RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)

MAN BREBES 2

PROGRAM KETERAMPILAN DI MA AL HIKMAH 2 BENDA

Mata Pelajaran : Keterampilan Las

Kelas : X (sepuluh)

Semester : Gasal

Tahun : 2007-2008

Alokasi waktu : 12 x 45 menit tiap minggu

No

Materi Pembelajaran

Minggu ke

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1.

Kerja Bangku Dasar

X










2.

Gambar Teknik Dasar


X









3.

Bahan Logam



X








4.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja




X







5.

Las Busur Manual





X






6.

Praktik Kerja Bangku Dasar





X

X





7.

Praktik Gambar Teknik Dasar







X

X



8.

Penyalaan Las Busur Manual









X

X

No

Materi Pembelajaran

Minggu ke

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

9.

Sambungan Las Busur Manual

X

X

X

X







10.

Pembuatan Benda Sederhana





X

X

X

X



11.

Pemeriksaan dan Pengujian Hasil Las









X

X

Brebes, 16 Juli 2007

Mengetahui

Kepala MA Al Hikmah 2, Guru Mata Pelajaran,

H. Mukhlas Hasyim, M.A. Barnawi, S.Pd, M.S.I

NIP. 150295825

RENCANA PEMBELAJARAN No. 4

Mata Pelajaran : Keterampilan Las Kelas : X (sepuluh)

Materi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Waktu : 12 x 45 menit

Semester : Gasal Tahun : 2007-2008

· Standar Kompetensi :

Siswa dapat menggunakan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja

· Indikator :

1. Keselamatan kerja

2. Empat jenis rambu-rambu keselamatan kerja

3. Sikap yang diterapkan di tempat kerja.

4. Syarat-syarat peralatan keselamatan kerja.

5. Sebab-sebab kecelakaan kerja.

6. Akibat yang ditimbulkan karena kecelakaan kerja.

7. Pencegahan kecelakaan kerja.

8. Jenis kecelakaan kerja.

9. Cara pencegahan pendarahan pada hidung.

10. Pertolongan terhadap luka bakar akibat benda kerja.

11. Bahaya yang ditimbulkan oleh pengelasan

12. Cara pencegahan terhadap bahaya listrik

· Kompetensi Dasar :

  1. Siswa dapat menuliskan pengertian keselamatan kerja sesuai dengan referensi.
  2. Siswa dapat menyebutkan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja
  3. Siswa dapat mengidentifikasi empat jenis rambu-rambu keselamatan kerja
  4. Siswa dapat mengidentifikasi sikap yang diterapkan di tempat kerja.
  5. Siswa dapat mengidentifikasi syarat-syarat peralatan keselamatan kerja.
  6. Siswa dapat mengidentifikasi sebab-sebab kecelakaan kerja.
  7. Siswa dapat menyebutkan akibat yang ditimbulkan karena kecelakaan kerja.
  8. Siswa dapat menjelaskan pentingnya pencegahan kecelakaan kerja.
  9. Siswa dapat menjelaskan jenis kecelakaan kerja.
  10. Siswa dapat menyebutkan cara pencegahan pendarahan pada hidung.
  11. Siswa dapat menyebutkan cara pertolongan terhadap luka bakar akibat benda kerja.
  12. Siswa dapat menjelaskan bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya pengelasan
  13. Siswa dapat menjelaskan cara pencegahan terhadap bahaya listrik

· Ringkasan Materi :

1. Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja

a. Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja

b. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja.

c. Sasaran keselamatan dan kesehatan kerja.

d. Rambu-rambu keselamatan kerja.

e. Keselamatan pada tempat kerja.

f. Peralatan keselamatan kerja.

2. Fakta-fakta keselamatan dan kesehatan kerja

a. Pentingnya keselamatan kerja.

b. Sebab-sebab terjadinya kecelakaan kerja.

c. Dampak kecelakaan kerja

d. Pentingnya mencegah terjadinya kecelakaan kerja

3. Pertolongan pertama pada kecelakaan

a. Jenis-jenis kecelakaan di tempat kerja.

b. Pemberian pertolongan pada kecelakaan

4. Bahaya dalam pengelasan

a. Sinar cahaya las

b. Pencegahan kecelakaan karena sinar.

c. Debu dan asap las

d. Gas dalam asap

e. Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap.

f. Benda panas.

g. Bahaya listrik

· Media Pembelajaran :

1. Buku Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

2. Peralatan keselamatan kerja di bengkel.

3. Peralatan PPPK

· Metode / Strategi Pembelajaran :

1. Tanya Jawab

2. Demonstrasi

3. Penugasan

· Skenario Pembelajaran :

Uraian Materi

Alokasi Waktu

Siswa dan guru telah membawa buku Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Guru membuka dengan salam, dilanjutkan berdoa. Guru melakukan apersepsi tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

Menit ke 0 – 10

Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja

Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja.

Menit ke 11 – 20

Sasaran keselamatan dan kesehatan kerja.

Rambu-rambu keselamatan kerja.

Keselamatan pada tempat kerja.

Peralatan keselamatan kerja

Menit ke 21 – 50

Pentingnya keselamatan kerja.

Sebab-sebab terjadinya kecelakaan kerja.

Dampak kecelakaan kerja

Pentingnya mencegah terjadinya kecelakaan kerja

Menit ke 51 – 100

Jenis-jenis kecelakaan di tempat kerja

Menit ke 101 – 145

Praktik pertolongan pada pendarahan hidung

Menit ke 146 – 160

Praktik pertolongan karena shock

Menit ke 161 – 200

Praktik pertolongan karena luka bakar

Menit ke 201 – 450

Sinar cahaya las

Pencegahan kecelakaan karena sinar.

Debu dan asap las

Menit ke 451 – 470

Gas dalam asap

Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap.

Benda panas. Gas dalam asap

Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap.

Menit ke 471 – 500

Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap.

Benda panas.

Bahaya listrik

Menit ke 501 – 515

Post test

Menit ke 516 – 540

· Jenis Tagihan : Ulangan harian

· Bentuk Instrumen : Uraian singkat

· Instrumen :

1. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah ….

2. Gambarkan dan jelaskan ciri-ciri dari rambu-rambu keselamatan kerja

3. Sebutkan hal-hal yang harus diperhatikan di tempat kerja.

4. Sebutkan penyebab terjadinya kecelakaan kerja di tempat kerja.

5. Jika terjadi pendarahan terhadap hidung, maka usaha yang dapat dilakukan untuk mencegahnya adalah….

6. Pada pemberian pertolongan pada luka bakar hal-hal yang boleh dilakukan adalah…

7. Sebutkan cara mengatasi asap dan gas akibat pengelasan !

· Catatan Kepala Madrasah :

Brebes, 27 Juli 2007

Kepala MA Al Hikmah 2, Guru Mata Pelajaran,

H. Mukhlas Hasyim, M.A. Barnawi, S.Pd, M.S.I


MANFAAT BLOG SEKOLAH DALAM MEMONITORING HASIL SISWA

Akhir-akhir ini blog sangat menjamur di dunia internet. Sekarang ada lebih 10 juta blog yang bisa ditemukan di Internet. Dan masih bisa berkembang lagi, karena saat ini sudah banyak sekali software, tool, dan aplikasi Internet lain yang mempermudah para blogger (sebutan pemilik blog) untuk merawat blognya.

Sebenarnya apakah blog itu? Blog adalah kependekan dari web dan log. Log adalah simpanan, merupakan kata yang sering dipakai baik dalam dunia komputer (data log) hingga urusan belanja (logistik). Simpanan emosi/jiwa manusia dikeluarkan menjadi sebuah uneg-uneg, dan karena penyampaiannya lewat media web maka dinamakan weblog, atau disederhanakan lagi menjadi Blog. Jadi Istilah weblog, merunut dari sejarah awanya, digunakan untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan adanya komentar-komentar mereka sendiri. Dengan blog siapapun bisa menjadi penulis, paling tidak untuk dirinya sendiri. Blog bisa menjadi sebuah diary yang ditulis setiap saat dan dimana saja sepanjang bisa koneksi internet.

Ngeblog ato bikin blog di dunia maya seolah menjadi trendsetter bagi kebanyakan orang. Jika dulu punya email sudah cukup menjadi kebutuhan, sekarang trend berpihak kepada Blog. Orang muda, orang tua, orang kota, orang desa, artis, selebrity, kuli tinta, mahasiswa, hingga pelajar telah memiliki blog dengan berbagai ragam tujuannya. Sebagian karena gengsi tapi kemudian berlanjut menjadi kebutuhan setelah banyak manfaat yang diambil. Setidaknya aada beberapa hal yang bisa kita ambil manfaatnya dari blog :

  • sebagai sarana untuk menuangkan ide pikiran ataupun kreatifitas seseorang
  • wadah untuk berbagi dengan keluarga, sahabat yg terpisahkan oleh jarak
  • sebagai sarana untuk promosi dlm rangka memasarkan produk2 yg kita tawarkan
  • sebagai tempat cadangan untuk menyimpan file pribadi baik itu foto, video, dokumen dll.
  • sebagai media korespondsi dengan sahabat, keluarga jauh, handai taulan dan lainnya. Dari media ini blogger bisa mengobati rasa kangen dengan meng-upload foto-foto ke blog dan tinggal mengabarkan alamat blog kepada kerabat tersebut.

Ramainya populasi blog dalam ranah online tak lepas dari karakter blog itu sendiri. Blog menjadi sarana luapan paling efektif daripada media lain yang terbatas. Blog mampu melewati berbagai lintas tujuan dan manfaat seperti diatas. Karakter ini tercermin dari apa yang diberikan oleh fasilitas editor blog berbasis grafis. Semua media blog memberi fasilitas yang sangat minimal, hanya pemberi ketebalan, tanda kutipan, urutan, dan coretan. Ini tak lepas dari sifat blog yang berangkat dari kejujuran penulisnya ketika tanpa malu lagi mencoret kalimat yang salah tanpa harus menghapusnya. Seorang blogger harus berani menandai sebuah kutipan jika memang kalimat tersebut bukan miliknya.

Blog bukanlah merupakan karya tulis, karya ilmiah, atau jurnalistik. Walau begitu, banyak kaum jurnalis yang memanfaatkan blog untuk menunjukkan kebagusan tulisannya. Karena dari Blog segalanya bisa berawal hingga akhirnya berbagai macam jenis blog bisa ditemukan, mulai dari Blog Politik yang berisi tentang berita, politik, aktivis, dan semua persoalan berbasis blog (seperti kampanye). Blog pribadi yang seringkali disebut sebagai buku harian online yang berisikan tentang pengalaman keseharian seseorang, keluhan, puisi atau syair, gagasan jahat, dan perbincangan teman. Blog bisnis, yang digunakan oleh pegawai atau wirausahawan untuk kegiatan promosi bisnis mereka, hingga blog pendidikan yang umumnya ditulis oleh pelajar atau guru.

Terkait dengan jenis blog pendidikan, blog bisa menjadi sarana menuangkan ilmu. Blog bisa menjadi media pembelajaran. Blog bisa juga menjadi sarana berbagi ilmu, karena dalam blog seseorang bisa memberikan komentar pada tulisan kita. Penerapan blog untuk bidang pendidikan sangatlah membantu proses pembelajaran. Dengan memaksimalkan pemanfaatan blog dalam di bidang pendidikan diharapkan menjadi media yang dapat mengangkat citra dan kompetensi pendidik dibidangnya. Seperti yang dikatakan oleh Direktif”
…, jika memang ada mata pelajaran menulis di Internet, mulailah dengan rasa kecintaan akan menulis, kemauan akan berbagi ilmu pengetahuan, keindahan bercakap-cakap antarmanusia, dan suka cita gairah menyambut sikap saling menghargai antarsesama.

Unsur utama dari Blog adalah tulisan, selebihnya grafis, sound, dan lain-lain. Dengan keberanian menulis di blog tentunya menjadi ajang monitoring banyak orang, terlebih oleh tenaga pengajar di sekolah itu sendiri. Siswa yang sudah terkontaminasi jaman oleh budaya sms yang merusak bahasa bisa berangsur mulai membenahi tulisannya, dari semula yang banyak coretan di Blognya hingga menjadi bersih sesuai dengan bahasa yang baik dan benar.

Etika Ngeblog
Menjadi blogger memang berada pada posisi independent, namun posisi tersebut tidaklah bebas nilai dan norma. Ada beberapa kasus blogger yang masuk penjara karena menulis sembarangan dan serampangan yang merugikan orang lain sehingga bermasalah dengan hukum. Untuk itu blogger harus berhati-hati jika mau mengulas dan menulis orang lain atau kebijakan orang lain karena tulisan tersebut rentan dengan permasalahan hukum.
Adanya blog adalah lahan subur bagi siapa saja yang penting memegang etika.

Antara Kognitif dan Metakognitif

ANTARA KOGNITIF DAN METAKOGNITIF

Barnawi

Dalam pembelajaran, kata kognitif selalu dikaitkan dengan ranah psikomotorik dan afektif. Ranah kognitif dipandang sebagai ranah yang paling sederhana, sekedar hafalan atau pengertian secara redaksional. Sedangkan ranah psikomotorik disederhanakan sebagai skill yang bersifat prosedural, dan afektif diidentikkan dengan value, nilai yang tercermin dari perilaku. Domain kognitif sesungguhnya tidak sedemikian sederhana, di dalamnya terkandung apa yang dinamakan cognitive strategies (strategi kognitif) yang merupakan kemampuan tertinggi dari domain kognitif.

Strategi kognitif menurut Gagne (dalam Paulinna Panen, dkk, 2001) merupakan kemampuan internal yang terorganisasi yang dapat membantu individu dalam proses belajar, proses berfikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Strategi kognitif setiap individu tentunya berbeda dan unik. Setiap permasalahan tentunya akan dipandang secara berbeda-beda oleh setiap individu dan tentunya akan dicari solusi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat executive control (kontrol tingkat tinggi) yang dimilikinya.

Adanya executive control sejatinya dapat membentuk insan yang otonom dalam pemikiran, mandiri, dan tidak bergantung. Otonom karena setiap entitas atau suatu konsep ilmu akan dieksekusi dengan polanya sendiri, mandiri karena pemikirannya inheren dengan kediriannya, dan tidak bergantung karena pengetahuan yang dimiliki merupakan hasil konstruksinya. Individu yang otonom dan mampu menyelesaikan persoalan konseptual maupun kontekstual menandakan bahwa yang bersangkutan telah menguasai strategi kognitif, dan kemampuan tersebut jika dikelola nantinya dapat menjadi embrio terwujudnya insan cendikia.

Perbedaan strategi kognitif dan metakognitif

Strategi kognitif merupakan aktivitas yang dilakukan dalam menyelesaikan persoalan baik konseptual maupun kontekstual, sedangkan strategi metakognitif merupakan informasi mengenai aktivitas atau kemajuan yang dicapai. Strategi kognitif membantu dalam mencapai tujuan, sedangkan strategi metakognitif memonitor kemajuan yang dicapai (M. Clarawesti, Kompas 12 Februari 2006). Dengan demikian metakognitif merupakan landasan bagi strategi kognitif itu sendiri.

Menurut Preisseisen (dalam Paulinna Panen, dkk, 2001) , metakognisi terdiri atas empat keterampilan yakni problems solving, decision making, critical thinking, dan creative thinking. problems solving merupakan kemampuan individu dalam memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan yang paling efektif. Untuk menjadi problems solver yang handal dibutuhkan jam terbang yang tinggi, dan di sini diperlukan penguasaan metode keilmuan sebagai pisau bedah terhadap masalah yang dihadapi.

Decision making merupakan kemampuan individu untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari berbagai pilihan yang ada. Keputusan yang diambil tentunya berdasar pengalaman atau informasi, pertimbangan etika dan tata nilai, dan disertai alasan-alasan rasional. Kemampuan dalam decision making dapat menggambarkan tingkat kematangan dan kebijaksanaan seseorang. Critical thinking merupakan kemampuan individu untuk berfikir kritis dalam menanggapi suatu konsep, pendapat, dan kebijakan. Berfikir kritis tentunya mendasarkan pada logika rasional, dan mampu membaca kesenjangan antara konsep dengan realitas, antara das solen dengan das sein atau menganalisis dengan mendasarkan pada sesuatu yang sifatnya given dari Tuhan.

Creative thinking merupakan kemampuan individu untuk berfikir kreatif atau mencipta dan memodifikasi sesuatu yang baru dengan mendasarkan pada konsep-konsep, hukum-hukum, logika, dan intuisi yang dimiliki. Keempat keterampilan tersebut merupakan satu-kesatuan yang terintegrasi, artinya pada saat seseorang memecahkan masalah maka dengan sendirinya individu tersebut telah melakukan tindakan pengambilan keputusan berdasarkan nalar kritisnya dan dikreasi dengan dirinya.

Melatih Metakognitif pada Anak

Kemampuan individu dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan, berfikir kritis, dan berfikir kreatif merupakan produk pendidikan. Alasannya adalah bahwa setiap perilaku baik dalam berfikir maupun bertindak adalah konstruksi dari pendidikan, baik pendidikan formal, informal, maupun gabungan keduanya. Untuk itu dalam praksis pendidikan semestinya menggunakan pendekatan keterampilan proses, problem based learning, dan mendorong siswa untuk aktif.

Pendekatan keterampilan proses dan problem based learning semestinya dilakukan sejak pendidikan dini usia atau sejak anak memasuki dunia pendidikan formal. Sebagai contohnya adalah anak dilatih untuk merefleksikan kejadian yang baru dialami, merefleksikan bacaan yang selesai dibaca, dan tentunya dikemas menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tanpa tekanan. Di sini diperlukan home schooling di mana rumah menjadi arena belajar, dan orang tua intens dalam membimbing anak.

Dalam banyak kejadian pendidikan kita gagal dalam mewujudkan insan yang mampu menjadi problems solver, pengambil keputusan yang bijak, insan yang kritis, dan insan yang kreatif. Bahkan pendidikan kita sering menjadi media “aborsi” bagi embrio insan-insan unggul karena sistem yang belum jelas dan tradisi yang jauh dari nuansa ilmiah, untuk itu diperlukan perhatian yang serius dalam membangun metakognitif bagi generasi mendatang.

istighasah hadapi un, perlu?

Tanggal 22 – 24 April siswa tingkat akhir SMA/MA/SMK menghadapi Ujian Nasional, dan tanggal 5 – 8 Mei nanti siswa tingkat akhir SMP/MTs akan menghadapi Ujian Nasional juga. Hajat nasional ini menarik untuk dicermati dalam banyak sudut pandang, dan salah satunya adalah kesiapan setiap sekolah dalam menghadapi ujian Nasional.

Ujian Nasional benar-benar menguras energi seluruh stakeholder sekolah. Guru, wali murid, dan siswa dibuat paranoid oleh ujian akhir yang dijadikan gerbang kelulusan. Kelulusan telah menjadi harga mati dalam dunia pendidikan di tanah air, tidak lulus adalah sebuah kecelakaan sejarah (historical accident) bagi pelakunya.

Ujian Nasional disikapi secara reaktif dan berlebih-lebihan oleh dunia pendidikan di tanah air. Berbagai kiatpun ditempuh agar sukses. Tak peduli apakah itu lulus atau lolos, yang penting passing grade nya terpenuhi.

Guru sebagai ujung tombak menyiapkan serentetan program, dan siswa menjadi objek dari program itu. Tak peduli siswa over load atau tidak diotaknya yang penting show must go on. Maka tak salah jika yang nampak akhir-akhir ini adalah wajah stress dunia pendidikan di tanah air.

Guru selalu menyampaikan tiga resep jitu untuk sukses menghadapai ujian nasional. Resep yang pertama adalah membangun kecerdasan intelektual. Resep ini diterjemahkan dengan aktifitas pengedrilan soal menjelang ujian nasional. Guru dan siswa menjadi kolektor soal-soal ujian nasional di beberapa tahun sebelumnya. Soal dikupas tuntas dengan asumsi soal ujian nasional yang akan datang mirip dengan soal ujian nasional ditahun-tahun sebelumnya. Dalam resep ini sejatinya guru telah memberi resep yang salah, sebab pendidikan diterjemahkan sebagai pengajaran an sich.

Resep yang kedua adalah melatih kecerdasan emosional. Dalam resep ini guru melatih siswa bagaimana untuk tenang dan tidak gugup menghadapi ujian nasional. Guru membekali siswa bagaimana bersikap santun terhadap pengawas ruang ujian nasional dan bagaimana memanfaatkan situasi yang ada.

Dan resep yang ketiga adalah membangun kecerdasan spiritual. Bentuk penerapan resep yang ketiga ini bermacam-macam. Ada yang pensilnya dimintakan doa kepada orang yang dianggap linuwih, ada yang meminta jampi-jampi agar pengawasnya “lunak”, ada yang ke makam guru atau kepala sekolahnya yang telah meninggal, dan ada pula yang menggelar istighasah. Model ketiga (istighasah) merupakan model yang paling banyak dilakukan oleh sekolah.

Istighasah bukanlah sesuatu yang salah, sebab pada hakikatnya istighasah merupakan permintaan tolong manusia kepada Sang Khaliq. Namun istighasah idealnya dilakukan ketika manusia dalam keadaan tersudut (kepepet) sehingga istighasah dijadikan sebagai senjata pamungkas ketika kita tidak berdaya.

Dalam konteks Ujian Nasional sebetulnya siswa tidak dalam keadaan terpojok, sebab siswa mempunyai waktu untuk belajar selama tiga tahun. Terlebih kisi-kisi sudah diberikan sehingga kesempatan untuk berhasil sangatlah besar. Namun pada kenyataannya baik guru maupun siswanya merasa tersudut sehingga istighasah menjadi sesuatu yang mutlak dilaksanakan. Sejatinya perasaan minder menghadapai ujian nasional memberi energi negatif bagi siswa. Mental ini menjadikan siswa cenderung menjadi pecundang dibanding menjadi pemenang. Alangkah lebih baik jika proses belajar dimaksimalkan plus doa baru pasrah (tawakal) kepada Sang Khaliq.

Logika versus magic

Ujian Nasional yang substansinya berada pada tataran logika dan nalar mengalami deviasi. Ranah magic ikut larut dalam hajat ini. Logika telah keblinger. Dengan atas nama sugesti, magic dipertaruhkan untuk melawan logika. Tiba-tiba siswa memperoleh kultur baru, magic menjadi budaya generasi kita. Siapa yang salah?!.

Ibarat pertandingan sepakbola Ujian Nasional adalah partai derby hidup dan mati bagi peserta didik. Guru dan orang tua adalah pemain kedua belas yang banyak mempengaruhi proses tersebut. Dalam partai final yang menentukan ini tentu membutuhkan sugesti agar mantap dalam bertanding. Istighasah adalah bentuk membangun sugesti, namun memintakan doa kepada orang yang dianggap linuwih, meminta jampi-jampi agar pengawasnya “lunak”, adalah sesuatu yang kurang tepat dalam konteks Ujian Nasional.

Sugesti terbaik adalah belajar

Sugesti memang dibutuhkan bagi siapapun, terlebih dalam bertanding atau dalam ujian. Sugesti memberi energi yang mampu melawan ketidakyakinan dan keraguan. Namun sugesti tentunya tidak sembarangan, apalagi berbau magic. Sugesti yang terbaik yang kita ajarkan kepada siswa adalah belajar. Sebab dengan belajar ada proses komprehensif, tidak sebatas pada penguasaan materi sebagai bekal menghadapi Ujian Nasional namun juga memberi energi mental bertanding kepada siswa. Kemampuan menguasai materi sebagai hasil proses belajar yang tekun sesungguhnya linier dengan kepercayaan diri dalam menghadapi ujian nasional. Namun siswa sebagai manusia tentu juga harus kita ajarkan bahwa hakikatnya manusia bukanlah apa-apa sehingga pertolongan Sang Khaliq mutlak diperlukan.

sertifikasi guru dan bisnis sertifikat

Sertifikasi guru telah menyihir guru. Tunjangan profesional sebesar gaji pokok menjadi daya magnet yang luar biasa. Di ruang guru, bahkan di angkot, jika para guru bertemu topik yang dibicarakan tidak jauh dari program sertifikasi guru. Bagi guru, program sertifikasi bak angin surga, sepoi-sepoi dan mengenakkan, bahkan meninabobokkan.

Sertifikasi guru sebagai gerbang profesionalisme guru juga menarik banyak pihak. Tidak hanya guru sebagai pihak yang berkepentingan langsung dengan program pemerintah tersebut, namun juga EO (Even Organizer), pejabat yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dosen, bahkan asesor. Sertifikasi seakan telah menjadi “mainan baru” banyak pihak.

Bukti dari pernyataan di atas adalah maraknya tentang seminar sertifikasi guru di berbagai kota, bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Jika seminar itu sebagai sebuah sosialisasi bagi para guru di wilayah terpencil itu akan bernilai positif, namun jika sebagai ladang bisnis dan membodohkan atau membodohi guru maka akan bernilai negatif dan menyakitkan.

Lebih tragis lagi dengan terang-terangan bahkan diiklankan pada media masa, sebuah seminar pendidikan menyediakan dua sertifikat sekaligus dalam sekali seminar. Alasannya nara sumbernya ada dua. Seminar macam apa ini ?. Jika model ini terus berlangsung bisa jadi sehari memperoleh sepuluh sertifikat jika nara sumbernya ada sepuluh.

Bahkan di beberapa lembaga pemerintah yang berkaiatan langsung dengan dunia pendidikan seringkali melakukan latihan sertifikasi alias latihan pemberkasan dan tentu memungut biaya yang tidak sedikit. Pada hal tanpa ikut itu semua sudah ada panduan yang jelas tentang pemberkasan yang berisi portofolio guru.

Hilangnya idealisme

Tanpa disadari atau sebenarnya sadar tetapi kita pura-pura tidak menyadari bahwa fenomena di atas menghilangkan idealisme banyak pihak. Seminar yang semestinya kegiatan ilmiah berubah menjadi pasar yang menjajakan sertifikat, bahkan boleh dibilang obral sertifikat. Kaum intelektual seperti dosen yang mestinya memberi pencerahan berubah fungsi menjadi jursem (juru seminar) yang menjajakan makalah usang kepada guru atas nama panggilan intelektual. Dan guru yang mestinya hari itu mengajar, lebih asyik mengikuti seminar dengan mengatasnamakan pengembangan profesi.

Bahkan setiap kali ada penyelenggaraan seminar tentang sertifikasi guru peserta luar biasa banyak sehingga panitia kewalahan. Akibatnya banyak peserta tidak masuk ruang seminar, cukup tanda tangan dan ambil snack, sertifikat seminggu kemudian keluar.

Kejadian-kejadian di atas mengindikasikan bahwa dunia intelektual kita sedang lesu darah, kehilangan ruh intelektual. Yang paling untung adalah (Even Organizer) karena mendapatkan banyak proyek, banyak acara, dan tentu banyak keuntungan. Terlebih acara tersebut berbau ilmiah, melibatkan pakar dan guru sehingga perizinannya mudah, pihak keamanan pun tanpa berfikir panjang akan memberi izin acara sekelas seminar..

Maka tidak mengherankan jika banyak LSM pendidikan ataupun institusi yang menyatakan dirinya concern pada dunia pendidikan sedang meraup banyak keuntungan atas program sertifikasi ini. Banyak acara dibuat, dari diklat kurikulum, diklat metode pembelajaran, diklat profesionalisme guru, dan masih banyak program lagi. Yang jelas semuanya menghasilkan sertifikat yang ada poinnya.

Jika fenomena yang mengandung pembodohan terselebung ini berjalan terus, ke depan bisa jadi fenomena yang lebih konyol terjadi. Misalnya seminar tingkat lokal dinyatakan regional (dalam sertifikatnya), seminar regional dinyatakan nasional, dan seminar nasional dinyatakan internasional. Hal ini sangat mungkin karena tingkatan seminar akan menentukan jumlah poin yang di dapat.

Semoga saja dunia pers tidak kehilangan idealisme sehingga tidak menjual artikel untuk diterbitkan, sebab artikel dalam media cetak juga ada poinnya

Pentingnya Kesadaran Profesi

Bagi guru, sertifikasi sebagai gerbang profesionalisme mestinya tidak dijadikan beban, sebab pekerjaan sebagai guru sejatinya adalah pekerjaan professional. Artinya dalam tugasnya sehari-hari sudah ada hak dan kewajiban yang melekat dalam profesinya.

Dengan demikian sebagai guru mestinya sadar akan kewajiban yang melekat dalam dirinya. Kewajiban untuk mengembangkan kemampuan akademiknya, kewajiban untuk tertib administrasi, tugas untuk penelitian (utamanya penelitian tindakan kelas), pengabdian pada masyarakat, dan lainnya.

Artinya jika sebagai guru menyadari tanggung jawab profesionalnya maka tidak perlu ke sana-kemari mengikuti seminar dadakan yang muncul seperti pasar tiban itu. Guru sudah sepantasnya tidak menjadi “mainan” banyak pihak, untuk itu sangat penting menyadari akan tugas profesionalnya.

Dengan kesadaran atas profesi yang dijalani maka ungkapan teaching is service akan menjadi kenyataan.

Sister School Antarumat Beragama, Perlukah ?

Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta pimpinan umat beragama membangun sinergi yang kuat antarumat melalui program kerja sama antarsekolah atau semacam sister school sekolah-sekolah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, atau Buddha (Kompas, 24 April 2008).

Permintaan Wakil Presiden tersebut dapat ditafsiri sebagai berikut: pertama; selama ini belum atau kurang adanya sinergi antarumat beragama, kedua; selama ini hasil pembelajaran agama di sekolah tidak membekas, yang di dapat sebatas kognitif saja, miskin implementasi nilai, ketiga; kondisi sekarang urgen untuk dilakukan sinergi antarumat beragama.

Kenyataan menunjukkan pasca orde baru negara kita memang rentan konflik sara. Tiba-tiba terjadi euforia primordial, kesukuan, dan pelampiasan dendam lama. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi pemilihan kepala daerah secara langsung. Simbol-simbol agama yang suci dijadikan alat untuk memenangkan kontestan pilkada. Truth claim (klaim kebenaran) semakin menjadi-jadi.

Kondisi sekarang sangat kontradiktif dengan sejarah keberagamaan di tanah air yang sangat toleran, mengedepankan assimilasi dan akulturasi, serta menafikkan klaim-klaim kebenaran. Realitas yang cenderung destruktif ini sudah seharusnya dikonstruk ulang sehingga ke depan semua pihak dapat bernostalgia dengan masa lalu keberagamaan kita yang toleran itu.

Salah satu cara adalah dengan revitalisasi pendidikan, sister school antarumat beragama merupakan gagasan yang brilian. Gagasan tersebut akan menjadi realitas jika semua pihak memiliki komitmen untuk mendesain model sister school antarumat beragama yang selanjutnya dilakukan desiminasi ke sekolah-sekolah. Dibutuhkan action plan yang matang agar gagasan itu tidak menguap begitu saja atau hanya indah dalam tulisan namun susah untuk diimplementasikan.

Sejatinya sebelum ide itu diungkapkan, telah ada wacana yang memang senafas dengan ide tersebut. Pluralisme dan multikulturalisme mendahului ide tersebut. Hanya saja terjadi multi tafsir terhadap kedua wacana tersebut. Terminologi kedua wacana yang tidak memiliki grandtheory menjadikan wacana tersebut menjadi bias. Akibatnya susah untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selalu ada curiga dan was-was dari masing-masing pihak umat beragama terhadap kedua ide tersebut. Bahkan dalam satu agamapun terjadi dikotomi antara yang konservatif dan yang liberal. Jika para pemimpin umat beragama saja masih multi tafsir, lalu bagaimana menjadikan ide sister school tersebut menjadi kenyataan ?.

Di sinilah pentingnya untuk kembali menyusun terminologi sehingga program sister school antarumat beragama benar-benar berbuah toleransi dan bukannya malah menjadikan siswa gamang akan keyakinannya atau mengganggap semua agama sama (global theology).

Menyusun kesamaan terminologi bukanlah pekerjaan yang mudah. Selama ini terminologi yang kita gunakan berangkat dari terminologi Barat, sedangkan terminologi Barat cenderung menolak kelompok transendentalis sebagaimana ide W.C. Smith dalam The Meaning and End of Religion (1960-an).

Demi Bangsa, bukan Demi Wacana

Niat membangun sister school antarumat beragama yang dimulai dengan kesamaan terminologi harus mengutamakan kemaslahatan, demi tanah air, bukan demi wacana. Kekurangberhasilan terhadap pluralisme dan multikulturalisme dapat dimaklumi karena kita gamang dengan kedua gagasan tersebut, disamping kita telah teracuni thesis-thesis Barat yang cenderung destruktif seperti thesis Samuel Huntington yang menyatakan politik global kontemporer adalah perang muslim, yang menggantikan posisi perang dingin sebagai konflik internasional. Kondisi sekarang diperparah oleh ide pembuatan kartun Nabi Muhammad SAW dan film berdurasi pendek yang bertitel Fitna.

Menghadapi polemik ini, para tokoh umat beragama harus hati-hati, tidak perlu reaktif. Yang penting untuk dilakukan adalah membangun komunikasi sejak dini dengan menanggalkan thesis-thesis yang kontradiktif.

Jika para pemimpin umat beragama di tanah air tidak lagi memandang thesis-thesis itu sebagai sebuah embrio kenyataan maka yang di dapat adalah berpikir jernih sehingga ide sister school antarumat beragama itu dapat direalisasikan.

Dalam posisi pikiran yang jernih maka kontekstualisasi ajaran dapat diimplementasikan. Yang perlu digaris bawahi adalah: untuk menjadi kontekstual agama tidak perlu meninggalkan aqidahnya. Artinya pendidikan agama harus menghasilkan siswa yang teguh dalam prinsip namun luwes (fleksibel) dalam penerapan. Jika outcome ini dicapai maka program sister school menjadi sesuatu yang mulia, sesuatu yang memberi kontribusi signifikan terhadap kerukunan antarumat beragama sehingga rakyat tidak lagi terkotak-kotak, terpecah-pecah hanya karena kontestan pilkada berbeda agama dan lain sebagainya.

Jika komitmen belum ada dan belum ditemukan terminologi serta konsep yang matang mengenai pluralisme dan multikulturalisme maka sister school antarumat perlu dikaji ulang sebab hanya akan menghasilkan siswa yang gamang, namun jika telah ada komitmen dan konsep yang matang, sangat mendesak program sister school untuk diimplementasikan.

Susahnya jadi guru sejarah

Pelajaran sejarah di sekolah seringkali dipandang sebelah mata oleh peserta didik. Pelajaran Sejarah dipandang tidak lebih dari ‘pelengkap derita’ yang menjadi beban pelajaran bagi peserta didik. Posisi ini menyulitkan guru sejarah sebab sangat sulit memberi pencerahan sejarah kepada peserta didik yang telah kehilangan motivasi belajar. Pelajaran Sejarah juga tidak di- Ujian Nasional- kan, sehingga semakin memposisikan pelajaran sejarah sebagai pelajaran kelas dua.

Kini (pasca orde baru) beban guru sejarah semakin bertambah. Terjadi perubahan dan diskursus tentang kebenaran sejarah. Bahkan dikalangan siswa tingkat Sekolah Menengah Atas semakin skeptis dengan kebenaran sejarah masa lalu bangsa Indonesia tercinta ini.

Siswa meragukan peristiwa G 30 S PKI, meragukan dan mempertanyakan posisi mantan Presiden Suharto, mempertanyakan Supersemar, dan lain sebagainya. Sementara di pihak guru sudah tertanam pemahaman yang sebaliknya, bagi sebagian guru peristiwa-peristiwa tersebut di atas adalah kebenaran sejarah, karena pelajaran di masa lalu -yang guru-guru peroleh- memang begitu adanya.

Keraguan-keraguan yang ada pada diri peserta didik sebetulnya energi bagi guru, utamanya guru sejarah, untuk memberi pencerahan peristiwa kepada peserta didik. Dalam konteks ini kita harus mengamini: siswa ragu maka siswa ada.

Yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana guru mengelola keraguan peserta didik tentang kebenaran sejarah ?. Tentu sangat tidak cukup hanya memberi apologi dalam mindset kebenaran sejarah yang kita(guru sejarah) anut.

Tjipta Lesmana (Kompas, 15 April 2008) dalam artikelnya yang berjudul HAM dan Kedewasaan Bangsa sedikit banyak memberi pencerahan kepada guru sejarah untuk merekonstruksi pembelajaran sejarah di kelas. Dalam artikel tersebut Tjipta Lesmana mengutip pendapat sejarawan Prancis abad ke -19 yakni F. Guizot yang menyatakan bahwa setiap masa (epoch) dapat dilihat dalam tiga sudut pandang.

Sudut pandang yang pertama adalah historical anatomy, yakni fakta seputar peristiwa sejarah, atau elemen material masa lampau. Sudut pandang yang kedua adalah historical physiology, yakni mengungkap hukum internal dan eksternal dibalik fakta yang diungkap. Dan yang ketiga adalah historical phisiognomy, yakni pengungkapan masa lampau dan masa kini.

Tentunya tiga sudut pandang yang menjadi kiat bagi guru untuk pencerahan sejarah kepada peserta didik sebagaimana teori F. Guizot di atas tidak mudah untuk dipraktikkan oleh guru sejarah di kelas. Alasannya, pertama; guru bukan pelaku atau saksi hidup peristiwa sejarah di masa lampau, guru hanya memperoleh dari text book versi pemerintah atau memperoleh narasi langsung dari rezim yang berkuasa, kedua; guru sejarah sedikit yang memiliki pemahaman hukum internal maupun eksternal yang berlaku atas peristiwa sejarah di masa lampau, ketiga; bagi sebagian besar guru sejarah, sejarah masa lalu telah tutup buku sehingga dikursus sejarah masa lalu selalu mengalami kuldesak (jalan buntu).

Menyadari realitas ini sudah semestinya guru sejarah mengupgrade kemampuan yang dimiliki atau melakukan approach by level (pendekatan dengan orang yang memiliki keahlian sesuai bidang kajian).

Guru sejarah harus kembali merenungkan fakta empiris peristiwa sejarah dan menggali meta realitas atas peristiwa sejarah yang terjadi. Guru sejarah juga harus belajar hukum internal dan eksternal atas peristiwa sejarah dengan pendekatan approach by level dan harus belajar untuk tidak truth claim (klaim kebenaran) atas pemahaman sejarah yang telah mendarah daging. Belajar dengan kaca mata jernih atas peristiwa sejarah penting untuk dilakukan karena sebagaimana F. Guizot bahwa sejarah bukan soal benar atau salah melainkan pada perspektif.

Melihat beban yang begitu banyak maka tidaklah mudah menjadi guru sejarah. Kini pelajaran sejarah bukan lagi kumpulan catatan peristiwa dimasa lalu yang mengandung unsur latar, tokoh, dan setting waktu yang harus dihafal oleh peserta didik untuk bekal menghadapi ujian akhir.

Pelajaran Sejarah sejatinya pelajaran yang komprehensif yang melibatkan kajian hukum, sosiologi, psikologi, dan tentu bernaung di bawah filsafat sebagai ibu ilmu pengetahuan (the mother of all science).

Inti dari pembelajaran sejarah di kelas adalah belajar meta realitas atas peristiwa sejarah yang terjadi untuk diambil nilai-nilai positif. Dengan pendewasaan sejarah kepada siswa maka debat kusir atas kebenaran sejarah di kelas tidak perlu lagi terulang.

Peristiwa sejarah selalu terkandung nilai (value bound) yang harus dipahami dan diaplikasikan oleh peserta didik dalam dunia nyata. Jika nilai ini benar-benar mendarah daging dalam diri peserta didik maka yang muncul adalah sikap toleran, tidak mudah menghakimi, dan open minded.

Sudah menjadi tugas guru (sejarah) untuk mengemban nilai-nilai sejarah yang tertuang dalam mata pelajaran sejarah sehingga terbentuk peserta didik yang memiliki virtues (kepribadian terpuji).

About Me

My photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam