Kinerja Guru

Kinerja merupakan terjemahan dari istilah Inggris, performance yang berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, atau hasil kerja/unjuk kerja/penampilan kerja (LAN, 1992). Wirawan (2001:13) menyatakan “kinerja sering juga disebut dengan kinetika kerja atau performance:, kinerja juga merupakan suatu fungsi dari hasil atau apa yang dicapai seorang karyawan dan kompetisi yang dapat menjelaskan bagaimana karyawan dapat mencapai hasil tersebut. Stoner (1992: 206) mengemukakan teori bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, ability (kemampuan) dan role perception (pemahaman peran) atau pemahaman seseorang atas tugas dan perilaku yang diperlukan untuk mencapai kinerja.
Menurut Mahmudi (2005:20 faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:
a. Faktor personal/individu, meliputi: pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki setiap individu.
b. Faktor kepemimpinan, melipiti: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan pemimpin.
c. Faktor tim, meliputi: semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama tim, kekompakan dan keeratan anggota tim.
d. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja dalam organisasi.
e. Faktor kontekstual (situasional) meliputi: tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.

Menurut Steers&Proter (1991) bahwa tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian kompensdasi yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat meraka bekerja. Pemberian kompensasi yang tidk tepat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Ketidaktepatan pemberian kompensasi disebabkan oleh (1), pemberian jenis kompensasi yang kurang menarik (2) pemberian penghargaan yang kurang tepat tidak membuat para pekerja merasa tertarik untuk mendapatkannya. Akibatnya para pekerja tidak memiliki keinginan meningkatkan kinerjanya untuk mendapatkan kompensasi tersebut.
Dalam rangka pen ingkatan kinerja, paling tidak ada tujuh langkah yang dapat dilakukan:
1. Mengetahui adanya kekurangan dalam kinerja
2. Mengenai kekurang yang ada dan tingkat keseriusannya
3. Mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menjadi penyebab kekurangan baik yang berhubungan dengan pegawai itu sendiri
4. Mengembangkan rencana tindakan tersebut
5. Melakukan evaluasi apakah masalah tersebut sudah selesai atau belum
6. Mulai dari awal, apabila perlu.
Ada beberapa cara untuk memberikan kekuatan (empowerment) kepada karyawan agar bekerja lebih efektif (Walker, 1980;265) yaitu:
1. Memastikan bahwa pekerja memperolah sumber daya yang diperlukan khususnya sumber daya informasi, kemudian untuk mengakses informasi akan meningkatkan peranan (sense of involvement)
2. Memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada individu atau tim untuk bertindak dan mengatur dirinya sendiri.
3. Membantu mengembangkan hubungan lateral (lateral relationship) dalam sebagai sarana atau fasilitas problem solving dan learning.
Adapun ukuran kinerja menurut T.R. Mitchell (19890 dapat dilihat dari lima hal;
1. Quality of work, kualitas hasil kerja
2. Promptness, ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan
3. Innitiative, prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan
4. Capability, kemempuan menyelesaikan pekerjaan
5. Communication, kemampuan membina kerja sama dengan pihak lain

B. Lingkungan Kerja
Alex S. Nitisemito (1991:184), “lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan.Neuner dan Kallaus (1972) mengelompokkan interaksi faktor-faktor psikologi dan fisiologi dalam lingkungan kantor menjadi empat, yaitu lingkungan penglihatan (faktor cahaya, warna), lingkungan atmosfer (kelembaban, sirkulasi, udara, suhu), lingkungan permukaan (kebersihan) dan lingkungan pendengaran (peredam suara, tata surya).
Lingkungan kerja terdiri dari dua dimensi yaitu dimensi lingkungan fisik yang bersifat nyata dan dimensi lingkungan non fisik yang bersifat tidak nyata. Lingkungan fisik berkenaan dengan kondisi tempat atau ruangan dan kelengkapan material atau peralatan yang diperlukan karyawan untuk bekerja. Sedangkan lingkungan non fisik berkenaan dengan suasana sosial atau pergaulan (komunikasi) antar personel dilingkungan unit kerja masing-masing atau dalam keseluruhan organisasi kerja. Lingkungan kerja fisik meliputi peralatan, bangunan kantor, perabot, dan tata ruang. Termasuk juga kondisi jasmaniah tempat pegawai bekerja meliputi desain tata letak, cahaya (penerangan), warna, suhu, kelembaban, dan sirkulasi udara. Sedangkan yang termasuk ke dalam non fisik yaitu suasana sosial, pergaulan antar personil, peraturan kerja (tata tertib) dan kebijakan perusahaan.
C. Kinerja Guru
Berkaitan dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tuga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai, meliputi:
1. Kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang, suara, mata atau pandangan, kesehatan, pakaian, pendengaran, dan hal yang bersifat psikis seperti humor, ramah, intelek, sabar, sopan santun, rajin, kretaif, kepercayaan diri, optimis, kritis, objektif, dan rasional.
2. Kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka, disiplin, berdekikasi, tanggung jawab, suka menolong, bersifat membangun, tertib, adil, pemaaf, jujur, demokratis, dan cinta anak didik.
3. Kemampuan profesional, meliputi 10 kemampuan profesional guru: menguasai bidang studi, menguasai aplikasi, mengelola KBM, mengelola kelas, menguasai media, menggunakan landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi, mengenal fungsi dan program BK, administrasi sekolah, dan mengenal penelitian pendidikan.

Kepribadian

Jika Anda ingin benar-benar menguasai kepribadian dalam perspektif psikologi, Anda dapat membaca buku karya Calvin S. Hall & Gardner Lindzey yang berjudul Theories of Personality. Dalam bahasa Indonesia, buku tersebut disunting oleh Supratiknya dengan judul teori-teori holistic terbitan kanisius.
Mempelajari teori kepribadian diharapkan memberi nilai tambah knowledge Anda mengenai apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku manusia. Dengan kata lain, teori kepribadian akan menyibak tingkah laku manusia. Menyibak tingkah laku manusia tidak cukup hanya dengan angket karena akan memberikan hasil yang berpotensi bias.
Dimensi teori kepribadian terdiri atas:
1. Struktur kepribadian: aspek kepribadian yang relatif stabil, merupakan pembentuk sosok kepribadian. Meskipun dirubah, suatu sat dia akan muncul lagi.
2. Proses kepribadian: dinamika tingkah laku/kepribadian
3. Pertumbuhan dan perkembangan: perubahan struktur dari masa bayi dan factor-faktor yang mempengaruhinya.
4. Psikopatology: gangguan kepribadian
5. Perubahan tingkah laku: modifikasi tingkah laku
Dalam kaitanya dengan pandangan manusia (kepribadian manusia) ada tiga mazhab yg populer di dunia Barat:
1. Mazhab pertama; mazhab pesimistik; memandang manusia pada dasarnya jahat.
2. Mazhab kedua; mazhab deterministik; perkemb manusia dapat diarahkan dari luar, bersifat impersonal dan direktif
3. Mazhab ketiga; mazhab optimistic; manusia memiliki potensi positif dengan diterima dan didampingi (humanistic)

Struktur Kepribadian (Murray): pandanganya ; masa lampau atau sejarah individu benar-benar sama pentingnya seperti keadaan individu beserta lingkungannya di masa kini. Masa lalu menentukan kepribadian masa kini (psikoanalisis).
Struktur kepribadian terdiri dari ego, id, dan superego.
id: impuls primitive, membawa kea arah baik dan jahat (naluriah)
ego: menekan impuls ego. Mengorganisasi id agar motifnya ke naluri yang baik
Superego: ambisi pribadi yang diperjuangkan, mengarah pada sesuatu yg berbudaya.
Dianamika kepribadian: dipengaruhi oleh proses fisiologis dan neurologist. Berkaitan dengan motivasi individu
Lalu bagaimana kaitan antara teori kepribadian dg kompetensi kepribadian guru?
Mestinya teori kepribadian ini menjadi knowledge bagi guru untuk mengetahui hakekat kepribadian sekaligus menjadi filter bagi pengadaan guru kedepan. Perlu adanya rekam jejak kepribadian untukm memperoleh hasil yg baik.

PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS XI SEMESTER GENAP BAB AKHLAK TERPUJI DALAM PERGAULAN RE

Kualitas pembelajaran menjadi kunci dalam peningkatan sumber daya manusia. Pembelajaran yang berkualitas merupakan pembelajaran yang terencana dan sengaja diciptakan (intentional learning), bukan belajar yang terjadi secara insidental (incidental learning). Gagne (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Senyampang dengan pendapat Gagne, Patricia L. Smith dan Tillman J. Ragan (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan yang spesifik. Dari kedua pendapat di atas, kata yang perlu digarisbawahi adalah adanya unsur sengaja diciptakan yang secara implisit menggambarkan bahwa kesengajaan tersebut disusun secara sistematis dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Dengan demikian penyusunan lesson plan harus benar-benar faktual dan terukur operasionalnya.
Pembelajaran yang diciptakan membutuhkan perencanaan yang matang, sesuai alokasi waktu, mengandung setidaknya satu kompetensi dasar, terdapat langkah-langkah pembelajaran, menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan faktor pendukung lainnya, menyajikan model evaluasi, dan menunjukkan sumber referensi yang digunakan.
Desain pembelajaran merupakan kegiatan yang penting untuk dilaksanakan sebelum seorang guru melaksanakan aktifitas pembelajaran di kelas. Desain sistem pembelajaran terdiri atas empat komponen yang memiliki hubungan fungsional antara materi pembelajaran, kompetensi pembelajaran , strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat komponen tersebut digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Desain Pembelajaran








Sumber:Bermawy Munthe (2010:5)

Materi pembelajaran secara anatomis terdiri atas materi yang berisikan sekumpulan fakta (memuat subjek pelaku/tokoh, tempat kejadian, dan waktu), konsep (berisi definisi, eksplanasi atas suatu teori, dan identifikasi dari suatu objek), prosedur (berupa urutan yang sifatnya mekanis) dan prinsip (dalam bentuk dalil, hukum, atau aksioma). Kompetensi dari suatu mata pelajaran menggambarkan kemampuan yang harus dipenuhi (berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dari suatu materi pembelajaran. Dengan demikian jelaslah kaitan hubungan fungsional antara materi dan kompetensi pembelajaran karena sebelum menentukan kompetensi pembelajaran harus diurai terlebih dahulu anatomi dari suatu materi pelajaran. Hubungan antara anatomi materi pelajaran dan kompetensi pembelajaran akan bermuara pada penyusunan indikator dan perencanaan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat bagian tersebut digambarkan dalam gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2. Hubungan antara materi, kompotensi, dan
kisi-kisi soal



Strategi pembelajaran merupakan mata rantai ketiga yang menghubungkan antara materi pelajaran dan kompetensi dari suatu materi. Strategi yang ideal hendaknya linier dengan materi dan kompetensi yang dicapai. Sebagai contohnya jika materinya adalah berenang, maka kompetensinya adalah dapat berenang, dan strategi yang paling tepat adalah praktik renang.
Dewasa ini perkembangan strategi dan model pembelajaran sangat cepat dan beragam. Pembelajaran model ceramah yang menggunakan pendekatan teacher centered telah dianggap konvensional meskipun untuk materi tertentu pembelajaran ceramah masih diperlukan. Dalam direct instruction pembelajaran ceramah diimplementasikan pada materi yang sifatnya deklaratif dan prosedural di mana model tersebut masih merupakan kegiatan pembelajaran yang ideal.
Perkembangan model pembelajaran dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Jean Piaget, John Dewey, Vygotsky, David Ausubel, dan Savin. Dari pemikiran tokoh-tokoh tersebut muncul berbagai model pembelajaran seperti CTL (contextual teaching and learning, pembelajaran bermakna, pembelajaran sosial,pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif). Dari sekian banyak model pembelajaran tersebut, model computer assisted instruction paling intensif dikembangkan seiring dengan pesatnya program aplikasi komputer. Model computer assisted instruction memiliki banyak keunggulan antara lain:
1. Siswa dapat belajar mandiri
2. Pembelajaran lebih terasa fun
3. Siswa langsung mengetahui skor yang diperoleh (authentic value)
4. Menambah motivasi belajar
5. Aplikasi dan pemanfaatan teknologi
6. Sangat potensial untuk pengembangan home schooling
7. Sebagai bentuk integrasi teknologi dan agama
Menyimak banyaknya keunggulan dari model computer assisted instruction maka implementasi model tersebut dalam pembelajaran aqidah akhlak menjadi bernilai strategis karena:
1. Pembelajaran selama ini menggunakan pendekatan teacher centered sehingga siswa relatif pasif dalam pembelajaran.
2. Pembelajaran rumpun agama cenderung dogmatis sehingga nalar siswa tidak terasah.
3. Pembelajaran cenderung membosankan karena monoton.
4. Adanya kesan teknologi terpisah dengan agama sehingga membuat guru rumpun agama tidak memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi.
Dengan menyimak keunggulan pembelajaran berbasis teknologi dan nilai strategisnya maka pembelajaran mandiri berbantuan komputer menjadi urgen untuk diimplementasikan dalam praksis pembelajaran.

C. Tujuan Pembuatan Media pembelajaran Aqidah Akhlak
Setiap mempelajari materi pembelajaran muara terakhirnya adalah terpenuhinya standar kompetensi lulusan dalam tiga ranah pendidikan yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pembelajaran aqidah akhlak unsur yang ada meliputi kognitif dan afektif sehingga pembuatan media pembelajaran ini diharapkan:
1. Siswa dapat belajar mandiri; dari mempelajari materi hingga mengevaluasi diri.
2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari mata pelajaran aqidah akhlak sehingga prestasi siswa dalam mata pelajaran tersebut meningkat.
3. Dari rasa senang dalam belajar akan menimbulkan kesadaran tentang esensialnya materi aqidah akhlak dalam hidup.
4. Mengakomodasi semua gaya belajar siswa karena media mengandung unsur visual (melalui tampilan tulisan, grafik, dan gambar di monitor komputer), auditorial (melalui suara), dan kinestetik (gerakan).

D. Waktu Penggunaan Media
Dalam desain model pembelajaran dikenal dengan empat kegiatan yakni define, design, development, and decimination. Media ini pada mulanya berupa program Power Point konvensional tanpa diberi sentuhan animasi dan aplikasi teknologi lainnya. Seiring dengan interaksi penyusun dengan dunia teknologi, program tersebut dikembangkan hingga terbentuk media pembelajaran interaktif seperti sekarang. Setelah melalui tahapan diskusi dengan komunitas di madrasah dan konsultasi dengan para outsider akhirnya media pembelajaran ini didesiminasikan di kelas-kelas dalam bentuk simulasi. Dan setelah dipandang menarik, pembelajaran aqidah akhlak dirubah dari pembelajaran di kelas secara klasikal menjadi model pembelajaran mandiri di laboratorium multi media di Madrasah aliyah Alhikmah 2. Foto-foto (terlampir) dalam pembelajaran ini diambil di tahun pelajaran 2009/2010.
E. Deskripsi dan Cara Penggunaan Media Pembelajaran
1. Deskripsi Media Pembelajaran
Media ini menggunakan beberapa program yaitu :
a. Microsoft Power Point
b. Total.Recorder.Editor.Pro.12.0.1
c. Camtasia
d. Animasi
2. Petunjuk Penggunaan
Penggunaan media ini mudah dan bisa diakses oleh semua siswa dengan melihat petunjuk – petunjuk di bawah ini :
a. Buka dengan menekan dua kali klik
b. Pertama akan diantarkan oleh sebuah intro
c. Kemudian akan berlanjut ke home / tampilan awal
d. Home berisi beberapa menu yaitu :
• Profile yang mengirformasikan data pembuat program media pembelajaran ini.
• Apersepsi yaitu gambaran yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diterangkan agar siswa terbantu memahami materi yang di terangkan.
• SK/KD berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar materi yang terdapat dalam media ini.
• Materi, yang berisi point – point atau sinopsis dari kompetensi dasar. Poin-poin dari kompetensi dasar secara lebih luas dijelaskan lebih lanjut dengan menu tools audio yang di gambarkan dengan sebuah gambar Speaker. Selain dengan menggunakan tools bar audio, poin dalam materi ini ada juga yang langsung dijelaskan yakni slide yang menggunakan Camtashia dimana tanpa mengklik speaker (dalam tools bar) suara akan langsung keluar..
Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan langkah-langkah penggunaan media pembelajaran:



F. Langkah-langkah pembelajaran
1. Silabus
2. RPP
3. Sintaks atau alur pembelajaran
Pembelajaran akan efektif jika dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang telah terencana. Berikut ini disajikan sintak pembelajaran dengan berbantuan media computer (computer assisted instruction):
Fase Kegiatan Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran aqidah akhlak bab akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
Fase 2
Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa secara deklaratif dan diikuti tata cara penggunaan media pembelajaran interaktif
Fase 3
Membimbing siswa belajar mandiri Membimbing siswa saat belajar mandiri menggunakan media pembelajaran interaktif
Fase 4
Evaluasi Mengevaluasi siswa dalam pemanfaatan media sekaligus meng-input hasil belajar siswa
Fase 5
Memberi penghargaan Memberi apresiasi kepada siswa yang dapat belajar secara efektif dengan media pembelajaran interaktif




G. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dalam media ini menggunakan tes tertulis dengan tipe soal pilihan ganda. Soal-soal evaluasi telah tersaji di menu bar yakni menu evaluasi. Siswa yang akan mengikuti evaluasi tinggal masuk ke menu evaluasi dan dapat langsung mengerjakan soal dengan mengikuti petunjuk yang telah disajikan. Setelah mengerjakan soal media ini akan secara otomatis menampilkan skor nilai yang diperoleh.

Pendidikan Anak Usia Dini

Pendahuluan
Anda tentu sangat familiar dengan film Samson dan Delila. Personifikasi Samson adalah manusia dalam asuhan binatang, besar di rimba belantara, dapat berkomunikasi dengan semua penghuni rimba namun tidak bisa berkomunikasi dengan sesama manusia. Fenomena Samson sama halnya dengan Hayy bin Yaqzan yang besar dalam asuhan Rusa. Hayy memiliki sifat dan skill sebagaimana rusa yang dapat berlari dengan sangat kencang, gesit, dan lincah. Apa yang dapat kita baca dari film tersebut?. Sebagian besar dari kita tentu mengamini bahwa pendidikan dan pembiasaan akan membentuk kemampuan seseorang. Individu yang tidak mengenyam pendidikan bagaimanapun besarnya potensi yang dimiliki tidak akan efektif beraktualisasi di dunia modern yang menganut life based knowledge and technology.
Pendidikan sebagai sebuah kebutuhan telah disadari benar oleh masyarakat. Keyakinan bahwa pendidikan merupakan salah satu variabel kesuksesan hidup menjadi pendorong utama setiap individu untuk menjadi manusia pembelajar. Atas dorongan kebutuhan dan keyakinan sebagaimana ajaran agama yang menganjurkan menuntut ilmu semenjak dalam ayunan hingga menjelang ajal menempatkan pendidikan sebagai “barang mewah” yang dicari setiap manusia. Dampaknya jelas, diversifikasi pendidikan menjadi varian baru dalam bidang jasa pendidikan. Salah satu diversifikasi pendidikan yang semakin mendapatkan tempat adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
Dalam pandangan yang pragmatis, bagi sebagian orang PAUD adalah alternatif “penitipan anak” bagi pasangan suami isteri yang sibuk dari pada menitipkan anak dalam asuhan “pembantu”. Anak dalam bimbingan para guru di PAUD bagi masyarakat dianggap lebih safe dan lebih banyak mengandung unsur edukatif.
Dalam sejarahnya, keberadaan PAUD di manca negara diawali keinginan untuk “menyelamatkan” anak yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Sebagaimana penelitian yang menyebutkan bahwa anak-anak yang berasal dari profesional lebih banyak dalam perkembangan kata-kata dibanding anak-anak para pekerja dan penganggur. Anak-anak dari keluarga profesional dan pekerja cenderung memperoleh feed back yang membesarkan hati, sementara anak-anak dari keluarga penganggur cenderung memperoleh feed back yang mengecilkan hati. Anak-anak yang sejak kecil berada dalam kondisi tertekan akan cenderung mengalami kesulitan di masa dewasanya dan terjebak dalam kenakalan. Dari latar belakang tersebut munculah pendidikan pra sekolah yang di Indonesia populer dengan Pendidikan Anak Usia Dini.
Dalam perkembangannya, keberadaan PAUD tidak saja sebagai wahana penitipan anak, namun juga sebagai persiapan meningkatkan ketercapaian prestasi akademik. Bahkan lebih serius lagi, pendidikan pranatal disertai pengaturan gizi telah dipersiapkan oleh para orang tua untuk memperoleh kualitas maksimal dalam bidang akademik. Bahkan orang tua menyiapkan waktu khusus untuk pendidikan parenting agar tidak salah langkah dalam mengurus anak. Salah satu materi penting dalam parenting pranatal adalah memaksimalkan potensi perkembangan otak janin yang dalam kandungan akan berkembang dengan kecepatan 250.000 sel setiap menit.

Apa yang harus diajarkan di PAUD ?.
Diskursus tentang apa yang harus diajarkan pada Pendidikan Anak Usia Dini merupakan diskursus yang terus berkembang. Sebagaian masyarakat menginginkan anaknya diberi dasar-dasar calistung (baca, tulis, hitung), dan sebagian lagi menginginkan PAUD tak ubahnya tempat bermain bagi anak-anak karena dunia anak adalah dunia bermain. Di Amerika Serikat dan Inggris, saat ini telah terjadi pergeseran orientasi, PAUD tidak lagi sebagai wahana bermain anak-anak tetapi mengarah ke pembelajaran keterampilan dasar. Di Flanders dan Hungaria, PAUD lebih menekankan pembelajaran permainan, konstruksi spontan, dan latihan baca tulis (Muijs dan Reynold, 2010). Bagi penulis, materi terbaik yang diberikan anak-anak di PAUD adalah dasar-dasar keterampilan, baik keterampilan calistung maupun keterampilan sosial, namun dikemas dalam nuansa bermain.
Latihan menghitung dapat dikemas dalam permainan balok, latihan menulis dapat dimulai dari hal-hal yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak, begitu pula dengan materi membaca. Keterampilan sosial dan komunikasi penting karena masa-masa di PAUD adalah masa transisi dari rumah ke sekolah. Ayah dan ibu yang secara emosi dan psikologi sangat dekat harus digantikan oleh orang lain. Bahasa tubuh, gesture, yang sangat dipahami oleh ayah dan ibu kadang tidak dimengerti oleh orang lain sehingga anak harus berlatih komunikasi dengan orang lain. Demikian juga anak-anak harus menyerap informasi baru dari orang lain yang tentu caranya berbeda dengan kebiasaan di rumah. Intensitas komunikasi antar anak dan guru akan sangat menunjang keterampilan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi yang secara langsung akan menentukan sukses tidaknya masa transisi. Ketidaksuksesan masa transisi berakibat anak-anak phobi sekolah atau minta pindah sekolah. Untuk itu orang tua harus secara intens membangun komunikasi dengan guru dan memantau anaknya dalam fase-fase kritis.
Orang tua harus secara kontinyu membaca buku komunikasi sekolah dengan orang tua tentang perkembangan anaknya sehingga dapat mengambil tindakan dengan tepat. Dan bagi sekolah, buku komunikasi sangat penting tidak saja sebagai bagian dari service sekolah terhadap kostumer tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral sekolah terhadap orang tua yang telah percaya menyekolahkan anaknya.
Kompetensi apa yang diharapkan dari anak pra sekolah?
Kompetensi bergantung pada materi. Kompetensi merupakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dari suatu subjek materi pelajaran. Lalu apa kompetensi anak-anak yang harus dikuasai di PAUD. Dari uraian materi di atas dapatlah disimpulkan bahwa kompetensi yang harus dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi (baik reseptif maupun ekspresif), keterampilan bersosialisasi, dan keterampilan dasar-dasar calistung. Sebagai orang tua secara mudah dapat kita lihat perkembangan anak yakni dengan daya interest anak untuk berangkat sekolah, materi cerita anak di rumah, dan tentu input yang diberikan oleh sekolah. Jika anak-anak tidak betah di sekolah berarti ada yang tidak sukses dalam fase transisi, jika anak tidak pernah cerita di rumah tentang sekolah dan teman-temannya serta gurunya berarti sekolah gagal dalam menciptakan kesan asyik bagi anak didiknya.
Muijs dan Reynold mendefinisikan keterampilan kesiapan sekolah meliputi:
1. Keterampilan sosial, menghormati orang lain, bekerja secara kooperatif, dan berlatih mendengarkan orang lain.
2. Keterampilan komunikasi: seperti meminta bantuan ke orang lain, mengutarakan pikiran dan perasaan
3. Perilaku terkait tugas; tidak mendisrupsi (mengganggu) orang lain, menyelesaikan tugas dari guru

Strategi belajar PAUD
Strategi pembelajaran di PAUD tentu linier dengan materi dan kondisi anak-anak. Sebagaimana diuraikan di atas dimana materi dikemas dalam nuansa bermain, maka PAUD sudah seharusnya menggunakan strategi belajar yang menyenangkan, cenderung direktif dan konkrit. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan cerita, percakapan, dan demonstratif yang sekaligus mengandung unsur eksplorasi kemampuan anak. Mengeksplorasi kemampuan anak penting karena akan melatih anak untuk beraktualisasi di kelas. Di Amerika Serikat, pendidikan pra sekolah yang sangat berpengaruh adalah program High Scope. Di sekolah ini model pembelajarannya bersifat langsung dengan objek riil sehingga siswa aktif. Sementara di Italia, pendidikan pra sekolah yang dikenal dengan proyek Regio Emillio menerapkan pembelajaran tematik berbasis proyek dengan menekankan interaksi antara guru dan murid.
Strategi pembelajaran di PAUD dapat dilakukan dengan model sebagai berikut:
1. Bermain: mengembangkan bahasa reseptif dan ekspresif
2. Drama dan sandiwara pendek: membantu perluasan pemikiran dan pembentukan karakter
3. Diskusi dalam format bermain
4. Mengkategorikan objek: sebagai bentuk klasifikasi
5. Kerja berpasangan atau berkelompok
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, anak-anak dalam tingkatan PAUD kini telah diperkenalkan dengan dunia komputer. Pembelajaran berbasis komputer kini telah menjadi bagian dari model pembelajaran PAUD. CD-CD tentang materi PAUD kini telah banyak beredar di pasar dan dapat pula didown load untuk menggantikan sebagian objek pembelajaran.

Penilaian dalam PAUD
Masa kanak-kanak sering disebut sebagai fase golden growth. Pada fase ini perkembangan otak sangat cepat begitu juga dengan kemampuan fisik yang lain. Perubahan yang begitu cepat tentu menjadikan penilaian sesaat menjadi tidak tepat, tidak reliabel. Dengan demikian model tes standar sebagai bentuk assesmen tidak tepat lagi. Model yang relatif tepat adalah model portofolio atau rekam jejak siswa. Portofolio dan rekaman dapat dijadikan bahan analisis untuk mengevaluasi tingkat perkembangan siswa. Selain itu dapat pula dengan model pengamatan terstruktur yang kontinyu sehingga perkembangannya dapat jelas disimak.

PENDEKATAN BEHAVIORISME DALAM KONSELING

Pendahuluan
Perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati (Rita L. Atkinson, 1999:8). Dengan pendekatan perilaku, tokoh psikologi asal Amerika Serikat John B. Watson mempelajari individu. Menurut Watson individu tidak dapat dipelajari dengan pendekatan instropeksi karena hanya individu itu sendirilah yang dapat mengintropeksi pengamatan dan perasaannya sendiri. Dari pendapat Watson inilah munculnya aliran behaviorisme. Behaviorisme menurut Gerald Corey (2003:197-198) adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia.
Behavior atau tingkah laku tidaklah muncul satu set lengkap dalam diri manusia sebagai sebuah bawaan lahir. Namun perilaku terbentuk sebagai sebuah interaksi manusia dengan dunia disekelilingnya. Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang membentuk kepribadian. Gerald Corey (2003:320) menyatakan bahwa manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial-budaya yang deterministik. Dalam arti tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian.
Tingkah laku sebagai hasil belajar dan pengondisian berarti tingkah laku dibentuk melalui hukum-hukum belajar dan terkondisikan dengan cara memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Hukum-hukum belajar dalam kaitannya dengan tingkah laku meliputi hukum pembiasaan klasik, pembiasaan operan, dan peniruan.
Eksperimen tentang pembiasaan klasik pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Rusia bernama Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan cara memberi stimulus terkondisikan pada anjing melalui sinar lampu. Dengan stimulus yang diberikan anjing akan melakukan asosiasi dan mengulang-ulang respon jika diberikan stimulus yang sama. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar akan dilakukan dan mengalami penguatan jika diberikan situmus atau rangsangan. Sebagai contohnya siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Eksperimen tentang pembiasaan operan pertama kali dilakukan oleh B.F. Skinner. Dalam eksperimen ini diperlukan media sebagai stimulus tidak langsung. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar untuk mendapatkan hadiah, bukan akibat langsung dari belajar, namun merupakan media untuk mendapatkan sesuatu atas prestasi belajar. Sebagai contohnya adalah mendapatkan hadiah sepeda jika nilai bagus. Nilai bagus adalah akibat langsung dari belajar, namun sepeda bukan akibat langsung dari belajar namun akibat yang timbul karena nilai yang bagus.

Konsep dasar behaviorisme
Dalam pendekatan behavioristik memandang bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan – kecenderungan positif dan negatif yang sama. Kecenderungan itu dibentuk oleh kondisi sosial dan budaya. Para behavioris menyakini bahwa lingkungan dan faktor genetik menentukan tingkah laku, namun pembuatan putusan yang dilakukan oleh individu merupakan tingkah laku. Behavioris cenderung memandang manusia sebagai organisme pemberi respons sehingga manusia dikategorikan sebagai makhluk yang mekanistik, tidak sebagai makhluk otonom yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bahkan dalam behaviorisme radikal tidak memberi tempat kepada asumsi bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan.

Terapi Konseling Behavioral
Tujuan dari konseling behavioral adalah menghapus atau menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan tingkah laku adaptif sesuai keinginan klien. Tingkah laku bermasalah diasumsikan sebagai berikut:
1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negative/tidak tepat, atau tingkah laku yang tidak sesuai tuntutan lingkungan.
2. Tingkah laku yang salah pada hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
3. Manusia bermasalah cenderung merespon negative dari lingkungannya.
4. Tingkah laku manusia merupakan hasil belajar dan dapat diubah dengan prinsip-prinsip belajar.
Adapun langkah-langkah konseling behavioral adalah:
1. Assesment: mengeksplorasi dinamika perkembangan klien. Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang sebenarnya pada saat itu meliputi: kesuksesan dan kegagalan, kekuatan dan kelemahan, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya.
2. Goal Setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assaement konselor dan kliaen menyusun dan merumuskan tahapan berikut: (a) Konselor dank lien mendefinisikan masalah yang dihadapi klien, (b) klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling ; (c ) konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien ; (b) apakah tujuan itu realistic ; (c) kemungkinan manfaatnya; (d) kemungkinan kerugiannya; (e) konselor dank lien menetapkan teknik yang akan dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akakn dicapai, atau melakukan referral.
3. Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang akan digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.
4. Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai tujuan konseling.
5. Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.
Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral
1. Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.
2. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
3. Memberikan penguatan terhadap respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan
4. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung)
5. Merencanakan prosedur pemberian penguatan tingkah laku yang diinginkan dengan system kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi atau keuntungan sosial.

Teknik-teknik konseling Behavioral

Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok



Desensitisasi Sistematis

Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

Draf Pengembangan MA Bina Cendekia

“Menuju Madrasah Aliyah Bina Cendekia sebagai Madrasah Pilihan”
Pendahuluan
Draft pengembangan ini disusun sebagai wacana pengembangan Madrasah Aliyah Bina Cendekia sebagai Madrasah Pilihan. Orientasi madrasah dan image building yang diwacanakan bukanlah sebagai madrasah unggulan, plus, atau trade mark lainnya. Bagi penyusun makna pilihan mencitrakan sebuah kebutuhan bagi pemilihnya.
Sesuatu yang dipilih, terlebih sekolah/madrasah sudah barang tentu karena memiliki keunikan dan memenuhi ekspektasi masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Sebagai sebuah perumpamaan jika kita membeli sesuatu tentu karena kita butuh dan barang yang kita beli jelaslah hasil dari sebuah pilihan. Keputusan memilih biasanya didasarkan pada nilai guna, kualitas barang, harga, orisinalitas, dan tren yang sedang berkembang. Barang mahal yang sedikit kegunaannya tentu akan mubadzir jika dipilih dan dibeli. Barang yang kualitasnya bagus namun sudah out of date tentu tidak menggugah selera lagi. Dan barang yang orisinil tentu akan dipilih dibanding yang imitasi karena lebih presisi dan berkualitas. Begitu juga barang yang murah namun tidak ada kualitasnya tentu juga bukan menjadi barang pilihan karena akan cepat usang dan tidak berguna.
Begitu pula madrasah, madrasah yang akan menjadi pilihan adalah
madrasah yang memiliki keunggulan baik kompetitif maupun komparatif. Keunggulan kompetitif berorientasi pada be the best. Memiliki daya saing yang kuat, memiliki indeks prestasi akademik yang tinggi dan atribut kompetitif lainnya seperti grade akreditasi, pencapaian hasil Ujian Nasional, prestasi dalam ajang olimpiade, dan daya serap out put di perguruan tinggi favorit baik dalam maupun luar negeri.
Keunggulan komparatif berorientasi pada be the different. Memiliki daya beda yang tinggi dibanding institusi sejenis dalam satu level. Keunggulan komparatif dapat dibangun melalui keunggulan lokal baik dalam bidang seni, budaya, dan sumber daya alam yang ada. Keunggulam komparatif memiliki nilai strategis karena menjadi ciri khas. Ciri khas yang dibangun dengan serius didukung research yang kontinyu akan memberi kekuatan bagi sebuah institusi. Dan nilai yang sifatnya lokal itu pada gilirannya akan menjadi icon bagi wilayah itu sendiri sebagaimana kekhasan dialek dalam bahasa.
Sinergi antara keunggulan kompetitif dan komparatif harus dibangun dengan kreasi dan inovasi yang sustainibilitasnya terjaga. Kreatifitas yang inovatif orientasinya pada be the first. Institusi yang memiliki daya be the first akan leading dibanding institusi lainnya.
Uraian di atas mendeskripsikan bahwa syarat utama untuk menjadi madrasah pilihan adalah memiliki tiga nilai utama yakni be the best, be the different, dan be the first. Bagaimana dengan Madrasah Aliyah Bina Cendekia?. Sebagai sebuah institusi baru maka beberapa agenda penting yang harus segera dilakukan akan penyusun uraikan dalam langkah-langkah strategis MA Bina Cendekia di bawah ini.

Langkah-langkah Strategis MA Bina Cendekia
1. Membentuk Tim Monev (Monitoring dan Evaluasi)
Tim Monev terdiri atas Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah, dan Tim Kreatif . Tim Monev tugas utamanya adalah menjabarkan delapan standar pendidikan, melaksanakan delapan standar pendidikan, memantau dan mengevaluasi delapan standar pendidikan tersebut. Orientasi akhir yang diharapkan adalah terciptanya budaya berorganisasi dalam lingkungan madrasah sehingga setiap saat madrasah siap untuk diakreditasi karena sistem administrasi yang akurat dan orisinil. Adanya Tim Monev juga akan membentuk tradisi tulis dan tilas dalam diri setiap pendidik dan tenaga kependidikan di MA Bina Cendekia.
2. Menyusun Renstra
Renstra (Rencana Strategis) perlu disusun dengan melibatkan yayasan dan seluruh stakeholder MA Bina Cendekia baik renstra jangka pendek, menengah, dan panjang. Renstra juga harus berpijak pada analisis SWOT MA Bina Cendekia. Adanya renstra dapat menjadi motivasi dan menjaga ritme pergerakan pendidik dan tenaga kependidikan di MA Bina Cendekia.
3. Menjadikan Kegiatan Ekstrakurikuler sebagai Kekuatan Komparatif
Kegiatan ekstrakurikuler yang dikemas dalam kegiatan pengembangan diri harus dibangun secara sungguh-sungguh. Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam membangun keunggulan komparatif sekaligus memiliki daya magnetik yang luar biasa bagi siswa dan calon siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang berkualitas dapat menjadi media pemasaran madrasah.
4. Penyusunan Kurikulum yang Integral
Yayasan Bina Cendekia Utama yang terdiri atas tiga jenjang pendidikan dari MI hingga MA mempunyai nilai strategis dalam penyusunan kurikulum. Nilai strategis tersebut terletak pada adanya pondok pesantren dan kegiatan ekstrakurikuler yang terstruktur. Kurikulum pondok pesantren harus integral dan kontinyu dari jenjang MI, MTs, dan MA. Begitu pula kegiatan ekstra yang terstruktur memiliki kurikulum yang berkelanjutan. Dan kurikulum integral tersebut harus disosialisasikan ke orang tua dan siswa itu sendiri sehingga ada motivasi yang tinggi untuk menuntaskan kurikulum dari MI hingga MA.
5. Menyusun Tim Fundraising
Tim Fundraising (Penggalian Dana) perlu dibentuk meskipun yayasan telah memilki dana yang relatif cukup. Ada berbagai pilihan yang mungkin untuk dipilih antara lain: membangun jejaring secara vertikal dengan instansi terkait, mendirikan koperasi, atau jika mungkin lembaga penerbitan karena memilki nilai ekonomis yang relatif tinggi. Adanya lembaga penerbitan akan mendorong guru untuk menulis sekaligus sebagai media pemasaran madrasah.

Motif Mendirikan Sekolah: Motif Pendidikan atau Ekonomi?

Yayasan pendidikan semakin banyak berdiri di mana-mana. Dari yayasan pendidikan yang mengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai dengan yayasan pendidikan yang mengelola perguruan tinggi. Pendiri yayasan pendidikan pun bermacam-macam latar belakangnya, dari yang pribadi/keluarga, pondok pesantren/institusi keagamaan, organisasi sosial, dan lain sebagainya. Apa motif dibalik pendirian yayasan pendidikan yang semakin menjamur di Tanah Air?. Benarkan karena dana pemerintah yang sangat besar (20%) memiliki daya magnetik terhadap motif pendirian yayasan pendidikan di Tanah Air?.
Untuk menjawab pertanyaan di atas memang dibutuhkan penelitian yang mendalam, tidak bisa dijawab dengan serampangan karena akan mendeskriditkan pihak lain. Namun apa yang akan dipaparkan penulis dalam kasus ini adalah pengalaman penulis pribadi ketika diajak beberapa rekan untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan. Dari perbincangan awal dengan beberapa rekan dan saudara penulis secara eksplisit jelas menggambarkan bahwa motif pendirian yayasan pendidikan tidak lebih sebagai mesin uang karena memandang pendidikan merupakan kebutuhan bahkan candu bagi masyarakat modern, tak terkecuali masyarakat di Tanah Air. Mereka beranggapan bahwa sekolah merupakan ATM yang tidak ada matinya.
Sebagian besar memandang bahwa pendidikan merupakan lahan bisnis yang menggiurkan. Memang pandangan rekan penulis dari kaca mata bisnis tidak salah. Insting bisnis dalam ranah pendidikan merupakan sesuatu yang tepat dalam konteks masyarakat saat ini. Mari kita simak bagaimana biaya pendidikan di Tanah Air saat ini. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan Taman Kanak-kanak saat ini biayanya sangat variatif. Dari yang tidak berkelas sampai yang memiliki label biayanya selangit, apalagi yang mengadopsi Full Day School. Biaya masuknya dalam kisaran tiga jutaan rupiah dan biaya bulanannya sekitar tiga ratusan ribu rupiah. Itu baru tingkat PAUD dan TK.
Dan semakin tinggi tingkat satuan pendidikan akan linier dengan tingginya biaya pendidikan, dengan catatan sekolahnya memiliki prestise, bukan sekolah dalam kategori biasa-biasa saja. Dan jika dikalkulasi dan dibandingkan dengan biaya operasional maka bukan hanya BEP (Break Event Point) yang didapat namun laba yang menggiurkan. Belum lagi mimpi-mimpi untuk mendapatkan bantuan atau block grand dari pemerintah dan lembaga donor lainnya. Sebuah bisnis yang menggiurkan bukan?.
Melihat perkembangan menjamurnya yayasan pendidikan di Tanah Air memang tidak bisa digeneralisasi bahwa yayasan-yayasan itu profit oriented. Dalam kaca mata penulis ada pula yang secara intens menanamkan ideologi agama, namun dengan catatan sekolah-sekolah tersebut tetap saja mahal?!.
Lalu salahkan pandangan dan orientasi yang profit oriented dan menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis. Bukankah dalam GATS sendiri sekolah juga merupakan komoditas yang layak dibisniskan?. Dalam perspektif GATS (General Agreement of Trade in Service) pendidikan baik dalam tingkatan pendidikan dasar, menengah, tinggi, pendidikan orang dewasa, dan pendidikan lain merupakan perdagangan jasa. Dan namanya sebuah perdagangan tentu kompetisi demi mengejar profit adalah hal yang lumrah. Dan hal itu memang sudah dan akan terjadi di Tanah Air.
Jika sejak awal orientrasinya memang bisnis, maka praksisnya dapat ditebak akan terjadi disoerintasi dan rawan konflik. Baik konflik antara guru dan pengelola yayasan ataupun rasa ketidakpuasan siswa dan orang tua atas pelayanan akademik. Guru berpotensi mengeluh karena akan timbul relasi pengelola yayasan dan guru seperti relasi patron klien, tak ubahnya relasi majikan dan buruh. Dan ketidakpuasan siswa timbul karena motivasi guru yang akan melemah karena sibuk dengan keluhannya akibat konflik kepentingan dengan pengelola yayasan, pengadaan fasilitas pembelajaran yang terlalu ngirit, timbulnya biaya-biaya yang tidak terduga dengan mengatasnamakan pengembangan pendidikan, dan masih banyak faktor lainnya. Dan lambat laun sustainibilitas sekolah disanksikan jika kondisi yang demikian tidak disadari oleh pengelola yayasan.
Lalu bagaimana agar pendirian yayasan pendidikan membawa implikasi yang baik untuk stakeholder pendidikan?. Tidak ada salahnya kita komparasikan dengan pendirian sekolah di negara lain. Di Amerika Serikat yang notabene penggagas sekaligus pendorong GATS ternyata lebih realistis dan berorientasi pada eksperimentasi pendidikan dibanding motif ekonomi ketika sekelompok orang atau lembaga mendirikan sekolah baru.
Kasus ini dapat kita lihat ketika sekelompok guru Sekolah Negeri di Indianapolis dengan semangat tinggi menempuh perjalanan yang jauh untuk bertemu dengan Howard Gardner (penulis Frames of Mind) di Kutztown. Tujuan sekelompok guru yang terdiri atas delapan orang guru itu adalah untuk mendirikan sekolah dasar K-6. Motif pendirian sekolah dasar K-6 tersebut bukan semata-mata karena uang tetapi karena terinspirasi oleh teori MI (Multiple Intelligences) yang ditulis oleh Howard Gardner. Dari hasil sharing antara delapan guru dan Howard Gardner akhirnya disepakati pendirian sekolah dasar sebagai aplikasi teori Multiple Intelligences.
Dengan bimbingan Patricia Bolanos yang energetik dan visioner akhirnya delapan guru tersebut melakukan lobi, merencanakan kurikulum, dan setelah beberapa peristiwa yang menegangkan dan beberapa mengecewakan akhirnya diberi izin untuk mempunyai sekolah negeri “pilihan” di kota Indianapolis (Howard Gardner, 2003). Dalam perkembangannya sekolah eksperimentasi tersebut sangat sukses dan menjadi sekolah pilihan.
Dari kasus pendirian sekolah dasar di Indianapolis tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita bahwa mendirikan sekolah baru harus memiliki visi yang jelas, memiliki daya pembeda (be the different), dan membutuhkan kerja keras karena desain kurikulum dan model yang ditawarkan tidak sebagaimana sekolah yang sudah ada.
Mendirikan institusi pendidikan baru tidak cukup hanya karena memiliki modal, relasi, atau kekuasaan. Apalagi niatan utamanya menjadikan sekolah sebagai mesin ATM. Sekolah atau lembaga pendidikan baru harus mengadopsi prinsip be the first, be the best, dan be the different agar menjadi problem solver dan bukannya malah menjadi part of problem dalam perjalanan pendidikan di Tanah Air.

About Me

My photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam