guru tidak ikhlas menerima kebijakan tersebut. Jangan sampai guru bertindak kapitalis dengan bisnis LKS atau barang lainnya kepada siswa karena program sekolah gratis mengurangi pendapatannya dari sekolah di luar gaji resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali sekolah gratis akan terus berlangsung jika pemerintah tidak mengontrol pelaksanaan UU Badan Hukum Pendidikan secara ketat dan memberi pencerahan kepada penyelenggara pendidikan. Tidak itu saja, mekanisme sekolah gratis harus diinformasikan dengan jelas dan tentu ada hukuman bagi penyelenggara yang melanggar. Jika ini sudah dilakukan dan berjalan dengan baik, barulah kita katakan: Sekolah Bisa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-5528092193242851342?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/5528092193242851342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=5528092193242851342' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5528092193242851342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5528092193242851342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/10/anomali-sekolah-gratis.html' title='anomali sekolah gratis'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7250337394550525865</id><published>2010-06-27T20:12:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:13:28.439+07:00</updated><title type='text'>Ningrat atau Umum ?!</title><content type='html'>Macarin kamu, enggak jauh beda dengam main ludruk. Pake nanya silsilah. Golongan darah. Ningrat atau umum?.&lt;br /&gt;Itulah sepenggal bait  lagu dari grup musik cadas Jamrud. Lagu tersebut menceritakan seorang laki-laki yang mengeluh karena pada saat berkunjung ke rumah kekasihnya ditanya perihal status dan latar belakang hereditas dirinya. Dalam konteks tradisi Jawa bertanya tentang bobot, bibit, lan, bebet adalah perihal yang wajar.&lt;br /&gt;Bobot, bibit, lan bebet merupakan simbul kesetaraan status antara pihak laki-laki dan pihak perempuan. Perbedaan status yang menyangkut bobot, bibit, lan bebet  tidak jarang menjadi penghalang relasi kedua pihak. Dulu, laki-laki yang statusnya tidak sepadan dengan pihak perempuan tidak akan berani mendekat, dan sebaliknya pihak perempuan yang karena statusnya merasa sangat jauh tidak jarang menolak pinangan dari pihak lelaki. Perempuan dan keluarganya pada zaman dulu pandai berkaca diri, tidak ingin dibilang kere munggah mbale. Lalu bagaimana konteks ningrat dalam lagu Jamrud di masa kekinian?.&lt;br /&gt;Lagu yang berjudul “Ningrat” memang sangat populer di kalangan remaja pecinta musik rock, apalagi lagu tersebut diciptakan pada saat Jamrud berada di puncak kariernya. Lagu tersebut sejatinya sebuah metafor yang  berlaku secara universal, tidak sebatas hubungan  seorang laki-laki dan  keluarga sang kekasih.&lt;br /&gt;Lagu tersebut semakin menegaskan bahwa di dunia post modern yang dibidani oleh globalisasi ini kekuatan, track record, dan jaringan yang baik harus dimiliki oleh setiap individu. Tanpa kombinasi ketiga unsur tersebut, individu tidak akan tumbuh dan berkembang secara maksimal.&lt;br /&gt;     Individu tidak cukup hanya memiliki kekuatan saja, ekonomi yang kuat tidak akan memberi kontribusi maksimal jika individu tersebut tidak memiliki track record yang bagus.  Track record yang bagus tanpa didukung kekuatan materi dan politis tidak akan memberi kontribusi yang maksimal bagi individu yang akan menduduki jabatan publik tertentu. Begitu pula dengan net working yang sangat penting dalam dunia global ini. Kemampuan seseorang dalam memanfaatkan net working akan sangat membantu dalam orientasi karier dan kekuasaannya. Barack Obama adalah contoh nyata bagaimana ia dapat memanfaatkan net working melalui dunia maya dalam kampanye pemilihan presiden.&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, ningrat kini telah bergeser makna. Ningrat bukan lagi melulu soal keturunan, bukan soal kasta, namun telah bergeser pada status ekonomi. Ningrat kini lebih tepat dimaknai sebagai kaum borjuis. Konsep pergeseran nilai ini gayut dengan inti globalisasi 3,0 di mana seseorang tidak lagi dilihat dari keturunan siapa namun lebih pada kualitas diri, kualitas ekonomi, dan kualitas lain yang melekat dalam diri individu.&lt;br /&gt;Kasta “Ningrat” dalam praksis pendidikan&lt;br /&gt;Semua sudah maklum bahwa dunia pendidikan tidak lepas dari kastanisasi. Berbeda dengan zaman kolonial dimana kastanisasi benar-benar merupakan dikotomi antara sekolah ningrat dan sekolah rakyat, kastanisasi pendidikan di zaman ini lebih pada soal status ekonomi. Maka sekolah yang muncul adalah sekolah biasa dan sekolah elit, sekolahnya anak-anak orang tajir.&lt;br /&gt;Merebaknya kastanisasi pendidikan tak lepas dari pemikiran komodifikasi pendidikan. Pendidikan telah masuk dalam wilayah pasar. Dan sebagaimana dalam pasar pada umumnya, muncul permintaan dan penawaran, dan menuhankan prinsip ekonomi adalah hal yang pasti. Semuanya diukur dengan keuntungan dibalik simbul-simbul pelayanan dan prestasi belajar.&lt;br /&gt;Simbul-simbul lembaga pendidikan atau yang lebih dikenal dengan labelisasi pendidikan merupakan instrumen yang menjadi daya tarik sendiri bagi calon siswa dan orang tua siswa. Label RSSN, RSBI, dan SBI seakan-akan menjadi jaminan mutu sekaligus tingkatan kasta tersendiri. Orang tua akan merasa bangga jika anaknya masuk dalam kasta pendidikan tersebut. Semakin tinggi kasta yang dipilih semakin bangga pula orang tua siswa. Pada label apa anaknya sekolah sekaligus menjadi gambaran tingkat ekonomi orang tua siswa. Orang tua siswa seolah-olah telah menduduki kasta “ningrat” dan tentu merasa borju jika anaknya masuk sekolah elit. &lt;br /&gt;Kastanisasi pendidikan pada kenyataannya juga di back up oleh pemerintah. Indikatornya adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah dengan memperhatikan status atau label sekolah. Sekolah SBI  memperoleh bantuan yang lebih besar dibanding sekolah lain karena SBI merupakan kasta tertinggi. Dan ujung-ujungnya adalah pengelola sekolah sibuk bermetamorfosa untuk merubah kasta sekolahnya. &lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan sekolah lain yang belum memiliki label?. Sekolah-sekolah yang masuk kategori sekolah biasa juga tidak tinggal diam. Sekolah biasa membuat label sendiri. Ada yang menamakan sekolah terpadu, sekolah plus, dan lain sebagainya. Sekolah-sekolah tersebut mengklaim sebagai sekolah unggul.&lt;br /&gt;Kastanisasi sekolah sejatinya berpotensi mengkotak-kotakkan siswa sebagai manusia pembelajar. Siswa yang sekolah pada kasta tinggi merasa menjadi kaum elit dan siswa yang sekolah pada sekolah biasa-biasa saja merasa terpinggirkan.&lt;br /&gt;Diakui atau tidak kesenjangan antara sekolah elit dan sekolah yang biasa begitu nampak jelas terlihat. Secara gampang dapat dilihat dari besarnya jumlah uang untuk masuk sekolah dan SPP setiap bulannya. Uang pangkal sekolah elit pada tingkat SMA dapat digunakan untuk membiayai sekolah selama tiga tahun pada SMA dengan kategori biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;Dengan kenyataan seperti ini maka setiap orang dapat mengukur diri ketika akan menyekolahkan anaknya. Kini praksis pendidikan tak ubahnya dengan main ludruk. Ningrat atau umum?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7250337394550525865?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7250337394550525865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7250337394550525865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7250337394550525865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7250337394550525865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/ningrat-atau-umum.html' title='Ningrat atau Umum ?!'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6014935819342457663</id><published>2010-06-27T20:06:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:07:46.668+07:00</updated><title type='text'>Soft Skills : Unsur Penting yang Terlupakan</title><content type='html'>Perhelatan Ujian Nasional baru saja selesai. Siswa yang lulus bersuka cita merayakan keberhasilannya, sementara siswa yang tidak lulus tidak sedikit yang kecewa dan terpuruk meskipun diberi kesempatan mengikuti Ujian Nasional ulangan. Kelulusan adalah gerbang menuju episode pendidikan berikutnya. Bagi yang lulus  SMA dapat memilih alternatif untuk kuliah di PT, menimba ilmu agama di pesantren, dan dapat pula kuliah kehidupan dengan terjun langsung di dunia usaha/industri dan di masyarakat.&lt;br /&gt; Namun tidak semua lulusan mampu memilih langkah pasti yang akan diambil. Euforia kelulusan hanya sesaat setelah pengumuman kelulusan, episode berikutnya adalah kegamangan menjalani aktifitas kehidupan. Tidak semua lulusan mampu secara intelektual mengambil program studi di perguruan tinggi yang diidam-idamkan. Tidak semua lulusan berasal dari keluarga yang mampu secara finansial, apalagi di tahun sekarang harga kursi di perguruan tinggi selangit. Dan tidak semua lulusan memiliki insting untuk berwira usaha, sementara bekerja sebagai buruh tidak semua lulusan memiliki nyali untuk menjalaninya.&lt;br /&gt; Fenomena ini memberi gambaran bahwa pendidikan kita tidak menyiapkan alternatif pilihan pasca kelulusan siswa. Pembelajaran di kelas hanya berorientasi bagaimana meluluskan siswa. Sekolah seakan-akan tidak bertanggung jawab atas nasib siswanya pasca kelulusan. Memang ada beberapa sekolah yang membuka BKK (Bursa Kerja Khusus), namun sepanjang pengetahuan penulis hanya sedikit yang dapat berjalan dengan efektif.&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, ada tiga ranah yang harus dikuasai oleh peserta didik yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ranah afektif berkaitan dengan attitude, moralitas, spirit, dan karakter, sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan yang sifatnya prosedural dan cenderung mekanis.&lt;br /&gt;Dalam realitas pembelajaran usaha untuk menyeimbangkan ketiga ranah tersebut memang selalu diupayakan, namun pada kenyataannya yang dominan adalah ranah kognitif dan psikomotorik. Akibatnya adalah peserta didik kaya akan kemampuan yang sifatnya hard skills namun miskin soft skills. Gejala ini tampak pada out put pendidikan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, pinter, juara kelas, namun miskin kemampuan membangun relasi, kekurangmampuan bekerja sama dan cenderung egois, serta cenderung menjadi pribadi yang tertutup.&lt;br /&gt;Penguasaan hard skills yang lebih dominan ini bukanlah kesalahan guru semata, namun sudah sistemik sehingga membelenggu kreatifitas guru dalam penanaman soft skills ke peserta didik. Adanya Ujian Nasional yang memforsir tenaga dan fikiran guru dan siswa, keharusan penguasaan berbagai keterampilan (dalam ujian praktik berbagai mata pelajaran) merupakan bukti bahwa sistem pendidikan kita lebih menekankan kemampuan teknik yang bersifat hard skills.&lt;br /&gt;Idealnya pembelajaran menemukan keseimbangan antara hard skills dengan soft skills sehingga peserta didik menjadi pribadi yang cerdas, pintar, namun terbuka dan dinamis. Pribadi yang terbuka dan dinamis itu penting karena pribadi yang demikian cenderung adaptif dan mampu berdialektika dengan perkembangan dan perubahan zaman.&lt;br /&gt;Lalu apa yang kurang dengan pembelajaran di sekolah?. Ada sisi yang selama ini kurang diperhatikan yakni soft skills. Soft skills berada diluar ranah teknis dan akademik, lebih bersifat psikologis sehingga abstrak. Konsep soft skills merupakan istilah sosiologis yang merepresentasikan pengembangan dari kecerdasan emosional seorang yang merupakan kumpulan karakter kepribadian, kepekaan sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimism yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain. Soft skills melengkapi hard skills, dimana hard skills merupakan representasi dari potensi IQ seseorang terkait dengan persyaratan teknis pekerjaan dan beberapa kegiatan lainnya (Djoko Hari Nugroho, 2009). Domain hard skills adalah learning to know and learning to do, sedangkan soft skills domainnya adalah learning to be and learning to life together.&lt;br /&gt;Meskipun soft skills  hanya pelengkap bagi hard skills namun sangat berperan dalam kesuksesan seseorang. Penelitian di Harvard University membuktikan bahwa soft skills menyumbang 80% atas kesuksesan seseorang. Sayangnya sumbangan yang besar atas kesuksesan seseorang ini sering terlupakan, pendidikan kita justru mengejar kecerdasan intelektual yang sejatinya hanya berperan 20%  dalam menentukan keberhasilan seseorang.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana guru meng-include- kan soft skills dalam pembelajaran?. Guru harus menata ulang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Unsur soft skills harus dicari dalam materi pelajaran yang diajarkan. Kemudian secara eksplisit harus ditulis dalam RPP, termasuk di dalamnya bagaiamana mempraktikkan soft skills tersebut di kelas.&lt;br /&gt; Mengingat pentingnya soft skills dalam membekali siswa menggapai prestasi hidup maka sudah selayaknya soft skills dalam pembelajaran dikedepankan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6014935819342457663?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6014935819342457663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6014935819342457663' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6014935819342457663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6014935819342457663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/soft-skills-unsur-penting-yang.html' title='Soft Skills : Unsur Penting yang Terlupakan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-5629043342117377458</id><published>2010-06-27T20:05:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:06:00.527+07:00</updated><title type='text'>Korupsi di Lembaga Pendidikan</title><content type='html'>Korupsi merupakan ancaman yang serius bagi setiap negara. Tragisnya lagi korupsi di Tanah Air telah masuk dalam setiap relung kehidupan. Lembaga eksekutif, legislatif, bahkan yudikatif yang seharusnya menjadi pihak yang menangani masalah korupsi tidak jarang menjadi sarang koruptor. Bagaimana dengan korupsi di lembaga pendidikan?.&lt;br /&gt;Teman-teman penulis di sekolah sering membuat pernyataan yang (maaf) menurut penulis sedikit narsis. Misalnya mengklaim bahwa pelaku pendidikan di sekolah tidak mungkin korupsi karena memang tidak ada yang dikorupsi. Pernyataan ,”Memangnya mau korupsi kapur, paling hanya korupsi waktu’, menjadi pernyataan yang sering diungkapkan oleh teman sejawat di sekolah. Benarkah demikian?. Benarkah sekolah masih menjadi moral force?. Benarkah sekolah memang benar-benar daerah putih yang terbebas dari praktik korupsi?.&lt;br /&gt; Menjawab pertanyaan di atas tentu tidak mudah. Tanpa mengetahui terminologi korupsi tentu akan memberikan jawaban yang bias. Joseph Nye (1967) menyatakan bahwa korupsi merupakan peringai yang menyimpang dari tugas yang seharusnya oleh pejabat untuk kepentingan pribadi, hal-hal yang berkaitan dengan keuangan atau peningkatan status, atau pelanggaran hukum terhadap jenis praktik tertentu karena kepentingan pribadi. Dengan mengacu pada terminologi di atas maka kita dapat menyatakan bentuk-bentuk korupsi yang terjadi dilembaga pendidikan.&lt;br /&gt; Bentuk korupsi di lembaga pendidikan sangat variatif, bahkan sering tidak disadari oleh pelaku. Misalnya pemberian hadiah orang tua kepada guru untuk “mempermudah” nilai anaknya, pembocoran soal atau kunci jawaban ujian, lobi-lobi dengan uang suap untuk mendapatkan jatah bantuan atau anggaran dana dari pemerintah, uang suap untuk mendapatkan jabatan tertentu, uang suap untuk mempermudah izin operasional sekolah baru, dan uang suap untuk memperlancar akreditasi sekolah. Pelaku praktik korupsi ini sering memandang uang suap sebagai bagian dari service.&lt;br /&gt; Meier (2005) menyatakan bentuk korupsi yang paling umum dalam bidang pendidikan antara lain: pertama; orang tua mungkin disarankan untuk membeli buku atau alat bantu mengajar yang ditulis oleh guru anaknya. Dalam konteks ini guru berjualan karya yang ‘dipaksakan” untuk memperoleh keuntungan pribadi. &lt;br /&gt;Kedua; orang tua disarankan untuk membayar sekolah khusus dimana setelah jam sekolah berlangsung, gurunya akan mengajar anaknya materi inti dari kurikulum yang diajarkan. Dalam konteks ini guru berbisnis trik dan tips yang jitu dalam menyelesaikan soal ujian di mana trik-trik itu mungkin tidak diberikan di jam pembelajaran intrakurikuler. Dengan kata lain di sekolah guru berbisnis les tambahan. Yang patut disayangkan adalah guru terkadang lebih bersemangat memberi pelajaran pada jam khusus tersebut karena honornya besar.&lt;br /&gt; Ketiga; orang tua disarankan  memberi sumbangan untuk dana pembangunan dan kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Pengabaian dalam hal ini akan berakibat pada , contohnya penahanan buku raport/kartu arsip siswa. Tragisnya lagi di sekolah swasta jika uang sumbangan tidak lunas akan mempersulit siswa saat akan mengambil kartu peserta ujian semester atau ujian nasional. &lt;br /&gt; Model-model korupsi di lembaga pendidikan memang sulit dihentikan karena modusnya yang berbeda dengan korupsi di lembaga lain yang kebanyakan modusnya penyelewengan anggaran atau dalam bentuk mark up anggaran. Korupsi dilembaga pendidikan semu, dan sejatinya mengandung potensi bahaya lebih tinggi. Jika korupsi anggaran hanya merugikan negara dalam bentuk uang, korupsi di lembaga pendidikan merugikan  secara ekonomi dan non ekonomi seperti merusak mental siswa dan merusak masa depan siswa.&lt;br /&gt; Transparansi Internasional menyatakan bahwa korupsi dalam bidang pendidikan itu sangat merugikan karena membahayakan masa depan sosial, ekonomi, dan politik suatu bangsa karena korupsi di lembaga pendidikan lebih berdampak jangka panjang, mengancam persamaan akses, kwantitas dan kualitas pendidikan, dirasakan oleh orang-orang miskin karena tertutupnya akses memperoleh pendidikan yang bermutu sehingga anak-anak orang miskin sulit keluar dari kemiskinannya. Korupsi di lembaga pendidikan juga bertentangan dengan salah satu tujuan utama pendidikan yakni menciptakan masyarakat yang hormat atau tunduk pada hukum dan hak asasi manusia, dan terguncangnya pondasi sosial karena persepsi siswa yang memandang bahwa kejujuran itu dapat dikalahkan oleh manipulasi dan penyuapan.&lt;br /&gt;Solusi&lt;br /&gt; Melihat dampaknya yang jauh lebih membahayakan dibanding korupsi yang lainnya, korupsi di lembaga pendidikan harus segera ditangani dengan serius. Jika tidak sama halnya dengan menciptakan calon-calon koruptor baru baik yang terang-terangan maupun yang terselubung. Menurut penulis ada tiga hal yang dapat dilakukan: pertama; sistem pendidikan tidak memberi peluang untuk terjadi korupsi. Sebagai contohnya; jika benar terjadi kebocoran soal atau kunci jawaban dalam ujian sebenarnya mengindikasikan bahwa ujian tersebut dirasa sangat memberatkan sehingga mengakibatkan terjadi korupsi di lembaga pendidikan (dengan modus beredarnya kunci jawaban, adanya pelajaran tambahan yang harus bayar mahal, dll). Kebohongan dalam ujian ini akan memberi dampak rusaknya mental siswa, oleh karenanya sistem ujian harus dirubah. Penciptaan sekolah-sekolah mahal merupakan bentuk korupsi karena menghilangkan akses anak-anak dari keluarga miskin, oleh karena itu sistem pendidikan mahal harus ditinjau ulang. Dan masih banyak sistem lain yang harus dibenahi.&lt;br /&gt;Kedua;  adanya pengawasan  yang ketat di lembaga pendidikan. Sayangnya fungsi kepengawasan dalam bidang apapun di negeri ini kurang/tidak maksimal karena pengawas memposisikan diri sebagai pihak yang harus di service dengan baik. Dan jika sudah di service ada kecenderungan semua masalah akan easy going.&lt;br /&gt;Ketiga; adanya pencerahan terhadap pendidik karena pendidik itu sendirilah sejatinya yang menjadi kunci untuk menghilangkan korupsi di bidang pendidikan. Pencerahan itu dapat bermacam bentuknya misalnya pembelajaran tentang korupsi dan dampaknya di lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;Apapun alasannya, korupsi di lembaga pendidikan harus segera direduksi, jika mampu dibersihkan secara total karena dampaknya yang membahayakan dan berjangka panjang. Semua pihak yang menjadi stakeholders pendidikan harus kritis dan proaktif dalam pemberantasan korupsi di lembaga pendidikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-5629043342117377458?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/5629043342117377458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=5629043342117377458' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5629043342117377458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5629043342117377458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/korupsi-di-lembaga-pendidikan.html' title='Korupsi di Lembaga Pendidikan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-5330337850311013342</id><published>2010-06-27T20:03:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:04:08.090+07:00</updated><title type='text'>Pemimpin yang Hebat</title><content type='html'>Pemimpin yang sukses, yang hebat, dan yang baik tidak muncul secara kebetulan. Pemimpin yang hebat dan sukses adalah pemimpin yang senantiasa menghayati karir kepemimpinan, pemimpin yang senantiasa mau untuk berproses. Pemimpin yang sukses senantiasa berupaya menciptakan dan mengambil langkah inspiratif dan menarik dari orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Setiap pemimpin ingin menjadi pemimpin yang terbaik. Namun tidak semua pemimpin memiliki kiat dan instrumen untuk menjadi pemimpin yang terbaik. Mungkin banyak pemimpin yang mengklaim bahwa dirinya adalah pemimpin terbaik, namun itu hanyalah klaim pribadi sehingga ada kemungkinan salahnya.&lt;br /&gt;Harry Purnama, dkk. (2009:7) memberi kiat-kiat untuk menjadi pemimpin yang hebat, pertama; tingkatkan pengaruh Anda secara luar biasa, jangan tanggung-tanggung, kedua; Anda harus lebih bermanfaat (amanah) kepada banyak orang dalam tim Anda, melangkahlah lebih, dan ketiga; lakukanlah langkah nyata, Anda harus berubah, mencintai pekerjaan Anda lebih baik lagi dan cintailah tim kerja Anda lebih baik lagi hari ini.&lt;br /&gt;Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang dapat bekerja secara efektif dengan mempertimbangkan sisi-sisi kemanusiaan bagi orang-orang yang dipimpinnya sebagai wujud pelayanan dari seorang pemimpin.&lt;br /&gt;A. Pemimpin yang Efektif&lt;br /&gt;Efektif sering diartikan tepat sasaran. Dapat pula sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pemimpin yang efektif berarti pemimpin yang dapat merealisasikan secara tepat tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Dalam perkembangannya pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang berorientasi baik pada hubungan antarmanusia (stakeholder organisasi) maupun pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan kata lain kepemimpinan tidak akan efektif, tidak akan mudah mencapai tujuan jika hubungan antaranggota tidak harmonis dan terpecah belah.&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat untuk menjadi pemimpin yang efektif, antara lain:&lt;br /&gt;1. Berilah ruang aktualisasi bagi orang-orang yang Anda pimpin. Anggota dalam suatu kelompok organisasi akan termotivasi untuk berprestasi jika Anda memberi ruang untuk beraktualisasi berkaitan dengan tugas yang harus dikerjakan. Aktualiasi dalam tugas akan memberi kepuasan bagi anggota kelompok yang mengerjakannya. Pemimpin harus mempelajari bagaimana teknik dan metode agar anggota kelompok dapat beraktualisasi dengan baik. Hasil penelitian M. Scott Myers (Thomas Gordon, 1995: 29-30) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Karyawan akan termotivasi jika pekerjaan bersifat menantang, artinya memungkinkan si pelaku merasa berhasil, merasa bertanggung jawab, merasa berkembang, merasa maju, merasa menikmati pekerjaan itu sendiri, dan memperoleh pengakuan.&lt;br /&gt;b. Karyawan tidak puas bukan pada pekerjaan itu sendiri, namun karena faktor lain seperti aturan kerja, waktu istirahat, hak kesenioran, upah, dan tunjangan.&lt;br /&gt;c. Karyawan tidak puas terjadi saat kesempatan untuk untuk meraih prestasi yang berarti dihilangkan.&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang miskin motivasi akan membuat anggota organisasi merasa hambar dan tidak memiliki ruh. &lt;br /&gt;2. Pandai-pandailah dalam menempatkan diri dalam organisasi yang Anda pimpin. Pemimpin yang efektif harus bersikap sedemikian sehingga ia dipandang hampir seperti anggota kelompok yang lain; dan pada saat yang sama harus membantu anggota kelompok agar mereka merasa bebas (tidak inferior). Kepemimpinan tidak akan efektif jika pemimpin sangat eksklusif dan memandang relasi dengan anggota kelompoknya sebagai hubungan buruh dengan majikan.&lt;br /&gt;3. Anda harus mendengarkan suara anggota dari orang-orang yang Anda pimpin. Keterampilan dan kemauan untuk mendengarkan merupakan bagian dari human relationship seorang pemimpin. Adanya kemauan mendengarkan keluhan, amarah, dan pengaduan adalah bukti Anda berempati kepada orang-orang yang Anda pimpin. Jika Anda sudah terbiasa dan memiliki keterampilan mendengarkan, maka Anda akan memperoleh input yang berharga untuk mengefektifkan kinerja Anda. Bahkan Anda sangat berpeluang memecahkan masalah pribadi anggota yang Anda pimpin. Anda akan cepat meredam kemarahan anggota secepat kemunculan amarahnya. Manfaat lain dari keterampilan mendengarkan adalah menghilangkan praduga-praduga dari anggota yang mungkin Anda pandang stereotip. Anda akan menyadari bahwa salah satu anggota yang Anda pimpin tidak seburuk yang Anda duga.&lt;br /&gt;4. Pandai-pandailah mengelola keunggulan anggota Anda. Anda harus memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi, keberadaan selanjutnya tergantung bagaimana Anda sebagai pemimpin mengelolanya. Anda harus pandai-pandai mengatur posisi dan job anggota Anda. The right man on the right job harus Anda praktikkan.   &lt;br /&gt;5. Jadilah fasilitator pemecah masalah. Pemimpin tidak harus memecahkan masalahnya sendirian, cukuplah ia menjadi fasilitator pemecah masalah bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus menyadari bahwa pemecahan masalah merupakan sebuah proses. Agar proses pemecahan masalah dapat efektif diperlukan enam langkah pemecahan masalah yang meliputi:&lt;br /&gt;a. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah&lt;br /&gt;b. Membuat pemecahan-pemecahan alternatif.&lt;br /&gt;c. Mengevaluasi pemecahan – pemecahan alternatif.&lt;br /&gt;d. Pengambilan keputusan&lt;br /&gt;e. Pelaksanaan keputusan&lt;br /&gt;f. Mengevaluasi pemecahan yang telah dilaksanakan (Thomas Gordon, 1994: 52).&lt;br /&gt;6. Buatlah team building. Anda tidak mungkin memikirkan semua masalah dan tugas organisasi sendirian. Anda membutuhkan team building agar pekerjaan dapat dipikirkan oleh tim Anda. Adanya tim dalam organisasi Anda dalam jangka panjang akan memberi banyak manfaat antara lain: pendewasaan staf Anda, adanya pengurangan ketergantungan staf dan anggota kelompok dari Anda sebagai pemimpin, sasaran kelompok yang semakin jelas, luluhnya perbedaan status antara anggota dan Anda sebagai pemimpin, adanya ruang aktualisasi, dan meningkatnya kualitas keputusan yang diambil karena adanya kolektifitas pikiran dan ide dari tim yang Anda bentuk.&lt;br /&gt;7. Anda harus fokus dan total. Menjadi seorang pemimpin harus fokus dan total, apalagi jika Anda baru pertama kali menjadi seorang pemimpin. Anda harus fokus pada tugas Anda dan menjalankan tugas dengan sepenuh hati (total). Jika Anda hanya setengah-setengah maka Anda tak ubahnya sebagai half leader (setengah pemimpin). Half Leader merupakan sosok pemimpin yang tidak utuh, sekedar berorientasi pada profit, tetapi tidak memiliki kedekatan dengan timnya. Harry Purnama, dkk. (2009: 41-44) membagi half leader dalam tiga kategori yakni:&lt;br /&gt;a. Pemimpin tidak mengerti makna kepemimpinannya (tipe keledai).Tipe pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang tidak tahu akan kemana arah organisasinya. Berorientasi jangka pendek dan miskin inovasi dan kreasi.&lt;br /&gt;b. Pemimpin tidak memiliki moral sebagai leader (tipe singa). Tipe pemimpin singa adalah pemimpin yang mengutamakan dirinya sendiri, egois, mau sukses sendiri, dan tidak segan-segan menyingkirkan pesaingnya.&lt;br /&gt;c. Pemimpin tidak memiliki jiwa melayani sebagai leader (tipe ular).  Pemimpin tipe ular hanya memikirkan target, tak ambil peduli dengan anggota yang ia pimpin. Ia suka memaksa anggota mengerjakan apa yang ia maui tanpa memedulikan situasi dan kondisi. &lt;br /&gt;8. Memimpinlah dengan attitude yang baik. Pemimpin akan dapat memimpin dengan efektif jika ia senantiasa mengedepankan sikap positif dan menjauhi sikap negatif. Jika Anda menginginkan anggota yang Anda pimpin bekerja keras, jujur,bertanggung jawab, dan peduli maka Anda harus tunjukkan sikap demikian terlebih dahulu kepada anggota Anda dulu. Dan jika Anda ingin anggota yang Anda pimpin jauh dari sikap negative seperti malas, curang, kerja seenaknya, dan sikap tidak terpuji lainnya maka Anda harus menjauhkan diri Anda dari perilaku demikian sebelum Anda meminta kepada anggota yang Anda pimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pemimpin yang Humanis&lt;br /&gt;Mengapa pemimpin harus humanis?. Jawabannya jelas, yang ia pimpin adalah manusia, bukan mesin. Manusia tidak boleh diperlakukan secara mekanistik karena mematikan daya kritis, kreatif, dan inovatif. Manusia yang mekanis tidak akan berkembang. Menuhankan juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis).&lt;br /&gt;Memang dalam sebuah organisasi setiap anggota memiliki task (tugas) yang disajikan dalam matrik kerja ataupun job diskripsi. Pekerjaan tersebut memang harus dikerjakan dengan tuntas dan baik. Namun proses pengerjaan oleh anggota kelompok tidak boleh seperti kerja mesin yang selalu dituntut terus-menerus, diforsir, dan diperas tenaganya tanpa terurus sisi kemanusiaannya.&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan oleh pemimpin adalah terselesaikannya pekerjaan dengan baik jika orang yang mengerjakan tersebut terurus dengan baik, dan berlaku sebaliknya, jika orang yang mengerjakan tidak terurus dengan baik maka pekerjaan tidak akan terselesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;Mengurus kesejahteraan lahir dan batin orang yang dipimpin adalah sebuah bentuk humanisasi. Pemimpin yang humanis adalah pemimpin yang mampu memenuhi kebutuhan anggota yang dipimpinnya. Pemimpin harus memikirkan gaji agar orang-orang yang dipimpinnya dapat hidup layak, pemimpin harus memperhatikan kenaikan pangkat dan jabatan jika ada anggota yang pantas dan sudah waktunya, pemimpin harus merotasi orang-orang yang dipimpinnya agar tidak jenuh dan mendapatkan tantangan dan pengalaman baru, bahkan pemimpin harus melahirkan pemimpin baru dari anggota yang dipimpin jika memang sudah waktunya dan layak untuk menjadi pemimpin berikutnya.&lt;br /&gt;C. Memenuhi Harapan Bagi orang yang Dipimpinnya&lt;br /&gt;Selain terpenuhinya kebutuhan karyawan seperti gaji dan ruang untuk beraktualisasi, anggota dalam sebuah organisasi juga memiliki harapan tentang pemimpin mereka. Satu-satunya faktor yang ingin dilihat oleh sebagian besar karyawan pada pemimpin mereka adalah inspirasi (Phil Dourado &amp; Phil Blackburn, 2009:1).&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri pemimpin yang menginspirasi menurut Phil Dourado &amp; Phil Blackburn ( 2009;18-19) adalah:&lt;br /&gt;1. Fokus strategis yang tajam: bekerja berdasarkan sumber daya yang benar-benar dimiliki untuk menambah niali riil&lt;br /&gt;2. Pemikir lateral: menggunakan sudut pandang yang luas, menggunakan pengalaman di luar sektor mereka sendiri.&lt;br /&gt;3. Visi dan komunikasi; visi yang fokus pada konsumen tentang arah bisnisnya dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik.&lt;br /&gt;4. Berprinsip; berkomitmen, berani, percaya diri, meskipun dengan cara yang tenang.&lt;br /&gt;5. Refleksif; senantiasa belajar, mau dikritik sebagai bahan refleksi diri.&lt;br /&gt;6. Pengambil resiko; berani mengambil resiko dengan perhitungan yang matang.&lt;br /&gt;7. Mudah ditemui; memiliki waktu untung sharing dengan anggota atau karyawan.&lt;br /&gt;8. Menghargai sikap; mempercayai bahwa tanpa motivasi dan sikap yang benar tujuan organisasi tidak akan mudah dicapai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-5330337850311013342?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/5330337850311013342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=5330337850311013342' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5330337850311013342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5330337850311013342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/pemimpin-yang-hebat.html' title='Pemimpin yang Hebat'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6401355814183625734</id><published>2010-06-27T20:01:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:03:03.736+07:00</updated><title type='text'>Apa yang Harus Diketahui Oleh Seorang Pemimpin</title><content type='html'>A. Tahu tentang Dirinya Sendiri&lt;br /&gt;Siapapun harus mengenal dirinya. Filsafatinya orang Jawa”Ngilo githoke dhewe”. Dalam istilah yang lebih umum sering dinyatakan dengan”pandai-pandailah mengukur baju sendiri”. Ya, setiap individu memiliki kekhasan tersendiri. Memiliki potensi yang dominan diantara kecerdasan majemuknya, memiliki bakat bawaan tersendiri, dan berbagai kekhususan diri lainnya yang merupakan given dari Tuhan.&lt;br /&gt;Setiap individu harus sadar potensi yang dimilikinya agar dapat mengembangkan secara efektif guna peningkatan kualitas hidup. Sayangnya tidak semua individu memahami dan mengarahkan potensinya. Banyak orang yang tahu bakatnya yang mnenonjol atau potensinya yang paling baik dalam dirinya, namun kadangkala tidak tahu bagaimana cara mengembangkan potensinya tersebut. Bahkan di sekolahpun kadang potensi-potensi itu tidak tergarap karena pembelajaran yang masih dominan dengan model pembelajaran klasik, bahkan tidak jarang sekolah justru menjadi ajang aborsi potensi peserta didik.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara mengenal diri sendiri ?. Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog atau talent scouter (pemandu bakat). Jika tidak, Anda dapat menggunakan analisis diri dengan pendekatan Analisis SWOT. Jika Anda berpengalaman dalam organisasi maka Anda sudah terbiasa dengan analisis SWOT. Anda dapat menggunakan pendekatan SWOT untuk mengelola diri Anda.&lt;br /&gt;SWOT merupakan akronim dari empat huruf. Strengths (kekuatan), Weakneses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Pada umumnya, analisis SWOT digunakan dalam pemasaran. Namun sesungguhnya analisis SWOT itu dapat diterapkan untuk merancang apa dan bagaimana kehidupan setiap manusia. Membuat strategi, mengukur kemampuan, mendeteksi ancaman dan menciptakan kesempatan adalah substansi dari analisis SWOT. Strengthness, Weakness, Opportunities dan Threat merupakan empat kata yang sebetulnya  bermakna perenungan dan muhasabah atas kediriannya sebagai manusia.&lt;br /&gt;Berdasarkan sumber pada www.geocities.com/bukukmhdi/bpo21.html - 67k analisis SWOT adalah sebuah bentuk analisis situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisis ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisis SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisis yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan dapat pula individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jenis Pendekatan Analisis SWOT&lt;br /&gt;1. Pendekatan Kualitatif  Matriks SWOT versi Kearns&lt;br /&gt;Matrik Kearns terdiri atas delapan kotak, dua kotak paling atas adalah kotak faktor eksternal (Peluang dan Tantangan) sedangkan dua kotak di sebelah kiri adalah faktor internal (Kekuatan dan Kelemahan). Sisa empat kotak yang lain berisi isu-isu strategis yang timbul sebagai hasil titik pertemuan antara faktor-faktor internal dan eksternal. &lt;br /&gt;Hasil titik pertemuan dalam sel prinsipnya sama dengan penggunaan prinsip kuadran. Kuadaran yang mempertemukan kekuatan dengan peluang memunculkan comparative advantage (keunggulan komparatif). Dalam posisi ini perusahaan, organisasi atau individu akan berkembang dengan cepat, maka kesadaran akan potensi tersebut harus dimanfaatkan.&lt;br /&gt;Kuadran yang mempertemukan kekuatan dengan ancaman muncul isu strategis mobilization. Tugas organisasi, perusahaan, atau individu adalah mengorganisir kekuatan sebuah sebuah proteksi dan memperlunak ancaman yang muncul dari luar.&lt;br /&gt;Kuadaran yang mempertemukan kelemahan dengan ancaman memunculkan kondisi yang paling lemah bagi organisasi, perusahaan, atau individu. Dalam posisi ini harus diambil sikap damage control (mengendalikan kerugian).&lt;br /&gt;Kuadran yang mempertemukan kelemahan dengan peluang memunculkan posisi investment atau divestment. Posisi ini memberikan kita pada posisi kabur. Peluang besar namun kita tidak memiliki kemampuan untuk menggarapnya. Kalau peluang itu dipaksakan potensi merugi atau boros, sehingga lebih baik diserahkan kepada pihak lain yang lebih berpotensi untuk menggarapnya.&lt;br /&gt;Tabel 1. Pendekatan Model Kearns&lt;br /&gt;NO STRENGTH&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;2 Dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO WEAKNESS&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;2 Dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO OPPORTUNITY&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;2 Dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO THREAT&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;2 Dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuadran analisis SWOT Kearns&lt;br /&gt;        EKSTERNAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERNAL &lt;br /&gt;OPPORTUNITY &lt;br /&gt;THREATS&lt;br /&gt;STRENGH Comparative Advantage Mobilization&lt;br /&gt;WEAKNESS Divestment/Investment Damage Control&lt;br /&gt;Tabel 2. Model Kuadran analisis SWOT Kearns&lt;br /&gt;2. Pendekatan Kuantitatif Model Pearce dan Robinson&lt;br /&gt;Model Pearce dan Robinson (dalam M. Karebet Widjajakusuma dan M. Ismail Yusanto, 2002) melalui tiga langkah:&lt;br /&gt;a. Langkah pertama adalah menghitung skor (a) dan bobot (b) setiap faktor SWOT dan menghitung perkalian antara skor dan bobot. Untuk memudahkan perhitungan faktor skor digunakan rentang 1 sampai dengan 10. Skor 1 terendah dan 10 tertinggi. Skor setiap faktor tidak dipengaruhi dan mempengaruhi faktor lain. Bobot (b) kuantifikasinya saling berketergantungan dengan poin faktor lainnya. Penilaian terhadap satu faktor dengan membandingkan tingkat kepentingan dengan faktor lain. Perhitungannya adalah poin faktor dibagi dengan banyaknya jumlah poin faktor. Misal, jika poinnya 8 dan poin faktornya ada 14 maka skornya 8/14.&lt;br /&gt;b. Langkah kedua melakukan pengurangan antara S dan W, menghasilkan nilai d. Nilai d diletakkan dalam sumbu x pada sumbu cartesian. Pengurangan faktor O dan T menghasilkan nilai e. Nilai e diletakkan dalam sumbu y  pada sumbu cartesian.&lt;br /&gt;c. Langkah ketiga adalah mencari posisi organisasi yang ditunjukkan oleh titik (x,y) pada kuadran SWOT. Kuadran I (+,+) adalah kuadaran progresif, kuadran II (+,-) adalah kuadran diversifikasi strategi, kuadran III (-,+) adalah kuadran ubah strategi, dan kuadran IV (-,-) adalah kuadran strategi bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Analisis SWOT dapat dibagikan dalam lima langkah (Darmo Budi Suseno,2009;18):&lt;br /&gt;1. Menyiapkan sesi SWOT&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi kesempatan dan kelemahan&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi kesempatan dan ancaman&lt;br /&gt;5. Melakukan ranking terhadap kekuatan dan kelemahan&lt;br /&gt;6. Menganalisis kekuatan dan kelemahan&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara mengimplementasikannya?. Berikut ini disajikan bagaimana cara untuk menerapkan analisis SWOT untuk mengupas diri Anda. Langkah pertama adalah Anda membuat matrik SWOT untuk diri Anda sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Dapat Memimpin Dirinya Sendiri&lt;br /&gt;Harry S Truman (Darmo Budi Suseno;2009, 66-67) menyatakan bahwa disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dahulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila dia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin yang mampu memimpin dirinya dapat luwes dalam beraktualisasi diri dan memiliki daya adaptasi yang tinggi namun tetap memegang prinsip-prinsip yang dianut.&lt;br /&gt;  Mario Teguh (2009) menyatakan bahwa semua kepemimpinan adalah kepemimpinan pribadi, sehingga tidak ada pribadi yang bisa mengharapkan dirinya menghasilkan kinerja organisasi yang baik tanpa menjadikan diri pribadinya sebagai penyebab utama tergelorakannya semangat dan tertatanya semua proses kerja.&lt;br /&gt;Kedua pendapat di atas menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan pribadi akan linier dengan kualitas seseorang dalam memimpin sebuah orgnisasi. Seseorang tidak akan mampu memimpin dengan baik jika ia sendiri bermasalah dengan kepribadiannya.&lt;br /&gt;Inti dari kemampuan memimpin dirinya adalah pada pengendalian diri dan kemampuan beradaptasi. Orang yang mampu mengendalikan diri dengan baik akan mudah beradaptasi. Dan adaptasi yang dilakukan oleh seseorang harus dibarengi dengan pengendalian diri yang baik, sebab tanpa ada pengendalian diri yang baik seseorang tidak akan menjadi dirinya sendiri namun terbawa arus lingkungannya.&lt;br /&gt;D. Sadar sebagai Seorang Pemimpin&lt;br /&gt;Adakah pemimpin yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin?. Jika melihat pada definisi pemimpin maka sejatinya kemungkinannya sangat kecil ada pemimpin yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin. Namun jika pertanyaannya adalah adakah manajer yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah manajer, jawabannya adalah ; ada.  Individu yang karena otoritas keluarga dan ditasbihkan sebagai manajer mungkin tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang manajer. Ketidaksadaran itu mungkin disebabkan usianya yang belum matang atau karena tidak disiapkan secara serius sehingga tidak siap mengemban tugas sebagai manajer. Akibatnya peran tidak maksimal karena miskin penjiwaan.&lt;br /&gt;Seseorang yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin berarti orang itu bukanlah pemimpin, namun jabatan lain yang memiliki kedekatan makna dengan kata pemimpin. Contohnya adalah manajer, mandor, supervisor, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin mutlak diperlukan bagi pemimpin yang ingin sukses menjalankan tugasnya. Memang tidak semua pemimpin itu sukses karena hakikat pemimpin itu menekankan pada kemampuan individu sehingga jika ada pemimpin yang tidak sukses, ya memang kemampuannya segitu adanya. &lt;br /&gt;Kesadaran seorang pemimpin adalah adanya upaya yang sungguh-sungguh untuk selalu meningkatkan kemampuan kepemimpinannya karena kualitas kepemimpinan ada pada kemampuan diri. Upaya peningkatan diri dilakukan didasarkan atas kebutuhan dinamika internal, eksternal, dan global. Bukan karena takut ada ancaman dari pesaing atau orang yang dipimpinnya. Orang yang meningkatkan diri demi posisi yang dimilikinya maka pemimpin yang demikian tidak akan pernah bahagia dan senantiasa resah. Pemimpin yang demikian besar potensinya untuk mengalami post power syndrome.&lt;br /&gt;Pemimpin yang sejati tidak hanya selalu mengupgrade diri namun juga menyadari bahwa posisi atau amanat yang diembannya hanyalah “titipan” dari Tuhan melalui orang-orang di sekitar yang menunjuk atau mengangkatnya. Dengan demikian bukan ketakutan akan pergantian pemimpin yang ditakuti namun yang dilakukan adalah mempersiapkan pemimpin yang tangguh dan yang lebih baik darinya dalam bentuk pengkaderan. Dan pemimpin sejati tidak menciptakan pengikut. Mereka menciptakan lebih banyak pemimpin (Phil Dourado dan Phil Blackburn, 2009: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Mengetahui Visi dan Misi Organisasi yang Dipimpinnya&lt;br /&gt;Setiap pemimpin harus memahami visi dan misi organisasinya. Visi mengandung pesan spirit dan bersifat abstrak. Dan misi adalah realisasi dari visi, lebih operasional dan konkrit. Organisasi tanpa visi ibarat manusia tanpa ruh. Tak jelas arah dan tidak mempunyai pijakan. Tidak memiliki cita-cita luhur. Tanpa misi yang jelas maka arah organisasi dan tujuan mengambang, kinerjanya menjadi tidak terukur.&lt;br /&gt;Pemimpin harus mengetahui benar makna dari visi organisasinya. Misi organisasi kemudian menjadi tema operasional yang agenda kerjanya dapat terwujud dalam rencana strategis ataupun action plan. Dengan berpedoman pada visi dan misi maka semua bentuk kegiatan organisasi tidak boleh menyimpang dari dua hal tersebut. Penyimpangan pada visi dan misi merupakan bentuk penghianatan organisasi. Visi sifatnya permanen, namun misi suatu saat dapat direkonstruksi sesuai dengan dinamika internal dan eksternal organisasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6401355814183625734?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6401355814183625734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6401355814183625734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6401355814183625734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6401355814183625734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/apa-yang-harus-diketahui-oleh-seorang.html' title='Apa yang Harus Diketahui Oleh Seorang Pemimpin'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4522652570565135909</id><published>2010-06-27T20:00:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T20:01:31.217+07:00</updated><title type='text'>Ikhwal Kepemimpinan</title><content type='html'>A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Setiap orang adalah pemimpin, paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri. Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya.&lt;br /&gt;Dalam kajian ilmu sosial, manusia adalah “makhluk sosial-ekonomi”. Pandangan ini menegaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang luas, tidak semata-mata yang berkaitan dengan ekonomi semisal upah atau keuntungan finansial lainnya, tetapi manusia juga butuh akan penerimaan diri oleh lingkungan sosialnya, butuh prestasi, interaksi, dan juga pengakuan. Pandangan ini sejalan dengan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow yang terdiri atas kebutuhan fisik, keamanan, penerimaan, harga diri, dan aktualisasi diri.&lt;br /&gt;Seseorang yang telah tercukupi kebutuhan fisiknya akan membutuhkan keamanan hidupnya. Ketika kedua kebutuhan tersebut dipenuhi dengan baik maka seseorang akan bergaul dengan lingkungan dengan melakukan penyesuaian diri agar diterima oleh komunitas di sekitarnya. Ketika kebutuhan ketiga tersebut sudah terpenuhi maka hirarki keempat akan diraihnya. Begitu seterusnya hingga kebutuhan puncak yakni aktualisasi diri akan direngkuhnya jika semua hirarki di bawahnya telah dicapai.&lt;br /&gt;Tidak semua komunitas menyediakan ruang bagi seseorang untuk mengaktualisasikan diri, karena pada dasarnya aktualisasi diri erat kaitannya dengan persaingan. Seseorang yang gagal beraktualisasi diri dalam satu komunitas akan mencobanya dikomunitas lainnya.&lt;br /&gt; Menjadi pemimpin adalah bentuk aktualisasi diri yang diperjuangkan oleh orang-orang yang mapan dalam kelima hirarki. Dengan demikian menjadi pemimpin hakikatnya adalah sebuah kebutuhan.&lt;br /&gt;B. Makna Pemimpin&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang pemimpin yang berkualitas seseorang terlebih dahulu harus mengetahui apa makna pemimpin itu sendiri. Mengerti akan makna pemimpin itu penting agar dapat menjiwai peran yang akan diembannya. Tanpa mengetahui maknanya maka seorang pemimpin tidak tahu apakah yang dilakukan atau keputusan yang diambil benar atau salah, efektif atau tidak, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Kepemimpinan adalah terjemahan dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader. Gary A. Yulk (Nurkholis, 2002: 153) mendefinisikan kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Darmo Budi Suseno (2009: 69) mendefinisikan pemimpin sebagai orang yang memiliki pengaruh terhadap orang disekitarnya, perbuatannya, perkataannya, maupun tingkah lakunya yang dilandasi suatu prinsip tidak peduli prinsip tersebut benar atau salah. Sedangkan Ari Retno Habsari (2008, x-xi) mendefinisikan pemimpin dengan beberapa makna yakni; sebagai seseorang yang memimpin dan menunjukkan jalan, seseorang yang menunjukkan jalan, arah dan komando,  seseorang yang mempengaruhi sikap dan tindakannya dari yang lainnya, seseorang yang orang lain ingin mengikutinya, dan seseorang dengan kemampuan untuk memotivasi orang lain untuk menghasilkan.&lt;br /&gt;Pemimpin berbeda dengan manajer. Pemimpin menekankan pada kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain. Pemimpin kemunculannya karena ditunjuk oleh orang atau organisasi yang hierarkinya lebih tinggi, dan dapat pula karena diangkat oleh orang-orang dalam komunitasnya. Sedangkan manajer ditunjuk dan memiliki legitimasi untuk memberi penghargaan dan atau hukuman pada pengikutnya karena otoritas formal yang dimilikinya, bukan karena kemampuannya.&lt;br /&gt;Hadari Nawawi dan M. Martini (Nurkolis, 2002: 159) menyatakan bahwa pemimpin memiliki karakteristik sebagai berikut, (1) pemimpin memikirkan organisasinya dalam jangka panjang, (2) pemimpin memikirkan organisasi secara lebih luas baik menyangkut kondisi internal, eksternal maupun kondisi global, (3) pemimpin mempengaruhi pengikutnya sampai diluar batas kekuasaannya, (4) pemimpin menekankan pada visi dan nilai-nilai yang tidak tampak, mempengaruhi pengikutnya secara tidak rasional dan elemen-elemen tak sadar lainnya dalam hubungannya antara pemimpin dan pengikut, (5) pemimpin memiliki keterampilan politik untuk menguasai konflik yang terjadi diantara pengikutnya, dan (6) pemimpin berfikir dalam upaya memperbaiki organisasinya.&lt;br /&gt;Adapun perbedaan pemimpin dan manajer menurut Nurkolis (2002: 160) antara lain, (a) pemimpin tidak selalu berada dalam sebuah organisasi, sedangkan manajer selalu dalam organisasi tertentu baik formal maupun nonformal, (b)pemimpin dapat ditunjuk atau diangkat oleh anggotanya, sedangkan manajer selalu ditunjuk. (c) pengaruh yang dimiliki pemimpin karena dimilikinya kemampuan pribadi yang lebih dengan yang lain, sedangkan pengaruh yang dimiliki manajer karena dimilikinya otoritas formal (d) pemimpin memikirkan organisasi secara lebih luas dan jangka panjang sedangkan manajer berfikir jangka pendek  dan sebatas tugas dan tanggung jawabnya, (e) pemimpin memiliki keterampilan politik dalam menyelesaikan konflik, sementara manajer menggunakan pendekatan formal-legal, (f) pemimpin berfikir untuk kemajuan dn organisasi secara luas, sementara manajer berfikir untuk kepentingan diri dan kelompoknya secara sempit, dan (g) pemimpin memiliki kekuasaan secara lebih luas, sedangkan manajer hanya memiliki wewenang saja.  &lt;br /&gt;Dari beberapa perbedaan tersebut di atas, perbedaan utama terletak pada orientasi pengaruh, jika pemimpin orientasinya pada memengaruhi orang-orang untuk mengikuti dirinya, sedangkan manajer berorientasi pada bagaimana mempertahankan sistem dan proses.&lt;br /&gt;Melihat dari definisi dan peran dari seorang pemimpin jelaslah bahwa pemimpin itu haruslah orang yang memiliki kapasitas lebih dibanding orang yang dipimpinnya. Maka calon pemimpin idealnya merangkak dari bawah karier kepemimpinannya sehingga menguasi betul apa yang harus dikerjakan, apa yang harus diputuskan, dan otoritas apa yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Dengan membangun karier dari bawah maka seorang pemimpin mengetahui betul seluk beluk deskripsi tugas dari setiap seksi atau departemen sehingga dapat tegas dan cerdas dalam menghadapi dinamika organisasi yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Fungsi Pemimpin&lt;br /&gt;Pemimpin diangkat atau ditunjuk oleh kelompok orang atau organisasi karena memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain dengan harapan mampu menggerakkan, mampu mengembangkan, dan mampu menumbuhkan organisasi itu sendiri yang secara langsung akan meningkatkan kualitas anggotanya. Menjalankan tugas kepemimpinan sama halnya dengan menjalankan fungsi kepemimpinan.&lt;br /&gt;Dalam agama Kristen ada tujuh tanggung jawab pemimpin yakni sebagai teladan, hamba, pendeta, guru, penilik, penasihat, dan pendoa (Stewart Dinnen, 2009: 3). Stephen Covey (Muhammad Syafii Antonio, 2007;20) menyatakan ada empat fungsi pemimpin (the 4 roles of leadership) yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling).&lt;br /&gt;Fungsi pemimpin sebagai perintis (pathfinding) menekankan pada bagaimana upaya pemimpin untuk memahami dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya, merealisasikan visi dan misi organisasi, dan mengatur strategi untuk ketercapaian visi dan misi organisasi.&lt;br /&gt;Fungsi pemimpin sebagai penyelaras (aligning) tak ubahnya sebagai conductor dalam sebuah konser musik. Kepiwaian mengolah semua potensi yang ada agar sinergi dan member energi bagi organisasi yang dipimpinnya merupakan bagian penting dari fungsi pemimpin sebagai penyelaras (aligning).&lt;br /&gt;Fungsi pemimpin sebagai pemberdaya (empowering) menekankan pada kepiawaian pemimpin memahami berbagai tugas yang harus diembannya, memahami tugas-tugas apa yang dapat didelegasikan pada orang-orang disekelilingnya, serta memahami betul alat dan instrumen untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam organisasi yang ia pimpin. &lt;br /&gt;Fungsi pemimpin sebagai panutan (modeling) menekankan bagaimana seorang pemimpin dapat menjadi panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Bagaimana pemimpin berkomitmen pada apa yang sudah dikatakan, bagaimana cara berperilaku dan beretika, dan konsistensi pemimpin merupakan bagian penting yang harus diperhatikan dalam mengemban fungsinya sebagai panutan (modeling).&lt;br /&gt;D. Kepribadian Pemimpin&lt;br /&gt;Dalam kajian psikologi, kepribadian merupakan bidang kajian yang menarik dan diulas oleh banyak psikolog. Faktor penyebabnya adalah bahwa kepribadian seseorang itu unik, seperti tak seorang lainpun. Wilayah kajian kepribadian meliputi struktur kepribadian, proses (dinamika kepribadian), pertumbuhan dan perkembangan, psikopatologi, dan perubahan tingkah laku.  &lt;br /&gt;Kepribadian pemimpin akan sangat berpengaruh terhadap model kepemimpinannya. Bayangkan jika Anda memiliki pemimpin yang temperamen, mudah marah, atau pemimpin yang up and down, Tentu Anda tidak akan nyaman, bahkan Anda merasa tidak memiliki pemimpin sehingga suasana organisasi menjadi kering, gersang, dan miskin uswah.  Anda pasti akan merasa badmood ketika  akan pergi ke kantor karena bayangan suasana yang tidak mengenakkan. Jika Anda ditakdirkan memiliki pemimpin yang demikian maka Anda harus sabar dan positif thinking. Anda harus sadar bahwa kepribadian itu unik.&lt;br /&gt;Karena kepribadian itu unik, maka cara memimpin seseorang tentu akan unik juga. Kepribadian pemimpin erat kaitannya dengan karakter pemimpin. Pemimpin yang peragu, penakut, tidak percaya diri, dan tidak berani mengambil risiko akan berdampak stagnasi pada organisasi yang dipimpinnya, namun sebaliknya, pemimpin yang nekat dan kurang perhitungan juga sangat membahayakan bagi kelangsungan organisasi yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, seorang pemimpin harus memiliki integritas kepribadian yakni sebuah karakter yang dilandasi etika, agama, dan moral. Dengan memiliki karakter yang kuat dengan bersendikan norma maka pemimpin tersebut menjadi pemimpin yang kuat karena memiliki ambisi tinggi dengan visi yang jelas, stabil sepanjang waktu (tidak up and down), memiliki penguasaan diri yang tinggi (tidak sensitif dan mudah terombang-ambing), serta berorientasi pada prestasi. &lt;br /&gt;Warren Bennis ((Muhammad Syafii Antonio, 2007:23) menekankan pada pentingnya enam sifat-sifat dasar kepemimpinan yang meliputi ; visioner (memiliki ide yang jelas tentang apa yang diinginkannya),  berkemauan kuat (passion) yakni mencintai apa yang dikerjakan, sungguh-sunggguh dalam bertindak, integritas yakni teguh dalam memegang prinsip, amanah (terpercaya), rasa ingin tahu, dan berani mengambil resiko dan bereksperimen.&lt;br /&gt;Dengan kekuatan kepribadian tersebut di atas, maka pemimpin akan mendapat apresiasi yang tinggi dari orang-orang yang dipimpinnya. Apresiasi yang tinggi dari orang-orang yang dipimpinnya akan memudahkan pemimpin untuk memengaruhinya sehingga kepemimpinannya akan efektif. Dengan demikian kepribadian sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya seorang pemimpin.&lt;br /&gt;E. Syarat untuk Menjadi Pemimpin&lt;br /&gt;Pemimpin dipilih karena memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dibanding orang yang dipimpinnya. Dari definisi tersebut jelaslah syarat mutlak bagi seorang pemimpin adalah memiliki keunggulan dibanding orang-orang disekitarnya. Thomas Gordon (1994;21) mengistilahkannya dengan prinsip “cangkir yang penuh”. Dalam prinsip “Cangkir yang penuh” maka pemimpin harus dapat memberi kepada orang lain (memperbolehkan orang lain minum dari cangkir saya), minuman dalam cangkir saya harus penuh dan saya mempunyai cara untuk mengisi kembali cangkir itu (agar cangkir saya senantiasa penuh).&lt;br /&gt;Syarat berikutnya untuk menjadi pemimpin adalah memiliki integritas kepribadian yang mantap. Darmo Budi Suseno (2008:9) menyebutnya dengan istilah softskills. Softskills lebih mengarah kepada kecakapan personal, baik yang intrapersonal maupun yang interpersonal. Kecakapan intrapersonal lebih pada pengembangan diri ke dalam, pengelolaan potensi diri, pengendalian diri, kecerdasan emosi, dan pengolahan diri secara total. Sedangkan kecakapan interpersonal lebih mengarah pada membangun kecakapan dalam membina dan menjaga hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;Syarat yang ketiga sebagai pemimpin adalah memiliki keterampilan kepemimpinan (Leadership skill) yang meliputi; kemampuan untuk mempengaruhi anggotanya, kemahiran dalam memotivasi anggotanya, mampu mengatur waktu dengan baik, mampu berkomunikasi secara efektif, senantiasa menghargai dan memberi dukungan sportif kepada anggotanya, dan mampu menciptakan ide yang konstruktif. &lt;br /&gt;F. Model-model Pemimpin&lt;br /&gt;Setiap pemimpin adalah individu yang unik dalam banyak hal. Keunikan itu sangat berpengaruh dalam menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin. Model-model pemimpin sering disebut dengan gaya pemimpin atau  tipe pemimpin.&lt;br /&gt;Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi orang lain (Nurkolis, 2002:167). Ada empat tipe atau gaya pemimpin dalam mengambil keputusan (Darmo Budi Suseno, 2009;71) yakni:&lt;br /&gt;1. Kepemimpinan Direktif (Directive Leadership). Sering disebut dengan pemimpin otokratis yang menekankan pada fungsi perintah dari pemimpin kepada pengikutnya.&lt;br /&gt;2. Kepemimpinan Suportif (Supportive Leadership). Pemimpin tipe ini memuaskan pengikutnya karena memberi ruang kepada yang dipimpinnya untuk diskusi, sharing, dan menjelaskan berbagai tugas.&lt;br /&gt;3. Kepemimpinan Partisipasif (Parisipasive Leadership). Pemimpin ini meminta saran-saran dari bawahan dan stakeholder organisasi sebelum mengeksekusi sebuah keputusan atau kebijakan yang akan diambil.&lt;br /&gt;4. Kepemimpinan Orientasi-Prestasi (Achievment-Oriented Leadership). Tipe pemimpin ini sering mengajukan tantangan-tantangan bagi orang-orang yang dipimpinnya untuk meraih prestasi dalam rangka mencapai tujuan organisasinya.&lt;br /&gt;Nasution (2004:200) menambahkan satu lagi tipe pemimpin yakni kepemimpinan situasional. Gaya kepemimpinan ini dikenal pula sebagai kepemimpinan tak tetap (fluid) atau kontingensi. Asumsi dasar gaya kepemimpinan ini adalah bahwa tidak ada satu tipe kepemimpinan yang tepat untuk semua kondisi. Dengan asumsi ini pemimpin akan menggunakan gaya kepemimpinan sesuai dengan kondisi dan setting masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;Sedangkan model kepemimpinan terdiri atas model kepemimpinan partisipasif, transformasional, kharismatik, dan konstruktif. Model kepemimpinan partisipasif dicirikan dengan adanya keikutsertaan pengikut dalam pengambilan keputusan.Kepemimpinan kharismatik dicirikan dengan adanya persepsi dari orang-orang yang dipimpinnya bahwa sang pemimpin memiliki kemampuan yang luar biasa.&lt;br /&gt;Kepemimpinan transformatif menurut Burns (Nurkolis, 2002:172) adalah kepemimpinan dimana pemimpin mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan cara menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral. Adapun cara menimbulkan kesadaran anggotanya dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain menyadarkan akan pentingnya sebuah pekerjaan, menyadarkan bahwa kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, dan memberi ruang aktualisasi bagi pengikutnya.&lt;br /&gt;Kepemimpinan konstruktif berorientasi pada upaya menciptakan kohesi keterlibatan seluruh komponen dengan merinci area kerja: membagi power (job description), meningkatkan komitmen untuk terus belajar dan tumbuh dalam keterampilan dan pengetahuan, memberi peluang peran dan partisipasi anggota, dan mendistrusikan penghargaan (Depag RI, 1998:25). Kepemimpinan konstruktif dilandasi filsafat konstruktivisme yang memandang bahwa kepemimpinan pada hakikatnya adalah pembelajaran resiprokal yang memperdayakan seluruh partisipasi dalam komunitas guna membentuk suatu pengertian dan kebersamaan dalam mencapai tujuan.&lt;br /&gt;Kepemimpinan konstruktif memiliki empat asumsi dasar yakni:&lt;br /&gt;1. Kepemimpinan bukanlah suatu trait (sifat); kepemimpinan dan pemimpin tidaklah sama.&lt;br /&gt;2. Kepemimpinan adalah tentang pembelajaran yang mengacu kepada perubahan yang konstruktif.&lt;br /&gt;3. Setiap orang memiliki potensi dan hak untuk bekerja sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;4. Kepemimpinan adalah suatu shared endeavor (usaha bersama), pondasi bagi demokratisasi dalam sistem.&lt;br /&gt;5. Kepemimpinan menghendaki distribusi power dan outhority.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4522652570565135909?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4522652570565135909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4522652570565135909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4522652570565135909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4522652570565135909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/06/ikhwal-kepemimpinan.html' title='Ikhwal Kepemimpinan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7348911119455482487</id><published>2010-02-23T08:31:00.000+07:00</published><updated>2010-02-23T08:32:48.025+07:00</updated><title type='text'>PERAN PEMERINTAH DALAM PENDIDIKAN STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAH TINGKAT II SUMEDANG</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia membutuhkan sinergi antarkomponen dan membutuhkan kesepahaman visi seluruh stake holder yang terlibat. Komponen pendidikan yang meliputi raw material (input siswa) , tools (alat-alat dan sarana prasarana), serta process (metode pembelajaran) adalah sebuah sistem yang akan menentukan kualitas out put (lulusan), sedangkan stake holder yang terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, wali murid, dinas terkait dan pemerintah daerah harus sevisi dan sinergi sehingga memperlancar dan mempermudah pencapaian tujuan baik tujuan akademis maupun pembentukan moral.&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini dinilai banyak pihak belum berkualitas, sebagai indikatornya adalah kualitas Human Development Index (Indeks Kualitas Manusia) berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singgapura, Thailand, bahkan Vietnam. Ada beberapa faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di tanah air antara lain: proses pembelajaran belum memperoleh perhatian optimal, guru lebih banyak bekerja sendirian, forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) belum berfungsi optimal, sekolah belum menjadi pusat belajar bagi guru.&lt;br /&gt;Berdasar UU No 14  Tahun 2005 guru dituntut untuk profesional. Indikator keprofesionalan guru mencakup empat hal yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.Untuk mencapai keempat kompetensi tersebut selama ini ditempuh secara konvensional yakni melalui diklat dan penataran. Akan tetapi model konvensional tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal karena materi penataran akan dilupakan begitu saja setelah sampai di sekolah. Dari hal ini perlu dibentuk komunitas belajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.&lt;br /&gt;Berdasar latar belakang di atas makalah ini akan menguraikan kebijakan pemerintah kota Sumedang dalam pengembangan komunitas belajar di sekolah melalui aktifitas Lesson Study.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt; Konsep Lesson Studi&lt;br /&gt;Tujuan lesson study adalah  memotivasi peserta didik aktif belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan usaha individu pembelajar untuk mencapai suatu kompetensi akademis. Dengan demikian dalam belajar mandiri pembelajar menentukan tujuan pembelajarannya, merencanakan prosesnya, menggunakan sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajar (Brookfield dalam Paulinna Pannen, dkk. 2001). Model belajar mandiri adalah student centered, berpusat pada siswa. Tugas guru dalam belajar mandiri sebagai fasilitator dan mediator, tidak lagi memposisikan diri sebagai aktor utama yang mendominasi pembelajaran.&lt;br /&gt;Realitas menunjukkan, sampai dengan sekarang belajar mandiri kurang berjalan dengan baik. Sepanjang pengamatan penulis, beberapa faktor penghambat dalam belajar mandiri adalah:&lt;br /&gt;• Kurangnya inovasi dalam pembelajaran sehingga cenderung menggunakan pola lama yakni pembelajaran yang berpusat pada guru.&lt;br /&gt;• Kurangnya pemanfaatan sumber daya sekitar baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.&lt;br /&gt;• Belum terbentuknya komunitas keilmuan di lingkungan sekolah sehingga minim kegelisahan akademik baik pada level guru maupun siswa.&lt;br /&gt;• Ketiadaan program sister school yang berorientasi pada kualitas peningkatan pembelajaran.&lt;br /&gt;• Komunitas guru antarsekolah dalam program MGMP belum berjalan dengan optimal, program yang dilaksanakan sebatas pemenuhan administrasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus Lesson Study &lt;br /&gt;Ada tiga siklus dalam lesson study. Prinsipnya siklus selalu kontinyu, berulang untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Menurut Hendayana (dalam Parmin, 2008) tiga siklus dalam lesson study berupa plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi). Secara skematis digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana yang dimaksud dalam siklus ini adalah rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran merupakan rencana jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran (Khaerudin dan Mahfud Junaedi, 2007). Dalam perencanaan beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian.&lt;br /&gt;Dalam perencanaan terdapat beberapa prinsip yang dapat dikembangkan yakni:&lt;br /&gt;• Kompetensi yang dirumuskan dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran harus jelas.&lt;br /&gt;• Rencana yang disusun harus sederhana dan fleksibel.&lt;br /&gt;• Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam rencana pelaksanaan menunjang ketercapaian kompetensi yang digariskan.&lt;br /&gt;• Utuh dan menyeluruh.&lt;br /&gt;• Dikoordinasikan dengan lingkungan dan seluruh stakeholder sekolah.&lt;br /&gt;Rencana pembelajaran yang disusun lebih mengerucut lagi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik. Dengan demikian RPP menekankan pada action guru dan murid. Agar model pembelajaran guru variatif maka diperlukan MCL (Model Creative Learning).&lt;br /&gt;Do (melaksanakan) berangkat dari perencanaan. Melaksanakan merupakan bentuk tindakan yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana (Suwarsih Madya, 1994). Dalam praktiknya tindakan atau pelaksanaan dituntun oleh perencanaan, namun tidak mutlak mengikuti perencanaan karena yang dihadapi adalah dunia nyata (siswa di kelas atau laboratorium).&lt;br /&gt;Dalam siklus kedua ini dilakukan observasi. Observasi dilaksanakan untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait, artinya tindakan sebagai buah dari perencanaan diobservasi sebagai bahan refleksi sekarang dan sebagai pijakan pada siklus berikutnya. Observasi penting dilaksanakan karena dalam praktik senantiasa terbatas oleh kendala dan terdapat celah untuk perbaikan.&lt;br /&gt;Siklus yang ketiga adalah see (merefleksikan). Refleksi adalah mengingat  dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam perencanaan dan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah kota Sumedang dalam Lesson Study&lt;br /&gt;Program pemerintah dalam upaya peningkatan komunitas belajar di kabupaten Sumedang dengan mengefektifkan program lesson study melalui proyek SISTTEMS (Sumar Hendiyana, 2008). Proyek ini dimulai sejak tahun 2006 dan masih berjalan dengan baik sampai sekarang.&lt;br /&gt;Proyek ini sesungguhnya proyek kerja sama antara pemerintah daerah dengan LPTK. Pemerintah kabupaten Sumedang melalui dinas pendidikan kabupaten mendanai semua kegiatan lesson study, sedangkan LPTk dalam hal ini UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) sebagai konsultan yang mendesain dan mengelola pelaksanaan lesson study.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari contoh program peran pemerintah kabupaten Sumedang diperoleh hasil sebagai berikut:&lt;br /&gt; Guru lebih berani membuka diri untuk diobservasi dan dikritisi&lt;br /&gt; Guru model lebih percaya diri dan menjadi motivator/ sumber inspirasi bagi temannya&lt;br /&gt; Guru belajar dari open lesson dan menerapkannya di sekolah masing-masing&lt;br /&gt; Guru lebih kreatif memanfaatkan local materials untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa&lt;br /&gt; Guru menghasilkan karya ilmiah berbasis penelitian kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Siswa memperoleh kesempatan berkreatifitas dalam pembelajaran matematika dan IPA&lt;br /&gt; Siswa termotivasi dan senang belajar matematika dan IPA&lt;br /&gt;Dari pengalaman ini maka pemerintah Kabupaten Sumedang menganggarkan secara rutin untuk melaksanakan program peningkatan kualitas guru melalui kegiatan lesson study dengan kemitraan antara dinas pendidikan, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Dalam upya peningkatan kualitas mutu pendidikan di tanah air dapat dilakukan dengan multi pendekatan. Salah satunya adalah peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak proses belajar di sekolah. Cara yang lebih baik dibanding peningkatan kualitas melalui kegiatan diklat atau penataran adalah melalui komunitas belajar di sekolah atau antarsekolah.&lt;br /&gt;Pemerintah kabupaten Sumedang sangat perhatian dalam masalah ini, sehingga merealisasikan proyek pengembangan kualitas guru melalui lesson study. Proyek ini dapat diadopsi pemerintah daerah lainnya di Indonesia, karena terbukti memberi kontribusi positif dalam pengembangan kualitas belajar di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Paulinna Pannen, Konstruktivisme dalam Pembelajaran, Jakarta: UT, . 2001 &lt;br /&gt;Khaerudin dan Mahfud Junaedi, KTSP untuk Madrasah, Yogyakarta: Pilar Media, 2007&lt;br /&gt;Paulinna Pannen, Konstruktivisme dalam Pembelajaran, Jakarta: UT, . 2001 &lt;br /&gt;Sumar Hendiyana, Makalah dalam KGI, 2008&lt;br /&gt;Suwarsih Madya, Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1994&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7348911119455482487?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7348911119455482487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7348911119455482487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7348911119455482487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7348911119455482487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/02/peran-pemerintah-dalam-pendidikan-studi.html' title='PERAN PEMERINTAH DALAM PENDIDIKAN STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAH TINGKAT II SUMEDANG'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4072349637813130104</id><published>2010-02-23T08:30:00.000+07:00</published><updated>2010-02-23T08:31:18.518+07:00</updated><title type='text'>ANALISIS BUTIR SOAL</title><content type='html'>Disetiap kegiatan ujian mid semester dan semester, setiap guru diberi tugas untuk menyusun kisi-kisi soal ujian. Dalam form kisi-kisi diantaranya berisi kompetensi dasar, indikator, uraian soal, kunci soal, tingkat kesukaran soal dan taksonomi Bloom (c1,c2,c3,c4,c5,c6). &lt;br /&gt;Menurut penulis, selama ini soal yang disusun oleh guru belum teruji kualitasnya, karena memang belum pernah dianalisis. Analisis ini penting agar kegiatan evaluasi pembelajaran tidak bias, meskipun dalam faktanya penilaian dalam LHBS bersifat artifisial (tidak senyatanya/buatan), dan bertentangan dengan prinsip KTSP yang penilaian beracuan patokan (PAP).&lt;br /&gt;Dampak dari penyusunan soal yang tidak standar, tidak saja bias sebagai alat ukur, tetapi juga menandakan kredibilitas dan kualitas sekolah karena stakeholder  semakin kritis terhadap praksis pendidikan yang didalamnya mencakup sistem evaluasi pembelajaran.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, mempelajari analisis butir soal penulis anggap penting, terlebih bagi guru yang berlatar belakang nonkependidikan. Analisis butir yang akan disampaikan mencakup: daya beda soal, tingkat kesukaran, validitas soal, dan reliabilitas soal. &lt;br /&gt;Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk penguatan pemahaman guru (karena sudah dipelajari saat S-1) tentang analisis butir soal sehingga dalam penyusunan soal menjadi standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Parameter-parameter aitem&lt;br /&gt;Pada analisis aitem untuk tes prestasi tipe objektif, kualitas aitem dapat dilihat dari paling tidak dua kriteria atau dua parameter, yaitu (a) indeks kesukaran aitem dan (b) indeks daya diskriminasi aitem.&lt;br /&gt;Kedua parameter tersebut dihitung secara terpisah. Namun dalam evaluasi terhadap aitem, keduanya tidak berdiri secara sendiri-sendiri melainkan dilihat sebagai kesatuan komponen yang akan menentukan apakah suatu aitem dapat dianggap baik atau tidak.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, analisis aitem akan menguji pula efektifitas distraktor-distraktor pada setiap aitem untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau belum (Saefudin Azwar, 1998).&lt;br /&gt;Langkah-langkah analisis aitem:&lt;br /&gt;1. Soal yang sudah disusun diujicobakan, buatlah tabulasi skor aitem dan skor total&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Nama  Nomor Soal Jumlah&lt;br /&gt; 1 2 3 4 5 6 7 8 &lt;br /&gt;Arman 1 1 0 1 0 0 1 1 5&lt;br /&gt;Duta 0 0 1 1 0 1 1 0 4&lt;br /&gt;Haris 1 1 0 0 1 1 1 1 6&lt;br /&gt;Achdiat 1 0 1 1 1 1 1 0 6&lt;br /&gt;Dara 0 1 0 0 1 1 1 0 4&lt;br /&gt;Mitha 0 1 0 1 0 1 0 0 3&lt;br /&gt;Fatima 1 1 1 1 1 1 1 0 7&lt;br /&gt;Jameela 0 0 0 0 0 1 1 1 3&lt;br /&gt;Tabel. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lakukan penjenjangan siswa menurut besarnya skor&lt;br /&gt;3. Bagi kelompok menjadi dua bagian, kelompak atas dan kelompok bawah, jika peserta tes lebih dari 500, maka cukup 27%  Kelompok Atas dan 27% kelompok Bawah. Kelompok Atas dan Kelompok Bawah diranking berdasarkan skor totalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuat tabulasi dan ditentukan berapa jumlah peserta yang diikutkan dalam analisis, maka selanjutnya dapat dilakukan proses analisis, sbb:&lt;br /&gt;a. Indeks kesukaran aitem (Tingkat Kesukaran): indeks kesukaran aitem akan menentukan taraf kesulitan soal, dengan ketentuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p = ni / N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ni = Banyaknya siswa yang menjawab aitem dengan benar&lt;br /&gt;N = Banyaknya siswa yang menjawab aitem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:  Soal no 1:  Jumlah siswa yang menjawab benar ada 4. Jumlah peserta tes ada 8. Dengan demikian indeks kesukaran adalah : &lt;br /&gt;                                                         p= 4/8 = 0,50&lt;br /&gt;                                       Artinya: soal no. 1 tergolong soal yang sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila soal berbentuk uraian maka indeks kesukaran soal menggunakan rumus :&lt;br /&gt;                                                       p =  / skor maks&lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama No Soal (1) Skor maksimal 6&lt;br /&gt;Arman 4&lt;br /&gt;Duta 6&lt;br /&gt;Haris 5&lt;br /&gt;Achdiat 5&lt;br /&gt;Dara 4&lt;br /&gt;Mitha 3&lt;br /&gt;Fatima 6&lt;br /&gt;Jameela 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       = 37/8 = 4,11&lt;br /&gt;      P = 4,11/6 &lt;br /&gt;         = 0,69 berarti soal uraian ini masuk dalam taraf  kesulitan sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Indeks daya diskriminasi aitem (Daya Beda)&lt;br /&gt;Daya diskriminasi aitem adalah kemampuan aitem dalam membedakan antara siswa yang mempunyai kemampuan tinggi (dalam hal ini diwakili oleh mereka yang termasuk Kelompok Tinggi) dan siswa yang mempunyai kemampuan rendah (diwakili oleh mereka yang termasuk dalam Kelompok Rendah).&lt;br /&gt;Suatu aitem yang dikatakan mempunyai daya diskriminasi tinggi haruslah dijawab dengan benar oleh semua atau sebagian besar subjek Kelompok Tinggi dan tidak dapat dijawab dengan benar oleh semua atau sebagian besar subjek Kelompok Rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                       d = pT - pR&lt;br /&gt;                                                               = niT /NT – niR/NR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; d   = indeks daya diskriminasi aitem&lt;br /&gt;  pT = indeks kesukaran aitem untuk Kelompok Tinggi&lt;br /&gt;  pR = indeks kesukaran aitem untuk Kelompok Rendah&lt;br /&gt; niT  = banyaknya penjawab aitem dengan benar Kelompok Tinggi&lt;br /&gt; niR = banyaknya penjawab aitem dengan benar Kelompok Rendah&lt;br /&gt; NT  = Banyaknya penjawab dari Kelompok Tinggi&lt;br /&gt; NR = Banyaknya penjawab dari Kelompok Rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perhitungan dengan formula di atas dapat diketahui indeks daya diskriminasi aitem, dan selanjutnya digolongkan dalam kriteria sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Dari tabel 1 dapat dibuat dua kelompok (Tinggi dan Rendah) berdasarkan skor atau jumlah nilai yang diperoleh, sbb:&lt;br /&gt;Kelompok Tinggi&lt;br /&gt;Nama Jumlah&lt;br /&gt;Fatima 7&lt;br /&gt;Achdiat 6&lt;br /&gt;Haris 6&lt;br /&gt;Arman 5&lt;br /&gt;Kelompok Rendah&lt;br /&gt;Nama Jumlah&lt;br /&gt;Duta 4&lt;br /&gt;Dara 4&lt;br /&gt;Mitha 3&lt;br /&gt;Jameela 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal yang akan diuji daya diskriminasinya adalah soal no. 3&lt;br /&gt;Kelompok Tinggi&lt;br /&gt;Nama Soal no .3&lt;br /&gt;Fatima 1&lt;br /&gt;Achdiat 1&lt;br /&gt;Haris 0&lt;br /&gt;Arman 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     pT  = 2/4 = 0,50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Rendah&lt;br /&gt;Nama Soal no .3&lt;br /&gt;Duta 1&lt;br /&gt;Dara 0&lt;br /&gt;Mitha 0&lt;br /&gt;Jameela 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    pR    = 1/4 = 0,25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nilai d = 0,50 – 0,25 = 0,25&lt;br /&gt;Artinya soal no .3 dikategorikan sebagai soal yang harus diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Efektivitas distraktor&lt;br /&gt;Efektivitas distraktor-distraktor yang ada pada suatu aitem dianalisis dari distribusi jawaban terhadap aitem yang bersangkutan pada setiap alternatif yang disediakan. Efektivitas distraktor diperiksa untuk melihat apakah semua distraktor atau semua pilihan jawaban yang bukan kunci telah berfungsi sebagaimana mestinya (pengecoh). Efektivitas distraktor dilihat dari dua kriteria (a) distraktor dipilih oleh siswa dari Kelompok Rendah dan (b) pemilih distraktor tersebar relatif proporsional pada masing-masing distraktor yang ada.&lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;Klp Jumlah Alternatif Jawaban&lt;br /&gt;  a b c d e OMIT&lt;br /&gt;T 22 0 4 15* 1 2 &lt;br /&gt;R 22 8 6 2 4 2 &lt;br /&gt;Kunci soal : c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh di atas dapat dianalisis efektivitas distraktornya sbb: semua distraktor berfungsi dengan baik karena ada pemilihnya.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Jika ditemui distraktor yang tidak ada pemilihnya maka dinyatakan bahwa ada kemungkinan isinya tidak relevan dengan soal atau konstruk kalimatnya tidak jelas  sehingga siswa bisa main tebak (karena sudah ada jawaban yang pasti salah).&lt;br /&gt;Latihan: Tentukan indeks kesukaran, indeks diskriminasi aitem, dan analisis efektivitas distraktornya.&lt;br /&gt;Soal no. 1&lt;br /&gt;Klp Jumlah Alternatif Jawaban&lt;br /&gt;  a b c d e OMIT&lt;br /&gt;T 22 12* 4 4 1 1 &lt;br /&gt;R 22 4 10 6 1 1 &lt;br /&gt;Soal no. 1&lt;br /&gt;Klp Jumlah Alternatif Jawaban&lt;br /&gt;  a b c d e OMIT&lt;br /&gt;T 22 0 4 16* 0 0 2&lt;br /&gt;R 22 6 6 6 0 4 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Validitas aitem&lt;br /&gt;Validitas dan reliabilitas sebetulnya digunakan untuk aitem yang mengukur abilitas potensial (tes IQ, tes bakat), unttuk tes yang tujuannya sekedar mengukur prestasi (abilitas aktual) cukup digunakan indeks kesukaran dan indeks diskriminasi aitem.&lt;br /&gt;Namun validitas ini tetap penulis pandang penting untuk disampaikan agar para guru lebih sempurna lagi dalam menyusun tes prestasi belajar. Interpretasi koefisien validitas bersifat relatif, namun kesepakatan umum menyatakan bahwa koefisien validitas dapat dianggap memuaskan apabila melebihi 0,30.&lt;br /&gt;Untuk menghitung validitas dapat dilakukan dengan manual, program excel, dan program SPSS. Dalam kegiatan workshop ini penulis hanya akan menyajikan melalui excel dengan mengkorelasikan skor aitem dengan skor total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Reliabilitas aitem&lt;br /&gt;Reliabilitas dimaknai sebagai keajegan atau konsistensi, artinya alat ukur tersebut jika digunakan berulang-ulang dengan objek yang sama diperoleh hasil yang sama. Untuk menghitung koefisien reliabilitas dapat menggunakan beberapa formula antara lain Spearman Brorwn, Rulon, Alpha, dan Kuder-Richarson (KR20). Untuk mempermudah penghitungan reliabilitas dapat menggunakan program SPSS.&lt;br /&gt;Interpretasi koefisien relaibilitas bersifat relatif, namun kesepakatan umum menyatakan bahwa koefisien reliabilitas dapat dianggap memuaskan apabila disekitar 0,90 atau lebih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4072349637813130104?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4072349637813130104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4072349637813130104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4072349637813130104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4072349637813130104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/02/analisis-butir-soal.html' title='ANALISIS BUTIR SOAL'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-557270096598602735</id><published>2010-02-23T08:29:00.000+07:00</published><updated>2010-02-23T08:30:05.456+07:00</updated><title type='text'>Daya Tahan Profesionalitas Guru</title><content type='html'>Sertifikasi guru telah berlangsung beberapa tahun. Sebagian besar guru yang telah lulus sertifikasi telah mendapatkan haknya berupa uang tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji pokok bagi yang berstatus pegawai negeri. Pemberian tunjungan profesi tersebut sejatinya merupakan apresiasi terhadap profesi guru sekaligus sebagai stimulan untuk meningkatkan kualitas guru yang muara akhirnya adalah peningkatan kualitas pendidikan nasional. Seberapa besar kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional sebagai dampak dari apresiasi profesi guru selalu menarik untuk dicermati.&lt;br /&gt;Berdasarkan survei yang dilakukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengenai dampak sertifikasi guru terhadap kinerja guru diperoleh data yang belum memuaskan (Kompas, 7/10/2009). Dari 28 provinsi yang telah disurvei, 16 provinsi yang telah diolah datanya menunjukkan bahwa guru-guru yang telah lulus sertifikasi belum mengalami perubahan pola kerja, motivasi kerja, pembelajaran, atau peningkatan diri. Justru guru yang belum dipanggil untuk pemberkasan sertifikasi melalui portofolio motivasinya tinggi dengan harapan segera tersertifikasi dan memperoleh uang tunjangan profesi.&lt;br /&gt;Melihat hasil survei ini, sertifikasi kurang lebih sama dengan kenaikan pangkat atau golongan bagi guru PNS dimana kenaikan pangkat atau golongan tidak selamanya linier dengan kinerja dan kapabilitas. Dalam konteks ini, motivasi kinerja guru seperti grafik cosinus di kuadran pertama, mencapai titik maksimal diawal (ketika baru tersertifikasi) lalu perlahan surut mendekati titik nol.&lt;br /&gt;Dalam sejarahnya, standarisasi terhadap profesionalisme guru tidak selamanya memberi dampak yang menggembirakan. Bahkan di Amerika Serikat yang telah lama menggulirkan standarisasi profesionalisme guru tidak semua karakteristik yang berkaitan dengan profesionalitas guru dipenuhi. Tabel berikut menunjukkan pengaruh gerakan pembaharuan (melalui standarisasi) profesionalisme guru di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Pengaruh terhadap guru perorangan Pengaruh terhadap semua guru&lt;br /&gt;1 Menentukan kebijakan Pada umumnya kurang Kurang&lt;br /&gt;2 Menguasai dan mengukur diri sendiri Kurang Kurang&lt;br /&gt;3 Keahlian khusus (special expertise) Lebih Lebih&lt;br /&gt;4 Evaluasi kemajuan diri Kurang Kurang&lt;br /&gt;5 Menentukan kebijakan sekolah Pada umumnya kurang Kurang&lt;br /&gt;6 Otonomi Kurang Kurang&lt;br /&gt;7 Memonopoli Kurang Kurang&lt;br /&gt;8 Komitmen pada tugas Lebih Lebih&lt;br /&gt;9 Kode etik Lebih Lebih&lt;br /&gt;10 Dewan pendidikan Lebih Lebih&lt;br /&gt;11 Mengawasi dan memberi sanksi lebih Lebih&lt;br /&gt;Sumber: Philip A.Cusick dalam Tilaar, hlm. 89&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembinaan guru melalui standarisasi profesionalisme guru yang terjadi di Amerika Serikat timbul beberapa kontradiksi yakni adanya kecenderungan melihat hasil yang cepat, program yang dangkal karena adanya kecenderungan untuk segera mengumpulkan banyak guru dalam waktu cepat, minimnya tindak lanjut, dan bersifat supervisial (Tilaar: 2006:: 89-90).&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman Amerika Serikat dalam standarisasi profesionalisme guru dapat diambil pelajaran dengan berlandaskan beberapa kontradiksi di atas. Pemerintah dan masyarakat tidak boleh terburu-buru untuk mengukur dampak dari sertifikasi, apalagi membuat generalisasi yang kurang tepat. Generalisasi yang kurang tepat akan memojokkan profesi guru, sehingga apresiasi yang baru saja diberikan terasa hambar. &lt;br /&gt;Dalam pemanggilan guru untuk pemberkasan portofolio juga tidak perlu terburu-buru, tidaklah perlu mengejar target secara cepat agar semua guru tersertifikasi. Apalagi ada target ditahun sekian guru harus sarjana agar tersertifikasi. Dampaknya jelas, kuliah terkesan asal-asalan. Asal strata satu biar memenuhi syarat sertifikasi. Dan yang penting adalah pembinaan secara berkala, berkelanjutan agar tidak mengalami titik jenuh.&lt;br /&gt;Survei yang dilakukan PGRI sah-sah saja, namun dalam perspektif penulis yang perlu disajikan ke media tidak saja mengenai belum adanya dampak yang menggembirakan dari guru yang lulus sertifikasi utamanya berkaitan dengan kinerja dan motivasi. Laporan itu bagi penulis perlu dilengkapi data mengenai apa penyebab kinerja tidak berubah dan motivasinya biasa-biasa saja atau cenderung menurun. Ini penting karena akan menyelesaikan berdasar akar permasalahan.&lt;br /&gt;Dalam perspektif penulis ada beberapa faktor yang berpotensi mengakibatkan kinerja dan motivasi guru yang telah lulus sertifikasi biasa-biasa saja, antara lain. Pertama; guru mengalami titik jenuh sehingga memerlukan tantangan baru. Kejenuhan tersebut dapat bersumber dari unit kerja yang monoton, atau kelas yang diajar selalu pada level yang sama. Untuk membunuh kejenuhan ini maka diperlukan tour of duty sehingga ditemukan tantangan baru.&lt;br /&gt;Kedua; kapasitas guru sudah maksimal, karena usia yang semakin bertambah sehingga produktifitasnya menurun. Bisa jadi memang begitu adanya, sehingga tidak dapat di up grade  lagi. Ketiga; aktif atau tidak aktif, produktif  atau tidak produktif, tidak berpengaruh terhadap apresiasi yang diberikan, sehingga stimulan efeknya tidak maksimal.&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga apresiasi terhadap guru merupakan langkah yang terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, karena ujung tombak pendidikan adalah guru. Berkaitan dengan menjaga daya tahan profesionalitas guru agar kinerja dan motivasinya tinggi dan tidak up and down, maka langkah yang perlu diambil dalam perspektif penulis adalah adanya progress report dari guru yang telah tersertifikasi.&lt;br /&gt;Progress report itu dapat berupa portofolio tahunan yang dilakukan guru, produktifitas dalam pembinaan peserta didik, produktifitas dalam Penelitian Tindakan Kelas, atau yang lainnya. Yang terpenting, progress report itu tidak menganggu proses pembelajaran, karena pengalaman yang sudah-sudah, portofolio banyak memakan energi para guru. Dengan adanya progress report, maka dengan sendirinya guru akan terlatih untuk memilki arsip dan senantiasa melaksanakan kinerja dengan baik yang pada gilirannya akan memberi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-557270096598602735?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/557270096598602735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=557270096598602735' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/557270096598602735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/557270096598602735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/02/daya-tahan-profesionalitas-guru.html' title='Daya Tahan Profesionalitas Guru'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1130579696468610161</id><published>2010-02-23T08:27:00.000+07:00</published><updated>2010-02-23T08:28:32.894+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional: Baik atau Burukkah ?!</title><content type='html'>Diskursus tentang Ujian Nasional merupakan materi yang menarik menjelang hari H pelaksanaannya. Sampai sekarang, penolakan Ujian Nasional masih berlangsung dimana-mana, bahkan ada pihak yang menganggap Ujian Nasional haram hukumnya. Namun ujian yang menjadi agenda utama BSNP itu terus melenggang untuk dilaksanakan. Dan para penolak dan pengkritik untuk kesekian kalinya harus gigit jari meski perkaranya sudah sampai pada vonis Mahkamah Agung. Meskipun demikian tindakan pemerintah yang dinilai mengabaikan isi putusan kasasi Mahkamah Agung dalam perkara gugatan warga negara tentang Ujian Nasional bisa menjadi pintu persoalan politik yang baru jika penggugat dapat mengkombinasikan gerakannya ke politik (Kompas, 26 Januari 2010). &lt;br /&gt;Baik atau Buruk&lt;br /&gt;Dalam kajian filsafat ada beberapa pendekatan untuk menyatakan bahwa sesuatu baik atau buruk. Yang pertama adalah pendekatan konsekuensialis. Pendakatan ini menyatakan bahwa sesuatu dikatakan baik bila hasilnya menunjukkan kebaikan. Dalam konteks Ujian Nasional hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan mutu pendidikan. Pada kenyataannya yang terjadi adalah sebuah anomali prestasi pendidikan. Banyak sekolah yang favorit di kota kalah prestasi nilai Ujian Nasionalnya dibandingkan dengan  sekolah di pinggiran. Disamping itu pelaksanaan Ujian Nasional hanya membuat siswa stres, guru-guru kebingungan dan berfikir instan, tereduksinya idealisme akademik, dan runtuhnya kejujuran dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Melihat hasil yang anomali dan dampak yang tidak baik maka pelaksanaan Ujian Nasional menurut pendekatan konsekuensialis dapat dikatakan buruk. Namun rupanya BSNP tidak patah arang dan selalu berupaya mereduksi berbagai dampak dengan mendesain prosedur operasional yang lebih baik. Bahkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 75 tahun 2009 pasal 24 menyatakan bahwa : Puspendik memetakan hasi Ujiaan Nasional dan kejujuran pelaksanaan ujian Nasional. Pasal ini bisa dimaknai bahwa pelaksanaan ujian Nasional yang telah berlangsung beberapa tahun sepi dari kejujuran sehingga perlu pemetaan. Menurut penulis, yang lebih penting adalah mengapa sekolah tidak jujur, bukan sekedar pemetaan kejujuran sekolah. Alasannya ketidakjujuran itu belum tentu berasal dari inisiatif pengelola sekolah karena bisa jadi siswa dari sekolah tertentu memperoleh bocoran jawaban dari sekolah lain.&lt;br /&gt;Pendekatan yang kedua untuk menilai baik atau buruknya sesuatu adalah pendekatan nonkonsekuensialis. Pendekatan ini tidak meletakkan tinjauan baik atau buruk pada hasil perbuatan namun pada landasan ideal yang menjadi pijakan perbuatan. Landasan ideal yang menjadi pijakan tersebut mengandung spirit dan transenden. Pendekatan nonkensekuensialis relevan dengan ajaran agama yang menyatakan bahwa amal dan perbuatan bergantung pada niatnya. &lt;br /&gt;Dalam konteks Ujian Nasional, niat penyelenggaraannya memang baik yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui sistem evaluasi yang ketat. Sebuah evaluasi yang dapat memaksa peserta didik untuk belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh. Juga memaksa guru dan sekolah/madrasah untuk serius dalam penyelenggaraan pendidikan dengan memenuhi delapan standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah.&lt;br /&gt;Namun niat baik ini akan menjadi berkurang jika dari pengambil kebijakan tidak menghayati sepenuhnya niat aslinya dan niatnya bergeser hanya sekedar memanfaatkan anggaran yang ada. Jika niatnya hanya sekedar memanfaatkan anggaran maka penyelenggaraan Ujian Nasional dari sudut pendekatan nonkonsekuensialis pun dapat dikatakan sebagai sesuatu yang buruk.&lt;br /&gt;Jalan Tengah&lt;br /&gt;Dari dua pendekatan tentang baik dan buruk dapat dikatakan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional dari sudut pendekatan konsekuensialis merupakan sesuatu yang buruk, namun dari sudut pendekatan nonsekuensialis merupakan sesuatu yang baik (berdasarkan niat aslinya).&lt;br /&gt;Jalan tengah yang perlu diambil adalah bagaimana penyelenggaraan Ujian Nasional itu baik dari dua sudut pendekatannya, baik konsekuensialis dan nonkonsekuensialis. Jalan tengah yang diambil tidak perlu mengandung unsur intimidatif  seperti rencana silang siswa antarsekolah (meskipun pada akhirnya tidak jadi dilaksanakan), memperbanyak tim independen, atau menaikkan standar nilai minimal. Kebijakan yang intimidatif hanya membuat Ujian Nasional semakin kontroversial.&lt;br /&gt;Sebetulnya ada dua jalan tengah yang mudah dilakukan namun tetap konstruktif dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Jalan tengah yang pertama adalah kembali meningkatkan kejujuran akademik seluruh pelaku pendidikan dengan cara menyusun soal sevariatif mungkin. Misalnya setiap peserta dalam satu ruang ujian mengerjakan soal yang berbeda. Jika satu ruang ada dua puluh peserta ujian, maka dalam ruang tersebut ada dua puluh tipe soal. Variasi itu dapat menggunakan pendekatan permutasi, yakni satu soal yang terdiri atas empat puluh atau lima puluh butir soal diacak nomornya sehingga dihasilkan beberapa variasi soal. Dengan banyaknya variasi soal maka kecurangan dapat menjadi nihil. Memang cara ini memakan lebih banyak biaya untuk pencetakan naskah soal dan pemindaian lembar jawab, namun demi tujuan mulia langkah ini patut untuk ditempuh. &lt;br /&gt;Yang kedua adalah menjadikan nilai  Ujian Nasional bukan sebagai penentu kelulusan, namun hasil Ujian Nasional tetap dijadikan sebagai pijakan dalam pemetaan kualitas dan pembinaan terhadap institusi pendidikan. Tidak itu saja, prestasi dan kejujuran akademik harus diapresiasi dengan pemberian reward sehingga upaya peningkatan mutu setiap sekolah  selalu diupayakan.&lt;br /&gt;Dengan mengambil kedua jalan tengah maka penyelenggaraan Ujian Nasional akan menjadi sesuatu yang baik dari segi konsekuensialis dan nonkonsekuensialis dan pada gilirannya benar-benar sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1130579696468610161?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1130579696468610161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1130579696468610161' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1130579696468610161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1130579696468610161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2010/02/ujian-nasional-baik-atau-burukkah.html' title='Ujian Nasional: Baik atau Burukkah ?!'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-3664059271940934178</id><published>2009-12-31T09:00:00.000+07:00</published><updated>2009-12-31T09:02:00.327+07:00</updated><title type='text'>Modifikasi Perilaku bagi Peserta Didik</title><content type='html'>Dalam dunia penelitian bidang pendidikan kita mengenal apa yang dinamakan CAR (classroom action research) yang di tanah air populer dengan nama PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Dalam PTK  tujuan yang hendak dicapai adalah bagaimana merubah pola-pola pembelajaran di kelas yang pada akhirnya diperoleh hasil pembelajaran yang optimal. Untuk meraih hasil tersebut biasanya dilalui melalui beberapa proses atau tahapan yang dikenal dengan siklus penelitian.Tulisan ini menyajikan sesuatu yang berbeda dengan PTK meskipun   ada kesamaan diantara keduanya. Kesamaan itu menyangkut tujuan keduanya yakni merubah perilaku siswa dalam belajar. Tulisan ini akan mengupas tentang modifikasi perilaku peserta didik.&lt;br /&gt;Modifikasi perilaku menurut Bootzin (dalam Soetarlinah Soekadji, 1983) merupakan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen lain pada perilaku manusia.  Dalam perspektif behaviorist modidifikasi perilaku didefinisikan sebagai penggunaan secara sistematis teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku sosial tertentu atau tindakan mengontrol lingkungan perilaku tersebut (Powers &amp; Osborn, dalam Soetarlinah Soekadji, 1983). Dari definisi kedua dapat ditarik kesimpulan bahwa mengubah perilaku akan dinamakan modifiksi perilaku jika menggunakan teknik yang ketat; ada tanggapan, ada akibat, dan ada stimuli yang dilakukan dengan tercatat secara cermat.  Adapun perubahan-perubahan yang diharapkan dari modifikasi perilaku adalah; peningkatan, pemeliharaan, pengurangan dan penghilangan, serta perkembangan atau perluasan. Peningkatan perilaku dapat dilakukan dengan pengukuhan, misalnya pemberian reward. Pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara penjadwalan pemberian pengukuhan sehingga perilku tersebut tetap terjaga. Pengurangan perilaku dapat dilakukan dengan pemberian hukuman, sedangkan untuk pengembangan perilaku dapat dilakukan dengan pembentukan (shaping) dan perangkaian (chaining). Sedangkan untuk perluasan dapat dilakukan dengan berbagai variasi pengukuhan.&lt;br /&gt;Dalam konteks pembelajaran sesungguhnya modifikasi menjadi tugas yang include melekat dalam profesi guru. Modifiksi perilaku diperlukan agar hasil pembelajaran yang menyangkut ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dicapai secara efektif.&lt;br /&gt;Implementasi Modifikasi Perilaku&lt;br /&gt;Menghadapi sejumlah siswa dalam satu kelas atau lebih tentu tidaklah mudah untuk mengenal betul portofolionya. Apalagi yang menyangkut karakteristik kepribadian dan tingkah laku. Diperlukan kemampuan behavior analysis (analisis perilaku) yang akurat dari setiap guru. Namun penulis menyadari bahwa tidak semua guru expert dalam bidang ini, karena sesungguhnya kemampuan tersebut menjadi domain konselor pendidikan. Untuk itu sinergi antara guru mata pelajaran dengan konselor pendidikan di sekolah mutlak diperlukan.&lt;br /&gt;Memodifikasi perilaku tentu akan akurat jika dilakukan secara individu karena setiap individu itu unik, memiliki perbedaan dengan yang lainnya. Namun dari ratusan peserta didik di sekolah tentu tidak semua siswa harus dilakukan modifikasi perilaku, hanya siswa yang memiliki perilaku yang menjadi problema sajalah yang perlu dilakukan modifikasi perilaku.&lt;br /&gt;Problema psikologis merupakan kesukaran yang dihadapi individu untuk berhubungan dengan orang lain, dalam mempersepsikan dunia sekitarnya, atau dalam bersikap terhadap diri sendiri. Problema psikologis dapat dikenali melalui perasaan cemas atau tegang, tidak efisien dalam mencapai sasaran yang diingini, atau ketidakmampuan berfungsi secara efktif dalam bidang-bidang psikologis (Soetarlinah Soekadji, 1983). Problema psikologis juga dapat dikenali dari orang-orang di sekitar individu yang mengalami problema psikologis. Kadang seseorang merasa tidak bermasalah dengan dirinya, namun orang-orang disekitar merasa jengkel, terganggu dengan kehadirannya, tidak membuat orang lain bahagia dengan keberadaannya, maka orang tersebut sejatinya mengalami problema psikologis.&lt;br /&gt;Dalam konteks belajar di kelas, siswa yang mengalami phobi sekolah, malas belajar, mengganggu di kelas, sejatinya siswa tersebut mengalami problema psikologis. Atau siswa yang mengalami jenuh belajar sejatinya juga mengalami problema psikologis. Atau siswa yang mengalami penurunan prestasi belajar secara drastis  sejatinya juga sedang mengalami problema pikologis.&lt;br /&gt;Setiap problema psikologis dalam belajar harus segera dimodifikasi perilakunya. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk melakukan modifikasi perilaku. Langkah-langkah tersebut adalah:&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi problema psikologis siswa. Langkah ini dikenal dengan analisis fungsi; menyangkut tiga aspek yakni faktor-faktor yang menyumbangkan terjadinya perilaku, faktor-faktor yang menyebabkan perilaku terpelihara, dan tuntutan lingkungan siswa.&lt;br /&gt;2. Setelah diketahui dan dilakukan analisis fungsi maka langkah berikutnya adalah menentukan perilaku yang akan diubah.&lt;br /&gt;3. Menentukan teknik untuk memodifikasi perilaku.&lt;br /&gt;Contoh modifikasi perilaku:&lt;br /&gt;1. Abdul Latif merupakan sosok yang berprestasi dalam bidang matematika. Ia selalu bersemangat ketika diajar oleh Pak Jono sehingga prestasinya bagus. Namun setelah diajar oleh Pak Arif prestasinya turun dan semangat belajarnya turun drastis. Dalam konteks ini maka yang perlu dilakukan dalam modifikasi perilaku adalah “memelihara perilaku antusias belajar matematika”. Sesuai dengan teori di atas bahwa untuk memelihara perilaku dilakukan dengan pengukuhan terjadwal. Pak Arif perlu konfirmasi kepada Pak Jono. Ternyata permasalahannya hanya sepele yakni Pak Jono selalu memberi reward lewat SMS kepada abdul Latif. Dengan demikian untuk memelihara perilaku antusias dalam belajar Abdul Latif perlu penguatan perilaku dengan cara memberi pujian secara intensif (terjadwal) sebagai bentuk reward  meskipun hanya melalui SMS. Dalam konteks ini pengukuh berupa pujian. &lt;br /&gt;2.  Arman, murid klas 1 MI, belajar membaca. Pengukuh yang wajar adalah nilai yang bagus. Tetapi ternyata nilai tidak efektif untuk meningkatkan perilaku belajar membaca Arman. Guru harus mencari pengukuh lain misalnya permen meskipun pengukuh ini kurang wajar. Dalam konteks ini pengukuh berupa benda atau barang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-3664059271940934178?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/3664059271940934178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=3664059271940934178' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/3664059271940934178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/3664059271940934178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/12/modifikasi-perilaku-bagi-peserta-didik.html' title='Modifikasi Perilaku bagi Peserta Didik'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1324578930304280798</id><published>2009-12-31T08:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-31T09:00:45.754+07:00</updated><title type='text'>Urgensi School for Life</title><content type='html'>Ketika program pendidikan gratis digulirkan, kita masih saja mendengar berita siswa bunuh diri gara-gara tidak mampu membayar uang sekolah seperti yang baru-baru ini terjadi di Tangerang. Kita juga masih menjumpai orang tua yang cek-cok gara-gara anaknya minta uang untuk bayar sekolah.&lt;br /&gt;Praktik pendidikan kita masih seperti di ruang hampa dan kehilangan konteks atas realitas yang ada. Realitas bahwa banyak siswa  miskin dan  kurang beruntung nasibnya, dinafikkan begitu saja. Banyak siswa kita yang terpaksa jadi pengamen untuk dapat membayar uang sekolah, ada pula yang terpaksa kerja dengan mengesampingkan masa-masa bermain sebagai seorang anak. Praktik pendidikan kita dalam banyak hal penganut sejati hukum ekonomi, berorientasi pada profit.&lt;br /&gt;  Pendidikan yang sejatinya pemanusiaan manusia, dalam beberapa kasus justru berperan mengantarkan siswanya pada ujung kematian yang tragis. Prinsip education for all yang sering didengung-dengungkan itu hanyalah pepesan kosong yang miskin realisasi. &lt;br /&gt;Pendidikan kita juga masih reaktif atas perkembangan ilmu pengetahuan. Sikap ini berakibat pada beratnya beban siswa atas kurikulum yang berlaku. Kita masih beranggapan bahwa semakin banyak materi kurikulum yang diserap akan linier dengan penguasaan ilmu dan teknologi. &lt;br /&gt; Kasus siswa bunuh diri, siswa drop out, siswa yang tidak dapat meneruskan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, adalah sebuah penanda bahwa pendidikan kita tidak mengajari siswa bagaimana survive, bertahan hidup, bertahan untuk bisa sekolah. Memang pendidikan kita telah mengenal metode CTL (Contextual Teaching and Learning). Namun metode itu sebatas menggali lingkungan sekitar sebagai sumber belajar (itupun belum dipraktikkan secara optimal), bukan sebagai sumber daya untuk survive.&lt;br /&gt;Idealnya pendidikan berdialektika dengan realitas yang ada. Realitas itu dapat berupa kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan, dan tentu ideologi. Tujuannya jelas, siswa dapat survive, mampu beraktualisasi diri, dan menyesuaikan dengan realitas yang ada. Banyaknya siswa yang DO menggambarkan bahwa pendidikan ekonomi tak mengajari siswanya bagaimana dapat survive dengan kondisi ekonomi yang ada. Banyaknya siswa (dan mahasiswa) yang keblinger ideologinya menandakan pendidikan kita tidak antisipatif terhadap menjamurnya ideologi yang kadang destruktif dan eksklusif. Munculnya berbagai patologi sosial yang menghinggapi peserta didik kita adalah bukti semakin miskinnya pendidikan nilai yang dapat dipraktikkan agar dapat survive di masyarakat. Maraknya video porno yang melibatkan siswa sebagai pelakunya adalah gambaran gagalnya pendidikan akhlak untuk menjadikan siswanya survive di era globalisasi. Dan masih banyak kasus lagi.&lt;br /&gt;Untuk dapat berdialektika dengan realitas yang ada perlu dilakukan diversifikasi pendidikan yang tujuannya menjadikan siswa survive atas realitas nasibnya. Model sekolah yang menjadikan siswanya survive, kita dapat merujuk pada School for Life. School for Life didirikan di Utara Thailand pada tahun 2003 oleh Thaneen Joy Worrawittayakun dan Profesor em. Dr. Juergen Zimmer (Buku Program KGI, 2007).  Model School for life konsepnya telah diklasifikasi oleh UNESCO sebagai usaha inovasi kelas dunia yang sangat diperlukan di dunia pendidikan untuk komunitas dunia pada abad 21. Ketika penulis berdialog dengan Profesor em. Dr. Juergen Zimmer dalam Konferensi Guru Indonesia pada tahun 2007, beliau mengatakan akan membangun School for Life di pulau Bali, namun sampai saat ini penulis belum mendengar realisasinya.  &lt;br /&gt;Di Utara Thiland sekolah ini menerima anak-anak dari latar belakang yang sulit. Pada awalnya siswa-siswanya merupakan anak yatim piatu dengan latar belakang AIDS. Namun ketika Tsunami tahun 2004 melanda Aceh, Bangladesh, dan juga Thailand,  School for Life juga menerima anak-anak korban tsunami yang kehilangan orang tua dan saudaranya.&lt;br /&gt;School for Life didirikan untuk menjadikan siswanya memperoleh kebahagiaan mengingat siswanya berasal dari anak-anak yang tidak beruntung nasibnya dan tentu masa kecilnya kurang bahagia. Sekolah ini lebih mirip sebuah komunitas yang menekankan kasih sayang, percaya pada kekuatan sendiri, kecintaan yang besar akan sesuatu, kedamaian, dan keterbukaan. Model sekolah ini juga menekankan pentingnya membantu nak-anak yang kurang beruntung untuk mengejar dan meraih prestasi puncak dengan semangat kewirausahaan dan tanggung jawab pada lingkungan dan sosial.&lt;br /&gt;Praktik pembelajarannya tentu tidak seperti sekolah formal yang kurikulumnya telah standar dari segi isi, proses, dan penilaiannya. Kurikulumnya sangat kondisional. Mensinergikan sekolah dengan penduduk desa sekitar, membuka lapangan kerja dan memfokuskan pada komunitas dan ide pengembangan.&lt;br /&gt;Di Indonesia, School for Life  memang mulai bermunculan dengan bentuknya sendiri. Sekolah alam di berbagai tempat di tanah air merupakan varian dari School for Life. Hanya saja praktik sekolah alam yang ada di Indonesia masih saja terkooptasi dengan standar penilaian. Masih mengikuti Ujian Nasional, meskipun dengan keterpaksaan.      &lt;br /&gt;Bangsa Indonesia yang masyarakat miskinnya pada kisaran 40 juta mestinya mengadopsi School for Life. Apalagi bangsa kita juga rawan bencana alam sehingga praktik  School for Life tepat untuk dilaksanakan. Setidak-tidaknya ada kerangka kerja dan pengelolanya sehingga ketika ada bencana bukan lagi pihak asing yang menangani trauma atau pendidikan pasca bencana bagi anak-anak kita, karena bagaimanapun juga keterlibatan pihak asing sarat dengan tendensi.&lt;br /&gt; School for Life itu penting agar kita tidak gagap atas tragedi bencana, agar anak-anak kita tak ada lagi yang drop out, agar kasus  bunuh diri tidak kita dengar lagi hanya karena tidak mampu membayar uang sekolah. Tidak itu saja, School for Life juga memberi kesempatan kepada mereka yang telah mengalami masalah sejak kecil sebagai korban kekerasan atau terinfeksi virus AIDS dari orang tuanya yang selama ini justru kita kucilkan. School for Life  sejatinya adalah bentuk pendidikan yang memanusiakan manusia. Untuk itu School for Life urgen untuk dilaksanakan !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1324578930304280798?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1324578930304280798/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1324578930304280798' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1324578930304280798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1324578930304280798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/12/urgensi-school-for-life.html' title='Urgensi School for Life'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4451825786648483029</id><published>2009-12-31T08:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-31T08:57:08.209+07:00</updated><title type='text'>Merindukan Lahirnya Pedagog Kritis</title><content type='html'>Prof. Eko Budihardjo pernah menyatakan bahwa mengupas pendidikan di Tanah Air seperti mengupas bawang merah. Semakin dikupas semakin perih di mata. Sementara itu, mantan Rektor IKIP Jakarta, Prof. Surachman yang terkenal dengan professor “kandang ayam” itu menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia selalu bergulir dari satu masalah ke masalah yang lain. Lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang  memiliki energi kreatif dan idealisme mestinya dapat menjadi problem solver,  pada kenyataannya justru menjadi part of problems. Dan lebih tragis lagi, setelah mendapat gelar sarjana tak jarang sebagian dari mereka memperoleh gelar baru: pengangguran intelektual. Sebuah gelar yang tak semestinya !!.&lt;br /&gt; Di belahan Amerika Latin, tepatnya di Brazil, Paulo Freire (1969) mengulirkan ide brilian, Pedagogy of the Oppressed yang fenomenal dan mendunia itu. Freire menjadi “provokator” agar masyarakat kritis terhadap praksis pendidikan yang memperbodoh peserta didik dan bukannya pemanusiaan manusia. Dan di Eropa muncul Ivan Illich (1971) dengan Deschooling Society-nya sebagai sebuah protes atas buruknya kondisi  persekolahan dizamannya. Sebuah praktik pendidikan yang hanya berorientasi pada kurikulum yang sarat mata pelajaran dan mengagung-agungkan apa yang dinamakan sertifikat.&lt;br /&gt;Wilayah pendidikan adalah wilayah yang semestinya sakral dan suci, tempat bagi para pencari ilmu, tempat penanaman nilai religius dan nilai – nilai kehidupan yang agung. Namun pada kenyataannya, wilayah pendidikan tak pernah sepi dari campur tangan politik. “Penodaan” wilayah pendidikan oleh campur tangan politik pada akhirnya berdampak buruk. Pergantian kurikulum yang mengatasnamakan dinamika zaman belum menampakkan hasil, evaluasi dalam bentuk ujian nasional validitas hasilnya banyak yang meragukan sehingga dari tahun ke tahun SOP (Standar Operasional Prosedurnya) berubah-ubah dengan tujuan mendapatkan hasil yang tidak bias. Model-model pembelajaran baru yang ditawarkan seperti CTL (Contextual Teaching and Learning), multy creative learning, dan lainnya menjadi kurang makna karena pada akhirnya pembelajaran guru di kelas menggunakan sistem drill agar siswanya lulus ujian nasional. Harapan pembelajaran yang bermakna selalu kandas, dan yang ada sekedar teaching to test.&lt;br /&gt;Jika kita cermati, realitas pembelajaran di dunia pendidikan kita miskin sekali penanaman jiwa wiraswasta, pembentukan mental kejujuran, apalagi pendidikan yang tanggap bencana. Pemerintah selalu berharap lulusan sekolah agar mandiri, dapat menciptakan lapangan kerja, dan dapat berwiraswasta. Namun harapan itu tak akan pernah terwujud jika yang dikejar wilayah kognitif terus.&lt;br /&gt; Untuk membentuk mental wiraswasta mestinya penting untuk melakukan pembelajaran berbasis proyek sehingga siswa terbiasa menganalisis pekerjaan, melaksanakan pekerjaan, dan tahu untung tidaknya pekerjaan yang telah dilakukan. Dari sini maka siswa akan memilki mental “jatuh bangun” dalam berusaha.  &lt;br /&gt;Pendidikan yang diharapkan mampu menanamkan mental kejujuran, tidak korup, dan nilai luhur lainnya susah diharapkan berhasil. Penyebabnya adalah ketiadaan teladan dari pemimpin yang menyebabkan hilangnya empati siswa dan yang timbul adalah apatis. Dalam benak siswa, apalagi siswa setingkat SMA sudah tahu betul bahwa hukum bisa dipermainkan, sehingga ketika ranah hukum diajarkan di kelas, penulis yakin akan susah mengubah sikap siswa karena sudah apriori.&lt;br /&gt;Dan tentang pendidikan kebencanaalaman, kita tak pernah memiliki format yang jelas. Kalau ada sekolah yang mengajarkan, polanya tidak baku, dan spekulatif. Mestinya di tengah kepungan bencana menyadarkan siswa dan mengajari cara menyelamatkan diri itu penting. Lihatlah Jepang yang sudah memasukkan kurikulum bencana (tsunami) di sekolah, atau dapat kita lihat School for Life yang didirikan oleh  Thaneen Joy Worrawittayakun dan Profesor em. Dr. Juergen Zimmer di Utara Thailand tahun 2003. Model ini khusus menangani anak-anak korban bencana alam dan  konsepnya telah diklasifikasi oleh UNESCO sebagai usaha inovasi kelas dunia yang sangat diperlukan di dunia pendidikan untuk komunitas dunia pada abad 21.&lt;br /&gt;Dari berbagai kesenjangan antara harapan dan realitas pendidikan di Tanah Air maka kehadiran para pedagogik kritis mutlak diperlukan. Ahmad Bahrudin yang menggagas dan mempraktikkan sekolah alam di Salatiga sepertinya dapat menjadi contoh munculnya  pedagog kritis. Di sekolah itu, siswa dan gurunya produktif sekali. Banyak dihasilkan buku-buku bacaan, sekolahnya sangat murah, praktiknya mensinergi hidup dengan alam. Ahmad Bahrudin sepertinya terinspirasi oleh pemikiran Paulo Freire yang sangat terobsesi menciptakan humanisasi melalui pendidikan.&lt;br /&gt;Melihat dunia pendidikan kita yang sebenarnya tahu arah menuju peningkatan kualitas namun dikalahkan oleh kepentingan dan politik sudah saatnya diimbangi oleh para pedagogik kritis yang berani melakukan diversifikasi pendidikan.&lt;br /&gt;Kelahiran pedagog kritis bukanlah sebuah perlawanan terhadap pemerintah, namun sebagai penyeimbang terhadap kebijakan yang seringkali ambigu dan sulit ditembus. Nalar kritisnya penting untuk disuarakan demi kemajuan pendidikan di Tanah Air. Kehadirannya adalah menjawab kebutuhan masyarakat, dan wilayah kerjanya jelas, menciptakan generasi yang mampu berwiraswasta, mensinergikan hidup dengan alam, dan tentu pendidikan yang murah.&lt;br /&gt;Para pedagog kritis sudah saatnya tidak bermain dalam wilayah wacana, namun pada praksis. Buktikan bahwa sekolah alternatifnya mampu menghasilkan wiraswastawan, buktikan bahwa sekolah alternatifnya bisa dinikmati semua masyarakat, buktikan bahwa sekolah alternatifnya efektif dalam penanam nilai.&lt;br /&gt;Melihat kenyataan pendidikan nasional saat ini, kemunculan pedagog kritis sangat dirindukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4451825786648483029?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4451825786648483029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4451825786648483029' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4451825786648483029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4451825786648483029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/12/merindukan-lahirnya-pedagog-kritis.html' title='Merindukan Lahirnya Pedagog Kritis'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-2381934054101550931</id><published>2009-10-26T09:04:00.000+07:00</published><updated>2009-10-26T09:07:08.064+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Fenomena Alam</title><content type='html'>Apa yang bisa dilakukan siswa-siswa di sekolah menyaksikan sanak saudara se tanah air nun jauh di sana terkena musibah gempa bumi ?. Terharu, prihatin, dan empati itulah reaksi yang pertama dilakukan. Selanjutnya siswa-siswa yang menjadi pengurus OSIS masuk kelas dengan membawa kardus untuk meminta sumbangan ke teman-temannya. Recehan, ribuan, bahkan puluhan ribu disumbangkan oleh setiap siswa. Dan uang itu selanjutnya disumbangkan melalui pihak terkait. Dan dipihak lain,  dengan dipimpin guru agama semua komunitas sekolah sholat ghaib dan berdoa bersama. &lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika bencana menimpa siswa-siswa kita?. Apa yang harus kita ajarkan kepada siswa dalam menyikapi musibah dahsyat gempa bumi?. Pertanyaan – pertanyaan itu penting untuk dikemukakan sebagai bentuk pendidikan preventif atas fenomena alam yang destruktif. Sudah saatnya pendidikan kita berdialektika dengan alam. Mimpi-mimpi untuk mengejar teknologi atau meraih nobel memang penting, namun berdialektika dengan alam juga tak kalah penting. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana mengajarkan pendidikan preventif itu karena gempa bumi datang tak pernah memberi kabar. &lt;br /&gt;Sejatinya banyak cara untuk mengajarkan kepada siswa tentang pendidikan preventif itu. Gempa yang sudah berkali-kali terjadi (dalam skala yang besar) dan menelan banyak korban harta dan nyawa itu sejatinya dapat dijadikan fenomena untuk dibedah. Kumpulan berita dalam berbagai media dapat dijadikan sebagai bahan untuk ditelaah dan dikaji.&lt;br /&gt;Banyak sajian yang bermutan keilmuan yang dapat dijadikan pelajaran. Antara lain berupa riwayat kegempaan suatu tempat (mitigasi bencana), bangunan tahan gempa, prosedur menyelamatkan diri, tata cara mengelola bantuan, pertolongan pertama pada korban, dan yang tak kalah penting adalah menghayati meta nilai atas peristiwa gempa bumi itu.&lt;br /&gt;Dengan belajar mitigasi bencana maka akan menyadarkan posisi siswa pada letak geografisnya. Ibarat aktor maka harus ada sikap sadar panggung. Dengan memahami letak geografisnya maka akan tahu dimana posisi yang paling aman untuk dituju ketika terjadi gempa bumi. Kesadaran akan posisi ini dapat diperluas diberbagai tempat. Misalnya jika tinggal dihotel harus tahu mana jalan pintas untuk menyelamatkan diri, jika di sekolah jalan mana yang paling mudah menuju daerah yang aman, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Mitigasi bencana ini juga dapat dijadikan bekal kelak kemudian hari jika siswa sudah lulus dan tinggal di luar kota. Siswa menjadi tahu ada tidaknya potensi gempa di wilayah baru yang ditempati. Jika ada maka siswa menjadi tahu apa yang mesti dilakukan. Tahu bagaimana bangunan harus didesain agar tahan gempa dan tahu titik mana yang harus dituju ketika terjadi gempa.&lt;br /&gt;Pelajaran selanjutnya yang dapat diambil adalah bagaimana mengelola bantuan jika ada. Siswa dapat menelaah beberapa kasus pemberian bantuan yang tidak terdistribusikan dengan lancar. Siswa dapat mencari apa penyebab ketidaklancaran itu.  Siswa juga dapat mempelajari kira-kira bantuan apa yang pertama kali sangat dibutuhkan. Tenda, makanan instan, obat-obatan atau yang lainnya. Jenis bantuan tersebut tentu bervariasi sesuai kebutuhan yang paling mendesak.&lt;br /&gt;Jika bantuan yang pertama dibutuhkan adalah tenda maka pelajaran yang perlu disiapkan adalah bagaimana mendirikan tenda yang aman dan nyaman. Pelajaran ini mengingatkan kepada kita betapa pentingnya pelajaran tali temali di Pramuka yang sering kita nafikkan. Jika yang diperlukan adalah makanan instan maka yang perlu diperhatikan adalah ada tidaknya alat masak sehingga makanan instan yang dibutuhkan dapat dipilih sesuai kondisi.&lt;br /&gt;Pelajaran selanjutnya adalah bagaimana menangani korban?. Apa yang mesti dilakukan, siapa yang mesti dihubungi. Dalam konteks ini maka mengenal lingkungan sangat penting. Tahu siapa yang berprofesi sebagai tenaga medis di lingkungan kita, di mana puskesmas terdekat yang bisa dijangkau, dan pengetahuan tentang PPK juga sangat penting.&lt;br /&gt;Pelajaran  lain yang bisa diajarkan adalah bagaimana menjadi relawan. Apa saja syaratnya, keterampilan apa yang diperlukan, dan prosedur apa yang mesti ditempuh perlu disosialisasikan dalam pendidikan preventif sehingga menggugah kesadaran kepada siswa kita betapa pentingnya sikap saling tolong-menolong.&lt;br /&gt;Dan dari semua pelajaran di atas, yang tak kalah pentingnya adalah menghayati meta nilai atas fenomena itu. Dalam konteks guru agama, fenomena itu dapat dijadikan sebagai peringatan dari Sang Khaliq kepada manusia. Dari peringatan itu maka sikap yang perlu diambil adalah instropeksi diri secara kolektif.   Selanjutnya guru juga harus meluruskan pemahaman siswa yang mulai tergerus oleh ramalan para futurolog yang menyatakan bencana itu sebagai serentetan kejadian untuk menuju kiamat yang sudah diprediksikan terjadi pada tahun 2012. Guru harus menjelaskan dengan logika dan pendekatan tekstual yang dapat menguatkan persepsi siswa. Meluruskan pemahaman ini penting agar siswa tidak pesimis terhadap masa depan hidupnya.&lt;br /&gt;Fenomena alam adalah teks yang multi tafsir. Bergantung pada siapa yang menafsirkan. Bagi pendidik yang berkecimpung dalam ranah rasionalitas dan religius tentu harus mengajarkan siswanya dalam dua perspektif, yakni perspektif ilmiah sebagai gejala alam dan perspektif religius sebagai ujian dan peringatan Sang Khaliq kepada makhluknya. &lt;br /&gt;Fenomena alam memang tak bisa dihindarkan, namun belajar atas fenomena alam setidak-tidaknya akan memberi pelajaran kepada siswa dalam bersikap dan bertindak.Dan belajar memahami atas fenomena itu menjadikan siswa kita menjadi generasi yang penuh pengharapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-2381934054101550931?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/2381934054101550931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=2381934054101550931' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2381934054101550931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2381934054101550931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/10/belajar-dari-fenomena-alam.html' title='Belajar dari Fenomena Alam'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-2809724077699409312</id><published>2009-09-09T05:11:00.000+07:00</published><updated>2009-09-09T05:12:10.342+07:00</updated><title type='text'>Membangun Budaya Bersih di Angkutan Umum</title><content type='html'>Jika kita melakukan perjalanan jarak jauh tentu yang kita cari adalah kenyamanan. Rasa nyaman menjadikan perjalanan asyik dan tidak membosankan. Apalagi perjalanan tersebut tujuannya untuk liburan. Kenyamanan dalam perjalanan ditentukan oleh kualitas jalan yang dilewati, fasilitas alat transportasi yang memadai, keamanan dalam kendaraan, pelayanan dari crew yang baik, dan yang tak kalah penting adalah kebersihan dalam kendaraan atau alat transportasi yang kita gunakan.&lt;br /&gt;Kenyamanan dalam alat transportasi kita memang serba kurang, bahkan mengkhawatirkan. Menggunakan pesawat terbang takut jatuh, maklum hampir setiap tahun ada saja pesawat terbang komersial kita yang jatuh, gagal terbang, atau gangguan yang lainnya. Banyak pesawat yang kelayakan terbangnya patut dipertanyakan.&lt;br /&gt;Perjalanan laut pun mulai tak nyaman. Gelombang tinggi, kapal karam, dan pembajakan menjadi ancaman yang serius. Tenggelamnya kapal menjadi fenomena yang sering kita jumpai karena kapal kelebihan muatan atau penumpang (over loading). &lt;br /&gt;Sementara pelayanan bus yang dinilai paling aman juga tidak senyaman yang dibayangkan. Pembiusan, copet, calo, dan pelayanan menjadi faktor ketidaknyamanan itu. Bus yang statusnya “patas” identik dengan padat tak terbatas. Bayangkan saja banyak bus yang berlabel eksekutif masih saja ngompreng atau menaikkan penumpang di perjalanan dengan alasan agar tidak rugi atau setidak-tidaknya BEP (break event point) alias tidak nombok.. Sedangkan bus yang labelnya ekonomi, kualitasnya banyak yang mengkhawatirkan, kadang membikin ciut nyali ketika sudah rebutan penumpang. Apalagi kalau lagi ngerem, aroma kampas rem atau ban gosong menyengat membuat was-was juga. Sementara kereta api kita kadang masih terlambat jam keberangkatannya, kadang dilempari batu orang yang tak bertanggung jawab (terlebih di malam hari), dan kebersihan dalam kereta yang patut disayangkan kecuali kereta kelas eksekutif.&lt;br /&gt;Masalah kebersihan dalam perjalanan memang sangat memprihatinkan. Penumpang dengan seenaknya membuang sampah di bawah joknya sendiri-sendiri, bahkan banyak pula yang membuang sampah lewat jendela. Jika sampah sudah banyak datang orang peminta-minta dengan alasan membersihkan sampah. Itu bagus jika tujuannya benar-benar membersihkan sampah. Namun kadangkala tujuannya lain, mencari kesempatan dalam kesempitan. &lt;br /&gt;Aroma sampah dalam kendaraan sangat membuat perjalanan menjadi tidak mengasyikkan. Dapat membuat penumpang muntah-muntah. Aroma sampah dan muntahan akan semakin tidak enak ketika di ruangan bus atau kereta tempat kita menumpang ada yang merokok. Sungguh membuat perjalanan semakin tidak nyaman. Apalagi jika jalanan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun budaya bersih     &lt;br /&gt;Sejujurnya kenyamanan dalam kendaraan adalah harapan semua penumpang. Namun seringkali kenyamanan itu dirusak sendiri. Belum ada kesadaran bagaimana agar dirinya nyaman dan tidak menganggu kenyamanan orang lain. Belum ada sikap toleran dalam perjalanan. Sikap-sikap tersebut harus dirubah menuju sikap yang santun dalam perjalanan, budaya toleran, dan tentu budaya bersih dalam perjalanan. Mengubah budaya tersebut memang tidak mudah, namun harus dilakukan.&lt;br /&gt;Dalam ilmu psikologi untuk mengubah budaya atau perilaku seseorang dapat dilakukan dengan cara modifikasi perilaku. Modifikasi perilaku menurut Bootzin (dalam Soetarlinah Soekadji, 1983) merupakan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen lain pada perilaku manusia. Dalam perspektif behaviorist modifikasi perilaku didefinisikan sebagai penggunaan secara sistematis teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku sosial tertentu atau tindakan mengontrol lingkungan perilaku tersebut (Powers &amp; Osborn, dalam Soetarlinah Soekadji, 1983). Tujuan yang hendak dicapai dari modifikasi perilaku adalah adanya perubahan-perubahan yang diharapkan yang meliputi; peningkatan, pemeliharaan, pengurangan dan penghilangan, serta perkembangan atau perluasan perilaku.&lt;br /&gt;Dalam modifikasi perilaku diperlukan pengukuhan-pengukuhan atau penguatan untuk mengubah perilaku sesuai yang diharapkan. Perubahan perilaku penumpang yang kurang memperhatikan kebersihan dapat dilakukan dengan pemberian pengukuhan berupa; tersedianya tempat sampah yang memadai dalam satu gerbong kereta api atau dalam bus, adanya larangan untuk membuang sampah sembarangan, larangan membuang sampah lewat jendela, adanya larangan merokok, dan bisa juga dengan pemberian denda bagi yang melanggar. Dapat pula diberikan pola atau cara membuang sampah, misal sampah harus dikumpulkan dalam kantong plastik dalam keadaan tertutup dan nanti ada petugas yang mengambil sampah. &lt;br /&gt;Untuk armada bus mungkin susah karena menyamakan persepsi semua PO Bus tentu susah apalagi antar PO Bus bersaing dalam mencari konsumen. Alih-alih membudayakan perilaku bersih, bisa jadi upaya modifikasi perilaku malah menjadikan bus kehilangan penumpang karena dinilai terlalu rewel. Meskipun demikian pengukuhan-pengukuhan yang positif (tidak memberi denda atau hukuman) patut dilakukan, misal pemberian kantong-kantong plastik untuk membuang sampah.&lt;br /&gt; Namun untuk kereta api atau kapal laut tentu lebih mudah karena tidak ada persaingan. Uji  coba modifikasi perilaku untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan dalam perjalanan hendaknya dilakukan secara terus-menerus sehingga perilaku bersih tersebut menjadi terpelihara dan membudaya. Kenyamanan dalam perjalanan tentu tidak saja menguntungkan bagi pengguna alat transportasi saja namun juga perusahaan penyedia transportasi. Untuk itu menjadi tugas bersama menjaga kenyamanan dalam perjalanan utamanya kebersihan karena sejak kecil kita telah diajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari pada iman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-2809724077699409312?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/2809724077699409312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=2809724077699409312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2809724077699409312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2809724077699409312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/09/membangun-budaya-bersih-di-angkutan.html' title='Membangun Budaya Bersih di Angkutan Umum'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6622473220367297811</id><published>2009-09-09T05:09:00.000+07:00</published><updated>2009-09-09T05:10:43.622+07:00</updated><title type='text'>Narsis, Perlu atau Tidak ?</title><content type='html'>Dalam percakapan sehari-hari kita seringkali mendengar istilah lebay dan narsis. Di sinetron, film, reality show, apalagi acara yang berbau gosip dua kata tersebut sedang in, seringkali diucapkan oleh host (pembawa acaranya). Bahkan tanpa sengaja kita seringkali mengatakan ih lebay amat  jika melihat sesuatu yang berlebih-lebihan dan dipaksakan. Kita juga seringkali mengklaim  tayangan iklan atau sikap seseorang dengan mengatakan narsis amat loh, jika apa yang ditampilkan terlalu memuja diri, merasa dirinya paling perfect dan paling benar.&lt;br /&gt;Dalam kajian psikologi, narsistik termasuk gangguan kepribadian. George Boeree (2008) menyatakan narsistik merupakan sebuah pola mendalam sikap membesar-besarkan (dalam fantasi atau prilaku), kebutuhan akan pemujaan, dan kurangnya empati, yang dimulai sejak masa dewasa awal dan hadir dalam berbagai konteks. Ada beberapa gejala narsistik yakni:&lt;br /&gt;1. Membesar-besarkan pemahaman akan nilai penting diri. Seseorang memaksakan dirinya agar dinilai atau dipandang sebagai individu yang superior, cemerlang, kaya akan prestasi, dan serba lebih dihadapan orang lain meskipun pada kenyataannya apa yang dia anggap atau ia citrakan tidak sepadan dengan prestasi yang diraih.&lt;br /&gt;2. Asyik dengan fantasi akan kesuksesan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan atau ketampanan, atau cinta sejati yang tiada batas. Orang yang panjang angan-angan dapat digolongkan sebagai orang yang narsis.&lt;br /&gt;3. Meyakini bahwa ia seorang yang spesial dan berstatus tinggi, pada hal sebetulnya ia biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;4. Butuh penghargaan yang berlebihan, tidak mau dianggap sebagai individu yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;5. Punya perasaan istimewa, yaitu harapan-harapan yang tidak selayaknya, khususnya terhadap perlakuan yang menguntungkan atau pemenuhan otomatis terhadap harapan-harapannya.&lt;br /&gt;6. Eksploitatif secara interpersonal, yakni mengambil keuntungan dari orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri. Istilah yang lebih keren : biar orang lain buntung, asal saya untung.&lt;br /&gt;7. Kurang empati: yaitu tidak adanya kemauan untuk mengenal atau mengakui perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain.&lt;br /&gt;8. Sering iri terhadap orang lain, dan menganggap orang lain dengki terhadap dirinya.&lt;br /&gt;9. Menunjukkan sikap atau perilaku yang angkuh, arogan, atau gumedhe.&lt;br /&gt;Dalam kadar tertentu, setiap manusia tentu ada kadar narsisnya.Asal jangan terlalu, penulis anggap wajar, sebab dalam kehidupan dan beraktualisasi diri tentu seseorang butuh pengakuan, pujian, dan persepsi hebat dari orang lain terhadapnya. Unsur-unsur narsis kadangkala juga dibutuhkan ketika kita membangun kepercayaan diri apalagi disaat kita menebar pesona. Calon legislatif, calon gubernur, calon kepala desa, dan tentu calon presiden pun kadang harus narsis ketika beriklan atau kampanye. Narsis diperlukan juga ketika seseorang melakukan kegiatan propaganda atau mempengaruhi orang lain. Dalam beriklan tentu semua calon-calon pejabat di atas mengklaim dirinya paling ampuh, paling bisa memenuhi ekspektasi rakyat, dan paling nomor satu layaknya iklan kecap. Bahkan untuk memperkuat pencitraan perlu didukung kajian-kajian ilmiah, misalnya penggunaan data statistik, polling, atau opini masyarakat yang semuanya telah dirancang terlebih dahulu (by design) agar narsisnya terlihat ilmiah.&lt;br /&gt;Yang paling penting adalah kita dapat menggunakan narsis pada tempatnya dan tidak melewati batas-batas kewajaran meskipun batas itu sifatnya relatif karena tiada takaran yang pas. Takaran yang bisa digunakan adalah kepatutan dan kepantasan.&lt;br /&gt;Dan bagi calon penguasa tentu sikap narsis diperlukan saat kampanye atau beriklan saja. Jangan sampai setelah ditetapkan jadi pemimpin atau pejabat narsisnya tidak hilang atau malah kebablasan karena bisa merugikan diri sendiri.&lt;br /&gt;Dengan demikian narsis tetap saja diperlukan meskipun dalam kajian psikologi dinyatakan sebagai sebuah gangguan kepribadian. Yang penting narsis yang dilakukan tidak menjadikan sombong, takabur, dan merugikan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6622473220367297811?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6622473220367297811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6622473220367297811' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6622473220367297811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6622473220367297811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/09/narsis-perlu-atau-tidak.html' title='Narsis, Perlu atau Tidak ?'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6378177014660879542</id><published>2009-09-09T05:08:00.000+07:00</published><updated>2009-09-09T05:09:24.028+07:00</updated><title type='text'>Catatan Pelaksanaan Akreditasi Sekolah</title><content type='html'>Bulan Agustus sampai Oktober merupakan masa-masa akreditasi sekolah/madrasah di Jawa Tengah. Bagi sekolah/madrasah yang akan diakreditasi nampak sekali peningkatan aktifitas pengelola sekolah/madrasah menyiapkan dokumen, bukti fisik, dan administrasi lainnya. Banyak sekolah/madrasah yang gagap menghadapi akreditasi. Kegagapan itu menggambarkan bahwa selama ini tata kelola sekolah tidak berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;Akreditasi sesungguhnya merupakan penilaian kelayakan penyelenggaraan pendidikan dengan kriteria yang telah ditentukan. Ada tiga tujuan dari penyelenggaraan akreditasi yakni; memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah sebagai satuan pendidikan atau program pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan, memberikan pengakuan peringkat kelayakan, dan memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada program dan/atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait (rekomendasi tindak lanjut). &lt;br /&gt;Ada tiga peringkat atau status hasil penilaian akreditasi yakni; Peringkat akreditasi A (Sangat Baik), jika memperoleh Nilai Akhir Akreditasi (NA) sebesar 86 sampai dengan 100, atau 86 &lt; NA &lt; 100.  Peringkat akreditasi B (Baik), jika memperoleh Nilai Akhir  Akreditasi sebesar 71 sampai dengan 85, atau 71 &lt; NA &lt; 85. Peringkat akreditasi C (Cukup Baik), jika memperoleh Nilai Akhir Akreditasi sebesar 56 sampai dengan 70,  atau 56 &lt; NA &lt; 70. Namun sekolah bisa saja tidak terakreditasi jika; tidak memperoleh Nilai Akhir Akreditasi sekurang-kurangnya 56,   lebih dari dua Nilai Komponen Akreditasi  kurang dari 56, dan  ada Nilai Komponen Akreditasi kurang  dari 40.&lt;br /&gt;Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, akreditasi tahun ini dirasa lebih rumit. Setiap sekolah diukur kualitas penyelenggaraannya dengan 8 standar yang menyangkut standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan,standar sarana prasarana, dan standar penilaian.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah penilian, proses akreditasi tentu merupakan proses yang menegangkan bagi pengelola sekolah, utamanya yang terlibat dalam panitia akreditasi sekolah/madrasah.Pengelola sering dibuat nervous, merasa inferior. Di sisi lain, asesor dipersepsikan sebagai eksekutor yang menakutkan, dalam posisi superior. Kesalahan dalam mempersepsikan ini membuat situasi yang tidak nyaman. Namun biasanya suasana akan menjadi cair jika asesor mampu memposisikan diri dengan baik, tidak menampakkan diri sebagai eksekutor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan penyelenggaransekolah&lt;br /&gt;Kelemahan mendasar penyelenggaraan pendidikan kita adalah minimnya administrasi yang tertata dengan baik. Dalam istilah Jawa dikenal dengan Ono tilas ono tulis. Kebanyakan ada tilas tapi tak ada tulis.Hal ini menggambarkan bahwa pengelola pendidikan yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi tidak terbiasa dengan budaya menulis. Budaya menulis di kalangan guru memang masih rendah. Salah satu indikatornya adalah banyaknya karir guru yang mentok di golongan IV/a dan susah menembus IV/b karena adanya persyaratn membuat karya tulis. Sesungguhnya membudayakan atau membiasakan menulis itu mudah. Dengan berprinsip” catatlah apa yang akan dikerjakan dan catatlah apa yang telah dikerjakan” sebetulnya menjadi modal awal untuk terbiasa menulis.&lt;br /&gt;Kelemahan mendasar yang kedua adalah minimnya pengetahuan dasar-dasar hukum penyelenggaraan pendidikan. Setiap standar pendidikan nasional memiliki landasan hukum yang mestinya dipelajari, ditelaah, dan dipraktikkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam konteks akreditasi yang mengacu 8 standar nasional pendidikan maka pengelola sekolah harus memahami 8 landasan hukum yakni ;Permendiknas 22/2006 tentang standar isi, Permendiknas 41/2007 tentang standar proses, , Permendiknas 23/2006 tentang  standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan yang terdiri atas Permendiknas  13/2007 tantang kepala sekolah, Permendiknas 16/2007 tentang Guru, Permendiknas  24/2008 tentang tenaga administrasi. Permendiknas 24/2007 tentang standar sarana dan prasarana, Permendiknas 19/2007 tentang standar pengelolaan, PP. 48/2008 tentang pendanaan pendidikan, dan Permendiknas 20/2007 tentang standar penilaian pendidikan. &lt;br /&gt;Kelemahan ketiga adalah lemahnya manajemen penyelenggaraan sekolah. Pengelola sekolah belum terbiasa dengan tiga tahapan kerja yang terdiri atas planning, doing, and reflecting. Sebetulnya planning, doing, and reflecting merupakan tugas utama penyelenggara pendidikan, utamanya guru sebagai ujung tombak pembelajaran. Menyusun action plan dalam bentuk RPP mestinya kewajiban guru sebelum mengajar, namun kewajiban ini seringkali dinafikkan, apalagi guru yang sudah senior yang merasa hafal betul dengan materi yang harus disampaikan ke peserta didik. Akibat dari ketiadaan planning maka pelaksanaan (doing) tidak ada target, kurang fokus, dan cenderung semaunya. Dan reflecting sesungguhnya bukan sekedar menilai siswa, namun lebih dari itu yakni merefleksikan semua kejadian yang terjadi dalam pembelajaran sebagai bahan penyusunan  action plan pada pertemuan berikutnya.&lt;br /&gt;Kelemahan keempat adalah ketiadaan tim kreatif di sekolah/madrasah. Tanpa adanya tim kreatif maka ketika menghadapi akreditasi pengelola sekolah kebingungan, kurang paham apa yang harus dilakukan. Tak tahu strategi yang paling jitu. Hal ini dapat dicermati dari adanya sekolah yang meminjam administrasi dari sekolah lain. Tindakan ini sejujurnya tindakan yang lucu. Apa yang dilakukan sekolah lain tentu berbeda dengan apa yang dikerjakan sekolah lainnya. Action plan yang dibuat guru dari satu sekolah tentu berbeda dengan yang dibuat guru di sekolah lainnya, karena berbeda berbagai karakteristik.&lt;br /&gt;Kelemahan kelima adalah tidak memahami instumen akreditasi dengan baik. Kelemahan ini mengakibatkan pengisian instrumen tidak akurat sehingga ada kesenjangan antara apa yang diisi dengan realitas yang ada yang dapat menjadi celah untuk diberi catatan oleh asesor.&lt;br /&gt;Dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan mestinya pengelola sekolah membudayakan sikap professional dalam penyelenggaraan pendidikan, tidak saja karena tuntutan akreditasi. Dengan budaya professional maka kelemahan-kelmahan di atas tidak akan ditemukan lagi sehingga sekolah/madrasah senantiasa siap untuk dinilai maupun diaudit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6378177014660879542?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6378177014660879542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6378177014660879542' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6378177014660879542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6378177014660879542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/09/catatan-pelaksanaan-akreditasi-sekolah.html' title='Catatan Pelaksanaan Akreditasi Sekolah'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-9065221823099547553</id><published>2009-09-09T05:06:00.000+07:00</published><updated>2009-09-09T05:08:18.469+07:00</updated><title type='text'>Pengabdian, Keberkahan, dan Fenomena Gelas Kaca</title><content type='html'>Mengabdi adalah perbuatan yang mulia. Memposisikan diri sebagai abdi menandakan keluhuran budi, karena hakikat pengabdian adalah ketiadaan pamrih dan penuh keikhlasan. Apalagi pengabdian itu sebagai seorang guru. Guru yang memposisikan dirinya sebagai seorang pengabdi berprinsip semua tindakan dalam kegiatan pembelajaran adalah sebuah layanan (teaching is service).&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian memposisikan diri sebagai abdi tidaklah mudah. Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin banyak dan mahal serta tuntutan profesional “memaksa” banyak guru mendekonstruksi makna pengabdian. Pengabdian yang semula bermakna ketiadaan pamrih dan keikhlasan serta mengutamakan keberkahan kini sama dengan pekerja professional yang membutuhkan gaji yang cukup untuk hidup layak dan kenaikan posisi sebagaimana karier dalam industri atau pemerintahan. &lt;br /&gt;Ketidakcukupan gaji dan ketidakpastian nasib berakibat pada kegagalan merekonstruksi pengabdian. Dekonstruksi makna pengabdian dan kegagalan merekonstruksi ulang berakibat pada kejadian-kejadian di luar pakem,  misalnya guru mogok mengajar dan berdemonstrasi menuntut hak dan kepastian nasib. Bahkan agar aspirasinya didengar banyak muncul serikat-serikat guru, semisal Forum GTT (Guru Tidak Tetap), Serikat Guru Honorer, dan lain sebagainya. Forum-forum tersebut lebih banyak sebagai kendaraan untuk menyuarakan aspirsi (menuntut hak) sebagaimana serikat buruh ketimbang kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kualitas akademik. Melencengnya dari pakem sejatinya mereduksi kesakralan profesi guru.&lt;br /&gt;Posisi pengabdian sebagai guru swasta yang paling tidak nyaman adalah guru swasta yang bernaung di bawah yayasan. Nasib guru swasta di yayasan saat ini tak ubahnya seperti buruh pabrik atau pemain sepakbola. Bekerja  berdasar kontrak kerja dengan mengatasnamakan profesionalisme dan dengan mengesampingkan nilai kemanusiaan. &lt;br /&gt;Guru yang kurang berprestasi tidak akan mendapat  line up  (meminjam istilah dalam kesebelasan sepakbola), dan akibatnya pemberhentian kontrak kerja. Bahkan nasib guru bisa di tangan siswanya karena salah satu tolok ukur kualitasnya ditentukan oleh polling  siswa. Ini maklum karena personalia sekolah atau yayasan sudah punya setumpuk lamaran dari para fresh graduate yang dipandang lebih memiliki energi, lebih idealis, dan tentu lebih bisa diberdayakan. “Orang baru” dipandang lebih menguntungkan, dan tentu tidak kritis terhadap kebijakan sehingga status quo tidak terganggu..&lt;br /&gt;Bahkan bagi guru swasta di yayasan, rezeki dalam satu tahun dapat dilihat diawal tahun ajaran ketika menerima surat tugas mengajar. Jumlah jam yang tertera dalam surat tugas mengajar dan jabatan tambahan di luar jam mengajar adalah rezeki yang akan diterima setiap bulannya. Bahkan jumlah jam mengajar bisa naik turun, bergantung jumlah siswa baru yang diterima, ada tidaknya pengurangan kelas karena banyak siswa yang keluar, dan modifikasi kurikulum yang dilakukan yang tentu saja menentukan struktur kurikulum.&lt;br /&gt;Fenomena Gelas Kaca&lt;br /&gt;Menjadi guru swasta dalam yayasan memang posisi yang tidak mudah ditebak. Tidak berprestasi dan dinilai kurang kooperatif rentan dengan pemberhentian kontrak kerja, menerima posisi jabatan berakibat berkurangnya jam dan akan membahayakan posisinya kelak ketika jabatan sudah lepas dan jam sudah digantikan guru lain. Jabatan menjadi buah simalakama bukan?.&lt;br /&gt;Yang lebih tragis lagi adalah mentoknya pengembangan karir jika posisi struktural sekolah telah diisi oleh guru-guru yang yes man atau telah diisi tim yang solid. Pejabat-pejabat tersbut sepertinya tak tergantikan lagi. Guru-guru yang memiliki keinginan untuk berkembang kariernya harus gigit jari karena tidak adanya aturan baku tentang lamanya jabatan. Fenomena ini tak ubahnya seperti fenomena gelas kaca, dapat dilihat namun tak dapat diraih. Pada hal banyak guru yang berpotensi dan siap membawa angin perubahan dan pengembangan. Jika tidak sabar guru akan frustasi.&lt;br /&gt;Fenomena gelas kaca dalam profesi apapun tentu pertanda buruk. Akibatnya jelas, kinerja dan kebijakan monoton, miskin kreasi dan inovasi, dan tentu menjenuhkan. Akibatnya di sekolah timbul apa yang dinamakan pshycological gap antara pengelola atau pejabat struktural  dengan guru.&lt;br /&gt;Fenomena gelas kaca ini akan semakin merusak makna pengabdian. Dan yang paling dirugikan tentu siswa. Guru tentu bekerja tidak all out, sekedar menggugurkan kewajiban, bahkan yang senantiasa dipikirkan adalah kapan ada lowongan penerimaan PNS  dan berharap diangkat menjadi guru PNS  karena merasa tidak betah, tidak diapresiasi oleh yayasan, dan tentu merasa kariernya sudah habis.&lt;br /&gt;Mungkin karier jabatan boleh habis, namun jangan sampai karier intelektual juga tidak ada. Jika kedua-duanya tidak ada, maka kebermaknaan profesi semakin hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, solusi dari fenomena di atas adalah berhenti dan mencari karier di tempat lain. Namun di zaman sekarang, mencari kerja tidaklah mudah, apalagi usianya sudah di atas 30 tahun. Namun jika tetap bertahan dengan kondisi yang kurang menguntungkan, hidup menjadi hambar. Karier jabatan mentok, karier akademik tak berkembang. Sementara jika akan mengembangkan diri di luar jam mengajar kurang waktu karena mencari rezeki dengan menjalani profesi lain untuk menutup kebutuhan rumah tangga.&lt;br /&gt;Mereformasi birokrasi disebuah lembaga tentu tidak mudah jika dilakukan dari dalam, apalagi oleh orang-orang yang posisinya lemah. Posisi pengabdi di mata pengelola adalah orang yang harus bekerja total dengan gaji keberkahan, meskipun penulis yakin berkah itu benar adanya. Namun berkah akan menjauh dengan sendirinya jika ikhlas tidak ada sehingga yang ada hanyalah menggerutu.&lt;br /&gt;Mereformasi yang  paling mungkin dilakukan oleh pihak luar (outsider) yang tidak memiliki keterikatan secara struktural maupun emosional. Salah satunya adalah lembaga yang bergerak dalam advokasi pendidikan. Hanya saja selama ini lembaga-lembaga advokasi pendidikan belum banyak dikenal  oleh guru, dan belum terjalin kerja sama yang baik.&lt;br /&gt; Reformasi ini tentu tujuannya tidak semata-mata melancarkan bagi siapa saja yang akan membangun karier jabatan, tetapi lebih pada pembelaan agar neraca peran (antara guru dan pengelola) dalam pemenuhan hak dan kewajiban  seimbang. Dari keseimbangan itu maka berimplikasi pada peningkatan mutu pendidikan. Tidak itu saja, keseimbangan itu akan mewujudkan kinerja yang ikhlas. Keikhlasan tersebut akan memberi jalan untuk merekonstruksi makna pengabdian dan menghilangkan fenomena gelas kaca karena semua stakeholder memiliki kesadaran. Muara akhir dari kebersamaan, kinerja yang baik, dan keikhlasan adalah keberkahan itu sendiri. Keberkahan adalah sesuatu yang transendentalis, ganjaran yang akan dianugerahkan Sang Khaliq  kepada hambanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-9065221823099547553?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/9065221823099547553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=9065221823099547553' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/9065221823099547553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/9065221823099547553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/09/pengabdian-keberkahan-dan-fenomena.html' title='Pengabdian, Keberkahan, dan Fenomena Gelas Kaca'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1591264671622507963</id><published>2009-08-15T07:54:00.000+07:00</published><updated>2009-08-15T07:56:55.605+07:00</updated><title type='text'>Menyadari Keunikan Diri</title><content type='html'>Setiap makhluk hidup adalah unik, begitu juga manusia. Uniknya manusia itu seperti tanda tangan, begitu Gordon Dryden dan Jeanette Vos menyatakan (1999). Keunikan adalah potensi, dan itulah keagungan Sang khaliq, Sang Maha Pencipta. Meskipun dua manusia kembar tidak akan sama 100%. Ini artinya manusia tidak dapat dibuat dalam bentuk massal, lain halnya dengan benda mati yang dikerjakan secara massal di pabrikan.&lt;br /&gt;Jelaslah tugas manusia sebagai makhluk yang dibekali pikiran untuk mengembangkan diri atas dasar keunikan yang dimiliki. Maka orang yang bisanya hanya meniru-niru secara massif sejatinya manusia itu telah kehilangan jati dirinya, telah hilang potensi asalnya, atau mengalami krisis kepercayaan diri. Dengan kata lain sukses adalah kemampuan mengelola dan mengembangkan keunikan diri.  &lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak tahu akan keunikan diri yang dimilikinya. Sejatinya secara lahir dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah keunikan yang membawa potensi, begitu juga potensi psikis yang berkaitan dengan kondisi emosi, kecerdasan majemuk, dan tipologi berpikir adalah aset bagi tiap individu. Tuhan Maha Adil, setiap penciptaan dan kehendakNya adalah hikmah dan berkah. Namun acapkali manusia kurang bersyukur, sehingga ciptaanNya yang telah sempurna sering dikonstruksi ulang karena apa yang dianugerahkan Sang Khaliq dianggap merugikan.&lt;br /&gt;Banyak orang yang merebonding rambutnya yang keriting karena dianggap keriting itu jelek, banyak orang yang berjuang mati-matian untuk melawan kebotakan karena botak membuat tidak percaya diri, banyak orang yang suntik silikon agar terlihat sexy, banyak orang yang operasi plastik karena hidungnya tidak mancung atau bibirnya kurang aduhai. Pada hal jika kita menyadari dan bersyukur bahwa rambut keriting itu menjadikan kita menjadi orang yang mudah dikenal karena khas, pada hal botak itu seksi, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara kita mengetahui potensi dengan menyadari atas keunikan diri kita?. Sejujurnya banyak yang kita ketahui atas diri kita, hanya saja potensi-potensi itu kurang berkembang karena tidak mendapat pembelajaran dan pelatihan yang mampu mengoptimalkan potensi unik yang dimiliki setiap individu. &lt;br /&gt;Dalam dunia akademik, khususnya dalam psikologi kognitif atau psikologi belajar keunikan manusia menyangkut gaya belajar (modalitas belajar), gaya berfikir, dan kecerdasan majemuk. Ketiga keunikan tersebut memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesuksesan seseorang dimasa depan. &lt;br /&gt;Jika seseorang tahu gaya belajar yang dimiliki dan dipraktikkan serta dirangsang sesuai dengan kebutuhan gaya belajarnya maka seseorang akan sukses secara akademik, jika seseorang mampu memahami gaya berfikir yang dimiliki seseorang akan mampu meraih posisi kerja yang relevan dengan gaya berfikirnya, dan jika seseorang  tahu kecerdasan majemuknya yang paling dominan maka seseorang dapat memilih keunggulan komparatif dari dirinya yang harus dikembangkan.&lt;br /&gt;Berikut ini penulis sajikan ciri-ciri dan karakteristik dari gaya belajar, gaya berfikir, dan kecerdasan majemuk.&lt;br /&gt;Gaya belajar&lt;br /&gt;Gaya berfikir&lt;br /&gt; Anthony Gregorc (dalam Gordon Dryden dan Jeanette Vos, 1999)  - profesor kurikulum dan instruksi di Universitas Connecticut - membagi gaya berpikir ke dalam empat gaya yang berbeda yaitu  Sekuensial Konkret, Acak Konkret, Acak Abstrak, Sekuensial Abstrak. Tidak ada gaya berpikir yang lebih unggul antara satu dengan yang lainnya, masing-masing memiliki keunikan tersendiri dan akan menjadi sangat efektif dengan caranya sendiri. Adapun definisi keempat gaya berpikir tersebut adalah :&lt;br /&gt;a. Sekuensial Konkret.&lt;br /&gt;Persepsi yang konkret dan pengaturan informasi yang sekuesial menghasilkan kombinasi Sekuesial Konkret. Pemikir Sekuensial Konkret mendasarkan dirinya pada realitas, mereka memproses informasi dengan cara teratur, urut, dan linier. Cara belajar yang terbaik bagi orang dengan tipe ini adalah praktik. Mereka memperhatikan dan mengingat berbagai detail dengan mudah baik mengingat fakta-fakta, informasi spesifik, rumus-rumus dan berbagai peraturan. Tipikal orang ini adalah pelajar yang pekerja dan teratur, lebih mengutamakan hasil/ kualiatas dari pada jumlah/ kuantitas sehingga dalam berorganisasi jabatan yang memerlukan kerapian dan keuletan seperti sekertaris atau bendahara merupakan jabatan yang cocok untuknya.&lt;br /&gt;b. Acak Konkret.&lt;br /&gt;Persepsi yang konkret dipadukan dengan pengaturan informasi yang acak menjadikan seseorang memiliki cara berpikir dominan Acak Konkret. De Porter (1999) menyatakan, ”Seperti halnya Sekuensial Konkret, mereka mendasarkan diri pada realitas, tetapi cenderung melakukan pendekatan coba-coba. Oleh karena itu, mereka sering membuat lompatan intuitif yang diperlukan untuk pemikiran kreatif sejati. Mereka memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan alternatif dan melakukan berbagai hal dengan cara mereka sendiri.” &lt;br /&gt;Orang dengan tipe Acak Konkret memiliki kebiasaan mengakhirwaktukan kegiatan, namun demikian mereka tetap merasa enjoy, suka bersaing daripada bekerja sama. Persaingan akan membuat mereka selalu ingin menjadi yang terbaik. Dalam berorganisasi, kreatifitas yang dimilikinya membuat mereka sering dipercaya untuk mengetuai beberapa kegiatan. Jabatan yang memiliki ruang gerak yang luas untuk berekspresi membuat mereka nyaman. Dengan kata lain orang dengan tipe Acak Konkret cocok dengan jabatan pemimpin.&lt;br /&gt;c. Acak Abstrak &lt;br /&gt;Pemikir Acak Abstrak mengatur informasi melalui refleksi dan berkembang pesat dalam lingkungan tak terstruktur dan berorientasi kepada manusia. Kombinasi persepsi yang abstrak dengan pengaturan informasi yang acak menjadikan pemikir acak abstrak seorang yang sensitif, perasa, dan mudah terbawa suasana (www.hudzaifah.org). Hal ini membuat mereka menjadikan perasaan sebagai bahan pertimbangan, baik perasaan sendiri ataupun perasaan orang lain sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengambil suatu keputusan.&lt;br /&gt;DePorter menyatakan, “ Dunia ‘nyata’ bagi para pelajar Acak Abstrak adalah dunia perasaan dan emosi. Mereka menyerap berbagai gagasan, informasi dan kesan lalu mengaturnya kembali melalui refleksi. Mereka dapat mengingat dengan baik jika informasinya dibuat menurut selera mereka dan akan merasa dibatasi ketika ditempatkan di lingkungan yang terstruktur.” Dalam berorganisasi posisi yang cocok untuk orang dengan tipe ini ialah yang berkaitan dengan kejiwaan seperti posisi humas. &lt;br /&gt;d. Sekuensial Abstrak&lt;br /&gt;Persepsi abstrak yang dikombinasikan dengan pengaturan informasi yang sekuensial membentuk seseorang dengan cara berpikir dominan Sekuensial Abstrak.  Pemikir Sekuensial Abstrak sangat suka sekali dengan dunia teori dan pikiran Abstrak (Dryden dan Vos, 1999). Mereka adalah penggagas yang brilian, pemikir yang menemukan gagasan yang kadang-kadang tidak terpikirkan oleh orang lain. Proses berpikir mereka logis, rasional,  dan intelektual. Aktivitas favorit mereka adalah membaca. Karena cara berpikir yang konseptual dan menganalisis informasi menjadikan mereka berpotensi menjadi filosof dan ilmuwan peneliti yang hebat. Jabatan yang cocok dengan orang seperti ini adalah Litbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Majemuk&lt;br /&gt;Hakikat inteligensi&lt;br /&gt;Intellegence atau inteligensi dalam Kamus Psikologi didefinisikan kemampuan berurusan dengan abstraksi-abstraksi; kemampuan mempelajari sesuatu; kemampuan menangani situasi-situasi baru (Kartini Kartono dan Dali Gulo, 2000). Rita L. Atkinson (1990), dkk menyatakan inteligensi sebagai kapasitas umum untuk memahami dan menalar sesuatu, yang mengejawantahkan diri dalam berbagai cara. Menurut Binet dan Simon (1905) dalam inteligensi terdapat suatu kecakapan dasar yang akan mempengaruhi kehidupan praktis berupa akal sehat yang akan memberi pertimbangan dalam melakukan tindakan, cita rasa praktis, inisiatif, dan kecakapan untuk beradaptasi. Usaha untuk mengetahui hakikat intelegensi berarti usaha untuk mengetahui apa inteligensi itu sendiri. Inteligensi sebagai entitas yang abstrak dideferensiasi menjadi lima konsepsi, yakni konsepsi bersifat spekulatif, pragmatis, faktor, operasional, dan fungsional (Sumadi Suryabrata, 2004).&lt;br /&gt;Spearman  menyatakan konsepsi spekulatif-filsafati intelegensi terdiri atas tiga kelompok yakni kelompok umum, daya jiwa, dan daya khusus. Ebbinghaus (1897) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi, sedangkan Terman mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak. Inteligensi sebagai daya jiwa adalah persatuan dari pada daya jiwa yang khusus, dan inteligensi sebagai daya khusus merupakan taraf umum yang mewakili daya-daya khusus.&lt;br /&gt;Inteligensi dalam perspektif pragmatis menurut Boring  merupakan  apa yang dites oleh tes inteligensi. Tes inteligensi dalam perspektif umum menggali sejumlah kemampuan mental yang relatif tidak tergantung satu sama lain (Rita L. Atkinson (1990). Konsepsi faktor tentang inteligensi merupakan upaya mengetahui inteligensi dengan teknik analisis faktor. Analisis faktor merupakan teknis matematika yang digunakan untuk menetapkan jumlah minimum dimensi atau faktor yang menimbulkan hubungan (korelasi) yang tampak diantara respon subjek  pada sejumlah tes yang brbeda. Tokoh-tokoh yang membidanginya antara lain Terman, Thomson, Cyrill Burt,  Thurstone, dan Guilford.  &lt;br /&gt;Terman, dalam analisis faktornya menemukan bahwa tingkah laku manusia disebabkan oleh dua faktor yakni general factor (g), dan special factor (s). Kedua faktor tersebut diformulasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tl1 = g + s1&lt;br /&gt;Tl2  = g + s2&lt;br /&gt;          Tl3 = g + s3&lt;br /&gt;Faktor umum merupakan faktor bawaan, sedangkan faktor khusus merupakan faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan.&lt;br /&gt;Teori Thomson menyangkal teori Terman, menurutnya tidak ada faktor umum yang bersifat bawaan, yang ada adalah faktor khusus yang dipengaruhi oleh pendidikan. Cyrill Burt menambahkan teori Terman dan pada dasarnya setuju dengan konsepsi yang disusun oleh Terman, hanya saja Burt menambahkan satu faktor lagi yang disebut dengan commom factor (faktor kelompok). Teori Burt diformulasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tl1 = g + c + s1&lt;br /&gt;Tl2 = g + c + s2&lt;br /&gt;Tl3  = g + c + s3&lt;br /&gt;Faktor kelompok yang dimaksud oleh Burt adalah faktor yang mempengaruhi oleh sejumlah tindakan, tetapi tidak pada semua tingkah laku. Thurstone pada pripsipnya sama dengan Burt, hanya saja menambahkan faktor kelompok menjadi tujuh macam, meliputi: faktor ingatan, faktor verbal, faktor bilangan, faktor kelancaran kata-kata, faktor penalaran, faktor persepsi, dan faktor ruang. Guilford menambahkan bahwa faktor kelompok tersusun atas 120 macam, hal ini dipengaruhi oleh tiga dasar yaitu: proses psikologis (cognition, memory, divergen production, convergent production, evaluation), materi yang diproses (figural, symbolic, semantic, behavioral), dan bentuk informasi yang dihasilkan (unit, classes, relations, systems, transformation, implications).&lt;br /&gt;Konsepsi operasioal tentang inteligensi menolak teknik analisis faktor dalam mengetahui hakikat inteligensi. Konsepsi operasional tidak setuju karena alanilis faktor tidak dapat dilakukan secara operasional. Inteligensi dalam konsepsi fungsional dinyatakan oleh Binet. Menurut Binet (dalam Sumadi Suryabrata) hakikat inteligensi ada tiga macam, yakni:&lt;br /&gt;a. Kecenderungan untuk menetapkan dan memperjuangkan tujuan tertentu.&lt;br /&gt;b. Kemampuan untuk menyesuaikan dengan maksud untuk mencapai tujuan  itu.&lt;br /&gt;c. Kemampuan untuk oto-kritik, dan belajar dari kesalahan sendiri.&lt;br /&gt;2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi&lt;br /&gt; a. Faktor genetik&lt;br /&gt;Faktor bawaan, yang disebut juga faktor keturunan atau faktor herediter, adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab mengapa ikan berenang, burung terbang, sapi berkaki empat, dan lain sebagainya (Saifuddin Azwar , 1996). Sebagian besar penelitian membuktikan inteligensi  berkaitan erat dengan faktor genetik. Tingkat korelasi antara inteligensi dengan faktor genetik disajikan dalam Tabel 4 di bawah ini. &lt;br /&gt;Hubungan Korelasi&lt;br /&gt;Kembar satu zigot&lt;br /&gt;Diasuh bersama&lt;br /&gt;Diasuh terpisah &lt;br /&gt;0,86&lt;br /&gt;0,72&lt;br /&gt;Kembar dua zigot&lt;br /&gt;Diasuh bersama &lt;br /&gt;0,60&lt;br /&gt;Saudara kandung&lt;br /&gt;Diasuh bersama&lt;br /&gt;Diasuh terpisah &lt;br /&gt;0,47&lt;br /&gt;0,24&lt;br /&gt;Orang tua/anak 0,40&lt;br /&gt;Orang tua angkat/anak 0,31&lt;br /&gt;Saudara sepupu 0,15&lt;br /&gt;Tabel 4&lt;br /&gt;Inteligensi dalam Hubungan Keluarga&lt;br /&gt;Sumber: Rita L. Atkinson, dkk. Pengantar Psikologi Jilid 2 (Bandung: Erlangga, 1990), hlm 133&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Faktor lingkungan&lt;br /&gt;Pengaruh lingkungan terhadap individu sebenarnya telah dimulai sejak terjadinya pembuahan. Proses yang paling berpengaruh setelah melahirkan adalah proses belajar (learning) yang menyebabkan perbedaan perilaku individu satu dengan yang lainnya. Kondisi lingkungan yang menentukan perkembangan potensi intelektual seseorang mencakup nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi, iklim emosional rumah, dan tipe umpan balik yang diperoleh melalui perilaku.&lt;br /&gt;        c. Kesehatan otak&lt;br /&gt;Otak sangat menentukan kemampuan operasional dari intelegensi individu. Otak yang terdiri dari belahan otak kanan dan kiri mempunyai wilayah kecerdasan-kecerdasan sendiri. Belahan kiri mengendalikan gerakan tangan kanan, dan belahan kanan mengendalikan  tangan kiri. Belahan kiri lebih berperan dominan dibanding belahan kanan. Belahan kiri berfungsi mengendalikan bahasa tulis, lisan,  kalkulasi matematik, dan kemampuan utamanya melibatkan konstruksi spasial dan indra pola.  Sakit atau terganggu pada wilayah tertentu dari otak akan mengganggu kecerdasan pada wilayah tersebut, dan tidak akan mengganggu kecerdasan lainnya.&lt;br /&gt;        d. Pendidikan prenatal&lt;br /&gt;Pendidikan pranatal mempengaruhi perkembangan dan kualitas janin, pendidikan prenatal dikondisikan oleh empat aspek, yaitu: &lt;br /&gt;1). Aspek fisik dan material, berkenaan dengan unsur fisik (makanan, gizi, finansial) untuk menjaga kesehatan fisik&lt;br /&gt;2). Aspek moral, berkenaan dengan moralitas orang tua.&lt;br /&gt;3). Aspek intelektual, yakni dimensi – dimensi , minat dan rasa intelektual ibu.&lt;br /&gt;4). Aspek spiritual, yakni perilaku ibadah yang dilakukan ibu (Suharsono, 2002).&lt;br /&gt;3. Pengertian dan Karakteristik Mutiple Intellegences&lt;br /&gt; Kemunculan Multiple Intellegences atau kecerdasan majemuk merupakan perluasan dari kecerdasan tunggal yang dinamakan IQ (intelligency quotient). Multiple intelligences lahir sebagai koreksi terhadap konsep kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfed Binet (1904), yang meletakkan dasar kecerdasan seseorang pada intelligences Quotient (IQ). Teori multiple intellegences dinyatakan oleh Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind.  Menurut Gardner kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana dilahirkan. Kecerdasan merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia (Linda Campbell, 2004).&lt;br /&gt;Menurut Gardner kecerdasan manusia terdiri atas tujuh macam yaitu:&lt;br /&gt;           a. Linguistic intelligence (kecerdasan linguistik), merupakan kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang komplek. Kecerdasan linguistik meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi atau bunyi bahasa, semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau penggunaan praktis bahasa (Thomas Amstrong, 2003). Individu yang mempunyai kecerdasan linguistik tinggi akan mahir dalam retorika (penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain), mnemonic/hafalan (penggunaan bahasa untuk mengingat informasi), eksplanasi (penggunaan bahasa untuk memberi informasi), dan metabahasa (penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri). Karakteristik-karakteristik  individu yang memiliki kecerdasan verbal linguistik adalah:&lt;br /&gt;1). Mendengar dan merespon setiap suara, ritme, dan berbagai ungkapan kata.&lt;br /&gt;2). Pandai menirukan berbagai suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang lainnya.&lt;br /&gt;3). Lebih mudah belajar melalui menyimak membaca, menulis, dan diskusi.&lt;br /&gt;4). Menyimak secara efektif, memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan.&lt;br /&gt;5).  Mengingat apa yang dibaca.&lt;br /&gt;6).  Efektif dalam berbicara.&lt;br /&gt;7). Efektif dalam membaca, memahami dan menerapkan aturan bahasa, ejaan, dan tanda baca (Linda Campbell, 2004).&lt;br /&gt;       b. Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika matematika), merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat), fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan ini adalah kategorisasi, klasifikasi, pengambilan kesimpulan, generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis (Thomas Amstrong, 2003).&lt;br /&gt;           c. Musical intelligence (kecerdasan musik), merupakan kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi (menikmati), membedakan (kritikus), menggubah (composer), dan mengekspresikan (penyanyi). Individu yang memiliki kecerdasan musikal mempunyai sensitifitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Karakteristik-karakteristik individu yang mempunyai kecerdasan musik adalah:&lt;br /&gt;1). Mampu mendengar dan merespon bunyi serta mengorganisasi jenis suara ke dalam pola yang bermakna.&lt;br /&gt;2).  Belajar lebih mudah jika dilakukan sambil menikmati musik.&lt;br /&gt;3). Mampu merespon musik secara kinestetik, emosional, dan intelektual.&lt;br /&gt;4).  Mengenali berbagai aliran musik.&lt;br /&gt;5). Tertarik untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan dalam bermusik.&lt;br /&gt;6).  Menggunakan perbendaharaan dan notasi musik.&lt;br /&gt;7). Mengembangkan referensi kerangka berfikir pribadi untuk mendengarkan musik.&lt;br /&gt;8). Mempunyai kemampuan dalam berimprovisasi dalam musik.&lt;br /&gt;d. Spatial intelligence (kecerdasan spasial), merupakan kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar unsur tersebut.&lt;br /&gt;e. Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik tubuh), merupakan keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan. Individu yang bagus dalam kecerdasan kinestetik cenderung belajar dengan mengandalkan modalitas kinestetik. Adapun ciri – ciri individu yang menggunakan modalitas kinestetik adalah:&lt;br /&gt;1). Berbicara dengan perlahan&lt;br /&gt;2). Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatiannya.&lt;br /&gt;3). Berdiri dekat ketika berbicara pada orang.&lt;br /&gt;4). Orientasi pada fisik dan banyak bergerak.&lt;br /&gt;5). Memiliki perkembangan awal otot-otot yang besar.&lt;br /&gt;6). Menggunakan jari sebagai petunjuk saat membaca.&lt;br /&gt;7). Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.&lt;br /&gt;8). Banyak menggunakan bahasa tubuh.&lt;br /&gt;9). Tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;10). Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.&lt;br /&gt;11). Ingin melakukan segala sesuatu (Baban Sarbana dan Dina Diana,2002).&lt;br /&gt;f. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal), merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Ciri-ciri individu yang mempunyai kecerdasan interpersonal yang bagus adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1). Terikat dengan orang tua dan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;2). Membentuk dan menjaga hubungan sosial.&lt;br /&gt;3). Mengetahui dan menggunakan cara-cara yang beragam dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;4). Merasakan perasaan, pikiran, motivasi, tingkah laku dan gaya hidup orang lain.&lt;br /&gt;5). Berpartisipasi dalam kegiatan kolaboratif.&lt;br /&gt;6). Mempengaruhi pendapat dan perbuatan orang lain.&lt;br /&gt;7). Memahami dan berkomunikasi secara efektif, baik dengan cara verbal maupun nonverbal.&lt;br /&gt;8). Menyesuaikan diri dengan lingkungan.&lt;br /&gt;9). Menerima perspektif yang macam-macam dalam masalah sosial dan politik.&lt;br /&gt;10). Mempelajari keterampilan yang berhubungan dengan penengah sengketa atau mediator.&lt;br /&gt;11). Tertarik pada karir yang berorientasi interpersonal.&lt;br /&gt;12). Membentuk proses sosial atau model yang baru.&lt;br /&gt;g. Intrapersonal-intellegence  (kecerdasan intrapersonal), merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan  semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Kecerdasan intrapersonal bersandar pada dunia batin, didalamnya tercakup motivasi, penekanan, etika, integritas, dan altruisme. Individu yang mempunyai kecerdasan intrapersonal tinggi mempunyai indikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;1).  Sadar akan wilayah emosinya.&lt;br /&gt;2). Menemukan cara-cara dan jalan keluar untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya.&lt;br /&gt;3).  Mengembangkan model diri yang akurat.&lt;br /&gt;4). Termotivasi untuk mengidentifikasi dan memperjuangkan  tujuannya.&lt;br /&gt;5).  Membangun dan hidup dengan suatu system nilai etik (agama).&lt;br /&gt;6).  Bekerja mandiri.&lt;br /&gt;7). Penasaran akan “pertanyaan besar” tentang makna kehidupan, relevansi, dan tujuannya.&lt;br /&gt;8). Mengatur secara kontinu pembelajaran dan perkembangan tujuan personalnya.&lt;br /&gt;9). Berusaha mencari dan memahami pengalaman “hatinya” sendiri.&lt;br /&gt;10). Mendapatkan wawasan dalam kompleksitas diri dan eksistensi manusia.&lt;br /&gt;11). Berusaha untuk mengaktualisasikan diri.&lt;br /&gt;12).Memberdayakan orang lain (memiliki tanggung jawab kemanusiaan).&lt;br /&gt;Ketujuh kecerdasan tersebut oleh  Gardner diambah satu kecerdasan lagi yakni kecerdasan natural. Natural intelligence (kecerdasan natural), merupakan kemampuan mengenali dan mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar.&lt;br /&gt; Ciri-ciri kecerdasan natural pada individu adalah :&lt;br /&gt;1). Suka dan akrab dengan berbagai hewan peliharaan. &lt;br /&gt;2). Sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka seperti kebun, taman, hutan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;3). Menunjukkan kepekaan terhadap panorama alam, seperti pemandangan, gunung, awan, pantai, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4). Suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang.&lt;br /&gt;5). Menghabiskan waktu dekat akuarium atau sistem kehidupan alam lainnya.&lt;br /&gt;6). Memperlihatkan kesadaran ekologis yang tinggi.&lt;br /&gt;7). Meyakini bahwa binatang mempunyai hak sendiri dan pelu dilindungi.&lt;br /&gt;8). Mencatat berbagai fenomena alam yang melibatkan hewan dan tumbuhan.&lt;br /&gt;9). Suka membawa pulang serangga, bunga, daun, atau benda-benda alam lainnya.&lt;br /&gt;10). Berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup (Robinson Situmorang (dalam Dewi Salma Prawira Dilaga dan Eveline Siregar, 2004).&lt;br /&gt;Teori Gardner tentang multiple intellegences mengilhami banyak pemikir dan cendekiawan untuk mengembangkan teori tersebut. IQ, EQ, dan SQ menjadi topik sentral dalam pengembangan teori Gardner. Perbandingan ketiga kecerdasan IQ, EQ, dan SQ   disajikan dalam Tabel 5 di bawah ini.&lt;br /&gt;Aspek Intelligence Quotient Emotional  Quotient Spiritual Quotient&lt;br /&gt;Struktur Jalur saraf Jaringan saraf Osilasi 40 Hz&lt;br /&gt;Cara berfikir Serial Asosiatif Unitif&lt;br /&gt;Tipe berfikir Rasional Emosional Spiritual&lt;br /&gt;Sifat Otomatis, kaku Fleksibel Dapat berubah&lt;br /&gt;Kelebihan/kekurangan Akurat, cepat, dapat dipercaya Tidak akurat, fleksibel Sangat akurat&lt;br /&gt;Dasar filosofis Newtonian Humanisme Filosofi ketimuran&lt;br /&gt;Respon Naluriyah Terkondisi Berkesadaran&lt;br /&gt;Contoh Sistem pernafasan, pengaturan, tekanan darah, refleks Menghubungkan rasa lapar dengan nasi, ibu dengan cinta, rumah Makna hidup, makna persaudaraan, makna cinta dan nyaman&lt;br /&gt;Mesin Komputer seri Komputer analog Tidak ada&lt;br /&gt;Proses belajar Tidak bisa belajar Dapat belajar Dapat belajar&lt;br /&gt;Proses psikologi Prapersonal Personal Transpersonal&lt;br /&gt;Tabel 5&lt;br /&gt;Perbandingan IQ, EQ, dan SQ&lt;br /&gt;Sumber: Rajendra Kartawijaya, 12 Langkah Membentuk Manusia Cerdas&lt;br /&gt; (Bandung: Hikmah, 2004), hlm. 159&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan keunikan diri sebagai potensi dan energi akan memberi kontribusi jika dikembangkan dan mendapat talent scout/pembantu bakat. Intinya kenali diri Anda, potensi Anda, maka Anda menjadi pemenang, bukan pecundang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1591264671622507963?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1591264671622507963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1591264671622507963' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1591264671622507963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1591264671622507963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/08/menyadari-keunikan-diri.html' title='Menyadari Keunikan Diri'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-651705168289033321</id><published>2009-08-15T07:48:00.000+07:00</published><updated>2009-08-15T07:49:16.564+07:00</updated><title type='text'>Sukses Adalah Harapan Semua Orang</title><content type='html'>Sukses adalah harapan semua orang, tanpa kecuali. Secara kodrati sukses merupakan motivasi intrinsik yang datang dari dalam diri individu. Motivasi ekstrinsik tidak lebih dari pelengkap dan penguat untuk mencapai sukses walaupun terkadang memberi energi yang luar biasa.&lt;br /&gt;Sukses bagi sebagian besar orang bukan sekedar kemudahan memperoleh dan mencari alternatif pilihan hidup, lebih dari itu sukses merupakan simbul akan eksistensi diri. Sukses memberi kontribusi yang signifikan dalam aktualisasi diri, artinya semakin sukses seseorang akan mudah untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang lain karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi.&lt;br /&gt;Sukses sesengguhnya merupakan hasil kerja keras dan doa,  no gain without paint. Tanpa kerja keras memperoleh sukses adalah sebuah anugerah, namun pada prinsipnya sukses tidak datang secara kebetulan. &lt;br /&gt;Berharap sukses adalah sebuah energi bagi orang yang mengharapkannya. Energi itu menggerakkan seseorang untuk berfikir, bekerja, berinovasi, dan berkreasi. Berfikir selalu berangkat dari asumsi-asumsi teoritis, aksioma, ataupun thesa. Hasil berfikir akan dipraktikkan dalam bekerja, idealisme dalam pikiran dan teori diejawantahkan dalam realitas kerja. Dari implementasi ranah idealitas ke ranah realitas akan menjadi pengalaman empirik bagi pelakunya. Sudah barang tentu terjadi deviasi atau penyimpangan antara kedua ranah tersebut. Deviasi dan penyimpangan mengakibatkan kinerja terganggu. Akibatnya sukses kerja terhambat, bahkan gagal.&lt;br /&gt;Bagi individu kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, prinsip kegagalan adalah sukses yang tertunda harus dipegang teguh oleh orang yang memperjuangkan kesuksesan hidupnya. Kesenjangan ranah idealitas dan ranah realitas yang berpotensi menghambat kinerja tersebut perlu disikapi dengan inovasi. Inovasi diperlukan ketika konsep lama tidak lagi ideal untuk dipraktikkan. Inovasi menjadi jembatan menuju kesuksesan dengan masih berangkat dari teori lama, hanya diubah metode atau caranya saja.&lt;br /&gt;Jika inovasi kurang atau gagal menjadi solusi kesenjangan ranah ideal yang teoritis dan ranah realis yang praktis maka perlu ditempuh langkah terakhir yakni proses kreatif. Proses kreatif merupakan proses mereka ulang (reenginering) konsepsi teoritis yang berada dalam ranah idealis. Dalam mereka ulang (reenginering)  dibutuhkan kesadaran atas dimensi kemampuan, dimensi waktu, dan dimensi tempat.&lt;br /&gt;Sesungguhnya untuk menggapai sukses proses kreatif mutlak dibutuhkan karena sangat banyak variabel yang berpotensi menghambat sukses. Kesadaran atas dimensi kemampuan sejatinya merupakan modal pokok bagi seseorang untuk mengkonstruk masa depannya. Dari sinilah action plan masa depan dibangun.&lt;br /&gt;Perumusan  action plan adalah sebuah proses penjabaran visi dan misi hidup. Visi senantiasa bertalian dan berlandaskan atas keyakinan hidup, visi adalah way of life bagi setiap orang. Dari visi yang dimiliki, seseorang akan merumuskan misi hidupnya. Misi merupakan operasionalisasi dari visi.&lt;br /&gt;Visi dan misi adalah ruh bagi seseorang. Tanpa kedua hal tersebut maka seseorang tak ubahnya makhluk mati, adanya seperti tak ada. Maka jelaslah sesorang yang tidak memiliki visi dan misi tidak akan pernah sukses karena tiada memiliki energi intrinsik untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Orang yang hidupnya tiada terkendali adalah orang yang kehilangan visi dan misi hidup.&lt;br /&gt;Visi dan misi setiap orang pastilah berbeda. Begitu pula cara seseorang memandang kesuksesan. Ada yang memandang sukses adalah ketercapaian material duniawi, ada yang memandang sukses adalah keberhasilan merengkuh kekuasaan, dan ada pula yang memandang sukses adalah keberhasilan dunia sebagai persiapan kehidupan akherat. Yang jelas sejatinya sukses adalah harapan semua orang dalam perspektif dan kadar yang berbeda tergantung latar belakangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-651705168289033321?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/651705168289033321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=651705168289033321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/651705168289033321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/651705168289033321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/08/sukses-adalah-harapan-semua-orang.html' title='Sukses Adalah Harapan Semua Orang'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4918236714131571659</id><published>2009-08-15T07:23:00.000+07:00</published><updated>2009-08-15T07:24:59.645+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Novel “Perampok”</title><content type='html'>Jika tidak ada aral melintang, hari Rabu tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia akan melaksanakan hajat akbar yakni Pilpres (Pemilihan Presiden). Pilpres dalam pesta demokrasi adalah puncak kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. Di negara manapun, pilpres selalu menguras tenaga dan menjadi pusat perhatian seluruh warganya, tak terkecuali bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Pergantian pucuk kepemimpinan selalu menarik untuk diperbincangkan. Dari rakyat kecil sampai pejabat tinggi negara, membicarakan pilpres merupakan menu yang paling “lezat”, meskipun dampak pasca pilpres tidak banyak memberi makna perubahan yang signifikan bagi rakyat kecil karena tidak memiliki akses kekuasaan.&lt;br /&gt;Yang paling menarik dibicarakan adalah calon presiden dan wakilnya serta manuver politisi yang akrobatik, yang memacu adrenalin setiap orang yang menyaksikannya. Dalam pilpres kali ini, berbagai manuver yang disebut koalisi paling banyak menghiasi pra pilpres. Ada koalisi besar yang terdiri atas PDI-P, Hanura, Gerindra, dan Golkar, ada golden triangle  (PDI-P, PPP, GOLKAR),  dan ada pula koalisi jumbo. Semua koalisi tersebut mengarah pada satu titik, yakni memenangkan calonnya untuk menduduki RI-1 dan RI-2.&lt;br /&gt;Yang namanya manuver tentu tidak tersistem, mudah berubah-ubah, (plin-plan) dan tidak bisa ditebak. Istilah jargon Jawa, esok tempe sore dele. Dalam konteks ini sebagai pihak ketiga yang sekedar menyaksikan dibuat bingung. Namun justru kebingungan inilah yang semakin membuat acara pilpres semakin “lezat” bagi siapapun, terlebih pengamat politik.&lt;br /&gt;Namun yang layak digarisbawahi dan diperhatikan secara seksama adalah bahwa manuver itu bisa menjadi pertanda buruk bagi proses pendewasaan demokrasi di tanah air ketika manuver tersebut melanggar etika, amoral. Apalagi manuver tersebut dianggap selalu wajar dengan mengatasnamakan politik sebagai sebuah seni kemungkinan, artinya mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin. Jika perilaku dan manuver yang kurang beretika tersebut diteruskan maka perpolitikan di tanah air dapat dikatakan sebagai politik tanpa etika (no ethics in politics).&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini penulis menghubungkan pesta demokrasi berupa pilpres dengan substansi novel “Perampok”. Meskipun naskah dramanya telah menjadi masa lalu, ditulis WS Rendra di tahun 1977 namun substansinya masih relevan dengan kejadian sekarang. Benar kata istilah, masa lalu selalu aktual.&lt;br /&gt;Dalam novel “perampok” kita dapat menyimak bagaimana perebutan kekuasaan di Kabupaten Lumajang berakhir dengan tragis. Raden Sudrajat memfitnah Raden Legowo yang nota bene kakak kandungnya hanya demi sebuah kursi kekuasaan. Raden Sudrajat melakukan pembunuhan karakter terhadap Raden Legowo. Raden Sudrajat memang berhasil menduduki kursi adipati, namun tak berlangsung lama karena akhirnya ia bunuh diri setelah terjadi huru-hara (perampokan di mana-mana) yang dimotori Raden Legowo.&lt;br /&gt;Sejarah bangsa ini analog dengan peristiwa di atas. Sejak kemerdekaan rakyat dibuat bingung, antara yang memfitnah dan pemfitnah, antara yang benar dan salah, semuanya kabur alias abu-abu. Sejarah memang tidak pernah hitam-putih bukan?&lt;br /&gt;Kejadian kedua yang analog dengan peristiwa saat ini menjelang pilpres dapat kita simak dari dialog dalam novel “Perampok” yakni: &lt;br /&gt;“Sebelum Raden duduk di situ ketika Raden masih berada entah di mana, guru kita telah bertitah kepadaku. Kata beliau: berangkatlah kamu ke  Lumajang, temuilah Raden Legowo yang akan berhenti menjadi perampok dan berhasil duduk sebagai Adipati Lumajang setelah mengalahkan kezaliman adiknya. Katakanlah kepadanya, janganlah sampai ia berkehendak untuk menjadi raja, karena Sultan Agung adalah Raja Tanah Jawa.”&lt;br /&gt;“Janganlah hal itu dikhawatirkan.”&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah mempunyai pikiran semacam itu.” (Perampok, 2004: 137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dialog di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa untuk menduduki sebuah kursi kekuasaan harus dilakukan dengan cara yang beretika. Mendasarkan pada norma yang dianut. Jangan meraih sesuatu kekuasaan melalui cara yang salah, apalagi cara itu merampok. Merampok konteksnya luas, dapat merampok suara, merampok hak, dan lainnya. Penggelembungan suara dan penafikan hak sebagai pemilih adalah sebuah perampokan.&lt;br /&gt;Dialog di atas juga mengajarkan kepada kita bahwa untuk menduduki tahta harus memperoleh mandat dari pemegang kekuasaan tertinggi. Sultan Agung dalam dialog di atas dapat kita ganti dengan rakyat, karena dalam demokrasi rakyatlah yang memberi restu seseorang untuk ditasbihkan sebagai presiden dan wakil presiden.&lt;br /&gt;Selain dialog di atas ada dialog yang relevan dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, yakni tentang bagaimana kita menyikapi sebuah kekalahan. Dialog tersebut yakni:&lt;br /&gt;“Oh, di cincin ini ada tersimpan racun. Tetapi ini sebetulnya untuk meracun orang lain, tidak untuk meracun diriku sendiri, tetapi apa boleh buat mati teracun tidak terasa, mati tersiksa akan lebih celaka”……..&lt;br /&gt;“Aku takut mati. Di sana gelap. Aku takut…”.&lt;br /&gt;“Menyerahlah Raden.”&lt;br /&gt;“Aku telah minum racun…” (Perampok, 2004: 132-133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan pilpres saat ini ada beberapa nilai yang dapat diambil dari novel “Perampok”. Nilai itu adalah; pertama: berpolitiklah dengan menggunakan etika, jika etika itu relatif, maka gunakanlah etika yang bersandar agama karena etika dalam perspektif agama itu pasti, tidak relatif, tidak pula nisbi. Jangan melakukan manuver yang tidak kontrol, jangan mengesankan sebagai negarawan yang haus akan kedudukan, yang tamak, yang tidak patut disuritauladani. Kedua: untuk meraih kedudukan dan kekuasaan raihlah dengan cara yang benar, sesuai konstitusi, dan mengedepankan aspek kejujuran. Politik tanpa kejujuran bukanlah merupakan seni mengolah kemungkinan, namun politik yang amburadul.&lt;br /&gt;Ketiga; bersiaplah untuk fair play, menang dan kalah harus disikapi dengan dewasa. Yang menang harus dapat mengayomi yang kalah, yang kalah tak perlu frustasi, tidak perlu mencari celah untuk menggagalkan pihak yang menang, apalagi ditempuh dengan cara yang destruktif. Jangan depresi atas kekalahan, apalagi sampai bunuh diri seperti Raden Sudrajat dalam novel “Perampok”.&lt;br /&gt;Keempat; kemenangan pasangan siapapun adalah kemenangan rakyat, rakyat harus mengakui dan patuh terhadap pemimpin negara sebagai ulil amri. Jika ingin kritis, posisikanlah sebagai opisisi, jadilah oposan yang bertetika.&lt;br /&gt;Sejatinya banyak nilai kehidupan, nilai demokrasi, nilai religius, dan nilai etika yang dapat diambil dari novel “Perampok” . Namun dalam uraian ini penulis hanya mengisahkan dua dialog yang penulis anggap paling relevan dengan kejadian saat ini.&lt;br /&gt;Cukuplah kita belajar demokrasi dengan novel “Perampok”, studi banding keluar negeri hanya menghabis-habiskan dana, mendingan untuk menggalakkan budaya membaca ,bukannya budaya malah plesiran dengan label studi banding.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4918236714131571659?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4918236714131571659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4918236714131571659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4918236714131571659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4918236714131571659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/08/belajar-dari-novel-perampok.html' title='Belajar dari Novel “Perampok”'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-5736802699065940286</id><published>2009-08-06T07:06:00.000+07:00</published><updated>2009-08-06T07:08:23.474+07:00</updated><title type='text'>Karakteristik Generasi  Sukses di Masa Depan</title><content type='html'>Indivisu yang sukses di masa depan adalah individu yang sesuai dengan karakteristik masa depan itu sendiri. Tanpa ada kesesuaian karakteristik maka individu tidak akan mampu berbuat banyak sehingga sulit meraih sukses.&lt;br /&gt;  Setiap masa membutuhkan karakteristik yang spesifik. Ditahun 1980-an seseorang yang bergelar sarjana strata satu (S-1) masih mudah mencari kerja, masih memiliki banyak alternatif memilih pekerjaan, namun ditahun 1990-an modal sarjana strata satu sudah mulai kesulitan mencari pekerjaan jika tidak memiliki keahlian khusus baik yang sifatnya kompetitif maupun komparatif. Sekarang, ditahun 2000-an sarjana strata satu semakin dirasa tidak cukup, generasi muda yang berstarata dua (S-2) semakin melimpah dan itu pun masih susah mencari kerja. Gelar sarjana harus dilengkapi hard sklill dan soft skill agar mampu bersaing dalam bursa kerja.&lt;br /&gt;Begitu drastisnya karakteristik generasi yang dibutuhkan setiap zaman mengharuskan  individu untuk menyusun blue print segala aktifitas dan berbagai pilihan program pembelajaran dan keahlian guna menyongsong kehidupan yang lebih baik. Tanpa ada perencaan (blue print) seseorang hanya sekedar bertahan hidup (survive) namun tidak mengalami kemajuan (progress).&lt;br /&gt;Meskipun menurut para futurolog masa depan itu sesuatu yang unpredicable (tak dapat dipastikan) namun sesungguhnya ada alur-- yang menyangkut karakteristik – yang dapat dibaca. Kecenderungan perubahan dapat dipahami melalui interaksi global. Kuncinya setiap individu harus siap dalam pusaran informasi, jika tidak maka seseorang akan mudah berada dalam posisi tertinggal, out of date.&lt;br /&gt; Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana karakteristik manusia yang dibutuhkan untuk sepuluh tahun atau dua puluh tahun mendatang ?. Skill apa yang dibutuhkan, keahlian apa yang paling banyak dicari, jurusan apa yang paling favorit ?. Semua pertanyaan itu tak mudah dijawab, apalagi berkaca dari realitas sekarang.&lt;br /&gt;Kadangkala kita berpandangan sempit, memandang masa depan dengan kaca mata sekarang. Pada hal masa depan cepat sekali berbeda dengan kondisi sekarang karena perubahan yang kontinyu nan drastis. Dua puluh tahun yang lalu ketika bangsa Indonesia sangat membutuhkan perawat banyak sekali bermunculan akademi perawat, akibatnya terjadi boooming sarjana perawat. Yang terjadi berikutnya adalah banyak sarjana keperawatan yang nganggur. Dulu jurusan geografi sepi mahasiswa, namun tiba-tiba menjadi jurusan yang banyak dibutuhkan ketika bencana timbul dimana-mana dan ketika anomali cuaca semakin tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Depan dalam Dunia Datar &lt;br /&gt;The World is Flat, begitu Thomas L. Friedman tulis. Buku kedua setelah The Lexus and The Olive Tree (1991) ini banyak memberi gambaran akan masa depan dalam dunia yang datar. Thomas L. Friedman melakukan antithesis terhadap pernyataan Chisthoper Columbus yang menyatakan dunia itu bulat. Dunia memang benar-benar mengarah dan menuju datar, istilah borderless world (dunia tanpa batas) benar-benar nyata. Esensi dari dunia datar adalah kompresi dunia, opensource dalam berbagai informasi, terbentuknya kelas menengah baru, dan globalisasi lokal dimana terjadi penguatan identitas lokal dan regional.&lt;br /&gt;Dalam dunia yang datar ini membutuhkan karakteristik dari setiap individu. Individu-individu yang nantinya menduduki kelas menengah baru menurut Thomas L. Friedman (2006) ada empat hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan, yakni:&lt;br /&gt;1. Belajar bagaimana belajar yaitu untuk secara terus-menerus menyerap, serta mengajari diri sendiri, berbagai cara baru untuk melakukan hal-hal lama atau berbagai cara baru untuk melakukan hal-hal baru.&lt;br /&gt;2. Antusiasme dan keingintahuan. Dalam dunia datar Indeks Kecerdasan (IQ) masih penting, namun Indeks Keingintahuan/CQ (Curious Quotient) dan Indeks Antusiasme/PQ (Passion Quotient) lebih penting lagi. Dengan antusiasme dan keingintahuan yang tinggi maka tidak seorangpun  akan bekerja lebih keras dalam belajar dari pada anak yang ingin tahu. Formula yang diajukan Thomas L. Friedman adalah:&lt;br /&gt;                                       CQ  +  PQ  &gt; IQ&lt;br /&gt;3. Berlaku baik pada orang lain. Dalam dunia datar banyak pekerjaan yang melibatkan kepribadian dan interaksi mendalam antarmanusia. Interaksi tersebut tidak akan berlangsung dengan baik dan nyaman jika seseorang tidak mampu berlaku baik pada orang lain.&lt;br /&gt;4. Manfaatkan otak kanan. Selama ini dunia pendidikan kurang memperhatikan otak kanan dan hanya memaksimalkan otak kiri. Fungsi otak kiri yang berupa perhitungan linier, logis, dan analitis diposisikan lebih untuk mencapai prestasi. Namun dalam dunia yang datar ini dimana manusia dibanjiri oleh data dan dicekik oleh berbagai pilihan peran otak kanan sangat vital untuk membangun entitas yang artistik, empati, melihat gambaran besar, dan kemampuan untuk menelusuri hal-hal yang bersifat transenden. &lt;br /&gt;Dengan melaksanakan keempat hal seperti yang disarankan oleh Thomas L. Friedman sejatinya seseorang telah menuju ke karakteristik generasi masa depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-5736802699065940286?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/5736802699065940286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=5736802699065940286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5736802699065940286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5736802699065940286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/08/karakteristik-generasi-sukses-di-masa.html' title='Karakteristik Generasi  Sukses di Masa Depan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4601843663684999042</id><published>2009-08-06T07:05:00.000+07:00</published><updated>2009-08-06T07:06:37.526+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Para Juragan</title><content type='html'>Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional sedang giat-giatnya mengiklankan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Dari menteri, pengusaha, dan selebritis didaulat menjadi bintang iklan di televisi. Target terakhir adalah terealisasinya rasio 70:30 antara SMK dan SMA.&lt;br /&gt;Rupanya pemerintah menyadari bahwa lulusan SMK dipandang lebih bisa eksis di masyarakat dan di dunia kerja, setidak-tidaknya memiliki skill untuk mencari penghidupan. Sementara lulusan SMA jika tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi harus mengambil kursus atau diklat hingga memiliki keterampilan. Di tengah perekonomian yang sulit, mengambil kursus dan diklat memerlukan biaya yang tidak sedikit hingga memberatkan masyarakat dan tentu menambah beban subsidi untuk pelatihan bagi negara.&lt;br /&gt;Diawal tahun 1990-an SMK yang dulunya bernama STM atau SMEA memang kalah bersaing dengan SMA. SMA lebih punya banyak pilihan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di samping itu, sekolah di STM pada waktu itu identik dengan sekolah bagi calon pekerja, calon buruh di pabrik atau  industri. Namun kini situasinya berbalik, SMK berada dalam posisi yang menguntungkan. Banyaknya tenaga terampil yang dibutuhkan di luar negeri seperti Korea dan Jepang dengan penghasilan yang besar membuka mata masyarakat dan pemerintah bahwa SMK dapat menjadi solusi dalam pengentasan kemiskinan. Disamping itu menghasilkan devisa bagi Negara yang tentu jumlahnya jauh lebih besar di banding para TKW yang bekerja pada ranah privat sebagai pembantu rumah tangga.  Lebih dari itu, bangsa ini jauh lebih bermartabat karena para pekerja memiliki skill dan pengetahuan sehingga tidak diperlakukan semena-mena.&lt;br /&gt;Yang perlu diwaspadai adalah munculnya SMK-SMK baru yang kualitasnya di bawah standar. Kita semua maklum bahwa dengan dicanangkannya rasio 70:30 antara SMK dan SMA banyak masyarakat yang mengambil keuntungan dengan mendirikan SMK secara asal-asalan, yang hanya berprinsip ekonomi, yang penting cari untung dengan mengabaikan kualitas pelayanan standar minimal pendidikan.  Pemerintah harus ketat dalam masalah ini, jika tidak maka hanya akan menghasilkan output yang tidak memenuhi standar kompetensi.&lt;br /&gt;Dari pekerja menjadi juragan&lt;br /&gt;Menjadi pekerja lebih baik daripada menjadi penganggur, namun menjadi juragan jauh lebih baik dari pada menjadi pekerja. Pekerja hanya butuh skill, sementara menjadi juragan memerlukan keahlian yang lebih komplek. Paham permasalahan distribusi, pengadaan barang, proses produksi, kualitas produk, estimasi harga dan keuntungan, dan yang sulit adalah memiliki mentalitas juragan.&lt;br /&gt;Banyak orang memiliki keterampilan, namun selamanya menjadi pekerja karena tidak memiliki apa yang disebut dengan mentalitas  juragan. Menjadi pekerja penuh resiko. Di PHK jika terjadi resesi, kembali menganggur jika pabriknya bangkrut, dan terkena rasionalisasi menjadi ancaman yang paling serius. &lt;br /&gt;Dengan ancaman yang selalu menghantui pekerja sudah selayaknya generasi ke depan tidak hanya dibekali skill tetapi juga mental juragan.Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkan pendidikan di SMK  membekali siswanya mentalitas juragan? Selama ini pendidikan kita belum menanamkannya secara serius. Jika ada pelajaran kewiraswastan baru sebatas kognitif, belum pada tataran praktik.&lt;br /&gt;Penulis memandang dalam dunia pendidikan kita sudah selayaknya diberi kurikulum yang dapat membentuk mentalitas juragan. Diperlukan mata pelajaran “jatuh bangun”, yakni mata pelajaran yang melatih bagaimana siswa menjadi orang yang tidak mudah putus asa, yang ulet, yang selalu progresif meski kadang bangkrut dalam usaha. Bahkan senantiasa siap jika harus memulai lagi usaha dari nol ketika menderita bangkrut. Intinya adalah bagaimana menciptakan siswa yang memiliki mental berani mengambil resiko, berani menghadapi masalah, dan berani memecahkan masalah.&lt;br /&gt;Pendidikan yang sudah-sudah miskin sekali penanaman mentalitas juragan. Semua lulusan pinginnya jadi pegawai negeri sipil alias PNS. Maklumlah PNS sudah terlanjur melekat dalam mental masyarakat kita. Mindset masyarakat kita menganggap PNS sebagai Pegawai Nyaman Sekali yang memiliki kasta tinggi di masyarakat. &lt;br /&gt;Dalam implementasi kurikulum “jatuh bangun” untuk membentuk mentalitas juragan, dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain: pertama; memperbanyak kisah-kisah orang sukses yang memulai usaha dari nol. Kisah-kisah itu akan memberi inspirasi kepada siswa bagaimana menjadi sukes. Kisah-kisah itu dapat ditemukan dalam buku-buku atau guru mengkliping dari berbagai media cetak. Kedua; mendatangkan langsung orang-orang sukses yang berprofesi sebagai wiraswastawan  di lingkungan sekolah untuk menjadi guru tamu. Contoh langsung tentu lebih mengena, lebih dapat membentuk mentalitas juragan. Apalagi jika guru tamu menceritakan bagaimana ia merintis karirnya sebagai juragan. Ketiga; membiasakan pembelajaran yang menekankan pada pola fikir out of the box, pola fikir yang kreatif, yang tidak sekedar membeo. Pola fikir kreatif akan banyak memberi energi bagi siswa untuk melakukan usaha yang berbeda, sehingga siswa memiliki keunggulan komparatif. Keempat;  diperlukan praktik langsung kurikulum “jatuh bangun”. Selama ini praktik yang dilaksanakan hanyalah di industri atau di kantor yang tidak membentuk langsung mentalitas juragan. Sebatas praktik basa-basi, sekedar menggugurkan tugas dalam struktur kurikulum pendidikan. Kelima;  sudah saatnya lulusan SMK diberi pinjaman lunak (loan) untuk merintis usahanya, sebab kadang orang tidak mampu memulai usaha karena ketiadaan modal. Keenam; diperlukan pemandu bakat (talent scouter) yang mengarahkan siswa untuk menjadi juragan. Talent scouter akan menjadi pendamping sampai siswa benar-benar dapat memulai usahanya secara mandiri.&lt;br /&gt;Dalam dunia yang rawan dengan berbagai krisis dan resesi ekonomi yang diperlukan adalah orang-orang yang bermental juragan, yang mampu bertahan dengan energi kreatif dan keberanian mengambil resiko.&lt;br /&gt;Dengan demikian sudah selayaknya SMK memperkaya kurikulumnya dengan kurikulum “jatuh bangun” sehingga tidak hanya menghasilkan calon pekerja yang berskill tetapi juga menghasilkan calon-calon juragan. Juragan-juragan yang menggerakkan sektor ekonomi mikro menjadikan negara kuat dan tahan terhadap berbagai krisis. Untuk itu SMK harus bermetamorfosa menjadi Sekolah Para calon Juragan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4601843663684999042?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4601843663684999042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4601843663684999042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4601843663684999042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4601843663684999042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/08/sekolah-para-juragan.html' title='Sekolah Para Juragan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-8057026888954839512</id><published>2009-07-19T20:27:00.000+07:00</published><updated>2009-07-19T20:29:58.937+07:00</updated><title type='text'>Antithesis Atas Kekuasaan</title><content type='html'>Harta, tahta, dan wanita merupakan target hidup kebanyakan kaum Adam. Merengkuh ketiganya adalah prestasi hidup. Dengan harta seseorang memiliki instrumen untuk mendapatkan tahta dan juga wanita. Dengan tahta seseorang memiliki instrumen untuk mendapatkan harta dan juga wanita. Dan dengan wanita, seseorang tidak hanya mampu mendapatkan harta dan tahta, lebih dari itu, tujuan hidup yang hakikipun akan direngkuhnya yakni kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt; Harta, tahta, dan wanita merupakan satu paket yang komplit. Ibarat makanan sudah empat sehat lima sempurna. Maka menjadi mahfum jika seseorang bekerja dengan keras nan cerdas untuk mendapatkan ketiga instrumen tersebut. Pencapaian harta, tahta, dan wanita tidak dapat diurai mana dulu yang mesti diraih. Yang jelas kans yang besar tentu diraih dulu untuk mendapatkan target yang lain. Berbeda dengan kaum Adam, kaum Hawa pun sejatinya berkehendak atas instrumen-instrumen itu, bahkan wanita sejatinya memiliki naluri yang tinggi untuk mengkooptasi pasangannya, lebih dari sekedar merengkuhnya.&lt;br /&gt;Dari tiga instrumen tersebut di atas, kini kita dihadapkan pada persaingan untuk merebutkan tahta yang terkemas dalam pilpres 2009. Jika kita menilik dari semua pasangan capres dan cawapres, sejatinya ketiganya telah merengkuh ketiganya. Semua pasangan telah memiliki harta, tahta, dan juga wanita (pasangan hidup). Namun kini semua pasangan itu juga berkehendak lagi atas tahta (sebagai presiden atau wakil presiden). Penulis yakin niat dari ketiganya bukan berdasar atas ketamakan atas kekuasaan, lebih dari itu, yakni mendarmabhaktikan jiwa dan raganya untuk bumi pertiwi Indonesia.&lt;br /&gt;Jika dipikir-pikir menjadi presiden dan wakil presiden di negara kita yang luas, yang kompleks permasalahannya, yang memiliki banyak hutang luar negeri, dan segudang pengangguran penduduk  sebenarnya tidak mengenakkan. Bisa membuat cepet tua, belum lagi didemo di mana-mana. Namun jika melihat antusias ketiga pasangan memperlihatkan bahwa ketiganya merupakan negarawan yang layak kita hormati. Ketiga pasangan mencurahkan semua energi untuk bangsa, tidak seperti para pensiunan atau kakek-nenek  lain yang menghabiskan masa tua dengan meminum teh dipagi hari sambil mendengar kicauan burung, menimang-nimang cucu kesayangan, atau duduk nyantai di beranda rumah sambil baca-baca koran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluruskan niat&lt;br /&gt;Yang perlu kita kawal nanti, siapapun yang berhasil memenangkan pilpres 2009 adalah orientasinya. Jangan sampai terjadi disorientasi. Jangan sampai instrumen kekuasan itu  digunakan untuk mendapatkan harta dan wanita lagi. Jangan sampai yang terpilih menggunakan instrumen kekuasaan hanya untuk kepentingan kroni-kroninya.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi beberapa waktu yang lalu calon wakil presiden Wiranto mengatakan bahwa : kekuasaan merupakan instrumen untuk berbuat kemaslahatan. Sungguh merupakan jawaban yang cerdas dan menarik. Jawaban tersebut sekaligus menggugurkan asumsi banyak orang bahwa kekuasaan dijadikan instrumen untuk meraih harta, untuk memperkaya diri dan keluarganya. Yang kita harapkan adalah apa yang dikatakan bukan merupakan retorika berbahasa sebagai sebuah politik tebar pesona namun sebuah pernyataan yang tulus.  &lt;br /&gt;Untuk mengukur kualitas pernyataan tersebut sebenarnya dapat dikroscek dari upaya yang dilakukan dalam memenangkan pilpres 2009. Jika upayanya bersih dengan mengedepankan kejujuran dan kemaslahatan maka dapat dikatakan bahwa yang dinyatakan itu sebuah ketulusan, bukan ketamakan atas kekuasaan. Namun jika upaya yang dilakukan penuh dengan tipu daya, black campaign, memanipulasi atau mark up suara maka dengan mudah kita nyatakan bahwa yang dikatakan tidak lebih dari sekedar retorika politik semata. &lt;br /&gt;Namun kadang yang usil bukan calonnya, namun tim suksesnya. Kadang kala calonnya benar-benar clean, namun tim suksesnya yang tidak fair. Maklum tim sukses selalu berupaya dengan sungguh-sungguh agar calon yang diusung berhasil. Keberhasilan calon yang diusung akan memberi akses kekuasaan kepadanya.&lt;br /&gt;Sayangnya kekuasaan itu banyak godaannya. Harus berbalas budi dengan tim suksesnya yang kadang tidak masuk akal, harus kuat dilobi, dan harus hati-hati dengan banyaknya jebakan yang berpotensi menjadi batu sandungan.&lt;br /&gt;Penulis yakin, dengan segudang pengalaman,dengan usia yang sudah matang, dan sudah meraih tiga instrument (harta, tahta, dan wanita) ketiga pasangan akan mampu melewati semua tantangan dan godaan atas kekuasaan. Jika pernyatan bahwa kekuasan adalah instrumen untuk berbuat kemaslahatan dapat direalisasikan maka pernyataan tersebut merupakan antithesis atas pernyataan power tends to corrupt sekaligus antithesis atas kekuasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-8057026888954839512?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/8057026888954839512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=8057026888954839512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8057026888954839512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8057026888954839512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/07/antithesis-atas-kekuasaan.html' title='Antithesis Atas Kekuasaan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-7992530314761687199</id><published>2009-05-05T09:38:00.001+07:00</published><updated>2009-05-05T09:40:29.401+07:00</updated><title type='text'>SEKOLAH UNGGULAN ISLAMI</title><content type='html'>Pengertian / Ilustrasi Sekolah Unggulan Islami&lt;br /&gt;Sekolah Unggulan Islami adalah tempat proses pembelajaran dengan sistem kurikulum terpadu antara ilmu, agama, ketrampilan hidup, dan dilaksanakan secara simultan yakni melibatkan unsur pendidikan yang meliputi : guru, kurikulum, media , siswa dan penataan lingkungan belajar yang kondusif sehingga mampu berdaya saing menuju terdepan dalam kompetisi dan unggul dalam prestasi serta berorientasi pada “Smart and Good”. &lt;br /&gt;Tujuan diselenggarakannya sekolah sangat berhubungan erat dengan salah satu tujuan negara yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa / anak bangsa (bukan sekedar kecerdasan intelektual) / agar mampu berdaya guna, dan berhasil guna bagi dirinya, kemaslahatan umat manusia dan alam semesta raya. Oleh karenanya untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses pembelajaran  dengan pola pendekatan multiple Intelegences dengan mengembangkan kemampuan / kecerdasan yang meliputi : IQ, EQ dan SQ. Tentunya konsep yang ideal tersebut perlu didukung oleh pihak pemerintah dan stake holders atau dewan pengampu pendidikan sehingga menjadi sekolah yang efektif dan unggul dalam kerangka internalisasi nilai - nilai islami. Dengan kata lain sekolah sebagai lembaga dakwah Islam dan pengembangan ekonomi umat merupakan implementasi dari ayat Allah SWT terhadap konsep “ rahmatan lil ‘alamin”.&lt;br /&gt; Sesungguhnya standar pendidikan unggulan islami dapat diterapkan pada jenjang, satuan dan jenis serta pada jalur pendidikan yang senantiasa menginginkan bentuk perubahan konsep mutu pendidikan yang terkendali. Makin bermutu suatu sekolah tentu akan makin diminati oleh masyarakat, sebaliknya sekolah yang tidak berorientasi pada mutu sudah barang tentu daya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya kurang. Jenjang dan satuan pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah Republik Indonesia,  antara lain : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenjang pendidikan dasar dalam satuan sekolah          :  SD / MI, SMP / MTs,&lt;br /&gt;   2. Jenjang pendidikan menengah  dalam satuan sekolah :  SMA  / MA, SMK / MAK     &lt;br /&gt;   3. Jenjang pendidikan tinggi dalam satuan sekolah    :    Akedemi, Politeknik, Institute                                                                                        Sekolah Tinggi, Universitas    &lt;br /&gt;Berdasarkan jenisnya, pendidikan dapat dibagi manjadi 7, yakni :&lt;br /&gt;1.Pendidikan umum&lt;br /&gt;2.Pendidikan Kejuruan Akademi,Politeknik&lt;br /&gt;3.Pendidikan Akademi&lt;br /&gt;4.Pendidikan Profesi&lt;br /&gt;5.Pendidikan Vocasi&lt;br /&gt;6.Pendidikan Agama&lt;br /&gt;7.Pendidikan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendidikan berdasarkan jalurnya , dapat dikelompokkan menjadi 3 hal ,    yaitu :&lt;br /&gt;1. Pendidikan formal, yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau institusi swasta berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang pendidikan dan undang-undang organik yang berhubungan dengan sistem  pendidikan nasional.      &lt;br /&gt;2. Pendidikan non formal adalah pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan institusi swasta / masyarakat  untuk meningkatkan kemampuan berpikir / ketrampilan hidup.&lt;br /&gt;3. Pendidikan in formal adalah pendidikan  dalam keluarga melalui sikap keteladanan.&lt;br /&gt;Tujuan diselenggarakannya lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam dimensi ilmu agama dan ilmu pengetahuan serta ketrampilan hidup  melalui proses pembelajaran sehingga diharapkan akan berpengaruh positif terhadap anak didik dalam menghadapi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Masyarakat Barat telah memahami bahwa ilmu dan agama dari sisi filsafat dipahami dan dinyatakan  : “Relegion without science is lame, science without religion is blind” artinya agama tanpa ilmu adalah lumpuh, ilmu tanpa agama adalah buta. Dengan demikian ilmu dan agama sangat perlu dikaji dan diamalkan karena akan berguna untuk  kemaslahatan dan keseimbangan  hidup di dunia dan di akhirat. Sekolah unggulan islami merasa tertantang untuk mengejawantahkan ilmu, agama dan ketrampilan hidup. Melalui efektifitas manajemen sekolah unggulan islami insyaallah akan terjawab essensi dan strategi dalam mengkaji keseimbangan ilmu dan agama serta ketrampilan hidup sebagai pelaksanaan prinsip  integrated curriculum school dan  internalisasi nilai-nilai islam di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Latar  Belakang  Sekolah Unggulan  Islami &lt;br /&gt; Perubahan adalah proses, tahapan, model dan pendekatan sistem yang bermuara pada upaya mencapai tujuan. Pendidikan nasional sebagai wahana untuk merubah cakrawala pandang anak didik ke arah penanaman identitas bangsa  Indonesia yang lebih bermartabat dan bermanfaat sehingga perlu diproses dengan pendekatan sistem melalui paradigma pendidikan baru yakni : “ bottom up policy “ dan sudah saatnya ditanggalkan paradigma pendidikan lama yakni :  “ top down policy “&lt;br /&gt;Paradigma pendidikan baru :  “ Bottom up policy “ merupakan pilihan yang tepat   dikarenakan paradigma tersebut terkandung makna pengelolaan sekolah dan prinsip pembelajaran yang dibangun secara bersama  dengan menggunakan kriteria :  kreatifitas, keterbukaan, membuka inovasi dan menciptakan karakter memanusiakan manusia serta proses pendidikan yang demokratis dan efektif. Sebaliknya paradigma pendidikan yang lama “ Top down policy “ hanya akan melahirkan manusia subyektif, kurang kreatifitas, kurang demokratis, asal bapak senang (ABS) , kurang professional jiwa ketergantungan ( menunggu bantuan baik moril maupun materiil ) sehingga kurang bernilai produktif dan kurang efektif.&lt;br /&gt;Sekolah unggulan islami sebagai alternatif bagi : praktisi, pemerhati, dan masyarakat luas tentu diharapkan mampu melahirkan generasi yang handal, unggul, kreatif, trampil, berbudi bawa laksana dan dapat membuka lapangan kerja  melalui kurikulum bermuatan “ life skill dan integreted curriculum serta internalisasi nilai – nilai Islam “. Jika predikat atau citra sekolah unggulan sudah berkibar di masyarakat maka tugas terberat selanjutnya adalah menjaga eksistensi dan mempertahankan esensi nilai unggulan tersebut .&lt;br /&gt;Dengan demikian sekolah unggulan islami mempunyai kriteria, sebagai berikut  :&lt;br /&gt;1. Diterapkan paradigma pendidikan “ Bottom Up Policy “ bukan “ Top down   policy “.&lt;br /&gt;2 .Berorientasi pada mutu yakni  manajemen mutu , kendali mutu dan jaminan mutu.&lt;br /&gt;3. Membangun sistem pendidikan secara utuh dan simultan yang meliputi : guru, anak    didik, kurikulum, media dan lingkungan sekolah / kelas yang kondusif.&lt;br /&gt;4. Selalu mengadakan konsolidasi, link sekolah serta perencanaan dan pengembangan &lt;br /&gt;      yang mengedepankan “ unggul dalam prestasi dan terdepan dalam kompetisi”.&lt;br /&gt;5. Menciptakan lingkungan sekolah yang islami secara esensional dan eksistensional.&lt;br /&gt;6.  Diterapkan sistem pendidikan nasional dengan kurikulum jati diri / muatan lokal&lt;br /&gt;7.  Intensifikasi media pembelajaran dengan pendekaatan media alam sebagai wujud &lt;br /&gt;      pelaksanaan tadabur&lt;br /&gt;8.   Ditegakkan disiplin  baik untuk guru dan siswa dengan diterapkan tata tertib oleh team work  sekolah serta mengedepankan keteladanan sebagai jaminan mutu diri.&lt;br /&gt;9.  Menerapkan sistem administrasi dengan komputerisasi dan administrasi dinding.&lt;br /&gt;10. Menjalin kerja sama yang harmonis antara sekolah dengan komite sekolah serta lingkungan masyarakat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan Tujuan Sekolah Unggulan Islami&lt;br /&gt;    Banyak anak didik yang sebenarnya potensial namun diproses secara tradisional dan sangat sederhana bahkan ironisnya  sekolah tersebut kurang berorientasi pada peningkatan mutu. Sesungguhnya anak didik sebagai Raw in          ( bahan mentah ) yang bermutu, dikelola  oleh sekolah secara profesional dan maksimal dengan pendekatan pembelajaran yang fun  maka akan menghasilkan out put yang bermutu tinggi.&lt;br /&gt;   Mendapatkan bahan mentah yang bermutu tinggi tentu dengan penyeleksian ketika penerimaan siswa baru. Hal ini  bukan berarti mendikotomikan anak didik menjadi orang yang eklusif atau arogan. Sekolah unggulan islami  melakukan tindakan preventif dengan berupaya  memilih dan memilah in put untuk menggali dan mengarahkan anak didik agar perkembangan irama potensi anak didik dapat selaras dengan perkembangan zaman. Jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan anak didik , dimungkinkan terjadi  hal yang tidak kita inginkan yakni ” gab dangerous ”            Hal demikian bukan berarti membuat komunitas “ Brilliant School “, akan tetapi justru dengan sekolah unggulan islami diharapkan lahir anak didik yang mempunyai kemampuan dan pribadi dwi tunggal atau dikatakan sebagai pribadi ideal dan utuh      “ smart and good “ artinya  anak didik yang cerdas dan baik dalam sikap, perilaku dan perbuatannya. &lt;br /&gt;     Oleh karenanya  sekolah unggulan islami  mempunyai karakteristik  sebagai      berikut  :&lt;br /&gt;1. Program Integrated Curiculum School&lt;br /&gt;Kurikulum ini memuat kurikulum nasional yang dijiwai implementasi nilai-nilai islamiah serta dilengkapi life skill atau ketrampilan hidup. Dengan kata lain ada keterpaduan dalam memahami : ilmu, agama dan ketrampilan  hidup.&lt;br /&gt;2. Pendidik berkompetensional  ( kepribadian, paedagogik, professional dan sosial )&lt;br /&gt;3. Lingkungan sekolah mencerminkan :&lt;br /&gt;a  Iklim sekolah yang islami dan kondusif dengan sikap ; senyum , sapa, salam.&lt;br /&gt;b.Pola pendidikan yang demokratis dan terbuka terhadap kritik yang konstruktif.&lt;br /&gt;c.Berpola pikir dan pola sikap yang dinamis atau mengikuti perkembangan jaman&lt;br /&gt;              d.Menerapkan kedisiplinan sebagai pilot project system pendidikan melalui penegakkan tata tertib dan didukung rambu-rambu : petunjuk, peringatan, larangan, dan sanksi yang edukatif.&lt;br /&gt;e.Penerapan Bilingual system dalam lingkungan sekolah, antara lain: English day,   English area, file triep, conversation, MC.&lt;br /&gt;f. Masjid di sekolah sebagai sentral kegiatan dan pengembangan identitas Islam&lt;br /&gt;g.Banyaknya agenda kegiatan islamiah baik untuk siswa, karyawan, dan pendidik&lt;br /&gt;4. Perwujudan prestasi sekolah : kejuaraan, ketenaran / popularitas, dan keteladanan&lt;br /&gt;5. Membangun sistem organisasi dan tatalaksana baik dewan Guru, Karyawan dan        OSIS, Unit Kegiatan Siswa, dsb dengan berdasarkan Standar Operasional Prosedur atau SOP yang telah diformulasikan dan disepakati oleh yang berkompeten&lt;br /&gt;6. Menerapkan pola pembelajaran : Quantum Learning, Student Active Learning&lt;br /&gt;   Learning by Fun, pendekatan multiple intelegences, pendekatan kontekstual, dll.&lt;br /&gt;7. Sarana dan prasarana yang representatif/ lengkap&lt;br /&gt;8. Punya program unggulan yakni : agama , bahasa Inggris dan ekonomi praktek antara lain :&lt;br /&gt;a.Bidang pertanian   : Pupuk organik, pembibitan, perikanan, persemaian, pupuk cair,   bio gas, dll&lt;br /&gt;b.Jasa          : BMT, wartel,jasa angkutan, jasa bayar telp, jasa PAM, dll&lt;br /&gt;c.Industri         : Production House dengan home industri kecil&lt;br /&gt;d.Perdagangan           : Memasarkan hasil produksi dari bentuk usahanya&lt;br /&gt;e.Ekstratif          :  Jasa tambahan yang bersifat profit (di luar usaha yang     dijalani )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan Sekolah Unggulan Islami&lt;br /&gt; Formulasi sekolah unggulan islami diproyeksikan  dalam aneka prinsip kegiatan&lt;br /&gt;diantaranya :&lt;br /&gt;1.Menata kerangka proses manajemen sekolah&lt;br /&gt;2.Mengembangkan eksistensi dan  essensi sekolah untuk segenap civitas institusi pendidikan dengan melakukan :&lt;br /&gt;a.Penataan lingkungan fisik agar senantiasa : bersih, aman, tertib, dan indah&lt;br /&gt;b.Penataan lingkungan psikis dengan menegakkan disiplin dan kekeluargaan&lt;br /&gt;c.Pentingnya penggunaan atribut : pakaian identitas muslim dan perlengkapannya&lt;br /&gt;d.Penanaman mental positif yakni :  percaya diri, adaptif, dinamis dan konsekuen&lt;br /&gt;e.Penegakkan   :  tata tertib, sanksi, dan mekanisme penanganan masalah siswa&lt;br /&gt;f.Sosialisasi tindakan preventif agar tidak terjadi pelanggaran peraturan sekolah&lt;br /&gt;  dengan  : 1).Memberikan petunjuk yang  jelas&lt;br /&gt;     2).Ada peringatan dan larangan yang jelas&lt;br /&gt;     3).Perlunya kode etik sekolah dan norma sekolah&lt;br /&gt;     4).Pembinaan rutin oleh Kepala Sekolah, bagian kesiswaan atau guru &lt;br /&gt;           yang telah dijadwalkan  dan disyahkan oleh kepala sekolah&lt;br /&gt;g.Pelatihan untuk improvement guru  maupun  karyawan dalam institusi pendidikan&lt;br /&gt;   Contoh : 1). Training for new teachers  dan Training for new officer&lt;br /&gt;     2). Out Bond untuk menguji andrenalin / kekuatan mental menghadapi&lt;br /&gt;          tantangan realita hidup,  baik dalam kerja maupun di luar kerja&lt;br /&gt;         h.Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa ( LDKS ) dalam rangka kaderisasi organisasi siswa intra sekolah atau OSIS&lt;br /&gt;         i.Ekstra kurikuler sebagai penyaluran minat dan bakat siswa . Unit kegiatan  tersebut   antara lain : &lt;br /&gt;1).KIR   singkatan dari  Kelompok Ilmiah Remaja &lt;br /&gt;          2).KBB  singkatan dari  Kelompok Belajar Bersama&lt;br /&gt;          3).ROIS  singkatan dari  Kerohanian Iislam&lt;br /&gt;          4) Cabang – cabang  Olah raga  ( untuk berprestasi dan  kesehatan )&lt;br /&gt;3.Melaksanakan program life skill di satuan dan jenjang pendidikan di sekolah&lt;br /&gt;4.Penerapan standar mutu pembelajaran dengan pola pendekatan antara lain :&lt;br /&gt; a.Menggali kemampuan siswa / guru dengan pendekatan multiple intelegences&lt;br /&gt; b.Aktivasi siswa yang dipandu guru pembimbing dalam bentuk kegiatan- kegiatan : 1). Bedah buku&lt;br /&gt;2). Resume for book&lt;br /&gt;3). Kegiatan sosial keagamaan&lt;br /&gt;4). Dunia usaha tepat guna untuk meningkatkan  produktifitas siswa dan institusi   di bidang  : Agraris,  Industri, Jasa, Perdagangan, dan Ekstratif&lt;br /&gt;5).Training for Student / Teachers, antara lain: motivasi, manajemen waktu, dll&lt;br /&gt;6).Program pembinaan dan bukan pembinasaan.  ( untuk siswa, dan guru. )&lt;br /&gt;     5.Berupaya sukses  melalui kegiatan sekolah dengan membangun rencana baru yakni:&lt;br /&gt;a.Mengukur kembali tujuan yang direncanakan untuk mengetahui validitas antara&lt;br /&gt;   harapan dan tingkat pencapaiannya. Jadi hal ini mengukur baju badan sendiri dengan ukuran badan sendiri dan bukan dengan ukuran orang lain / lembaga lain.&lt;br /&gt;b.Perlunya konsultan pendidikan yang berpengalaman sehingga mempunyai frame  of work atau blue   print / program kerja yang baik.&lt;br /&gt;c.Melaksanakan plan system sekolah sesuai dengan yang telah disepakati secara :    konsinten, komitmen, dan sinergis.&lt;br /&gt;d.Melaksanakan kegiatan sekolah secara : partisipatif, bertanggungjawab, amanah terhadap tugas, dan fungsinya didasari satu niat, satu fikroh, dan  satu tujuan&lt;br /&gt;e.Menggunakan paradigma pendidikan : Bottom Up Policy , bukan Top down policy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-7992530314761687199?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/7992530314761687199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=7992530314761687199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7992530314761687199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/7992530314761687199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/05/sekolah-unggulan-islami.html' title='SEKOLAH UNGGULAN ISLAMI'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6357871787986031561</id><published>2009-03-17T06:15:00.001+07:00</published><updated>2009-03-17T06:16:45.090+07:00</updated><title type='text'>JADWA;L LATIHAN</title><content type='html'>D. LAMA PELATIHAN LAS&lt;br /&gt;Lama pelatihan las tingkat terampil dilaksanakan selama 11 x 8 jam kerja &lt;br /&gt;( 11 hari kerja efektif ) dengan  jadwal sebagai berikut :&lt;br /&gt;Hari Waktu Materi Pengampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I 07.00 – 09.30 Pembukaan dan Pengantar Pelatihan Disduknakertrans/LPKS&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Perangkat Las Busur Manual Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Bahan dan Pengolahan Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Gambar Teknik dan Finishing Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II 07.00 – 09.30 Teknik Penyalaan Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Persiapan Sambungan Las Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan I Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan I Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III 07.00 – 09.30 Sambungan I Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan T Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan T Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan T Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV 07.00 – 09.30 Sambungan Pipa Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan Pipa Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan Pipa Posisi Bawah Tangan Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan I Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V 07.00 – 09.30 Sambungan I Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan I Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan T Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan T Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI 07.00 – 09.30 Sambungan T Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan Pipa Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan Pipa Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan Pipa Posisi Horisontal Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII 07.00 – 09.30 Sambungan I Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan I Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan I Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan T Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII 07.00 – 09.30 Sambungan T Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Sambungan T Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Sambungan Pipa Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Sambungan Pipa Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX 07.00 – 10.00 Perjalanan menuju Industri Instruktur dan Tim&lt;br /&gt; 10.00 - 12.30 Aktivitas di Industri Pengelasan Instruktur dan Tim&lt;br /&gt; 12.30 – 13.30 Istirahat, makan siang, sholat Instruktur dan Tim&lt;br /&gt; 13.30 – 15.00 Studi banding ke Bengkel Las Instruktur dan Tim&lt;br /&gt; 15.00 – 17.30 Aktivitas pelepasan lelah/refreshing Instruktur dan Tim&lt;br /&gt; 17.30 – 20.00 Perjalanan menuju LPKS Al Hikmah Instruktur dan Tim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X 07.00 – 09.30 Sambungan Pipa Posisi Vertikal Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Revisi dan Evaluasi Hasil Pekerjaan Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang, sholat Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 13.00 – 14.30 Project Work Instruktur Las&lt;br /&gt; 14.30 – 16.00 Project Work Instruktur Las&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XI 07.00 – 09.30 Project Work Instruktur Las&lt;br /&gt; 09.30 - 10.00 Istirahat, minum snack Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt; 10.00 – 12.00 Finishing Project Work Instruktur Las&lt;br /&gt; 12.00 – 13.30 Upacara penutupan Tim LPKS Al Hikmah&lt;br /&gt;   Disduknakertrans/LPKS&lt;br /&gt; 13.30 – 16.00 Penyelesaian Administrasi Tim LPKS Al Hikmah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6357871787986031561?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6357871787986031561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6357871787986031561' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6357871787986031561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6357871787986031561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/jadwal-latihan.html' title='JADWA;L LATIHAN'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1825168258156651167</id><published>2009-03-17T06:14:00.001+07:00</published><updated>2009-03-17T06:15:38.735+07:00</updated><title type='text'>SILABUS LAS</title><content type='html'>SILABUS PROGRAM PELATIHAN PENGELASAN TINGKAT TERAMPIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama LPKS  : Al Hikmah  Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;Tingkat  : Terampil&lt;br /&gt;Standar Kompetensi : Melakukan proses pengelasan menggunakan peralatan las busur manual posisi di bawah tangan, horizontal dan vertikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi Dasar Materi Pokok / Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber belajar&lt;br /&gt;    Teknik Bentuk Instrumen Instrumen  &lt;br /&gt;1. Memperagakan pengesetan peralatan las busur manual secara lengkap 1. Peralatan Utama&lt;br /&gt;2. Peralatan Bantu&lt;br /&gt;3. Peralatan Keselamatan Kerja&lt;br /&gt;4. Elektrode 1. Tanya jawab mengenai produk las&lt;br /&gt;2. Menjelaskan pengertian pengelasan&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi peralatan las busur manual&lt;br /&gt;4. Menjelaskan fungsi dan teknik pemakaian peralatan las busur manual 1. Menjelaskan definisi pengelasan busur manual&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi peralatan utama las busur manual&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi peralatan bantu las busur manual&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja las busur manual&lt;br /&gt;5. Mengeset peralatan las busur manual hingga siap pakai 1. Tes&lt;br /&gt;2. Perbuatan 1. Isian&lt;br /&gt;2. Format Penugasan 1. Lembar soal&lt;br /&gt;2. Lembar jobsheet 120 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi bahan dan memperagakan pengolahan bahan menggunakan peralatan kerja bangku 1. Logam Ferro dan Non Ferro&lt;br /&gt;2. Pemotongan bahan&lt;br /&gt;3. Pengeboran bahan&lt;br /&gt;4. Pengikiran dan penggerindaan bahan 1.  Menjelaskan logam ferro dan non ferro&lt;br /&gt;2.  Mempraktikkan pemotongan bahan&lt;br /&gt;3. Mempraktikkan pengeboran bahan&lt;br /&gt;4. Mempraktikkan pengikiran dan penggerindaan bahan dan hasil las 1. Mengidentifikasi logam ferro dan non ferro pada pengelasan&lt;br /&gt;2. Memotong bahan mengguna- kan gergaji manual dan mesin&lt;br /&gt;3. Mengebor bahan mengguna- kan mesin bor tiang&lt;br /&gt;4. Mengikir dan menggerinda bahan serta hasil akhir pengelasan 1. Tes&lt;br /&gt;2. Perbuatan 1. Isian&lt;br /&gt;2. Format Penugasan 1. Lembar soal&lt;br /&gt;2. Lembar jobsheet 90 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;3. Memperagakan gambar teknik dan finishing menggunakan peralatan gambar kerja pengelasan 1. Gambar sambung- an las dan kampuh&lt;br /&gt;2. Gambar sambung- an I, T dan Pipa&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan Visual&lt;br /&gt;4. Pengujian Manual 1.  Menjelaskan sam- bungan dan kampuh las&lt;br /&gt;2.  Menggambar sam- bungan I, T dan Pipa&lt;br /&gt;3. Mempraktikkan pemeriksaan visual&lt;br /&gt;4. Mempraktikkan pengujian manual hasil las 1. Mengidentifikasi gambar sambungan dan kampuh las&lt;br /&gt;2. Menggambar sambungan I, T dan Pipa&lt;br /&gt;3. Memeriksa visual hasil pengelasan&lt;br /&gt;4. Menguji manual hasil pengelasan menggunakan palu dan alat ukur 1. Tes&lt;br /&gt;2. Perbuatan 1. Isian&lt;br /&gt;2. Format Penugasan 1. Lembar soal&lt;br /&gt;2. Lembar jobsheet 90 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;Kompetensi Dasar Materi Pokok / Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi&lt;br /&gt;Waktu Sumber belajar&lt;br /&gt;    Teknik Bentuk Instrumen Instrumen  &lt;br /&gt;4. Memperagakan teknik penyalaan las busur manual menggunakan peralatan kerja pengelasan 1. Peralatan kerja las busur manual lengkap&lt;br /&gt;2. Teknik goresan&lt;br /&gt;3. Teknik sentakan 1.  Mempersiapkan peralatan kerja las busur manual secara lengkap&lt;br /&gt;2.  Memperagakan teknik goresan dan sentakan  1. Mengeset peralatan kerja las busur manual secara lengkap&lt;br /&gt;2. Menyalakan las busur manual menggunakan teknik goresan&lt;br /&gt;3. Menyalakan las busur manual menggunakan teknik sentakan 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 150 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;5. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi bawah tangan 1. Pengelasan sambungan I&lt;br /&gt;2. Pengelasan sambungan T&lt;br /&gt;3. Pengelasan sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I posisi bawah tangan&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T posisi bawah tangan&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa posisi bawah tangan 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;6. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi horisontal 1. Pengelasan sambungan I&lt;br /&gt;2. Pengelasan sambungan T&lt;br /&gt;3. Pengelasan sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I posisi horisontal&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T posisi horisontal&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa posisi horisontal 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;7. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi vertikal 1. Pengelasan sambungan I&lt;br /&gt;2. Pengelasan sambungan T&lt;br /&gt;3. Pengelasan sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa 1.  Mengelas sambungan I posisi vertikal&lt;br /&gt;2.  Mengelas sambungan T posisi vertikal&lt;br /&gt;3. Mengelas sambungan Pipa posisi vertikal 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;8. Mengamati dan mengidentifikasi kegiatan industri pengelasan 1. Kunjungan industri&lt;br /&gt;2. Penyusunan laporan 1. Pembelajaran lapangan&lt;br /&gt;2. Evaluasi pembela-jaran lapangan 1. Mengamati kinerja industri pengelasan&lt;br /&gt;2. Menyusun laporan hasil kun-jungan industri 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Surat Tugas 600 menit Industri Pengelasan di daerah Tegal dan sekitarnya.&lt;br /&gt;9. Memperagakan pembuatan benda jadi mengguna- kan peralatan kerja las busur manual 1. Persiapan bahan&lt;br /&gt;2. Pengelasan bahan&lt;br /&gt;3. Penyelesaian akhir pekerjaan 1.  Mengukur dan memotong&lt;br /&gt;2.  Mengelas komponen&lt;br /&gt;3. Menyelesaikan akhir hasil pekerjaan&lt;br /&gt; 1.  Mengukur dan memotong komponen benda jadi&lt;br /&gt;2.  Mengelas komponen&lt;br /&gt;3. Menyelesaikan akhir hasil pekerjaan&lt;br /&gt; 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 450 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   Brebes, 1 Maret 2009&lt;br /&gt;                   Tim Instruktur Las&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1825168258156651167?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1825168258156651167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1825168258156651167' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1825168258156651167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1825168258156651167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/silabus-las.html' title='SILABUS LAS'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-5624816065356162896</id><published>2009-03-17T06:13:00.002+07:00</published><updated>2009-03-17T06:14:41.563+07:00</updated><title type='text'>Bab  I :Proposal las</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;                                        PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG PELATIHAN LAS&lt;br /&gt;Krisis moneter mendera kemampuan masyarakat bawah pada titik nadir. Segala aspek kehidupan terasa berat dan berhenti mendadak. Banyak di antara anggota masyarakat yang mengambil jalan pintas dengan hal-hal yang kurang layak. Seperti makin maraknya gelandangan, pengemis, anak-anak terlantar dan naiknya angka kriminalitas. &lt;br /&gt;Tidak terkecuali pada dunia pendidikan formal yang kian berat menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat. Kemampuan masyarakat makin tak dapat menjangkau perkembangan multi aspek yang tengah melanda dunia. Hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat mengikuti dari jauh terhadap kemajuan berbagai bidang.&lt;br /&gt;Sejalan dengan fenomena tersebut, pendidikan berbasis kemasyarakatan menjadi alternatif mengejar ketertinggalan zaman. Meskipun sudah barang tentu tidak dapat berjalan beriringan, tetapi paling tidak mengikuti di belakangnya. Hal itu mengingat aspek finansial yang dibutuhkan untuk pendidikan formal sangat mahal, sehingga jalan pintas pendidikan kejuruan berbasis masyarakat yang nota bene menyediakan fasilitas lebih terjangkau menjadi penting untuk ditumbuhkembangkan.&lt;br /&gt;Pada tahap selanjutnya muncul lembaga pendidikan berbasis kemasyarakatan yang lebih populer dengan nama Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS). Kemunculan LPKS merupakan imbas dari makin tidak terjangkaunya lembaga pendidikan formal dari Sekolah Menengah hingga Perguruan Tinggi. Pada sisi lain, masyarakat makin menghendaki pemberian bekal kecakapan kerja secara instan bagi peserta didik agar segera dapat hidup mandiri secara layak.&lt;br /&gt;LPKS merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang secara instan dapat mempersiapkan tenaga kerja terampil tingkat dasar dan menengah dengan berbagai spesifikasi. Salah satu spesifikasi kejuruan yang menjanjikan masa depan lebih mapan adalah Pelatihan Las. Karena secara faktual infrastruktur pembangunan fisik suatu negara makin banyak yang menggunakan aplikasi pengelasan. Seperti bidang transportasi, properti, komunikasi, elektronika dan sipil. Banyak fasilitas yang menggunakan teknologi pengelasan.&lt;br /&gt;Seiring perkembangan zaman, teknologi pengelasan juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Cakupan materi standar minimal beradaptasi secara bertahap. Muatan kurikulum senantiasa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Asumsi logik adalah anggapan bahwa kemapanan kurikulum pendidikan, secara spesifik menjadi  trade mark suatu lembaga. Alumni yang dihasilkan tak perlu susah payah berebut lowongan pekerjaan, karena kualifikasi, kompetensi dan porsinya sudah jelas. Mereka bisa mandiri dengan life skills yang diperoleh atau siap mengisi  job discription di lembaga, instansi, industri dan grup usaha tertentu.&lt;br /&gt;B. MAKSUD DAN TUJUAN PELATIHAN LAS&lt;br /&gt; Masud pelatihan las, untuk memenuhi sebagian kecil tuntutan masyarakat. Yakni telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan las  bebasis kemasyarakatan yang lebih terjangkau. Tujuan pelatihan las adalah mempersiapkan tenaga pengelasan yang terampil, siap kerja sesuai life skills yang telah dimilikinya baik untuk mengisi lowongan kerja maupun untuk membuka bengkel las secara mandiri.&lt;br /&gt;C. SASARAN PELATIHAN LAS&lt;br /&gt; Sasaran pelatihan las adalah tamatan sekolah menengah pada awal usia produktif yang  berjumlah 20 (dua puluh) orang tiap angkatan dibagi menjadi 2 (dua) kelompok kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelatihan. Tiap kelompok berjumlah 10 (sepuluh) orang dipandu seorang istruktur dibantu seorang teknisi las yang berpengalaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PROGRAM PELATIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KEBUTUHAN PELATIHAN LAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan makin tingginya kebutuhan tenaga pengelasan yang terampil, maka kebutuhan pelatihan las menjadi penting untuk dilaksanakan. Berbagai variasi teknik pengelasan yang digunakan di seluruh dunia, masih tetap menggunakan teknik dasar pengelasan busur manual sebagai kompetensi dasar teknik las. &lt;br /&gt; Sejalan dengan pernyataan tersebut, kebutuhan pelatihan las busur manual sebagai kompetensi dasar teknik pengelasan pada umumnya menjadi penting untuk dilaksanakan. Karena tanpa kompetensi dasar tidak mungkin untuk mempunyai kompetensi lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. KURIKULUM DAN SILABUS PELATIHAN LAS&lt;br /&gt; Kurikulum yang dikembangkan pada pelatihan las busur manual mengacu kepada aspek kebutuhan minimum seorang tenaga pengelasan terampil yang siap kerja. Di sisi lain aspek efisiensi dan efektivitas materi pelatihan menjadi dasar penyusunan kurikulum pelatihan las.&lt;br /&gt; Kurikulum pelatihan las busur manual tingkat dasar mencakup :&lt;br /&gt;1. Las Busur Manual&lt;br /&gt;a. Perangkat Las Busur Manual&lt;br /&gt;b. Teknik Penyalaan Las Busur Manual&lt;br /&gt;c. Sambungan Las Busur Manual Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal&lt;br /&gt;1) Sambungan I Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal&lt;br /&gt;2) Sambungan T Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal&lt;br /&gt;3) Sambungan Pipa Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal&lt;br /&gt;4) Project Work&lt;br /&gt;2. Bahan dan Pengolahan&lt;br /&gt;a. Logam Ferro dan Non-Ferro&lt;br /&gt;b. Pengolahan Bahan&lt;br /&gt;1) Pemotongan Bahan&lt;br /&gt;2) Pengeboran bahan&lt;br /&gt;3) Pengikiran dan Penggerindaan Bahan&lt;br /&gt;3. Gambar Teknik dan Finishing&lt;br /&gt;a. Gambar sambungan las dan kampuh las&lt;br /&gt;b. Gambar sambungan I, T dan Pipa&lt;br /&gt;c. Finishing Hasil Las&lt;br /&gt;1) Pemeriksaan Kesalahan Las&lt;br /&gt;2) Pengujian Hasil Las&lt;br /&gt;4.  Kunjungan Industri dan Studi Banding ke Bengkel Pengelasan di Tegal dan sekitarnya&lt;br /&gt;Silabus Pelatihan Las Tingkat Terampil pada halaman berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-5624816065356162896?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/5624816065356162896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=5624816065356162896' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5624816065356162896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/5624816065356162896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/bab-i-proposal-las.html' title='Bab  I :Proposal las'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1172565061785956855</id><published>2009-03-16T16:53:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T16:56:46.721+07:00</updated><title type='text'>JOB  DESKRIPSI STRUKTUR MA…..  TAHUN PELAJARAN ….</title><content type='html'>1. Kepala Madrasah&lt;br /&gt;Kepala Madrasah mempunyai tugas memimpin seluruh pelaksanaan kegiatan  pembelajaran dan pengajaran di madrasah. Uraian pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Kepala Madrasah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Mengatur  penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di madrasah&lt;br /&gt;b. Mengatur penyelenggaraan urusan tata usaha madrasah&lt;br /&gt;c. Mengatur penyelenggaraan urusan kepegawaian&lt;br /&gt;d. Mengatur penyeleggaraan urusan keuangan madarasah&lt;br /&gt;e. Mengatur penyelenggaraan urusan sarana dan peralatan madrasah&lt;br /&gt;f. Mengatur peyelenggaraan urusan rumah tangga madarasah&lt;br /&gt;g. Mengatur penyelenggaraan urusan asrama&lt;br /&gt;h. Mengatur penyelenggaraan urusan perpustakaan dan Laboratorium&lt;br /&gt;i. Mengatur pembinaan kesiswaan&lt;br /&gt;j. Mengatur  hubunga antara pimpinan, guru dan siswa&lt;br /&gt;k. Menyelenggarakan hubungan dengan orang tua siswa dan masyarakat&lt;br /&gt;l. Melakukan pengendalian pelaksanaan seluruh kegiatan di masyarakat&lt;br /&gt;m. Melakukan tugas tugas lain yang diberikan atasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wakil Kepala Sekolah&lt;br /&gt;Wakil Kepala Sekolah pada MA adalah 1 (satu) orang. Untuk itu dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan paling banyak 4 orang.&lt;br /&gt;Wakil Kepala Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Penyusunan rencana, pembuatan program kegiatan dan program pelaksanaan,&lt;br /&gt;b. Pengorganisasian,&lt;br /&gt;c. Pengarahan,&lt;br /&gt;d. Ketenagaan,&lt;br /&gt;e. Pengkoordinasian,&lt;br /&gt;f. Pengawasan,&lt;br /&gt;g. Penilaian,&lt;br /&gt;h. Identifikasi dan pengumpulan,&lt;br /&gt;i. Penyusunan laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Kepala Sekolah pada Madrasah Aliyah membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. URUSAN KURIKULUM&lt;br /&gt;1) Menyusun program pengajaran;&lt;br /&gt;2) Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran;&lt;br /&gt;3) Menyusun jadwal dan pelaksanaan ulangan umum serta ujian akhir;&lt;br /&gt;4) Menerapkan kriteria persyaratan naik/tidak naik dan kriteria kelulusan;&lt;br /&gt;5) Mengatur jadwal penerimaan buku Laporan Penilaian Hasil Belajar dan STTB;&lt;br /&gt;6) Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan satuan pelajaran;&lt;br /&gt;7) Menyusun laporan pelaksanaan pelajaran;&lt;br /&gt;8) Membina kegiatan MGMP;&lt;br /&gt;9) Membina kegiatan sanggar PKG/MGMP/Media;&lt;br /&gt;10) Menyusun laporan pendayagunaan sanggar PKG/MGMP/Media;&lt;br /&gt;11) Melaksanakan pemilihan guru teladan; dan&lt;br /&gt;12) Membina kegiatan lomba-lomba bidang akademis, seperti : LPIR, LKIR, IMO, IPHO/TOFI, mengarang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. URUSAN KESISWAAN&lt;br /&gt;1) Menyusun program pembinaan kesiswaan/OSIS&lt;br /&gt;2) Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pengendalian kegiatan siswa/OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah serta pemilihan pengurus OSIS;&lt;br /&gt;3) Membina pengurus OSIS dalam berorganisasi;&lt;br /&gt;4) Menyusun program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental,&lt;br /&gt;5) Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, kerindangan, keindahan dan kekeluargaan (6K);&lt;br /&gt;6) Melaksanakan pemilihan calon siswa teladan dan calon siswa penerima beasiswa;&lt;br /&gt;7) Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah;&lt;br /&gt;8) Mengatur mutasi siswa;&lt;br /&gt;9) Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler; dan&lt;br /&gt;10) Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. URUSAN HUBUNGAN MASYARAKAT&lt;br /&gt;1) Mengatur dan menyelenggarakan hubungan sekolah dengan orang tua/wali siswa;&lt;br /&gt;2) Membina hubungan antar sekolah dengan BP3;&lt;br /&gt;3) Membina pengembangann hubungan antara sekolah dengan lembaga pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sosial lainnya; dan&lt;br /&gt;4) Menyusun laporan pelaksanaan urusan sarana dan prasarana secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; D. URUSAN SARANA PRASARANA&lt;br /&gt;1. Menyusun rencana kebutuhan sarana prasarana&lt;br /&gt;2. Mengkoordinasikan pendayagunan sarana prasarana&lt;br /&gt;3. Mengelola pembiayaan alat-alat pengajaran&lt;br /&gt;4. Menyusun laporan pelaksanaan urusan sarana prasarana secara berkala &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. WAKIL URUSAN KEAGAMAAN&lt;br /&gt;1. Menyusun program pengajaran&lt;br /&gt;2. Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran&lt;br /&gt;3. Mengatur jadwal penerimaan buku laporan penilaian hasil belajar&lt;br /&gt;4. Berkoordinasi dengan Madrasah Induk&lt;br /&gt;5. Mengkoordinasikan pengelolaan kegiatan akademik, kesiswaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. WAKIL URUSAN KETERAMPILAN &lt;br /&gt;1. Mengkoordiansikan kegiatan ekstra kurikuler terstruktur ( Komputer, tata       busana&lt;br /&gt; Pertanian berbasis perikanan, pengelasan, bahasa Inggris, Kitab kuning) &lt;br /&gt;2. Menyusun program pengajaran keterampilan &lt;br /&gt;3. Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal kegiatan keterampilan &lt;br /&gt;4. Mengatur jadwal penerimaan buku laporan penilaian hasil belajar ketr. &lt;br /&gt;5. Mengkoordinasikan kegiatan dengan DEPNAKER, DEPAG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. PEMBINA SISWA  ( BP )  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PEMBINA SISWA BIDANG KETERTIBAN &lt;br /&gt;a.  Melaksanakan tata tertib sekolah&lt;br /&gt;b.  Melaksanakan baris berbaris&lt;br /&gt;c.  Melaksanakan wisata alam, kelestarian alam dan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PEMBINA SISWA BIDANG KEPRIBADIAN DAN BUDI PEKERTI&lt;br /&gt;a.  Melaksanakan tata krama pergaulan&lt;br /&gt;b. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran rela berkorban dengan jalan    melaksanakan perbuatan amal untuk meringankan beban dan penderitaan orang lain &lt;br /&gt;c. Meningkatkan sikap hormat siswa kepada orang tua, guru, dan sesama siswa di     lingkungan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PEMBINA SISWA BIDANG BELA NEGARA&lt;br /&gt;a.  Melaksanakan upacara bendera pada setiap hari Sabtu dan hari besar Nasional&lt;br /&gt;b.  Melaksanakan bakti sosial / masyarakat&lt;br /&gt;c.  Mengadakan lomba-lomba yang berkaitan  dengan penanaman sikap nasionalisme&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. PEMBINA SISWA BIDANG ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN&lt;br /&gt;a.  Memantapkan  dan mengembangkan peran siswa dalam OSIS sesuai  dengan      tugas dan fungsi masing-masing&lt;br /&gt;b. Membentuk kelompok belajar berdasarkan ketekunan, kepandaian, kebersihan, ketertiban, keindahan,kekeluargaan , dan kerindangan&lt;br /&gt;c.  Melaksanakan latihan kepemimpinan siswa&lt;br /&gt;d.  Mengadakan forum diskusi ilmiah&lt;br /&gt;e.  Mengadakan media komunikasi OSIS (Bulletin, majalah didnding, DLL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.PEMBINA SISWA BIDANG KETERAMPILAN DAN  KEWIRAUSAHAAN&lt;br /&gt;a.  Meningkatkan keterampilan dalam menciptakan suatu barang lebih berguna &lt;br /&gt;b. Meningkaatkan keterampilan I bidang teknik, elektronika, pertanian, dan peternakan&lt;br /&gt;c.  Meningkatkan usaha keterampilan tangan &lt;br /&gt;d.  Meniongkatkan usaha koperasi sekolah unit usaha dan unit produksi &lt;br /&gt;e.  Meningkatkan penyelenggaraan perpustakaan sekolah&lt;br /&gt;f.  Melaksanakan praktik kerja Nyata  dan PKL &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEMBINA SISWA KESEGARAN JASMANI DAN BIDANG KREASI SENI&lt;br /&gt;a.  Meningkatkan kesdaran hidup sehat di lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat&lt;br /&gt;b.  Melakasanakan usaha kesehatan sekolah&lt;br /&gt;c. Melaksanakan pemeliharaan keindahan sekolah, penghijauan, dan kebersihan sekolah&lt;br /&gt;d.  Melaksanakan pencegahan penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, minuman keras, dan merokok&lt;br /&gt;e.  Melaksankan senam pagi Indonesia, senam kesegaran jasmani, dan olah raga  lainnya &lt;br /&gt;f.   Mengembangkan “MOTTO SEKOLAH”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. PEMBINA SISWA BIDANG DAYA KREASI&lt;br /&gt;a.  Mengembangkan wawasan dan ketermpilan siswa di bidang seni suara, seni tari, seni rupa, seni drama, musik dan fotografi&lt;br /&gt;b.  Menyelenggarakan sanggar berbagai macam seni&lt;br /&gt;c.  Meningkatkan daya cipta seni&lt;br /&gt;d. Mementaskan, memamerkan berbagai cabang seni , baik karya siswa,   maupun karya seni di luar lingkungan sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. GURU&lt;br /&gt;Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab seorang guru meliputi:&lt;br /&gt;A. Membuat program pengajaran;&lt;br /&gt;1) Analisis Materi Pelajaran (AMP)&lt;br /&gt;2) Program Tahunan/Cawu&lt;br /&gt;3) Program Satuan Pelajaran (Satpel)&lt;br /&gt;4) Program Rencana Pengajaran (RP)&lt;br /&gt;5) Program Mingguan Guru&lt;br /&gt; 6)  Lembar Kegiatan Siswa (LKS)&lt;br /&gt;B. Melaksanakan kegiatan pembelajaran;&lt;br /&gt;C. Melaksanakan kegiatan penilaian belajar, ulangan harian, catur wulan/tahunan;&lt;br /&gt;D. Melaksanakan analisis hasil ulangan harian;&lt;br /&gt;E. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan;&lt;br /&gt;F. Mengisi daftar nilai siswa:&lt;br /&gt;G. Melaksanakan kegiatan membimbing guru dalam kegiatan proses belajar mengajar;&lt;br /&gt;H. Membuat alat pelajaran/alat peraga;&lt;br /&gt;I. Menciptakan karya seni;&lt;br /&gt;J. Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum;&lt;br /&gt;K. Melaksanakan tugas tertentu di sekolah;&lt;br /&gt;L. Mengadakan pengembangan bidang pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya;&lt;br /&gt;M. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar masing-masing siswa;&lt;br /&gt;N. Meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pelajaran;&lt;br /&gt;O. Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum;&lt;br /&gt;P. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wali Kelas&lt;br /&gt;Wali Kelas membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Pengelolaan kelas,&lt;br /&gt;b. Penyelenggaraan administrasi kelas yang meliputi:&lt;br /&gt;1) Denah tempat duduk siswa,&lt;br /&gt;2) Papan absensi siswa,&lt;br /&gt;3) Daftar pelajaran kelas,&lt;br /&gt;4) Daftar piket kelas,&lt;br /&gt;5) Buku absensi siswa,&lt;br /&gt;6) Buku kegiatan pembelajaran/buku kelas, dan&lt;br /&gt;7) Tata tertib kelas.&lt;br /&gt;c. Penyusunan/pembuatan statistik bulanan siswa,&lt;br /&gt;d. Pengisian daftar kumpulan nilai siswa (legger),&lt;br /&gt;e. Pembuatan catatan khusus tentang siswa,&lt;br /&gt;f. Pencatatan mutasi siswa,&lt;br /&gt;g. Pengisian buku Laporan Penilaian Hasil Belajar,&lt;br /&gt;h. Pembagian buku Laporan Penilaian Hasil Belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Koordinator  Pengelola  Laboratorium/Ruang  Media Belajar Koordinator Pengelola membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat dan bahan laboratorium IPA, Bahasa, Komputer, dan Media Belajar;&lt;br /&gt;b. Mengkoordinasikan jadwal dan tata tertib pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium/ ruang media belajar secara terpadu;&lt;br /&gt;c. Menyusun dan mengkoordinasikan program tugas setiap Penanggung jawaban Pengelola Laboratorium dan Media Belajar;&lt;br /&gt;d. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium dan media belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Pengelola Laboratorium/Penanggung jawab Pengelola Laboratorium&lt;br /&gt;Pengelola laboratorium membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kagiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat dan bahan laboratorium;&lt;br /&gt;b. Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium;&lt;br /&gt;c. Menyusun program tugas-tugas laboran;&lt;br /&gt;d. Mengatur penyimpanan dan daftar alat-alat laboratorium;&lt;br /&gt;e. Memelihara dan perbaikan alat-alat laboratorium;&lt;br /&gt;f. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat laboratorium; dan&lt;br /&gt;g. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kepala Tata Usaha Sekolah&lt;br /&gt;Kepala Tata Usaha Sekolah bertanggung jawaban kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Menyusun program tata usaha sekolah; ( Ishaq )&lt;br /&gt;b. Mengelola keuangan sekolah; ( Nelli ) &lt;br /&gt;c. Mengurus administrasi ketenagaan dan siswa;  ( Ishaq – Jamil )&lt;br /&gt;d. Membina dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah;  &lt;br /&gt;e. Menyusun administrasi perlengkapan sekolah; ( Jamil )&lt;br /&gt;f. Menyusun dan penyajian data/statistik sekolah; ( Jamil ) &lt;br /&gt;g. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 6K;  ( Jamil ) &lt;br /&gt;h. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala. ( Ishaq ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Laboran Laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia). &lt;br /&gt;Laboran laboratorium IPA membantu Kepala Sekolah dan Penanggung jawab/Guru Pengelola Laboratorium Fisika, Biologi, dan Kimia dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat-alat/bahan kimia laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia);&lt;br /&gt;b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib pendayagunaan laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia);&lt;br /&gt;c. Menyusun program kegiatan laboran;&lt;br /&gt;d. Mengatur pembersihan, pemeliharaan, perbaikan dan penyimpanan alat-alat/bahan-bahan kimia laboran IPA;&lt;br /&gt;e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat/bahan-bahan kimia laboran IPA;&lt;br /&gt;f. Menyusun laporan pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Teknisi Laboratorium AVA / Bahasa&lt;br /&gt;Teknisi Laboratorium Bahasa membantu Kepala Sekolah dan Penanggung jawab/Guru Pengelola Laboratorium Bahasa dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat-alat media;&lt;br /&gt;b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib Pendayagunaan Laboratorium Bahasa;&lt;br /&gt;c. Menyusun program kegiatan teknisi laboratorium bahasa;&lt;br /&gt;d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat laboratorium bahasa;&lt;br /&gt;e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat laboratorium bahasa; dan&lt;br /&gt;f. menyusun laporan pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Teknisi Laboratorium Komputer/Akuntansi&lt;br /&gt;Teknisi Laboratorium Komputer/Akuntansi membantu Kepala Sekolah dan Penaggung jawab/ Guru Pengelola Laboratorium Komputer/Akuntansi dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat-alat komputer baik perangkat keras maupun lunak;&lt;br /&gt;b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib Pendayagunaan/Pemanfaatan Komputer;&lt;br /&gt;c. Menyusun program kegiatan teknisi laboratorium komputer;&lt;br /&gt;d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat komputer;&lt;br /&gt;e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat/perangkat komputer; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Teknisi Media&lt;br /&gt;Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Merencanakan pengadaan alat-alat media;&lt;br /&gt;b. Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media;&lt;br /&gt;c. Menyusun program kegiatan teknisi media;&lt;br /&gt;d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan dan perbaikan alat-alat media;&lt;br /&gt;e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat media;&lt;br /&gt;f. Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1172565061785956855?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1172565061785956855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1172565061785956855' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1172565061785956855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1172565061785956855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/job-deskripsi-struktur-ma-tahun.html' title='JOB  DESKRIPSI STRUKTUR MA…..  TAHUN PELAJARAN ….'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-2272201196056204761</id><published>2009-03-16T16:51:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T16:53:34.827+07:00</updated><title type='text'>Bio Energi: Bukan Sekedar energi Alternatif</title><content type='html'>Selama ini bio energi diposisikan sebagai energi alternatif. Posisi alternatif terkesan tidak penting dan hanya berguna pada keadaan darurat. Untuk saat ini bolehlah istilah itu digunakan, namun penulis meyakini dengan semakin langkanya energi  yang bersumber dari fosil yang tak terbarukan maka istilah tersebut akan bergeser. Pada saatnya nanti bio energi menjadi energi utama, bukan sekedar alternatif.  &lt;br /&gt;Kini era minyak murah dunia telah berakhir. Perang, konsumsi yang meningkat, dan menipisnya cadangan minyak mentah dunia menjadi faktor melambungnya harga minyak. Dunia tidak lama lagi akan mengalami krisis energi.  Menurut Energy Information Administration yang merupakan bagian dari Departemen Energi AS (dalam International Energy Outlook, 2005) memperkirakan dalam rentang waktu 23 tahun yakni dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2025 terjadi peningkatan konsumsi minyak dunia yang fantastis, sebesar 57 persen (Kompas, 20 Agustus 2005, hlm: 37). Kenaikan tersebut terdistribusikan dalam tabel di bawah ini:&lt;br /&gt;Konsumsi Energi Dunia 1990 – 2025 (Dalam Kuadriliun British Thermal Unit)&lt;br /&gt;Kawasan 1990 2002 2015 2025 Pertumbuhan rata-rata tahunan&lt;br /&gt;     1990-2002 2002-2025&lt;br /&gt;Negara Maju 183,6 213,5 247,3 271,8 1,3 1,1&lt;br /&gt;Perekonomian dalam transisi 76,2 53,6 68,4 77,7 -2,9 1,6&lt;br /&gt;Negara sedang berkembang 88,4 144,3 237,8 295,1 4,2 3,2&lt;br /&gt;Asia 51,5 88,4 155,8 196,7 4,6 3,5&lt;br /&gt;Timur Tengah  13,1 22,0 32,4 38,9 4,4 2,5&lt;br /&gt;Afrika 9,3 12,7 19,3 23,4 2,7 2,7&lt;br /&gt;Amerika Tengah dan Selatan 14,5 21,2 30,4 36,1 3,2 2,3&lt;br /&gt;Total Dunia 348,2 411,5 553,5 644,4 1,4 2,0&lt;br /&gt;Sumber : Kompas, 20 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan peningkatan konsumsi seperti tabel diatas maka dalam kurun waktu 36,5  tahun (sejak tahun 2002) cadangan minyak akan ludes.&lt;br /&gt; Kerisauan akan ludesnya minyak dunia mau tidak mau memicu setiap negara untuk melakukakan langkah ekstensifikasi maupun diversifikasi. Langkah ekstensifikasi berarti mencari sumber energi lain (bukan berasal fosil) dan diversifikasi berarti memperbanyak alternatif lagi dengan bahan dasar minyak dicampur dengan unsur lain.&lt;br /&gt; Selama ini belum ada langkah ekstensifikasi energi, jikapun ada baru sebatas simulasi seperti pemanfaatan energi surya untuk penggerak mobil. Dengan demikian langkah terbaik untuk saat ini adalah diversifikasi energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Indonesia&lt;br /&gt; Pemerintahan Indonesia menyadari betul akan adanya krisis energi. Kesadaran tersebut dapat dicermati dengan ditetapkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain. Dan dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Baik Inpres dan Perpres tersebut pada dasarnya menekankan kepentingan bio energi.&lt;br /&gt;Menghadapi krisis ennergi tersebut Kurtubi (2005) mewacanakan pentingnya dibangun kebun energi. Kebun energi  nantinya akan menjadi penyuplai bahan bakar nabati (sebagai campuran) yang berupa jarak pagar, singkong, tebu, kacang-kacangan, jagung, kelapa, kelapa sawit, bunga matahari, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Sebagai negara yang luas, Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk pengembangan bio energi. Hanya saja selama ini belum tergarap dengan baik karena beberapa hal: petama; minimnya riset yang berkaitan dengan  bio energi, kedua; belum adanya sinergitas antara masyarakat dengan pemerintah dalam pengembangan bio energi, ketiga ; masih sedikitnya petani plasma sebagai partner dalam pengembangan bio energi, ketidaktersediaan alat sederhana untuk pengolahan bio energi dalam home industri maupun UKM (Usaha Kecil Menengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Strategis &lt;br /&gt;Menghadapi krisis energi memerlukan langkah strategis semua pihak. Produsen, peneliti, dan pemerintah harus sinergis sehingga tidak timbul anomali program bio energi. Posisi pemerintah dalam program bio energi tidaklah cukup dengan mengeluarkan Inpres maupun Perpres, yang paling ditunggu adalah regulasi nyata dalam program ini. Dalam hal ini pemerintah harus memfasilitasi dan memberi insentif terhadap riset-riset yang concern dalam bidang bio energi, jika perlu memfasilitasi dalam pemberian hak paten terhadap hasil penelitian. Dalam kaitanya dengan produsen maka pemerintah memfasilitasi pengadaan bio energi dari hulu sampai hilir. Dalam hal produksi maka pemerintah harus memperhatikan pemasok bahan baku bio energi (dalam hal ini petani) sampai pengolah (pemroduksi bio energi). &lt;br /&gt;Dengan demikian maka program bio energi sejatinya program pemberdayaan petani, UKM, dan BUMN bidang energi. Dalam kaitanya dengan pemberdayaan petani (khususnya petani plasma) dapat ditempuh dengan langkah-langkah  sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Survei lahan yang cocok untuk tanaman sumber bio energi, dapat pula memanfaatkan proyek lahat gambut yang terlantar.&lt;br /&gt;2. Pengadaan bibit, pupuk, dan  pembinaan menyangkut karakteristik produksi tanaman yang standar untuk pengolahan bio energi, semisal ukuran, kadar air, umur, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;3. Pemberian kredit lunak terhadap petani plasma.&lt;br /&gt;4. Membuka selebar-lebarnya peluang untuk menjadi petani plasma&lt;br /&gt;5. Memberi insentif dan penghargaan khusus kepada petani yang berhasil.&lt;br /&gt;6. Membangun sentra-sentra bio energi.&lt;br /&gt;UKM dalam program ini dapat memposisikan diri dalam pengadaan mesin-mesin dari yang tepat guna (sederhana) sampai yang canggih, serta dapat menjadi broker bahan setengah jadi kepada BUMN atau perusahaan swasta lainnya.&lt;br /&gt;Kelangsungan energi masa depan bergantung pada kemampuan melakukan diversifikasi dan ekstensifikasi energi, dan eksistensi suatu negara sangat ditopang oleh kondisi energi nasionalnya. Indonesia sebagai negara yang kaya akan potensi nabatinya sudah seharusnya menjadikan rintisan bio energi sebagai energi utama, bukan sekedar alternatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-2272201196056204761?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/2272201196056204761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=2272201196056204761' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2272201196056204761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2272201196056204761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/bio-energi-bukan-sekedar-energi.html' title='Bio Energi: Bukan Sekedar energi Alternatif'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-2519736908379811590</id><published>2009-03-16T16:50:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T16:51:41.428+07:00</updated><title type='text'>Implementasi Lesson Study dengan Pendekatan Multy Creative Learning Abstract</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Tujuan lesson study adalah  memotivasi peserta didik aktif belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan usaha individu pembelajar untuk mencapai suatu kompetensi akademis. Dengan demikian dalam belajar mandiri pembelajar menentukan tujuan pembelajarannya, merencanakan prosesnya, menggunakan sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajar (Brookfield dalam Paulinna Pannen, dkk. 2001). Model belajar mandiri adalah student centered, berpusat pada siswa. Tugas guru dalam belajar mandiri sebagai fasilitator dan mediator, tidak lagi memposisikan diri sebagai aktor utama yang mendominasi pembelajaran.&lt;br /&gt;Realitas menunjukkan, sampai dengan sekarang belajar mandiri kurang berjalan dengan baik. Sepanjang pengamatan penulis, beberapa faktor penghambat dalam belajar mandiri adalah:&lt;br /&gt;1. Kurangnya inovasi dalam pembelajaran sehingga cenderung menggunakan pola lama yakni pembelajaran yang berpusat pada guru.&lt;br /&gt;2. Kurangnya pemanfaatan sumber daya sekitar baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.&lt;br /&gt;3. Belum terbentuknya komunitas keilmuan di lingkungan sekolah sehingga minim kegelisahan akademik baik pada level guru maupun siswa.&lt;br /&gt;4. Ketiadaan program sister school yang berorientasi pada kualitas peningkatan pembelajaran.&lt;br /&gt;5. Komunitas guru antarsekolah dalam program MGMP belum berjalan dengan optimal, program yang dilaksanakan sebatas pemenuhan administrasi profesi.&lt;br /&gt;Tulisan ini berupaya menemukan breaktrough sehingga lesson study dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas dengan menitikberatkan pada model-model pembelajar atau strategi pembelajaran sebagai bentuk inovasi pembelajaran dan sebagai upaya menjadikan siswa tergugah untuk belajar mandiri sebagaimana tujuan lesson study.&lt;br /&gt;Siklus Lesson Study &lt;br /&gt;Ada tiga siklus dalam lesson study. Prinsipnya siklus selalu kontinyu, berulang untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Menurut Hendayana (dalam Parmin, 2008) tiga siklus dalam lesson study berupa plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi). Secara skematis digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana yang dimaksud dalam siklus ini adalah rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran merupakan rencana jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran (Khaerudin dan Mahfud Junaedi, 2007). Dalam perencanaan beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian.&lt;br /&gt;Dalam perencanaan terdapat beberapa prinsip yang dapat dikembangkan yakni:&lt;br /&gt;1. Kompetensi yang dirumuskan dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran harus jelas.&lt;br /&gt;2. Rencana yang disusun harus sederhana dan fleksibel.&lt;br /&gt;3. Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam rencana pelaksanaan menunjang ketercapaian kompetensi yang digariskan.&lt;br /&gt;4. Utuh dan menyeluruh.&lt;br /&gt;5. Dikoordinasikan dengan lingkungan dan seluruh stakeholder sekolah.&lt;br /&gt;Rencana pembelajaran yang disusun lebih mengerucut lagi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik. Dengan demikian RPP menekankan pada action guru dan murid. Agar model pembelajaran guru variatif maka diperlukan MCL (Model Creative Learning).&lt;br /&gt;Do (melaksanakan) berangkat dari perencanaan. Melaksanakan merupakan bentuk tindakan yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana (Suwarsih Madya, 1994). Dalam praktiknya tindakan atau pelaksanaan dituntun oleh perencanaan, namun tidak mutlak mengikuti perencanaan karena yang dihadapi adalah dunia nyata (siswa di kelas atau laboratorium).&lt;br /&gt;Dalam siklus kedua ini dilakukan observasi. Observasi dilaksanakan untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait, artinya tindakan sebagai buah dari perencanaan diobservasi sebagai bahan refleksi sekarang dan sebagai pijakan pada siklus berikutnya. Observasi penting dilaksanakan karena dalam praktik senantiasa terbatas oleh kendala dan terdapat celah untuk perbaikan.&lt;br /&gt;Siklus yang ketiga adalah see (merefleksikan). Refleksi adalah mengingat  dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam perencanaan dan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multy Creative Learning&lt;br /&gt;Multy Creative Learning atau MCL didefinisikan sebagai model –model pembelajaran atau model-model strategi pembelajaran. Implementasi dari setiap strategi harus melihat kondisi, kompetensi dasar, materi, apersepsi dari siswa, dan tentu model pengelolaan kelas yang diterapkan (klasikal atau individual). Dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 46 model dan bentuk penilaian proses pembelajaran setidaknya terdapat 18 strategi (Hisyam Zaini, dkk., 2002).&lt;br /&gt;Ke-46 model atau strategi pembelajaran yang dimaksud adalah critical incident, prediction guide, teks acak, reading guide, group resume, prediksi kawan, assessment search, quistions students have, instant assessment, active knowledge sharing, true or fals, inquiring minds want to know, listening teams, guided note taking, synergetic teaching, guided teaching, active debate, point-counterpoint, reading aloud, learning starts with quistion, planted quistions, information search, card short, the power of two, team quiz, jigsaw learning, every one is teacher here, peer lessons, learning contract, index card math, giving questions and getting answer, croosword puzzle, physical self assessment, keep on learning, modeling the way, billboard ranking, silent demonstration, practice rehearsal pairs, lightening the learning climate, metode ceramah, role play, the learning cell, diskusi, dan bermain jawaban (Hisyam Zaini, dkk., 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya guru sebagai fasilitator dan mediator mempelajari berbagai ragam pembelajaran tersebut yang nantinya diaplikasikan dan divariasikan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi Strategi Pembelajaran dalam Lesson Study&lt;br /&gt;Dalam implementasi strategi pembelajaran dalam lesson study tentu berangkat dari siklus pertama yakni perencanaan. Dalam konteks ini guru mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, pengelolaan kelas, dan karakteristik materi serta tingkat kesukaran. Langkah berikutnya adalah memilih strategi yang paling tepat agar daya serap siswa maksimal dan mengarahkan siswa menjadi pembelajar mandiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-2519736908379811590?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/2519736908379811590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=2519736908379811590' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2519736908379811590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2519736908379811590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/implementasi-lesson-study-dengan.html' title='Implementasi Lesson Study dengan Pendekatan Multy Creative Learning Abstract'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-9128004406251996537</id><published>2009-03-16T16:45:00.001+07:00</published><updated>2009-03-16T16:47:24.557+07:00</updated><title type='text'>Ayo Lestarikan Hutan</title><content type='html'>Lestari hutanku, lestari alamku, lestari tanah airku. Lestari adalah kelanggengan, keberlanjutan, sustainability, lestari tidak ada jika tidak diciptakan. Salah satu unsur kehidupan yang harus dilestarikan adalah kelestarian lingkungan hidup. Hutan merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan hidup, bahkan bagian terpenting karena hutan adalah paru-paru dunia.&lt;br /&gt;Banyak cara untuk melestarikan hutan, setiap individu memiliki cara tersendiri, namun banyak yang tidak memanfaatkan kapasitas diri untuk melestarikan hutan, bahkan terkadang justru merusaknya baik disadari maupun tidak. Hal penting yang perlu ditanamkan pada setiap individu adalah bagaimana berperan atau berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian hutan sebagai bagian terpenting dari lingkungan hidup. Partisipasi dari setiap individu ada jika ada yang menjadi volunteer dan ada yang mengajak . Untuk itu setidak-tidaknya yang perlu dilakukan adalah mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk melestarikan hutan.&lt;br /&gt;Tidak semua individu tertarik dan mau mengikuti ajakan seseorang. Itu wajar, karena bisa jadi ajakan tidak menarik, susah dimengerti, tidak operasional, atau ajakan itu hanya sekedar jargon yang tendensius. Bahkan bisa jadi ajakan itu disikapi secara skeptis jika dilakukan oleh figur-figur yang memiliki track record  kurang bagus dimata masyarakat. Mengajak tidak cukup hanya dengan wacana dan tidak cukup pula melalui iklan di media cetak atau elektronik. Ajakan akan diikuti jika ajakan itu menyentuh hati individu yang diajak. Dengan kata lain ajakan itu harus mampu menghipnosis  individu yang diajak.&lt;br /&gt;Mengajak yang efektif&lt;br /&gt;Meminta seseorang untuk mengikuti kemauan kita tentu harus memperhatikan banyak hal antara lain waktu, karakteristik yang diajak, dan mengemas  isi ajakan dengan baik. Waktu menjadi variabel penting yang haruis diperhatikan, ajakan tidak efektif jika kondisi masyarakat sedang kacau, chaos karena faktor ekonomi, alam, dan atau isu politik yang tidak menentu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-9128004406251996537?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/9128004406251996537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=9128004406251996537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/9128004406251996537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/9128004406251996537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/ayo-lestarikan-hutan.html' title='Ayo Lestarikan Hutan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-8809726779049517548</id><published>2009-03-16T16:44:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T16:45:42.989+07:00</updated><title type='text'>Contoh Proposal</title><content type='html'>I. KERANGKA DASAR PEMIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa sekarang, kemampuan berbahasa merupakan syarat mutlak untuk dapat berkomunikasi, mempelajari perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, mengingat bangsa Indonesia merupakan pasar terbesar dunia dalam WTA (World Trade Assosiation).&lt;br /&gt;Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 Jurusan Keagamaan (MAK) yang berlokasi di pondok pesantren salah satu penyelenggara jasa pendidikan yang bertujuan untuk memproduksi tenaga ahli di bidang agama yang sesuai dengan tuntutan zaman, berusaha menjawab tantangan yang semakin kompleks dengan cara memodifikasi kurikulum pendidikan dengan mengintegrasikan kurikulum keterampilan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar). Ketrampilan yang diintegrasikan dalam kurikulum MAK  Al Hikmah 2  ini adalah ketrampilan Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Kajian Kitab Turats. Bentuk lain dari modifikasi kurikulum yang diberlakukan adalah dengan menambah masa belajar siswa siswa MAK dengan tujuan terpenuhinya standar kurikulum nasional, kurikulum pesantren dan juga kurikulum keterampilan, sehingga siswa-siswa MAK Al Hikmah menempuh masa studi 4 tahun. Tahun pertama  adalah Kelas Persiapan (Matriculation) dimana siswa hanya menerima beberapa pelajaran yang merupakan pelajaran ilmu alat seperti Nahwu Shorof, B. Inggris, B. Arab, B. Indonesia dan Matematika, sehingga ketika  masuk pada tahap kelas lanjutan siswa sudah siap belajar dengan media pengajaran berbahasa Arab dan Inggris. &lt;br /&gt; Bahasa Inggris dan Bahasa Arab terus membenahi kurikulum sebagai software dalam PBM dan juga peralatan-peralatan laboratorium sebagai hardware guna memperoleh kegiatan pembelajaran yang optimal.&lt;br /&gt;Untuk mengevaluasi pembelajaran Bahasa Inggris,  setiap akhir tahun pelajaran , siswa spesifikasi Bahasa Inggris mengikuti program luar sekolah, yaitu School’s Out Programme (SOP) di pusat – pusat turisme di Yogyakarta dan Jateng, di samping test tertulis. Sejak  tahun pelajaran 2002/2003 sampai sekarang, pengukuran  kemampuan penguasaan Bahasa Inggris mereka dilakukan melalui  Test TOEFL (kerjasama dengan PPB UGM); dan  berdasarkan hasil tes tersebut, kemampuan bahasa Inggris mereka cukup menggembiran. Hampir 60% siswa TOFL memeperoileh nilai di atas 400.&lt;br /&gt;Sementara itu, suatu PBM dapat berjalan dengan efektif bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam PBM salaing mendukung untuk mencapai tujuan, yang apabila komponen-komponen tersebut di gambarkan dalam skema adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberlakuan kurikulum hasil modifikasi adalah salah satu wujud konkret dari efisiensi PBM dengan keterkaitan eleme-elemen di atas, terutama   pondok pesantren yang secara otomatis mempunyai komunitas ilmiah yang sangat mendukung. Memperhatikan bagan di atas maka hal yang masih sangat perlu dikembangkan adalah justru fasilitas-fasilitas teknisnya  ( hardware).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. MAK  Al hikmah 2 Benda  berusaha untuk menyiapkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan yang komprehensip baik pengetahuan agama maupun umum.&lt;br /&gt;2. Intensifikasi bahasa diarahkan untuk terciptanya komunitas yang lancar berbahasa Inggris dan berbahsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PELAKSANAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama proyek  : Pengembangan Program Bahasa MA Kegamaan  PP Al Hikmah 2 Kegiatan  : Peningkatan fasilitas Program Bahasa&lt;br /&gt;Lokasi : MAK Al Hikmah 2, Pon-Pes Al Hikmah  Sub Timur     Benda   Sirampog Brebes&lt;br /&gt;Biaya   : Rincian biaya terlampir&lt;br /&gt;Sumber dana  : a. Swadana    &lt;br /&gt;  b. Bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. LAIN – LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Data Inventaris laboratorium Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO NAMA BARANG KODE BARANG JUMLAH&lt;br /&gt;1 Komputer Win 98 001/AVA/00 1&lt;br /&gt;2 Priter canon 2100SP 002/AVA/00 1&lt;br /&gt;3 TV 29' inch 003/AVA/00 1&lt;br /&gt;4 Tape Recorder 004/AVA/02 1&lt;br /&gt;5 Sound System 005/AVA/00 4&lt;br /&gt;6 Lemari 006/AVA/00 1&lt;br /&gt;7 White Board 007/AVA/00 1&lt;br /&gt;8 AC National 008/AVA/02 1&lt;br /&gt;9 Jam Dinding 009/AVA/00 1&lt;br /&gt;10 Kursi Guru 010AVA/00 1&lt;br /&gt;11 Meja Guru 011AVA/00 1&lt;br /&gt;12 Taplak Meja 012AVA/00 1&lt;br /&gt;13 Kursi Siswa 013AVA/00 26&lt;br /&gt;14 Kaset  &lt;br /&gt;15 Tuning In The USA 014/AVA/00 2&lt;br /&gt;16 Step By Step 015/AVA/00 2&lt;br /&gt;17 Qosidah English 016/AVA/02 2&lt;br /&gt;18 Kaset Latihan 017/AVA/02 22&lt;br /&gt;19 Conversation Eng-Ame 018/AVA/00 1&lt;br /&gt;20 Kaset Video 019/AVA/00 1&lt;br /&gt;21 VCD Animal 020/AVA/01 2&lt;br /&gt;22 Buku  &lt;br /&gt;23 Step By Step 021/AVA/02 2&lt;br /&gt;24 Tuning In The USA 022/AVA/00 1&lt;br /&gt;25 Kamus Hasta 023/AVA/00 1&lt;br /&gt;26 Kamus Oxford 024/AVA/00 2&lt;br /&gt;27 English Structure 025/AVA/00 1&lt;br /&gt;28 Tata Bahasa English 026/AVA/00 1&lt;br /&gt;29 TOEIC 027/AVA/02 1&lt;br /&gt;30 English in use 028/AVA/00 4&lt;br /&gt;31 English SMA GBPP 1987 029/AVA/00 1&lt;br /&gt;32 English World's Window 030/AVA/00 1&lt;br /&gt;33 Naseerdin 1-4 031/AVA/02 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUSUNAN PANITIA&lt;br /&gt;PROYEK PENGEMBANGAN LABORATORIUM BAHASA&lt;br /&gt;MA ALHIKMAH 2  BENDA SIRAMPOG BREBES&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-8809726779049517548?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/8809726779049517548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=8809726779049517548' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8809726779049517548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/8809726779049517548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/contoh-proposal.html' title='Contoh Proposal'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-2591094441052892852</id><published>2009-03-16T16:41:00.005+07:00</published><updated>2009-03-16T16:44:43.732+07:00</updated><title type='text'>CConcept Mapping dalam Penyelesaian Soal Integral</title><content type='html'>I. Pendahuluan&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar peserta didik memandang matematika adalah mata pelajaran yang sulit, oleh karena itu  sangat sedikit peserta didik yang mengambil program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) pada tingkat SMA. Menurut penulis letak kesulitan dari mata pelajaran matematika adalah banyaknya aksioma, formula, atau rumus yang saling terkait. Keterkaitannya itu menjadikan matematika tidak dapat dikuasai secara parsial, karena setiap materi terkait dengan materi yang lain, utamanya dasar-dasar matematika. &lt;br /&gt;Dalam bab kalkulus, salah satu standar kompetensi yang harus dicapai adalah menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah di mana kompetensi dasarnya meliputi memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu, menghitung integral tak tentu dan integral tentu dari fungsi aljabar dan fungsi trigonometri yang sederhana, dan menggunakan integral untuk menghitung luas daerah di bawah kurva dan volum benda putar.&lt;br /&gt;Pembelajaran deduktif yang penulis lakukan pada tahun-tahun sebelumnya penulis sadari kurang efektif. Siswa hanya mampu memecahkan soal ketika rumus penulis berikan, dilain waktu siswa tidak mampu berinovasi terhadap variasi soal, bahkan dengan soal yang mirip sering menemui hambatan.&lt;br /&gt;Dalam pemecahan integral trigonometeri di sekolah penulis, siswa selalu mengalami kesulitan berupa:&lt;br /&gt;1. Menentukan rumus integral apa yang harus digunakan.&lt;br /&gt;2. Menghubungkan soal dengan konsep atau rumus yang lain.&lt;br /&gt;3. Tidak hafal aturan-aturan trigonometri.&lt;br /&gt;Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dipikirkan metode pembelajaran integral yang efektif dan efisien, untuk itu penulis mengambil inisiatif model  concept mapping. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Concept Mapping&lt;br /&gt;Dalam perspektif konstruktivisme, belajar adalah proses membangun suatu pemahaman atau struktur pengetahuan yang telah dimiliki (Richardson, 1997). Model pembelajaran konstruktivisme dikembangkan dalam beberapa pendekatan belajar seperti active leraning, jig saw, cooperative learning, collaborative learning, peer group,  dan termasuk di dalamnya Concept Mapping.&lt;br /&gt;Concept Mapping adalah cara yang dapat digunakan oleh guru untuk membantu siswa dalam mengorganisasi materi pelajaran yang telah dipelajari dengan hubungan antar komponen. Konteks Concept Mapping dalam pelajaran matematika berarti mengorganisasi  suatu rumus atau konsep dengan rumus atau konsep lain. &lt;br /&gt;Dalam pembelajaran model Concept Mapping yang dilakukan oleh siswa dan guru adalah berkolaborasi untuk menyusun proposisi yakni hubungan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Jika diaplikasikan dalam matematika maka  proposisi tidak lebih dari menghubungkan antar formula .&lt;br /&gt;Concept Mapping  dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai peta kognitif. Proses penyusunan  konsep dengan konsep lain dalam membuat peta kognitif  merupakan proses berfikir dan strategi kognitif. Secara khusus peta kognitif berguna untuk (Jonassen, 1987): &lt;br /&gt;1. Menyusun  alur konsep atau ide dalam sebuah pembelajaran atau buku menjadi suatu peta sajian.&lt;br /&gt;2. Mengiventarisasi ide-ide yang berhubungan dalam analisis tugas.&lt;br /&gt;3. Merangkum suatu laporan atau bacaan.&lt;br /&gt;4. Mengorganisasi berbagai kegiatan.&lt;br /&gt;5. Mengorganisasikan materi pelajaran untuk ujian.&lt;br /&gt;6. Menemukan kembali pikiran dalam individu.&lt;br /&gt;7. Merupakan salah satu cara untuk menunjukkan jaringan kerja.&lt;br /&gt;8. Mengevaluasi serapan siswa terhadap materi pelajaran.&lt;br /&gt;9. Alat diagnostik kesukaran belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Langkah-langkah Penyusunan Concept Mapping&lt;br /&gt;1. Guru menugaskan siswa untuk meringkas fungsi aljabar.&lt;br /&gt;2. Guru menugaskan siswa untuk meringkas fungsi trigonometri.&lt;br /&gt;3. Guru menerangkan konsep integral.&lt;br /&gt;4. Siswa menyusun Concept Mapping  dibantu guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Hasil Penyusunan Concept Mapping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Aplikasi Concept Mapping&lt;br /&gt;Selesaikan soal-soal di bawah ini dengan langkah-langkah sebagai berikut: &lt;br /&gt;Dari soal di atas tentukan rumus yang relevan    (nilai 1 jika benar)&lt;br /&gt;Adakah hubungan soal di atas dengan formula lain (nilai 1 jika benar)&lt;br /&gt;Selesaikan soal di atas dengan menghubungkan antara rumus dasar dan kaitannya dengan rumus yang lain (nilai 3). Skor total tiap soal 5.&lt;br /&gt;1. ∫ x (x2 + 20 6  dx&lt;br /&gt;2. ∫sin2 x dx&lt;br /&gt;3. ∫cos (1-2x) dx&lt;br /&gt;4. ∫ 1/x2 dx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Hasil Nyata&lt;br /&gt;1. Siswa menjadi lebih aktif&lt;br /&gt;2. Siswa lebih cepat memecahkan soal, satu soal yang rata-rata 10 menit menjadi 4,5 menit&lt;br /&gt;3. Siswa mampu menghubungkan antar konsep&lt;br /&gt;4. Secara langsung siswa merangkum materi pelajaran&lt;br /&gt;5. Pelajaran lebih menyenangkan, sebagai indikator keaktifan siswa tinggi&lt;br /&gt;6. Prestasi belajar lebih tinggi, minimal setiap soal berskor 2 &lt;br /&gt;7. Siswa yang tidak mampu memperoleh skor 5 dalam setiap soal disebabkan kecerdasan matematisnya kurang atau intensitas latihan di luar kelas rendah.&lt;br /&gt;8. Tidak semua rumus dalam buku harus dihafal, siswa cukup menghafal rumus induk, sebagai contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     Rmus A                                                 Rumus B&lt;br /&gt;             Dari rumus A dan B, tidak usah dihafal keduanya, cukup rumus B. Soal  &lt;br /&gt; ∫ Sin 4x dx sama halnya dengan   ∫ Sin (4x + 0 ) dx, atau b bernilai nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt; Berdasar pengalaman penulis menerapkan pembelajaran model Concept Mapping  disimpulkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Siswa menjadi aktif dan prestasi tinggi, dengan kata lain pembelajaran lebih efektif. &lt;br /&gt;2. Model Concept Mapping dapat diaplikasikan dalam berbagai standar kompetensi lainnya, tidak terbatas dalam materi integral.&lt;br /&gt;3. Concept Mapping di atas dapat dilengkapi sesuai standar kompetensi yang diharapkan dari setiap program studi (SMA/MA/SMK).&lt;br /&gt;4. Concept Mapping di atas dapat diaplikasikan dalam berbagai mata pelajaran, terlebih matematika dan sains.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-2591094441052892852?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/2591094441052892852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=2591094441052892852' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2591094441052892852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/2591094441052892852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/cconcept-mapping-dalam-penyelesaian.html' title='CConcept Mapping dalam Penyelesaian Soal Integral'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6014727054248114542</id><published>2009-03-16T16:41:00.003+07:00</published><updated>2009-03-16T16:41:54.981+07:00</updated><title type='text'>Puasa Dan Peningkatan Intelektualitas siswa</title><content type='html'>Korelasi antara puasa dan peningkatan intelektualitas sepanjang pengetahuan penulis belum diteliti dan digeneralisasi seberapa besar signifikansinya. Bahkan judul di atas menjadi sangat luas dan perlu kiranya dilakukan pembatasan istilah agar apa yang penulis sampaikan lebih fokus.&lt;br /&gt;Jamak kita ketahui bahwa intelektual yang diterjemahkan sebagai kecerdasan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik, gizi, dan lingkungan. Dan tinggi rendahnya intelektual diukur melalui tes Binet yang dikenal dengan tes IQ. Maka menjadi sangat rancu secara statistik jika puasa dikorelasikan dengan intelektual karena untuk mengetahui mestinya dilakukan pengukuran yang nantinya diketahui ada tidaknya perbedaan skor IQ seseorang sebelum dan sesudah menjalankan puasa.&lt;br /&gt;Judul di atas menjadi lebih bermakna jika poin of view tidak terfokus pada tinggi rendahnya kecerdasan siswa berdasar skor IQ, namun lebih pada kualitas intelektual siswa. Dan jika yang ditekankan adalah kualitas siswa maka indikatornya akan subjektif tergantung pada kapasitas setiap individu, artinya kualitas intelektual di sini bersifat relatif.&lt;br /&gt;Menurut penulis puasa adalah sebuah bentuk laku asketik (prihatin) yang dilakukan oleh seorang muslim karena diwajibkan (puasa Ramadhan) dan atau disunnahkan (puasa senin-kamis, puasa 9 dzulhijah). Bahkan banyak orang yang menjalankan ritual dengan berpuasa di luar dua ketentuan tersebut dengan tujuan tertentu seperti memperoleh kekayaan, memperoleh kedudukan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sesumgguhnya tujuan puasa adalah agar seseorang meningkat derajat ketakwaannya, maka sesungguhnya terjadi pergeseran tujuan jika seseorang berpuasa sekedar untuk kaya, sakti atau berkuasa. Orang yang bertakwa adalah orang yang berilmu sekaligus berakal. Ilmu dekat dengan dunia akademis yang berhubungan dengan intelektual sedangkan akal berkaitan dengan penggunaan nalar, logika, dan metodologi. &lt;br /&gt;Berilmu (kognitif an sich) saja tidaklah cukup karena kehidupan beragama sesungguhnya tidak cukup didekati dengan dunia teori, namun juga realitas empirik bahkan meta realitas yang tak kasat mata. Dengan sinergi keduanya maka individu memiliki kecenderungan untuk berfikir logis dengan ilmu yang dimilikinya sehingga memilih jalan Allah. Dan dengan ilmu dan akal pula penulis mengurai korelasi antara puasa dan intelektualitas siswa.&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan sebagai bentuk laku asketik ditempuh melalui pengekangan dan pengendalian hawa nafsu. Pengendalian dan pengekangan nafsu tersebut tidak saja dari imsak sampai bedug maghrib namun sebulan penuh, dari detik ke detik dalam seharinya. Orang yang mampu menjalankan puasanya dengan baik dan benar akan memiliki sinyal yang kuat dengan Sang Khaliq. Energi keilahian inilah yang mampu menjadikan seseorang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, dan dengan sendirinya dua kecerdasan yang grade nya berada di bawahnya (intelektual dan emosional) akan include di dalamnya. Orang yang bersih dan suci hatinya akan mudah memperoleh ilmu dari Allah, apalagi ilmu ciptaan manusia yang sifatnya sangat spekulatif (ada kemungkinan untuk salah).&lt;br /&gt;Secara aksiomatis uraian pada paragraf sebelumnya dapat digeneralisasi bahwa kebersihan dan kesucian hati akan mempermudah seseorang untuk meningkatkan kualitas daya serap belajarnya. Aksioma yang penulis susun ini sejujurnya telah menumbangkan teori klasik dalam psikologi kognitif (lihan Jeanette Vos dalam Revolusi Belajar, Kaifa, 1999) yang menyatakan bahwa daya serap hanya didominasi oleh tiga hal yakni visual (mata), auditorial (telinga), dan kinestetik (gerakan tubuh). Dengan kata lain daya serap yang paling tinggi dan menentukan adalah kesucian hati, karena dengan kesucian hati dengan sendirinya siswa akan terbuka matanya untuk selalu melihat apa yang disampaikan guru di kelas, akan mendengarkan apa yang diucapkan gurunya, dan akan meneladani setiap aktivitas yang dilakukan oleh gurunya.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini maka yang terpenting adalah bagaimana siswa berpuasa dengan baik dan benar, penuh penghayatan dan kekhusukan. Jika telah dijalani dengan benar maka kerja intelektual siswa akan berjalan dengan lancar dan mudah sehingga  memudahkan siswa dalam menyerap materi pelajaran. Dengan daya serap yang tinggi maka akan linier dengan kualitas intelektualnya sebab meningkatnya kualitas intelektual diukur dari seberapa besar ilmu dan pengetahuan yang bisa diserap, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak paham menjadi paham.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6014727054248114542?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6014727054248114542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6014727054248114542' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6014727054248114542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6014727054248114542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/puasa-dan-peningkatan-intelektualitas.html' title='Puasa Dan Peningkatan Intelektualitas siswa'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1428524730567707708</id><published>2009-03-16T16:40:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T16:41:10.232+07:00</updated><title type='text'>Profil Guru Madrasah Ideal</title><content type='html'>A. Pengertian dan Kedudukan Pendidik &lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar. Dari segi bahasa, pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan, bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang berdekatan artinya dengan pendidik. Kata tersebut seperti teacher yang artinya guru atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang mengajar di rumah.&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, mudarris, mu’allim, dan  mu’addib. Kata  ustadz  jamaknya asatidz  yang berarti teacher (guru), profesor (gelar akademik), jenjang dibidang intelektual, pelatih, dan penyair. Adapun kata mudarris berari teacher (guru), instruktur (pelatih), lecturer (dosen), Selanjutnya kata muallim yang berarti teacher (guru), trainer (pemandu), dan instructor (pelatih). Sedangkan kata mu’addib berarti educator  pendidik atau teacher in Koranic School  (guru dalam lembaga pendidikan al-Quran).&lt;br /&gt;Perbedaan kata tersebut menunjukkan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan di mana pengetahuan dan keterampilan diberikan. Jika menyebut sekolah maka gurunya adalah teacher, jika di perguruan tinggi berari lecturer, jika di rumah  disebut tutor. Sedangkan di tempat-tempat pelatihan dinamakan instruktur atau trainer  dan pada lembaga agama disebut educator.&lt;br /&gt;Secara terminologis  pendidik adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam orang yang bertanggung jawab dalam pendidikan adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik. Tanggung jawab tersebut sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua hal: pertama ; karena kodrat, yakni kedua orang tua ditakdirkan bertanggung jawab mendidik anaknya. Kedua; karena kepentingan orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tuanya juga,  &lt;br /&gt;Secara garis besar tugas guru mencakup tiga hal:&lt;br /&gt;1. Menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif).&lt;br /&gt;2. Melatih keterampilan jasmani kepada orang lain (bersifat psikomotor).&lt;br /&gt;3. Menanamkan nilai dan keyakinan kepada  orang lain.&lt;br /&gt;Dengan demikian tugas guru sejatinya tidak hanya berorientasi pada kecakapan-kecakapan yang berdimensi ranah cipta saja tetapi juga kecakapan yang berdimensi ranah rasa dan karsa. Dengan kata lain tugas guru adalah mengajar dan mendidik.&lt;br /&gt;Sedangkan berdasar  PPS IKIP Bandung tahun 1990 yang dikutip Abudin Nata terdapat sepuluh ciri suatu profesi (keguruan) yaitu:&lt;br /&gt;1. Memiliki fungsi dan signifikansi sosial.&lt;br /&gt;2. Memiliki keahlian tertentu.&lt;br /&gt;3. Keahlian diperoleh melalui metode ilmiah.&lt;br /&gt;4. Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas.&lt;br /&gt;5. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu.&lt;br /&gt;6. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional&lt;br /&gt;7. Memiliki kode etik&lt;br /&gt;8. Kebebasan untuk memberikan judment dalam memecahkan masalah dalam lingkungan kerjanya.&lt;br /&gt;9. Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi&lt;br /&gt;10. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan pofesinya. &lt;br /&gt;Dalam al-Quran pendidik secara garis besar dibagi empat, pertama; Tuhan, Allah SWT. Sebagai guru Allah SWT menginginkan umat manusia menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan di akherat. Sifat-sifat Allah seperti al’alim (berpengetahuan luas) menggambarkan bahwa guru harus berwawasan luas, sifat Pemurah menggambarkan guru juga harus menjadi orang yang tidak kikir terhadap ilmu yang dimilikinya, dan sifat-sifat  lainnya.  Untuk mencapai tujuan tersebut Allah mengutus para Nabi, dan Nabi Muhammad saw merupakan guru kedua setelah Allah. Dalam kapasitasnya sebagai guru Nabi saw memulai pendidikannya kepada anggota keluarganya yang terdekat, selanjutnya pada orang-orang di sekitarnya.  &lt;br /&gt;Selanjutnya pendidik yang ketiga dalam al-Quran adalah orang tua. Al-Quran menyebutkan bahwa sebagai guru  orang tua harus mempunyai sifat kesadaran akan kebenaran, dapat bersyukur, serta suka menasehati kepada anaknya untuk tidak mempersekutukan Tuhan, memerintahkan anaknya agar menjalankan shalat, sabar dalam menghadapi cobaan. Sedangkan guru yang keempat adalah orang lain seperti kisah Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Karakteristik Kepribadian Guru&lt;br /&gt;Dalam arti sederhana kepribadian adalah sifat hakiki individu yang tercermin pada sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dari yang lain. Kepribadian guru adalah hal yang sangat penting, menurut Prof. Dr. Zakiah Drajat  “kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik atau menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik terutama bagi anak didik yang masih kecil’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Guru yang Ideal&lt;br /&gt;Secara umum guru harus memenuhi dua kategori yaitu memiliki capability dan loyality, yakni guru harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi  sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas keguruan. Menurut Peter G. Beidler yang dikutip Dede Rosyada terdapat sepuluh kriteria guru yang baik:&lt;br /&gt;a. Seorang guru yang baik harus benar-benar berkeinginan untuk menjadi guru yang baik. Guru yang baik harus mencoba, dan terus mencoba, dan biarkan siswa-siswa tahu dengan usaha mencoba tersebut, dan bahkan guru juga sangat menghargai siswanya yang senantiasa melakukan percobaan, walaupun para siswa tidak pernah sukses dalam apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian, para siswa akan menghargai guru, walaupun sebagai guru sangat mungkin tidak sebaik yang diinginkan .&lt;br /&gt;b. Seorang guru yang baik berani mengambil risiko, berani menyusun tujuan yang sangat muluk, dan berjuang untuk mencapainya. &lt;br /&gt;c. Seorang guru yang baik memiliki sikap yang positif. Seorang guru tidak boleh sinis dengan pekerjaannya, harus bangga dengan profesinya.&lt;br /&gt;d. Seorang guru yang baik tidak punya waktu yang cukup. Guru yang baik tidak punya waktu untuk bersantai, waktunya habis untuk memberikan pelayanan terbaik untuk siswa-siswanya.&lt;br /&gt;e. Guru yang baik berpikir bahwa mengajar adalah sebuah tugas menjadi orang tua siswa, yakni bahwa guru punya tanggung jawab terhadap siswa sama dengan tanggung jawab terhadap putra-putrinya sendiri dalam batas-batas kompetensi keguruan, yakni guru punya otoritas untuk mengarahkan siswanya sesuai basis kemampuannya.&lt;br /&gt;f. Guru yang baik harus selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak semua siswa memiliki rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya.&lt;br /&gt;g. Seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya, yakni dia selalu menciptakan jarak antara kemampuannya dengan kemampuan siswanya, sehingga siswa-siswa senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang, dan membuat siswa-siswa  terus berusaha  untuk menutupi berbagai kelemahannya dengan melakukan berbagai kegiatan dan menambah pengalaman keilmuannya.&lt;br /&gt;h. Seorang guru yang baik selalu mencoba memacu siswa-siswanya untuk hidup mandiri, lebih independent, khususnya untuk sekolah-sekolah menengah atau college, mereka harus sudah mulai dimotivasi untuk mandiri dan independent.&lt;br /&gt;i. Seorang guru yang baik tidak percaya penuh terhadap evaluasi yang diberikan siswanya, karena evaluasi mereka terhadap gurunya bisa tidak objektif, walaupun pernyataan-pernyataan siswa penting sebagai informasi, namun tidak sepenuhnya harus dijadikan patokan untuk mengukur kinerja keguruaannya.&lt;br /&gt;j. Seorang guru yang baik senantiasa mendengarkan terhadap pernyataan –pernyataan siswanya, yakni guru itu harus aspiratif mendengarkan dengan bijak permintaan-permintaan siswa-siswanya, kritik-kritik siswanya, serta berbagai saran yang disampaikan. &lt;br /&gt;Sedangkan menurut Gilbert H. Hunt guru yang baik memenuhi tujuh kriteria:&lt;br /&gt;1. Guru yang baik harus mempunyai sifat antusias, stimulatif, mendorong siswa untuk maju, hangat, berorientasi pada tugas dan pekerja keras.&lt;br /&gt;2. Guru yang baik memiliki pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang diampunya, dan terus mengikuti kemajuan dalam bidang ilmunya.&lt;br /&gt;3. Guru yang baik juga mampu memberikan jaminan bahwa materi yang disampaikannya mencakup semua unit bahasan yang diharapkan siswa secara maksimal.&lt;br /&gt;4. Guru yang baik mampu menjelaskan berbagai informasi secara jelas, dan terang, memberikan layanan yang variatif, menciptakan dan memelihara momentum, menggunakan kelompok kecil secara efektif, mendororong semua siswa untuk berprestasi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;5. Guru  yang baik mampu memberikan harapan pada siswa, mampu membuat siswa akuntabel. Dan mendorong partisipasi orang tua dalam memajukan kemampuan akademik siswanya.&lt;br /&gt;6. Guru yang baik biasa menerima berbagai masukan, risiko, dan tantangan, selalu memberikan dukungan pada siswanya, konsisten dalam kesepakatan-kesepakatan, dan lainnya.&lt;br /&gt;7. Guru yang baik juga harus mampu menunjukkan keahlian dalam perencanaan, memiliki kemampuan mengorganisasi kelas. &lt;br /&gt;Berdasar dari teori-teori tersebut maka untuk menjadi seorang guru yang baik harus memiliki berbagai kriteria atau sifat-sifat yang diperlukan untuk profesi keguruan yaitu antusias, stimulatif, hangat, berorientasi pada tugas, toleran, sopan, bijaksana, demokratis, penuh pengharapan, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Guru yang Ideal dalam Pandangan Penulis&lt;br /&gt;Senyampang dengan pemikiran Peter G. Beidler yang dikutip Dede Rosyada tentang kriteria guru, penulis mendeskripsikan guru yang ideal dengan kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Mempunyai visi dan misi &lt;br /&gt;Visi dan misi mutlak dipunyai seorang pendidik, tanpa adanya visi dan misi maka tidak ada ruh dalam menjalani profesinya. Visi berangkat dari landasan ideologi, keberagamaan sangat dominan dalam perumusan visi. Adanya visi menunjukkan keikhlasan, keseriusan, dan semangat dalam menjalani profesinya. Terbangunnya visi akan diikuti misi, lebih operasional. Misi dijabarkan dalam action plan atau rencana strategis yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai pendidik.&lt;br /&gt;2. Mampu secara akademik&lt;br /&gt;Kemampuan akademik yang handal menjadi syarat  mutlak untuk menjadi guru yang ideal. Kehandalan tersebut bukan saja sekedar penguasaan secara kognitif sehingga mampu menyampaikan informasi pengetahuan kepada siswa, akan tetapi juga menguasai secara komprehensif bidng kajiannya sehingga banyak potensi untuk berkembang. Penguasaan secara komprehensif penulis jabarkan menjadi tiga yakni penguasaan ontologi, penguasaan epistemologi, dan penguasaan aksiologi.&lt;br /&gt;Penguasaan ontologi berarti menguasai substansi, objek, dan bidang kajian dari sisi materi. Guru harus tahu kompetensi apa yang mesti disampaikan, formula apa yang ada, aksioma apa sajakah yang disajikan, dan lain sebgainya. Penguasaan epistemologi berarti menguasai bagaimana proses, mekanisme, dan latar kemunculan sesuatu yang berupa rumus, premis, teori, dan grand theory. Pengetahuan akan proses sudah idealnya dikuasai oleh guru sehingga nalar berpikir, kreativitas, daya kritis, daya analisis lebih dipentingkan dan diutamakan dari pada sekedar hafal. Kemampuan penguasaan epistemologi akan memberikan landasan yang kokoh dalam pengembangan dasar-dasar keilmuan yang  pada gilirannya mewujudkan kemampuan berfikir logis pada peserta didik.  Penguasaan aksiologi merupakan penguasaan terhadap muatan nilai pengetahuan yang diajarkan. Setiap kajian pastilah value bound (tidak value free), artinya setiap kajian mengandung nilai kehidupan. Nilai tersebut dapat berupa nilai sosial kemasyarakat, norma, dan tidak jarang sarat dengan nilai transendental. Pada posisi ini guru mampu menjadikan subjek pembelajaran menjadi sesuatu yang meaningful bagi peserta didik.&lt;br /&gt;3. Beretika&lt;br /&gt;Konsep etika senantiasa berkembang, perkembangan tersebut bukanlah sesuatu yang permisif dengan memberi kelonggaran beretika, bukan juga berupa relatifisme, akan tetapi merupakan etika yang berangkat dari universal patterns dan tidak menyimpang dari Alquran sebagai sumber segala sumber ajaran. Etika memang berkembang dari etika lokal, etika nasional, dan etika global, meskipun demikian kesemuanya tidak boleh berangkat dari perspektif masing-masing, akan tetapi harus berangkat dari sumber ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Adaptif&lt;br /&gt;Perubahan adalah sebuah kemestian, dan yang hakiki adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang ada harus disikapi dengan proaktif, bukan reaktif. Sikap reaktif hanya mengahasilkan keterkejutan-keterkejutan yang pada gilirannya menghasilkan manusia-manusia yang mekanis dan gagap terhadap perkembangan yang ada. Konsekuensi dari sikap reaktif adalah sebuah ketertinggalan yang pada dampak paling parahnya adalah mengisolasi diri dengan truth claim kebenaran. Guru sebagai frontman ataupun frontliner dalam kemajuan pendidikan tidak saja melakukan penyesuaian-penyesuaian sebagai sebuah bentuk dari adaptasi, akan tetapi kreatif terhadap perubahan itu sendiri sehingga ada nilai tambahnya, tidak sekedar mengekor.&lt;br /&gt;Dalam posisinya sebagai guru bentuk penyesuaian tersebut berupa upgrade metodologi pengajaran dan metodologi keilmuan. Metode pengajaran berkaitan dengan bentuk pembelajaran, media pembelajaran, sistem portofolio, dan lain sebagainya yang bersifat teknis, sedangkan metode keilmuan berkaitan dengan epistemilogi keilmuan baik yang klasik maupun yang kekinian.&lt;br /&gt;5. Menguasai manajemen&lt;br /&gt;Manajemen berkaitan dengan strategi, pengauasaan manajemen yang baik menghasilkan sistem yang mapan. Sistem yang mapan akan kuat, tidak bergantung pada satu faktor karena sistemik. Pembelajaran memerlukan manajemen, ada tidaknya guru dalam jam pembelajaran akan tetap memberi ruh yang sama jika guru terbiasa menggunakan manajemen dalam pembelajaran. Selain manajemen dalam pengelolaan kelas, guru juga harus menguasai manajemen organisasi sehingga memunculkan peluang-peluang baik bagi institusi sekolah itu sendiri, maupun bagi siswa. &lt;br /&gt;6. Menguasai administrasi keguruan&lt;br /&gt;Sebagai guru, administrasi adalah bagian pokok dari aktifitas keguruannya. Administrasi tersebut dapat berupa penyusunan silabus dan sistem evaluasi, serta sistem pelaporan. Penguasaan administrasi yang tidak saja menjadikan tertib administrasi, akan tetapi dapat dijadikan evaluasi berkala menyangkut aktifitas keprofesiannya.&lt;br /&gt;7. Kompetitif dan komparatif&lt;br /&gt;Guru yang ideal harus mempunyai daya saing sekaligus daya pembeda, semacam spesialisasi yang membedakan dengan guru lain. Daya komparatif akan memberi kekayaan intelektual bagi institusi yang bersangkutan sehingga kaya akan inovasi dan krasi. Daya kompetitif akan meningkatkan bargaining position dalam lingkup yang sejajar sehingga memberi daya tarik karena kualitas yang menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang ideal tentu akan dideskripsikan berbeda-beda oleh individu yang berbeda, meskipun demikian secara implisit terdapat kesepakatan umum yang gayut dengan pendapat penulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1428524730567707708?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1428524730567707708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1428524730567707708' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1428524730567707708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1428524730567707708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/profil-guru-madrasah-ideal.html' title='Profil Guru Madrasah Ideal'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6090952814986246371</id><published>2009-03-16T16:38:00.001+07:00</published><updated>2009-03-16T16:40:06.969+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Masa Depan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWINDOW%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1123772513; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:417217786 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:1568026643; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1181174364 796661918 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:37.5pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:37.5pt; 	text-indent:-19.5pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 126pt;"&gt;Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;( Williard Daggett).&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 126pt;"&gt;Satu-satunya cara untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya&lt;b style=""&gt;. (Alan Kay)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 126pt; text-indent: -99pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Dua nasihat bijak di atas menggambarkan betapa perubahan itu cepat terjadi dan tidak seorangpun yang mampu meramalkannya. Salah satu jalan untuk meramalkan masa depan adalah mengendalikan masa depan dengan menciptakan masa depan itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Masa depan sejatinya penuh dengan ketidakpastian&lt;b style=""&gt;. &lt;/b&gt;Tak seorang pun mampu memperkirakan masa depan secara valid. Kejutan-kejutan selalu muncul di luar kalkulasi akal manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Menciptakan masa depan yang lebih baik adalah cita-cita semua orang. Karenanya setiap orang belajar, sebagai sebuah upaya perwujudan cita-cita. Sekolah sebagai tempat belajar sejatinya mengemban tugas yang berat yakni mewujudkan cita-cita pembelajar sebagai sebuah upaya pemanusian manusia. Artinya sekolah harus futuristik dan bukannya menjajakan sesuatu yang telah basi atau sesuatu yang tidak berguna bagi masa depan karena telah usang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Sekolah yang tidak mampu mengantarkan cita-cita pembelajar adalah sekolah yang gagal. Sekolah yang demikian mestinya sadar diri dengan mengambil langkah segera merevolusi institusinya atau membubarkan diri. Jika satu dari dua langkah tersebut tidak diambil berarti sama saja mencetak generasi gagal secara massal dan berkelanjutan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Merevolusi institusi sama halnya dengan mendesain sekolah masa depan. Sekolah harus mampu meninggalkan sistem pendidikan tradisional yang sudah kedaluwarsa. Sekolah tradisional yang masih banyak kita praktikkan merupakan model pembelajaran abad ke-19 yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memiliki beberapa kekurangan antara lain; kehilangan konteks dengan dunia nyata,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurang menghargai kemajemukan siswa, dan terpusat pada guru.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari sisi fasilitas, lembaga sekolah di tanah air masih jauh dari standar pelayanan minimal pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah, khususnya sekolah swasta pinggiran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Dunia terus bergerak untuk berubah namun kita kurang peduli dengan perubahan itu. Kurikulum terus berganti namun banyak guru yang kurang adaptif dalam menyikapi dinamika perubahan kurikulum. Meskipun ditatar berulang kali banyak guru yang tetap mengajar dengan pola lama. &lt;i style=""&gt;Habitus&lt;/i&gt; nyantai telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Konsep Sekolah Masa Depan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Mendesain sekolah masa depan mencakup beberapa aspek yang antara lain &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;meliputi apa yang harus diajarkan di sekolah&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tujuan belajar di sekolah. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; teori utama tentang apa yang harus diajarkan di sekolah ( Dryden dan Vos, 1999). &lt;i style=""&gt;Pertama; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;esensialisme&lt;/i&gt;, berisikan mata pelajaran inti, dibutuhkan untuk pendidikan yang baik. Essensialisme diberikan kepada usia dini. Materinya berkaitan dengan penanaman nilai untuk membangun karakter. &lt;i style=""&gt;Kedua;&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;ensiklopedisme&lt;/i&gt;, mencakup mata pelajaran dasar dengan cakupan yang lebih luas dan terbuka bagi semua orang. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, model pendidikan awal yang berbasis indera, model ini pertama kali diusung oleh Aristoteles kemudian dikembangkan oleh Itard, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Seguin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Rousseau, Pestallozi, Froebel, dan Montessori. &lt;i style=""&gt;Keempat,&lt;/i&gt; gerakan pragmatis yang berorientasi pada anak. Gerakan pragmatis dapat ditelusuru dari konsep John Dewey dalam &lt;i style=""&gt;Experiencing and Learning.&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Kelima,&lt;/i&gt; pendekatan akal sehat (&lt;i style=""&gt;common sense&lt;/i&gt;), dalam pendekatan ini menggunakan akal sehat dan kritis terhadap dogma. Pendekatan akal sehat menggunakan prisip-prinsip filsafatai yang mencakup tiga domain utama yang meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Implementasi dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; teori tentang apa yang harus diajarkan di sekolah berangkat dari periodesasi usia dan pembelajaran yang sistematis, tidak terputus-putus dan tidak &lt;i style=""&gt;overlap.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Aspek kedua adalah tujuan belajar, tujuan ini sangat bergantung pada visi dan misi institusi penyelenggara pendidikan. Meskipun demikian belajar seharusnya memiliki tiga tujuan ( Dryden dan Vos, 1999):&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Mempelajarai keterampilan dan pengetahuan tentang      materi-materi pelajaran spesifik.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Mengembangkan kemampuan konseptual umum.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang      secara mudah dapat digunakan dalam segala tindakan kita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Rencana Starategis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 26.95pt; line-height: 200%;"&gt;Rencana strategis menjadi &lt;i style=""&gt;action plan&lt;/i&gt; penyelenggara pendidikan dalam membangun masa depan. Kita dapat belajar dari rencana induk negara Singapura dalam bidang pendidikan. Dalam pidato Menteri Pendidikan Singapura Teo Chee Hean tanggal 27 April 2007 ada tujuh rencana induk pendidikan di Singapura yang meliputi:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;‘Sekolah berpikir’ didesain untuk menjadi pusat bagi pembelajaran berkelanjutan (&lt;i style=""&gt;sustainable&lt;/i&gt;). Konsep ini meninggalkan model &lt;i style=""&gt;banking concept&lt;/i&gt; yang hanya sekedar menuangkan materi ke siswa. Mestinya sekolah melatih berfikir bukan mengisi pikiran siswa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Disediakan 2,5 juta dollar Amerika bagi setiap sekolah untuk pengadaan teknologi informasi. Di negara kita sudah digulirkan Jardiknas hanya saja belum semua siap menyambut kebijakan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Satu komputer di sekolah untuk setiap dua siswa dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Berpikir kreatif sebagai bagian dari kurikulum baru untuk mencapai keunnguulan di bidang matematika dan sains.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kurikulum juga ditujukan untuk membangun kebanggaan atas prestasi yang diraih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Inovasi yang bersifat ‘top down’ ditinggalkan. Di negara kita telah dikembangkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) , hanya implementasinya yang relatif kurang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sekolah-sekolah dikelompokkan untuk menyebarluaskan praktik-praktik terbaik. Dalam konteks ini dapat didesain madrasah atau sekolah satelit yang bertugas meningkatkan kualitas madrasah yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Contoh rencana induk tersebut di atas dapat menjadi acuan dalam pengembangan institusi di madrasah yang kita kelola. Dari rencana induk setiap institusi dapat mendesain masa depan sekolahnya. Tanpa adanya rencana induk dan &lt;i style=""&gt;action plan&lt;/i&gt; maka masa depan sekolah dan produknya akan &lt;i style=""&gt;out of date&lt;/i&gt;. Dan ujungnya adalah ketidakpercayaan pada lembaga sekolah. Sekolah harus mentransformasi diri ke arah yang baik jika tidak maka s&lt;i style=""&gt;chool is dead&lt;/i&gt; seperti yang dikumandangkan Neil Postman akan jadi kenyataan.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6090952814986246371?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6090952814986246371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6090952814986246371' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6090952814986246371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6090952814986246371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/sekolah-masa-depan.html' title='Sekolah Masa Depan'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-6641603538659490630</id><published>2009-03-10T12:03:00.001+07:00</published><updated>2009-03-10T12:03:33.001+07:00</updated><title type='text'>Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Dunia pendidikan merupakan wilayah strategis bagi pemerintah yang sedang berkuasa. Di wilayah ini terdapat banyak elemen penting. Guru, siswa, dosen, dan mahasiswa serta &lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt; lainnya merupakan bagian dari elemen penting itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Sejarah membuktikan bahwa dari elemen ini kestabilan, kelanggengan kekuasaan, dan keberlanjutan penguasa ditentukan. Jatuhnya pemerintahan orde baru merupakan salah satu contoh dari banyak peristiwa dimana pemerintah yang sedang berkuasa takhluk oleh gerakan mahasiswa. Puisi yang sering kita dengar bahwa: &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mahasiswa takut dosen, dosen takut rektor, rektor takut menteri, menteri takut presiden, dan presiden takut mahasiswa&lt;/i&gt; adalah siklus yang tak terbantahkan dan benar adanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Politik Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Begitu pentingnya dunia pendidikan bagi pemegang kekuasaan, maka kesadaran pencitraan penguasa dalam ranah pendidikan senantiasa dibangun. Belakangan pencitraan itu mulai nampak, berbeda dengan zaman sebelum reformasi dimana lebih banyak membrangus dan menafikkan elemen pendidikan ketimbang membangun citra. Sebagai contohnya adalah guru dininabobokkan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa dengan gaji kecil, penculikan terhadap aktifis kampus, pembatasan terhadap gerakan mahasiswa di kampus, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Di era pemerintahan sekarang, pencitraan pemerintah terhadap dunia pendidikan dapat dilihat dari beberapa kebijakan strategis. Kebijakan itu antara lain dengan dikeluarkannya undang-undang Guru dan Dosen, pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20%, digulirkannya Badan Hukum Pendidikan,, dan tentu kebijakan tentang Ujian Nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Dikeluarkannya UU Guru dan Dosen sesungguhnya memberi citra positif bagi pemerintah, paling tidak dimata guru dan dosen. Undang-undang yang menekankan profesionalisme bagi pendidik ini memberi &lt;i style=""&gt;angin surga&lt;/i&gt; bagi pelaku pendidikan, utamanya yang berprofesi sebagai guru dan dosen. Pendidik akan menjadi tenaga profesional sebagaimana advokat, notaris, akuntan, dokter dan lain sebagainya. Pemerintah akan memberikan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok bagi pendidikan yang telah lulus sertifikasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Namun undang-undang ini bisa menjadi bumerang ketika pemberian tunjangan belum pasti (bukan kebijakan ketat) sementara usaha untuk sertifikasi telah dilakukan mati-matian bagi mereka yang diundang seleksi. Disamping itu, undang-undang ini dapat pula merusak iklim pendidikan ketika transparansi pelaksanaan tidak terjaga, dan dalam wilayah institusi berpotensi menimbulkan sikap saling iri antarguru atau dosen. Bisa jadi pula pembelajaran menjadi hambar karena guru sibuk memenuhi persyaratan sertifikasi dan mereduksi prinsip bahwa mendidik adalah pengabdian, &lt;i style=""&gt;teaching is service.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Kebijakan pemenuhan anggaran sebesar 20 % adalah sebuah keterpaksaan karena berasal dari tekanan luar yakni dari Mahkamah Konstitusi. Dalam posisi terpaksa ini pemerintah harus mencitrakan diri untuk taat pada keputusan tersebut dan tentu harus membuktikan agar benar-benar terealisasi dan termanfaatkan dengan tepat sasaran. Jika benar-benar terealisasi tentu memberi citra positif bagi pemerintah yang sedang berkuasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Sementara itu kebijakan tentang Badan Hukum Pendidikan masih menuai kritikan dari sana-sini. Banyak kalangan yang menilai BHP adalah bahasa halus dari komersialisasi pendidikan. Bahkan lebih dari itu, BHP adalah kapitalisme sejati dalam ranah pendidikan. Setidak-tidaknya BHP akan memberi celah bagi penyelenggara pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mengkomersilkan pendidikan dengan mengatasnamakan peningkatan mutu akademik atau yang lainnya. Dan korbannya sangat jelas, masyarakat miskin tidak akan mampu menikmati pendidikan tinggi. Subsidi silangpun tentu tidak akan optimal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Dan kebijakan Ujian Nasional sampai saat ini masih mencari bentuk. Setiap tahun ada perubahan dalam Prosedur Operasional Standar (POS). Dari peningkatan batas nilai minimal untuk lulus, jumlah mata pelajaran, tim independen yang sekarang diganti pengawas dari perguruan tinggi, denah tempat duduk, dan macam soal adalah bagian yang sering berubah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Kebijakan pemerintah dalam hal Ujian Nasional justru memberi citra negatif dimata &lt;i style=""&gt;stakeholder &lt;/i&gt;pendidikan. Apalagi banyak yang meragukan hasil ujian nasional. Pemerintah terkesan memaksakan kehendak dalam evaluasi yang berbentuk ujian nasional ini. Siswa dan guru selalu stress menjelang bulan pelaksanaan. Konflik antarelemen juga sering terjadi tiap tahunnya, salah satu contohnya adalah air mata guru di Medan yang terjadi dua tahun yang lalu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pendidikan Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Politik pendidikan sebagai upaya pencitraan diri pemerintah dalam ranah pendidikan sesungguhnya merupakan pendidikan politik bagi seluruh &lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt; pendidikan. Apa yang dijadikan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah sebuah pembelajaran politik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Elemen pendidikan menjadi konstituen, aset strategis bagi pemerintah dan partai politik yang sedang berkuasa. Setidak-tidaknya ada empat juta guru, jutaan dosen dan mahasiswa, tentu bukan suara yang kecil. Dari akumulasi suara ini sudah semestinya menjadikan dunia pendidikan memiliki daya tawar yang tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Partai politik yang sedang berkuasa dan pemerintah sejatinya menyadari posisi konstituen di wilayah pendidikan ini. Untuk itu mengambil hati, memotivasi semangat, menepati janji, dan memajukan pendidikan sungguh merupakan politik pendidikan sekaligus pendidikan politik yang paling jitu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-6641603538659490630?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/6641603538659490630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=6641603538659490630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6641603538659490630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/6641603538659490630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/politik-pendidikan-dan-pendidikan.html' title='Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-1525229433363457824</id><published>2009-03-10T11:59:00.001+07:00</published><updated>2009-03-10T11:59:38.674+07:00</updated><title type='text'>Deschooling Society: Mungkinkah ?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menarik sekali apa yang dikatakan &lt;b&gt;Ivan Illich&lt;/b&gt; tentang masyarakat tanpa sekolah yang lebih dikenal dengan &lt;i&gt;deschooling society&lt;/i&gt;. Meskipun gagasan itu baru pada tataran wacana, namun dengan gamblang menyorot ketidakberhasilan pendidikan, kalau tidak mau dibilang sebuah kegagalan. Pendidikan yang mestinya menjadikan dunia lebih baik dari sebelumnya justru yang terjadi adalah sebaliknya . Dunia semakin rusak akibat ekses teknologi, bencana alam karena &lt;i&gt;human error,&lt;/i&gt; dan banyaknya pengangguran adalah serentetan kegagalan lembaga sekolah. Dengan kondisi riil di atas lantas mungkinkah terwujud &lt;i&gt;deschooling society &lt;/i&gt;?.&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;Kondisi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pendidikan yang secara makro bertujuan mewujudkan manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; seutuhnya masih menjadi cita-cita yang menggantung di langit atau mungkin sebuah utopia belaka. Bahkan tujuan mikro dan lebih pragmatis (belajar untuk bekerja) masih susah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk dicapai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kita semua sepakat bahwa sistem pendidikan kita belum mampu untuk serasi dan sepadan dengan dunia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;industri. Artinya apa yang dipelajari di sekolah tidak banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kaitan langsung dengan realita yang akan dihadapi nanti. Bahkan selama ini kita masih berkutat untuk mencari-cari jalan dan bentuk yang pas mengenai pola pendidikan . Maka wajarlah jika beberapa kali terjadi perubahan model yang terkadang susah dilaksanakan di lapangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Melihat kenyataan di atas banyak pakar pendidikan kita yang menawarkan jampi-jampi demi perbaikan kualitas pendidikan di tanah air. Toh hasilnya semakin tidak karuan. Dari tahun-ketahun kualitas pendidikan kita semakin tertinggal dengan negara-negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetangga, bahkan dengan Malaysia yang nota bene”bekas murid” kita, telah jauh melangkah lebih maju meninggalkan gurunya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tinggi rendahnya kualitas pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor. Kurikulum, kualitas guru, dan ketersediaan standar pelayanan minimal pendidikan adalah faktor dominan yang menjadi modal kunci. Namun semua menyadari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal Pendidikan jika hanya menggantungkan uluran tangan dari pemerintah pusat rasanya sangat sulit. Maka tidaklah mengherankan jika banyak sekolah -- terutama di daerah--&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara infrastruktur sangat kurang. Akibat dari semua ini adalah selalu kalahnya dunia pendidikan kita dalam adu cepat dengan perkembangan teknologi. Selanjutnya mudah ditebak, apa yang dipelajari peserta didik saat ini telah menjadi sesuatu yang usang ketika peserta didik lulus nanti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gambaran out put dengan skill yang usang tadi berakibat akan selalu kalah bersaing dalam memperebutkan lowongan pekerjaan. Industri lebih suka mengambil lulusan luar negeri karena dipandang lebih &lt;i&gt;capable &lt;/i&gt;dan mempunyai daya adaptif tinggi dibanding lulusan lokal.&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1&gt;Opini Masyarakat&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Serangkaian kegagalan dunia pendidikan kita ditanggapi berbeda oleh masyarakat. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; masyarakat yang tetap menganggap bahwa sekolah adalah dewa penolong bagi masa depan anak dan menjadi simbol sosial. Maka tidak heran jika disetiap tahun ajaran baru banyak orang tua yang mendaftarkan sekolah anaknya. Tetapi ada pula yang menganggap sekolah bukan lagi pilihan investasi karena melihat banyaknya pengangguran terdidik. Maka banyak orang tua yang lebih memilih menjadikan anaknya sebagai polisi atau tentara selepas SMA dibanding membiayai kuliah anaknya. Karena jika dikalkulasi biaya kuliah mendingan untuk membeli kerja , maklumlah pekerjaan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; kebanyakan dibeli dari pada dicari. Apalagi semakin merosotnya akhlak, budi pekerti , dan moral oknum mahasiswa dengan berbagai peristiwa yang menghebohkan, misalnya seks bebas, narkoba, dan tindak curanmor yang sering diekspos semakin menambah keengganan orang tua untuk melepas jauh anaknya..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terlepas dari pro dan kontra tentang pendidikan sampai saat ini sekolah tetap menjadi syarat mutlak dalam mencari kerja. Fungsi selembar ijazah tetap menjadi kupon ( kartu masuk ) dalam melamar kerja, bukannya kompetensi yang dimiliki. Ditambah lagi pendidikan kita yang satu &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; dimana setiap jenjang adalah jenjang berikutnya dan baru dianggap selesai jika sudah sarjana semakin mengharuskan orang untuk sekolah dan sekolah. Apalagi Disnakertrans yang selalu berdalih betapa sulitnya peningkatan mutu kerja kalau pekerjanya hanya lulus SD semakin memberi dorongan perlunya sekolah tinggi. Hal ini semakin menegaskan bahwa &lt;i&gt;deschooling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;society&lt;/i&gt; tidak mungkin terwujud di negeri ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-1525229433363457824?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/1525229433363457824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=1525229433363457824' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1525229433363457824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/1525229433363457824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/03/deschooling-society-mungkinkah.html' title='Deschooling Society: Mungkinkah ?'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-4209878699992848075</id><published>2009-02-09T17:07:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T06:32:06.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Hypermaskulinitas di sekolah</title><content type='html'>&lt;style type="text/css"&gt;!--   @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;&lt;/style&gt;Akhir- akhir  ini dengan mudah kita jumpai kelompok-kelompok anak muda tergabung dalam sebuah geng. Diperempatan lampu merah mudah kita jumpai geng semacam punk, ska, atau rasta dengan pakaian dan ‘uniform’ yang khas. Rambut gimbal, pakaian mirip hansip dengan tempelan khas yang menjadi simbol aliran dijadikan penanda kelompok. Eksistensi kelompok-kelompok tersebut terorganisasi secara tidak resmi dan bermahdzabkan &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;. &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Kelompok-kelompok tersebut kini semakin menjamur dan tidak jarang migrasi antarkota dengan transportasi kereta barang atau tronton yang semua serba gratis dan modal pas-pasan. Minimnya modal tersebut berpotensi menimbulkan tindakan kriminalitas. Tidak itu saja, pertemuan dua kelompok dengan berbeda aliran berpotensi untuk tawuran.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Tindakan-tindakan tersebut merupakan perilaku hypermaskulinitas. Sudirman Nasir (Kompas, 18 September 2008) mengutip pendapat RaeWyn Connel (2000) bahwa maskulinitas harus dilihat bukan sekedar sebagai kebalikan feminitas, tetapi harus pula dikaitkan dengan status sosial ekonomi, latar belakang ras/etnik, bahkan orientasi seksual.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Hypermaskulinitas di sekolah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Di sekolah sejatinya embrio hypermaskulinitas mudah kita temui. Kelompok-kelompok siswa di sekolah seringkali membuat atribut-atribut kelompok. Atribut-atribut tersebut berupa stiker, kaos, jaket, atau yang lainnya. Atribut-atribut tersebut bukan saja sebagai lahan bisnis bagi siswa yang memiliki &lt;i&gt;sense of business&lt;/i&gt; tetapi menjadi simbul eksistensi , media pengaman bagi diri sendiri dari ancaman geng lain, juga sebagai ajang untuk berekspresi secara bersama – sama dalam kelompoknya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Sejatinya hypermaskulinitas di sekolah belum menunjukkan gejala yang ekstrim sebagaimana kelompok-kelompok yang ada di sekitar lampu merah. Namun demikian keberadaannya dapat menjadi destruktif dan agresif di sekolah. Siswa dalam satu geng di sekolah bisa saja memengaruhi kondisi sekokah, pemicu tawuran antarsekolah, menjadi koordinator konvoi-konvoi yang berpotensi destruktif juga menjadi biang keladi tindakan &lt;i&gt;mengompas&lt;/i&gt; (meminta uang atau barang dengan paksa) teman sendiri di sekolah yang tidak mau bergabung dengan kelompoknya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Ada dua fenomena yang menarik dari keberadaan kelompok-kelompok tersebut. Yang pertama adalah harus membayar atau memiliki atribut  untuk ditasbihkan sebagai anggota kelompok atau geng, dan yang kedua adalah tidak mudah untuk keluar dari kelompok tersebut selama anggota dalam kelompok masis eksis di sekolah. Adanya paksaan untuk membayar atau menggunakan atribut nampaknya menyerupai bisnis yang dipaksakan. Dengan demikian sangat mungkin bahwa ketua geng tersebut memiliki atasan tak resmi sebagai pelindung dari ketua kelompok atau ada yang memaksakan bisnis asesoris melalui ketua geng di sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Dampak dari hypermaskulinitas di sekolah tentu saja merugikan citra sekolah sekaligus siswa yang terlibat. Mudah kita jumpai siswa lebih memilih membeli asesoris geng daripada menyisihkan uang untuk membeli buku pelajaran atau bacaan. Bahkan ada pula siswa yang harus menggunakan uang SPP untuk membeli ‘uniform’ gengnya. Lebih tragis lagi hypermaskulinitas kini tidak lagi didominasi siswa laki-laki, siswa perempuan di sekolahpun kini sudah mulai bermunculan geng-geng kecil di sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Solusi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Anak usia sekolah adalah masa-masa mencari jati diri. Pencarian itu menjadi salah arah manakala tidak ditemukan mentor yang mampu menjadi idola dan memengaruhi secara positif. Terlebih bagi anak yang belum beruntung karena sosial ekonominya yang rendah atau anak-anak yang &lt;i&gt;brokenhome.&lt;/i&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Sekolah sebagai salah satu unit yang sudah menjadi kewajibannya untuk memberi pencerahan kepada siswanya melalui guru dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tidaklah efektif jika pencerahan itu hanya melalui hukuman dan larangan-larangan, terlebih hukuman dan larangan terkadang kurang atau tidak edukatif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Sejatinya sekolah dapat melakukan tindakan preventif semenjak kegiatan MOS (masa orientasi siswa) yang selama ini belum efektif membentengi perilaku hypermaskulinitas siswa di sekolah. Materi MOS idealnya berisi bagaimana agar tidak terjebak dalam geng sekolah, bagaimana strategi keluar dari geng jika sudah telanjur terjebak, dan bagaimana mencari perlindungan yang legal jika mendapat ancaman dari geng sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Sekolah juga semestinya giat untuk merazia simbul-simbul yang dapat memberi energi destruktif bagi siswa di sekolah. Tindakan tersebut tidak perlu menunggu setelah ada kejadian yang mengkhawatirkan karena di sekolah telah ada satpam atau guru BP/BK .&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Fenomena tersebut di atas, meski belum pada stadium ekstrim harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena hypermaskulinitas kini tidak saja ada dalam kelompok anak usia SMA atau SMP namun juga sudah masuk dalam wilayah sekolah dasar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-4209878699992848075?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/4209878699992848075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=4209878699992848075' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4209878699992848075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/4209878699992848075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2009/02/hypermaskulinitas-di-sekolah.html' title='Hypermaskulinitas di sekolah'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-3152421562027865340</id><published>2008-11-26T16:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T16:23:36.443+07:00</updated><title type='text'>PENGELOLAAN SEKOLAH TERINTEGRASI DENGAN MENGGUNAKAN APM (ACCES POINT MACHINE) DI MADRASAH ALIYAH ALHIKMAH 2 BREBES</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Dunia menjadi datar, begitulah Thomas L. Friedman (2006) mengungkapkan pandangannya tentang realitas dunia kini. Pandangan tersebut dituangkan dalam buku yang berjudul &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;The World is Flat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Buku yang menjadi &lt;i style=""&gt;international bestseller &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini mengungkapkan bagaimana dunia menjadi datar, menjelaskan bagaimana “&lt;i style=""&gt;uploading&lt;/i&gt;’ menjadi salah satu kekuatan yang mendatarkan dunia, pemetaan terhadap kelas menengah baru, melaporkan mengenai kualitas yang perlu ditanamkan oleh orang tua dan guru di Amerika Serikat, panggilan untuk strategi “bumi hijau”, dan laporan mengenai “globalisasi lokal”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Jika kita mempelajari dan menelaah buku tersebut banyak manfaat yang dapat diambil terlebih bagi siapa saja yang bergerak dalam dunia pendidikan. Apa yang diambil bukan sekedar teori yang dapat memperkaya wawasan kognitif, akan tetapi lebih pada bagaimana menyelaraskan apa yang kita kerjakan dalam cakupan sekolah atau institusi pendidikan dengan tantangan dunia datar agar dapat mempertahankan eksistensi dan terjaganya &lt;i style=""&gt;sustainabilty&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Dalam dunia datar interkoneksitas adalah kebutuhan utama, tanpa interkoneksitas sistem susuh terintegrasi sehingga berjalan lambat dan jauh dari otomatisasi. Pengelolaan sekolah yang terintegrasi memungkinkan semua membentuk sebuah sistem otomatis, kecuali hal-hal yang sifatnya kebijakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan di segala level terlebih sekolah harus mampu melakukan &lt;i style=""&gt;breakthrough&lt;/i&gt; yang tujuan akhirnya adalah menciptakan proses pembelajaran yang baik melalui pengelolaan yang sistematis, karena berawal dari proses yang baik inilah akan dihasilkan out put dengan out come yang berkualitas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Informasi mengenai apa yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran memang telah banyak ditawarkan. Dalam buku Revolusi Belajar (1999), Quantum Teaching (1999) , dan Multy Creative Learning &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;banyak sekali ide-ide yang brilian untuk diimplementasikan dalam pembelajaran, sayangnya ide-ide tersebut seringkali berhenti pada tataran wawasan kognitif dan hanya menjadi sajian menarik yang dipresentasikan melalui program power point atau yang sejenisnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Senyampang dengan teori yang disampaikan Thomas L. Friedman di atas maka hal yang dapat diambil adalah bagaimana memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengelolaan sekolah yang terintegrasi. Untuk itu dalam makalah ini penulis berupaya menyampaikan bentuk pengalaman pembelajaran di sekolah penulis dengan ERP sebagai &lt;i&gt;software&lt;/i&gt;, sedangkan APM sebagai &lt;i&gt;hardware &lt;/i&gt;nya..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Perkembangan IT di MA Alhikmah 2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Perkembangan IT umumnya ditandai dengan kehadiran sebuah hardware yang bernama komputer, kemudian menyambung dengan akses internet. Komputer tanpa internet informasi akan sulit didapat, demikian juga internet tanpa komputer adalah sesuatu yang mustahil, setidaknya untuk kebanyakan pelajar. Pelajar, demikian guru, akan terasa berat jika harus memakai HP, PDA, dan semacamnya untuk mengakses internet mengingat harga yang relatif mahal bagi kantong mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Di malhikdua, masuknya komputer berawal dari era Pak Tamam saat menjabat kepala sekolah, satu periode sebelum sekarang. Disusul dengan adanya program komputer yang menjadi salah satu pilihan studi bagi siswa. Programnya cukup aplikatif dimana pada libur panjang siswa wajib mengikuti PKL di perusahaan-perusahaan mitra malhikdua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Internet sendiri masuk pada tahun 2001 dengan mengandalkan jalur telkomnet instan. Akses internet saat itu, walau sebatas email, sangat dirasa manfaatnya karena koneksi malhikdua tidak saja dari institusi dalam negeri, tapi juga menjangkau Mesir, Maroko, dlsb. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Demi kompetensi dan peningkatan SDM, sekolah mengadakan program pelatihan pembuatan website bagi para staff. Hasilnya, website malhikdua.com hadir. Berbanding lurus dengan kehadirannya, orang tua dan alumni mulai memanfaatkan malhikdua.com untuk mengetahui perkembangan sekolah, membaca berita, agenda, hingga sekedar kangen-kangenan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Era terus berkembang, pembenahan sana-sini terus dilakukan demi penyesuaian-penyesuain. Sekarang, sekolah tidak saja memiliki malhikdua.com, tapi juga malhikdua.sch.id yang mengukir prestasi nasional, blogmalhikdua yang menjadi komunitas blogger keluarga malhikdua, dan INTRANET. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;INTRANET hadir karena keterbatasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Booming internet melanda semua kalangan, tak terkecuali santri (sekaligus siswa) di malhikdua. Terlebih banyak siswa yang mengambil program keterampilan bahasa Inggris memiliki banyak akses ke luar negeri sebagai hasil dari program &lt;i style=""&gt;hunting tourism &lt;/i&gt;saat libur panjang kenaikan kelas dari kelas XI ke XII. Bukan itu saja kehadiran BSE (buku siswa elektronik) memberi stimulus yang tidak kecil kepada guru-guru untuk mendownload isi dari BSE tersebut. Kebutuhan yang serba urgen tersebut tidak linier dengan fasilitas yang dimilki serta konflik kepentingan antara pondok yang sangat hati-hati dengan kehadiran internet dan dahaga informasi yang dialami &lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt; malhikdua. Kehatian-hatian pondok didasari atas &lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt; informasi yang menyatakan internet menjadi media subur untuk penyebaran pornografi. Sebagai bagian dari stakeholder, penulis bersama dengan tim kreatif malhikdua mencari terobosan yang sifatnya win-win solution yakni guru dan siswa dapat mengakses informasi yang dibutuhkan namun juga membentengi agar kesempatan mengakses tersebut benar-benar steril dari hal-hal yang sifatnya negatif. Dari sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan program intranet.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Proses kreativitas penulis berawal dari tiga pertanyaan mendasar yakni: Apakah sekolah mempunyai dana yang cukup untuk membangun sebuah infrasruktur IT. Apakah sekolah mempunyai cukup waktu menangani segala kompleksitas IT jika diterapkan dalam sebuah kompleks yang cukup besar. Atau apakah sekolah juga mempunyai akses yang mudah untuk menembus dunia luar, berkompetensi dengan sekolah-sekolah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; besar yang sudah sedemikian majunya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.5pt; line-height: 200%;"&gt;Tiga pertanyaan diatas menjadi pemicu kreativitas dari sekolah Malhikdua. Sebab ketiga-tiganya menjadi kendala yang selalu bergulir di setiap periode. Tulisan sebelumnya tidak terlalu mendetail mengungkap bagaimana IT di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Malhikdua&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;School&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt; dibangun. Nyaris hilang sejarah bagaimana ketua Lab harus merogoh koceknya sendiri untuk membiayai pembengkakan pulsa internet. Saat itu, dengan kondisi yang jauh dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; hanya telkomnet install satu-satunya koneksi yang bisa dipakai. Sangat mahal. Nyaris pula tak terdengar tentang cerita bagaimana seorang teknisi yang menjadi staff &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Malhikdua&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;School&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt; harus kerja melek lembur siang malam demi menjaga kesiapan komputer di Lab. Komputer.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.5pt; line-height: 200%;"&gt;Sekolah, demikian juga dengan Malhikdua School, walau 100% siswanya adalah santri tak berarti bebas dari tindakan-tindakan vandalism. Seluruh siswa-siswi santri adalah anak muda yang secara psikologis punya kecenderungan keingintahuan yang cukup besar. Daya semangatnya belum cukup mengerti bagaimana memperlakukan Hardware dengan sopan. Tak jarang teknisi harus menginstall berulang-ulang komputer dalam satu waktu akibat kecerobohan mereka. Belum lagi soal virus dan seterusnya. Santri tetaplah santri, yang mana sebagian orang tua menitipkan anaknya karena tidak mampu lagi mendidik. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat sekolah untuk mewujudkan TIK di Sekolah. Pengalaman pahit bertahun-tahun menjadikan sebab bagaimana hardware utama Intranet musti didesain.&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;Intranet menuju sistem terintegrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di Sekolah Malhikdua keharusan integrasi ruangan sangat dibutuhkan. Kondisi geografis tidak menguntungkan bagi siswa, guru, dan pengurus sekolah untuk saling berkoordinasi dengan cepat. Antara satu bangunan perpustakaan, lab komputer dengan tata usaha terletak berjauhan. Demikian juga dengan bangunan-bangunan lain seperti asrama, tata busana, perikanan, pengelasan, dan GOR. Untuk mengoptimasi kinerja dan aktivitas penghuni didalamnya konsep ERP sangat dibutuhkan di sekolah malhikdua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang diberikan kepada sistem informasi yang mendukung transaksi atau operasi sehari-hari dalam pengelolaan sumber daya perusahaan. Sumber daya tersebut meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas. Daniel O’Leary&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(dalam myDeden.Kom) mendefinisikannya ERP sebagai:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;ERP systems are computer based systems designed to process an organization’s transactions and facilitate integrated and real-time planning, production, and customer response. In particular ERP systems will be assumed to have certain characteristics’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dari kedua definisi tersebut, jelas terlihat bahwa konsep ERP dikembangkan dengan latar belakang pemikiran perlunya dilakukan aktivitas pengintegrasian proses secara lintas fungsi di dalam perusahaan, agar dapat lebih responsif terhadap berbagai kebutuhan pelanggan atau “customer”. Dilibatkannya aplikasi atau software dalam konsep ERP adalah semata-mata karena perangkat teknologi tersebut dapat memberikan nilai tambah berupa: penghapusan proses-proses yang tidak perlu (process elimination), penyederhanaan proses-proses yang rumit atau bertele-tele (process simplification), penyatuan proses-proses yang redundan (process integration), dan pengotomatisasian proses-proses yang manual (process automation). &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 200%;"&gt;Sebagai tambahan, pengertian integrasi menyangkut hal-hal sebagai berikut: Penghubungan antar berbagai aliran proses kegiatan belajar mengajar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Teknik komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Sinkronisasi operasi sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Koordinasi operasi sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 200%;"&gt;Karakteristik tertentu dari ERP yang dimaksud dalam definisi ERP oleh Daniel E. O’Leary, seperti yang dikutip dari website tersebut, di atas meliputi hal-hal sebagai berikut ini:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Sistem ERP adalah suatu paket perangkat lunak yang didesain untuk lingkungan pelanggan pengguna server, apakah itu secara tradisional atau berbasis jaringan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Sistem ERP memadukan sebagian besar dari proses sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Sistem ERP menggunakan database yang secara tipikal menyimpan setiap data sekali saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Sistem ERP memungkinkan mengakses data secara waktu nyata (real time)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Dalam beberapa hal sistem ERP memungkinkan perpaduan proses transaksi dan kegiatan perencanaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Untuk mengetahui bagaimana Sistem ERP dapat membantu Sistem operasi sekolah, mari kita perhatikan suatu kasus kecil seperti di bawah ini:&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Contoh 1. :&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Untuk pelaksanaan ujian semester membutuhkan data ruang, jadwal ujian, jadwal pengawas, dan administrasi siswa. Jadwal ujian dan jadwal pengawas disusun oleh bagian kurikulum, sedangkan data siswa yang berkaitan dengan penempatan ruangan dan nama siswa tiap ruang ditentukan oleh bagian kesiswaan. Jika data siswa per ruang terlambat, maka data pengawas tiap ruang tidak dapat segera disusun karena jumlah ruang belum jelas, tergantung pada pembagian yang dilakukan oleh kesiswaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dari kasus ini dapat dilihat siapa yang belum beres, dan membuktikan bahwa dalam sistem ERP keterlambatan atau ketidakberesan satu pihak berakibat sistem tidak dapat bekerja dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Contoh 2.:&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Siswa yang administrasi keuangan sebagai prasyarat ujian belum terpenuhi, maka data lolos seleksi tidak dapat masuk ke daftar peserta ujian , sehingga secara otomatis tidak ada nomor kursinya. Untuk itu dicross cek melalui APM untuk mengetahui sebab tidak adanya nomor kursi bagi siswa tersebut .&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Gambar ERP &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mekanisme Kerja ERP Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9.5pt; line-height: 200%; font-family: TimesNewRoman;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:396pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\MALHIK~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\03\clip_image001.jpg" title="SKMBRA"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/MALHIK%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="291" width="528" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Bagaimana ERP menentukan kelancaran dalam pembelajaran di MA Alhikmah 2?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Tujuan utama dari program intranet ini tidak semata-mata sebagai ajang alih teknologi namun lebih pada pembelajaran bagi &lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt; malhikdua. Pemanfaatan intranet tidak terbatas pada guru dan siswa namun lebih luas lagi bagi seluruh keluarga pondok pesantren alhikmah 2. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Bentuk implementasi intranet diawali dengan sosialisasi kepada stakeholder malhikdua tentang kehadiran dan manfaat dari intranet. Tim pengelola intranet selanjutnya membuat edaran kepada siapa saja untuk memanfaatkan intranet, dan tentu saja diawali dengan pelatihan karena tidak semua stakeholder malhikdua familiar dengan komputer. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Langkah berikutnya adalah membentuk &lt;i&gt;unit layanan&lt;/i&gt; yang bertujuan menerima pesanan informasi bagi siapa saja. Kompilasi dari pesanan selanjutnya diserahkan kepada &lt;i&gt;tim produksi&lt;/i&gt; malhikdua untuk mencari sumber baik melalui engine search maupun mencari di media lain. Selanjutnya informasi tersebut (hasil pencarian) di upload di mesin-mesin APM (Acces Machine Point).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Selanjutnya pemesan dapat mendownload secara offline informasi yang dipesan melalui APM (Acces Point Machine) dan dapat meminta hard copynya karena disetiap APM dilengkapi printer.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Penempatan APM sebagai unit kontrol dan monitor jalannya ERP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Pembaca pasti telah mengenal dan sebagian besar telah memanfaatkan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). ATM dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang memiliki jaringan dengan ATM tersebut. ATM selalu diisi oleh pihak bank sejumlah uang tunai dan siapa saja yang berkepentingan dapat memanfaatkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Analog dengan konsep ATM, APM juga didesain seperti ATM baik dari segi fisik maupun dari segi kemanfaatan. Bedanya ATM terhubung dengan satelit sedangkan intranet tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 200%;"&gt;Dalam pembuatannya terjadi &lt;i style=""&gt;sharing resources&lt;/i&gt; antarprogram keterampilan di malhikdua. Box intranet didesain dan dibuat oleh program keterampilan pengelasan di malhikdua, dan jaringan disusun oleh tim program keterampilan komputer.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Yang bisa dilihat di APM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;Isi APM tidak terbatas, tergantung pesanan dari user. Meskipun demikian pengelola mengupload menu utama bagi guru dan siswa berupa: silabus pelajaran, RPP (Rencana program Pembelajaran), kalender pendidikan, dan artikel-artikel pendidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;APM juga dapat menjadi ajang komunikasi dua arah antarsiswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan guru dengan guru. Bahkan APM juga dapat berisi tugas dari guru, bahkan dapat sebagai media kritik demi mencapai tujuan-tujuan yang sesuai dengan perkembangan dinamis bagi keperluan pengembangan sekolah di masa datang yaitu fleksibilitas, akuntabilitas dan transparansi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Lebih rincinya ERP terbagi dalam berbagai Sistem Informasi yang semuanya akan terintegrasi saat dioperasionalkan, yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Profil (Portal Sekolah) : berisi Profil      Sekolah, Visi, Misi, Fasilitas, program-program, Berita/Artikel,      kegiatan/agenda, informasi kesiswaan, forum, galeri foto, dan buku tamu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Personalia : berisi Data Guru dan Staf untuk      mengelola informasi penting tentang tenaga pengajar maupun staf yang      terdaftar di sekolah, seperti biodata, pangkat, jabatan, alamat, status      bekerja, jam kerja, riwayat pendidikan, riwayat karir, riwayat pelatihan,      tingkat kehadiran, info gaji dan lain-lain&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Sarana dan Prasarana : berisi mengenai      Manajemen Aset sekolah mulai dari penomoran aset, lokasi aset, penggunaan      aset dan jumlah aset&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Keuangan : berisi data pembayaran biaya      pendidikan siswa, seperti SPP, uang pembangunan, dan biaya-biaya lain.      Data pembayaran tersebut akan ditampilkan dalam format laporan yang akan      memudahkan pihak sekolah dalam melakukan pemeriksaan dan evaluasi, seperti      : &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Laporan siswa yang belum melakukan pembayaran&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Laporan siswa yang sudah melakukan pembayaran&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Laporan-laporan yang berkenaan dengan honor       guru/karyawan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Siswa : berisi data Penerimaan Siswa Baru, Biodata      siswa, Pengelolaan Kenaikan Kelas Siswa (manual maupun otomatis),      Pengelolaan Kelulusan/Alumni, Pencetakan Kartu Siswa, dan Pengelolaan      Kedisiplinan Siswa&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Akademik : berisi Pengelolaan Kurikulum,      Penjadwalan Satuan Pengajaran, Pengelolaan Nilai Akademik Siswa dan      Laporan Hasil Studi Siswa, dan Presensi Siswa dalam kegiatan PBM&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem Informasi Perpustakaan : berisi Pengelolaan buku,      Pengelolaan anggota, Transaksi peminjaman dan pengembalian buku, dan      Manajemen Arsip Digital&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sistem E-Learning : berisi Proses pendidikan menggunakan      sistem online maupun intranet bagi siswa dan guru berupa modul sekolah,      tanya-jawab, kuis online, maupun tugas-tugas.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;Apa impact dari program tersebut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 200%;"&gt;Adapun beberapa keuntungan dari penggunaan sistem informasi terpadu dalam konsep ERP ini antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;ERP menawarkan sistem terintegrasi di dalam sekolah, sehingga proses dan pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;ERP tidak hanya memadukan data dan orang, tetapi juga menghilangkan kebutuhan pemutakhiran dan pembetulan banyak sistem komputer yang terpisah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;ERP memungkinkan manajemen mengelola operasi, tidak hanya sekedar memonitor saja. Dengan ERP, manajemen tidak hanya mampu untuk menjawab pertanyaan ’Bagaimana keadaan kita ?’ tetapi lebih-lebih mampu menjawab pertanyaan ’Apa yang kita kerjakan untuk menjadi lebih baik ?’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;ERP membantu melancarkan pelaksanaan manajemen supply chain dengan kemampuan memadukannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Salah satu alasan untuk menerapkan konsep ERP adalah untuk melakukan &lt;i&gt;empowerement&lt;/i&gt; terhadap manajemen dan karyawannya. Artinya, yang bersangkutan tidak perlu lagi membuang banyak waktu untuk melakukan proses-proses yang bersifat administratif (non value added activities), melainkan dapat lebih banyak meluangkan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang bersifat strategis, seperti: bagaimana mengembangkan perusahaan, bagaimana mencari sumber-sumber pendapatan baru, bagaimana mencari pelanggan lebih banyak, bagaimana menjalin hubungan lebih baik dengan mitra bisnis, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Hambatan pelaksanaan program ERP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Setiap terobosan baru memerlukan trial dan error yang bermuara pada kesempurnaan dan keberfungsian alat. Dari sisi SDM dibutuhkan individu yang tidak saja mampu secara teknik namun juga harus all out, karena semua proyek di malhikdua bersifat volunteer. Hambatan yang ada terdiri atas tiga yakni dalam proses pembuatan APM, perancangan program, dan menarik user untuk berpartisipasi aktif terhadap program intranet. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sampai saat ini yang telah kami lakukan baru pada tahapan penyediaan hardware berupa APM dalam setiap lantai, kompilasi data, blue print ERP. Untuk mengoptimalkan butuh jaringan WLAN, perangkat antena radio, dan lain-lain mengingat kondisi antar bangunan saling berjauhan. Kondisi tersebut tentu memerlukan dana yang tidak sedikit, namun cepat atau lambat akan kami realisasikan karena sudah menjadi bagian dari rencana strategis MA Alhikmah 2.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Pustaka :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial,Bold&amp;quot;;"&gt;ERP Infrastruktur Vital sebuah Industri, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;TimesNewRoman,Bold&amp;quot;; color: black;"&gt;Linawati, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: TimesNewRoman; color: black;"&gt;linawati@gmail.com, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: CalistoMT-Italic; color: blue;"&gt;http://lielien.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;TimesNewRoman,Bold&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Rubrik tanya jawab E-Business oleh &lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A.&lt;/span&gt;, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;The Worl is Flat (terjemahan), Thomas L. Friedman, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;: Dian Rakyat, 2006&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;www.ebizzasia.com&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-3152421562027865340?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/3152421562027865340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=3152421562027865340' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/3152421562027865340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/3152421562027865340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2008/11/pengelolaan-sekolah-terintegrasi-dengan.html' title='PENGELOLAAN SEKOLAH TERINTEGRASI DENGAN MENGGUNAKAN APM (ACCES POINT MACHINE) DI MADRASAH ALIYAH ALHIKMAH 2 BREBES'/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-993841962896381859</id><published>2008-10-26T15:31:00.001+07:00</published><updated>2008-10-26T15:31:51.858+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;RENCANA PEMBELAJARAN  No. 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pelajaran: Keterampilan Las   Kelas  : X (sepuluh)&lt;br /&gt;Materi : Logam non-ferro &amp;amp; bukan logam Waktu : 12 x 45 menit&lt;br /&gt;Semester : Genap     Tahun  : 2007-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Standar Kompetensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa dapat mengidentifikasi penerapan dan pengolahan berbagai macam bahan teknik melalui pengamatan dan latihan secara intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Indikator :&lt;br /&gt;1.   Menjelaskan 3 (tiga) macam pengelompokan bahan logam non-ferro.&lt;br /&gt;2. Menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam non-ferro berat dengan benar.&lt;br /&gt;3. Menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam non-ferro ringan dengan benar.&lt;br /&gt;4. Menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam mulia dengan benar.&lt;br /&gt;5. Menjelaskan 2 (dua) macam plastik dalam penerapan bahan teknik.&lt;br /&gt;6. Menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan 4 (empat) bahan isolasi&lt;br /&gt;7. Menjelaskan pengertian perlakuan panas dalam penerapan bahan teknik.&lt;br /&gt;8. Menjelaskan pengertian dan langkah penyepuhan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;9. Menjelaskan pengertian dan langkah pelunakan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;10. Menjelaskan pengertian dan langkah penormalan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;11. Menjelaskan pengertian dan langkah penemperan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kompetensi Dasar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siswa dapat menjelaskan 3 (tiga) macam pengelompokan bahan logam non-ferro.&lt;br /&gt;2. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam non-ferro berat dengan benar.&lt;br /&gt;3. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam non-ferro ringan dengan benar.&lt;br /&gt;4. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan logam mulia dengan benar.&lt;br /&gt;5. Siswa dapat menjelaskan 2 (dua) macam plastik dalam penerapan bahan teknik.&lt;br /&gt;6. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat dan penggunaan 4 (empat) bahan isolasi&lt;br /&gt;7. Siswa dapat menjelaskan pengertian perlakuan panas dalam penerapan bahan teknik.&lt;br /&gt;8. Siswa dapat menjelaskan pengertian dan langkah penyepuhan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;9. Siswa dapat menjelaskan pengertian dan langkah pelunakan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;10. Siswa dapat menjelaskan pengertian dan langkah penormalan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;11. Siswa dapat menjelaskan pengertian dan langkah penemperan dalam bahan teknik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ringkasan Materi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian logam non-ferro&lt;br /&gt;2. Pembagian logam non-ferro ada 3 (tiga) golongan logam berat, ringan dan mulia.&lt;br /&gt;3. Sifat-sifat dan kegunaan tembaga (Cu), seng (Zn), timbal (Pb) dan Nikel (Ni).&lt;br /&gt;4. Sifat-sifat dan kegunaan aluminium (Al) dan magnesium (Mg).&lt;br /&gt;5. Sifat-sifat dan kegunaan platina (Pt) dan emas (Au).&lt;br /&gt;6. Pembagian plastik ada 2 (dua) yaitu thermoplastik dan thermosetting.&lt;br /&gt;7. Sifat-sifat dan kegunaan thermoplastik dan thermosetting.&lt;br /&gt;8. Pembagian bahan isolasi ada 4 (empat) yakni plastik, asbes, gelas dan keramik.&lt;br /&gt;9. Sifat-sifat dan kegunaan plastik, asbes, gelas dan keramik.&lt;br /&gt;10. Pengertian perlakuan panas dalam penerapan bahan teknik.&lt;br /&gt;11. Pembagian perlakuan panas ada 4 (empat) yaitu penyepuhan, pelunakan, penormalan dan penemperan.&lt;br /&gt;12. Pengertian dan tujuan penyepuhan.&lt;br /&gt;13. Penyepuhan dengan kejutan.&lt;br /&gt;14. Penyepuhan permukaan.&lt;br /&gt;15. Pengertian pelunakan.&lt;br /&gt;16. Langkah-langkah proses pelunakan.&lt;br /&gt;17. Pengertian penormalan.&lt;br /&gt;18. Prosedur penormalan.&lt;br /&gt;19. Pengertian penemperan.&lt;br /&gt;20. Langkah-langkah dalam proses penemperan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Media Pembelajaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sampel tembaga, aluminium, emas, plastik, gelas, keramik dan asbes.&lt;br /&gt;3. Buku Ilmu Bahan&lt;br /&gt;4. Peralatan las oksi asetilin lengkap untuk perlakuan panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Metode / Strategi Pembelajaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tanya Jawab&lt;br /&gt;2. Demonstrasi&lt;br /&gt;3. Penugasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Skenario Pembelajaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian Materi Alokasi Waktu&lt;br /&gt;Siswa dan guru telah membawa buku Ilmu Bahan . Berdo’a dilanjutkan tanya jawab tentang masalah perkakas rumah tangga lingkungan sekitar ? Menit ke 0 – 15&lt;br /&gt;Pengertian logam non-ferro (bukan besi), pembagian, sifat-sifat dan kegunaan logam non ferro berat. Menit ke 16 – 60&lt;br /&gt;Pengertian logam non-ferro (bukan besi), pembagian, sifat-sifat dan kegunaan logam non ferro ringan. Menit ke 61 – 90&lt;br /&gt;Pengertian logam non-ferro (bukan besi), pembagian, sifat-sifat dan kegunaan logam mulia. Menit ke 91 – 120&lt;br /&gt;Pengertian dan pembagian 2 (dua) macam plastik dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 121 – 180&lt;br /&gt;Pembagian dan penerapan 4 (empat) macam bahan isolasi dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 181 – 220&lt;br /&gt;Pengertian perlakuan panas dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 221 – 240&lt;br /&gt;Pengertian dan langkah-langkah penyepuhan dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 241 – 310&lt;br /&gt;Pengertian dan langkah-langkah pelunakan dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 311 – 380&lt;br /&gt;Pengertian dan langkah-langkah penormalan dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 381 – 450&lt;br /&gt;Pengertian dan langkah-langkah penemperan dalam penerapan bahan teknik. Menit ke 451 – 520&lt;br /&gt;Ulangan harian Menit ke 521 – 540&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jenis Tagihan              : Ulangan harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bentuk Instrumen        : Uraian singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Instrumen                     :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebutkan logam ferro dan nonferro beserta contohnya !.&lt;br /&gt;2. Apa perbedaan termo plas dan termo setting?.&lt;br /&gt;3. Jelaskan mekanisme penyepuhan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Catatan Kepala Madrasah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brebes, 31 Agustus  2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala MA Al Hikmah 2,     Guru Mata Pelajaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Mukhlas Hasyim, M.A.     Barnawi, S.Pd, M.S.I&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5330969638581365162-993841962896381859?l=djejak-pro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djejak-pro.blogspot.com/feeds/993841962896381859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5330969638581365162&amp;postID=993841962896381859' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/993841962896381859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5330969638581365162/posts/default/993841962896381859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djejak-pro.blogspot.com/2008/10/rencana-pembelajaran-no_26.html' title=''/><author><name>Barnawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04400909804504494877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_UqToZ-GYYs4/TCdJaEdB89I/AAAAAAAAABc/9pOh9s14SGY/S220/Pak+Bram.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5330969638581365162.post-926969952773081824</id><published>2008-10-26T15:29:00.000+07:00</published><updated>2008-10-26T15:30:37.932+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;MAN BREBES 2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 17pt;"&gt;PROGRAM KETEMAPILAN DI MA AL HIKMAH 2 BENDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin-left: 108pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Mata Pelajaran&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Keterampilan Las&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Kelas&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: X (sepuluh)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Semester&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Genap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Tahun &lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: 2006-2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;Alokasi waktu&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: 12 x 45 menit tiap minggu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 484.95pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="647"&gt;  &lt
