Inspirasi Dua Bola Mata

Mata adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Meskipun bentuknya relatif kecil, peran mata sangatlah vital. Dari segi bentuk dan warna mata mencirikan asal usul seseorang, warna biru mewakili Eropa, coklat atau hitam mewakili Asia, sipit mencirikan Jepang, China, atau Korea, dan lainnya. Selain sebagai identitas mata juga telah menjadi komoditas. Banyak para selebritis yang memanfaatkan mata atau asesorisnya sebagai bagian yang menarik dari wajahnya. Ian Kasela --vokalis grup band Radja-- cepat dikenal karena kaca matanya yang khas, model cantik Luna Maya cepat terkenal karena keindahan dua bola matanya, dan masih banyak lagi.

Selain sebagai identitas dan komoditas sesungguhnya mata adalah satu dari lima indera yang sangat berperan dalam proses kehidupan. Dari matalah awal dari berbagai inspirasi muncul. Menurut penelitian Dunn (dalam Gordon Dryden dan Jeanette Vos: 1999) mata adalah sumber belajar yang mempunyai daya serap tinggi yakni sebesar 40%, jauh lebih baik dibanding dengan daya serap melalui indera pendengaran yang hanya 30%, apalagi dibanding dengan model belajar kinestetik (gerakan) yang hanya mempunyai daya serap 15%.

Inspirasi dua bola mata akan menjadi dahsyat jika sejak dalam kandungan sampai proses perkembangan dan pertumbuhan mata selalu dilatih dan dijaga kesehatannya. Tahapan latihan adalah proses yang penting sebab dari proses tersebut akan terwujud akumulasi kemampuan dalam berkoordinasi dengan otak atau indera yang lainnya.

Struktur dan Fungsi Mata

Individu yang baik adalah individu yang mengenali dirinya sendiri. Mengenali diri sendiri berarti mengenali kemampuan fisiologis maupun psikologis. Unsur psikologis mencakup IQ, bakat, hobi, dan ciri-ciri kepribadian, sedangkan unsur fisiologis mencakup semua hal yang berhubungan dengan tubuh dan panca indera.

Mata sebagai bagian dari unsur fisiologis merupakan bagian yang harus dikenal dengan detail. Mengenal mata secara detail sangat membantu penampilan, dan lebih dari itu mengenal kemampuan mata akan menjadi pijakan dalam mengambil tindakan preventif terhadap perawatan mata.

Struktur dan fungsi mata sangatlah rumit dan mengagumkan. Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Dan sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata .

Mata sebagai indera penglihatan mempunyai mekanisme kerja yang sistematis. Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di retina mengalami pembiasan lima kali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar.

Berawal dari berfungsinya mata dengan baiklah segala inspirasi untuk proses kreatif itu muncul. Dan dari proses kreatif inilah awal sebuah bangunan prestasi.

Maksimalkan Fungsi Mata

Bentuk mensyukuri nikmat Tuhan atas dua bola mata adalah memaksimalkan fungsi mata sebaik-baiknya sekaligus merawatnya. Dengan demikian mata tidak hanya dimanfaatkan untuk melihat sesuatu yang kering makna, lebih dari itu yakni menjadikan mata sebagai sumber inspirasi untuk menggapai prestasi setinggi-tingginya.

Inspirasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (terbitan Balai Pustaka, 1989) diartikan sebagai pengaruh yang membangkitkan kegiatan kreatif atau gagasan yang muncul dalam ingatan. Proses kemunculan inspirasi dimulai dari interaksi antara penglihatan dengan objek yang diamati. Interaksi antara mata dengan objek atau benda sejatinya telah dimulai sejak manusia dilahirkan, bahkan sejak berada dirahim embrio telah berinteraksi dengan tubuh ibu yang mengandungnya. Dengan demikian proses belajar berinteraksi mestinya telah diajarkan oleh orang tua sejak bayi dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan melalui pendidikan pranatal.

Pada bulan-bulan paling awal, otak bayi membentuk ‘jalur visual’ utamanya pada fase awal, melalui indera penglihatan bayi akan menangkap objek yang kontras dan bentuk garis vertikal horisontal serta bentuk – bentuk lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga . Menurut Glenn Doman (dalam Gordon Dryden dan Jeaanette Vos, 1999) stimulus warna yang diberikan untuk melatih indera penglihatan bayi hendaknya warna kontras hitam-putih, dan bukan warna pastel . Menurut Ronald Kotulak dalam bukunya Inside The Brain (1996) jika anak tidak memproses pengalaman visual pada umur dua tahun meskipun otaknya sudah sempurna ia takkan dapat melihat.

Fase kedua pasca fase bayi adalah fase usia dini. Pada fase ini adalah fase krusial karena memasuki golden growth. Lima puluh persen kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya, 30% dikembangkan pada masa menjelang ulang tahun kedelapannya, dan sisanya sebesar 20% dikembangkan setelah masa usia delapan tahun. Pada fase ini anak mulai dilatih kegiatan fisik, menyanyi, dan membaca.

Latihan membaca pada usia dini penting karena mensinergikan mata untuk melihat dan membedakan bentuk huruf sekaligus merangsang perkembangan otak. Proses latihan membaca idealnya ditempuh dengan kegiatan yang merangsang indera penglihatan seperti dengan memberikan buku yang berwarna cerah atau memberikan huruf –huruf yang dibuat kontras.

Berakhirnya fase bayi dan fase usia dini maka individu mulai memasuki fase yang semakin banyak memerlukan energi fisik dan pikiran untuk menata cita-cita melalui akumulasi prestasi disetiap episodenya. Dalam posisi ini maka proses kognisi akan sangat penting dalam menunjang prestasi yang diraih.

Proses kognisi tentu melibatkan semua indera dan utamanya indera penglihatan karena sebagian besar proses kognisi dimulai dari pengamatan. Menurut Romlah (2004) pengamatan merupakan pintu gerbang bagi masuknya pengaruh dari luar, baik pengaruh fisik, pengalaman, pendidikan, dan lain sebagainya. Berawal dari pengamatan ini maka proses kognisi akan dilanjutkan dengan proses tanggapan, dan dilanjutkan dengan ingatan. Proses tanggapan dan ingatan tentunya akan sangat dipengaruhi oleh proses kecermatan dalam pengamatan karena proses ini adalah gate atau pintu gerbangnya.

Memaksimalkan Proses

Kesempurnaan fungsi dua bola mata sejak usia dini menjadi modal yang berharga untuk menggapai prestasi. Tugas setiap individu berikutnya adalah memaksimalkan fungsi mata dalam proses pencapaian prestasi melalui belajar.

Untuk memaksimalkan proses fungsi mata adalah berkoordinasi dengan otak dan seluruh indera untuk mengenali gaya belajar. Gaya belajar setiap individu harus dikenali oleh individu yang bersangkutan karena gaya belajar akan memberi kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian prestasi. Pada dasarnya ada tiga gaya belajar utama yakni gaya belajar visual yang mengandalkan indera penglihatan, gaya belajar auditorial yang mengandalkan indera pendengaran, dan gaya belajar kinestetik yang mengandalkan gerakan tubuh.

Setelah gaya belajar diketahui maka setiap individu harus belajar empat tingkat untuk menggapai prestasi yakni belajar tentang citra diri dan perkembangan pribadi, pelatihan keterampilan hidup, belajar tentang cara belajar dan berfikir, serta belajar akademik, fisik, artistik yang spesifik.

Dalam proses belajar empat tingkat ini maka fungsi mata harus dimaksimalkan sehingga membentuk kararkter yang cekat, cepat, dan tepat. Pribadi yang cekat adalah pribadi tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi dari sudut pandang karakter, bentuk, dan perilaku objek yang diwaspadai. Pribadi yang cepat adalah pribadi yang cakap mengantisipasi perubahan, mengurangi kesenjangan kekurangan (gap) terhadap berbagai permasalahan. Dan pribadi yang tepat adalah pribadi yang senantiasa bekerja secara presisi, tepat sasaran, dan mempunyai validitas yang tinggi.

Sinergikan dengan Mata Hati

Dua bola mata indah, sehat, dan berfungsi dengan normal yang telah dilatih dari pranatal sampai dewasa akan menjadi sumber inspirasi yang dahsyat jika disinergikan dengan mata hati. Proses mensinergikan antara mata sebagai indera fisik dan mata hati sebagai indera batin sejatinya merupakan kolaborasi yang menggabungkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Akumulasi proses yang panjang yang dilakukan dengan kesungguhan dan disertai dengan dialektika antara indera mata dan indera batin sekaligus penerapan multiple intelligences pada akhirnya memberi inspirasi untuk berprestasi tinggi yang dapat dijadikan prasasti hidup.

Seni dalam Kubangan Posmodernisme

Ada tiga periodesasi zaman yang sering diperbicangkan atau diperdebatkan. Ketiga zaman itu adalah zaman tradisional, modern, dan posmodern. Zaman tradisional yang tunduk pada otoritas lembaga keagamaan runtuh ketika revolusi industri bergulir di Perancis. Zaman modern eksis dalam rentang waktu yang panjang, dimulai dari runtuhnya zaman tradisional dengan ditandai adanya pencerahan sebagai anak kandung marxisme.

Belakangan tanpa jelas tanggal, bulan, tahun dan dimulai dibelahan bumi yang mana muncul apa yang disebut dengan zaman posmodern. Jika ada yang menyebut tempat dan waktu kemunculannya, hal itu tidak berlaku secara universal, sebatas kurang lebih atau kira-kira.

Pergeseran zaman selalu diikuti pergeseran dalam banyak hal termasuk dalam bidang budaya dan seni. Jika zaman kita umpamakan ayah dan seni atau budaya kita umpamakan anak maka di sini berlaku like father like son. Hegemoni zaman selalu ‘menindas’ budaya dan seni.

Produk seni atau karya seni yang tidak ‘tunduk’ pada mainstream yang berlaku dizamannya akan kehilangan daya pikat sebab eksistensi seni tidak hanya terletak pada nilai estetiknya saja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kuantitas penikmatnya.

Wayang atau ketoprak tradisional misalnya kini secara perlahan terkubur oleh mainstream modern. Jika ingin bertahan maka kesenian tradisional itu harus berdialektika dengan mainstream yang berlaku. Hal ini bisa dilihat dari kemunculan ketoprak humor beberapa tahun yang lalu atau wayang kulit yang pementasannya berkolaborasi dengan musik dangdut. Memang acara tersebut menghilangkan pakem (aturan baku), namun inilah pilihan pahit yang mesti dipilih.

Mainstream Posmodern

Istilah posmodern (bukan kemunculan posmodern) muncul pertama kali di kalangan seniman dan kritikus di New York pada tahun 1960 dan diambil alih oleh para teoritikus Eropa pata tahun 1970-an (Madan Sarup; 2004). Menurut Jean-Francois Lyotard dalam bukunya The Postmodern Condition kelahiran posmodern adalah sebagai bentuk penyerangan terhadap modernitas yang mengusung konsep universal valid ( dalam istilah Arab qod’i atau pasti).

Dengan kata lain posmodern menyanggah adanya universal pattern dan mengedepankan particullar pattern. Artinya posmodern tidak mengenal grand theory, etika universal, ataupun hal lain yang sifatnya universal. Bagi posmodern entitas apapun ada dan ada pemiliknya.

Menurut Madan Sarup (2004) aspek sentral yang diasosiasikan dengan posmodern dalam seni antara lain: penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, ambruknya perbedaan hierarkis antara kebudayaan populer dan kebudayaan elit, eklitisisme stilistik dan pencampuran kode.

Dalam bidang seni posmodern mempunyai perbedaan yang mencolok dengan seni di zaman modern. Seni dan budaya di zaman modern cenderung diskursif yang mengutamakan kata di atas citra, sedangkan seni dan budaya di zaman posmodern cenderung figural yang lebih menekankan visual ketimbang tulisan.

Implikasi

Mainstream posmodern secara perlahan namun pasti menjangkiti segala aspek kesenian dan kebudayaan dibelahan bumi mana pun. Terlebih di era teknologi canggih seperti sekarang. Teknologi adalah transmitter utama penyebaran mainstream itu.

Di sini terjadi dialektika berkesenian. Mestinya ada tiga pilihan yang bisa dilakukan pekerja seni yakni alienatif, assimilatif, dan tunduk dengan menjadi ‘penganut’ posmodern sejati. Alienatif dengan menjauhi mainstream posmodern adalah pilihan pahit namun menggambarkan idealisme yang tinggi. Dengan memilih alienatif maka harus siap tidak populer yang implikasinya siap miskin.

Memilih assimilatif berarti harus pandai mensintesakan antara etika, pakem, dan akar budaya yang dianut dengan mainstream posmodern. Memilih assimilatif tidaklah mudah, jika tidak cerdas justru terlihat plin – plan atau dicap oportunis.

Memilih menjadi penganut sejati mainstream posmodern adalah yang paling mudah, sebab karya apapun akan menjadi bebas nilai dan hanya dari perspektif dirinyalah nilai itu ada. Resiko terbesar yang diambil hanyalah siap untuk dikecam, diolok-olok, atau dilaporkan polisi.

Belakangan ini pekerja seni kita semakin banyak yang masuk dalam kubangan mainstream posmodern. Terlebih dengan terbukanya reformasi. Tanpa ada komando ataupun aba-aba praktik posmodern muncul dimana-mana layaknya jamur di musim hujan.

Lebih tragis lagi praktik posmodern di Indonesia dilakukan secara masif, semaunya sendiri. Parodi-parodi kasar muncul seenaknya, majalah-majalah yang menonjolkan sensualitas dicetak dalam oplah yang besar, goyangan sexy ada dimana-mana, tarian erotis mudah ditemukan, dan masih banyak lagi. Bagi pelaku seni aktifitas tersebut semuanya dikatakan art , sebuah seni.

Kini kesenian kita benar-benar terjebak dalam kubangan mainstream posmodern. Kita hidup dalam dunia seni yang hiperrealitas , tiada tabir yang jelas antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dengan yang salah, semua serba truth claim (klaim kebenaran) dalam perspektif masing-masing.

Perlu kiranya bagi pelaku seni untuk tidak bersikap ego estetik sebab berkesenian tidaklah berada di ruang hampa. Ruang publik yang begitu luas mesti diperhatikan agar yang kita dapat adalah estetika sejati.

Belajar dari Renaisance Islam

Peradaban sebagaimana roda kehidupan senantiasa mengalami pasang surut, kadang di puncak dan kadang terjerembab mendekati titik nadzir. Begitu juga peradaban Islam, masa kejayaan yang dirintis pada abad VI sampai abad XII dan mengalami puncak pada abad IX dan X perlahan-lahan mundur dan tertinggal sangat jauh dengan peradaban Eropa. Dan jika semua mau jujur, sesungguhnya kemajuan peradaban Eropa tidak lepas dari andil peradaban Islam pada masa kejayaannya. Bahkan renaisance Eropa yang terjadi paa abad XII diilhami renaisance Islam dengan pola pembaharuan yang kurang lebih sama yakni penekanan pada warisan ilmu pengetahuan dan belajar filsafat Yunani kuno. Melalui tulisan ini penulis mencoba mengenang masa peradaban yang indah itu untuk dijadikan spirit pendidikan dan lebih dari sekedar untuk bernostalgia.

Renaisance Islam

Pada masa renaisance Islam berlangsung benua Eropa justru mengalami masa kegelapan (the dark age). Ketika nalar berfikir telah menjadi fenomena yang jamak dalam tradisi Islam, masyarakat Eropa masih terkooptasi pada otoritas lembaga keagamaan. Renaisance Islam ditandai dengan kemunculan Intermediate Civilization of Islam (meminjam istilah S.D. Goitein, Joel. .L. Kreamer, 2003) yakni kelas menengah yang berpengaruh yang mendobrak tradisi feodalistik dan mengandalkan kecerdasan, bakat, dan pengetahuan sebagai faktor penentu peranan dan status sosial.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam renaisance Islam adalah Ibn Rusyd, Al-Farabi, Abu Sulaiman Al-Sijistani, Isa Bin Ali, Yahya Bin Adi, dan masih banyak lagi. Renaisance Islam dibangun melalui penekanan pentingnya warisan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani kuno untuk pembentukan pikiran dan karakter (character building) yang dimotori oleh raja (dinasti Buhaiwiyyah) dan para wazirnya. Melalui otoritas yang dimiliki raja dan para wazirnya menciptakan kondisi yang bernuansa keilmuan dengan memanjakan para filosof dan kaum intelektual, menggalakkan humanisme Islam, serta memajukan pendidikan dengan aplikasi kurikulum seven liberal arts.

Nilai Edukasi Renaisance Islam

Ada beberapa aspek yang dapat kita ambil sebagai spirit dalam pendidikan yakni sikap penguasa terhadap dunia ilmu melalui otoritas yang dimilikinya, konsep humanisme Islam, dan model kurikulum seven liberal arts. Dengan otoritas yang dimiliki raja dan wazir mendorong tumbuh kembang dunia akademis. Penerjemahan secara besar-besaran dilakukan oleh segenap ilmuwan dan kaum intelektual tanpa memandang status keagamaan sebagai contohnya adalah perpaduan antara kelompok Abu Sulaiman Al Sijistani yang mewakili kelompok Islam dengan Yahya Bin Adi yang mewakili kelompok Kristen.

Kecintaan politisi (penguasa) terhadap dunia ilmu pengetahuan melalui pewarisan ilmu pengetahuan menjadi poin yang untuk ukuran sekarang cukup mengagumkan, sebab dengan langkah tersebut tidak saja menumbuhkan kultur keilmuan dalam masyarakat tetapi juga memperlihatkan visi yang tajam terhadap pengembangan sumber daya insani. Tindakan tersebut mestinya menjadi contoh bagi politisi dan penguasa di tanah air yang perlahan-lahan kehilangan visi keilmuan karena cenderung lebih mencintai hingar-bingar dunia politik dan dunia entertainment. Bahkan lebih parah lagi kecintaan akan dunia selebritas juga melanda kaum intelektual kita sehingga ilmuwan dikampus lebih senang terjun kedunia politis sebab lebih “basah” dan kesohor karena kaya akan publisitas.

Nilai edukasi yang kedua adalah humanisme Islam yang ditempuh melalui belajar filsafat Yunani kuno. Dengan belajar filsafat Yunani kuno maka ada dua hal penting yang diperoleh, pertama; untuk belajar filsafat Yunani kuno diperlukan proses akademis yang panjang mulai dari penerjemahan, interpretasi, dan implementasi dalam kultur masyarakat lokal maupun nasional, kedua; kemauan belajar filsafat Yunani kuno menandakan bahwa dalam dunia Islam waktu itu tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan dan tidak menganggap filsafat sebagai bid’ah dari Yunani.

Penekanan humanisme Islam pada waktu itu adalah pembentukan karakter dan pikiran untuk memahami konsep persaudaraan dan kesatuan umat manusia serta konsep keramahan dan hubungan antar umat manusia. Konsep persaudaraan dan kesatuan umat menandakan pentingnya sikap egaliter tanpa memandang suku, agama, dan ras. Dengan sikap ini maka persatuan dan kesatuan masyarakat akan terjalin erat sehingga negara menjadi kuat. Konsep keramahan dan hubungan antar manusia perlu dibentuk agar harmoni kehidupan terbentuk dengan baik sehingga masyarakat tumbuh menjadi masyarakat yang selaras, serasi, dan seimbang dalam hak dan kewajiban.

Humanisme Islam yang telah tumbuh dalam masa renaisance mestinya kita aplikasikan dan kita kembangkan lewat jalur pendidikan. Konsep persaudaraan dan kesatuan umat dapat kita tanamkan dengan pengenalan hakikat manusia, hakikat beragama, dan hakikat kehidupan yang kita integrasikan dalam mata pelajaran. Konsep keramahan dan hubungan antar umat manusia dapat ditanamkan dengan mengintensifkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang diimplementasikan dalam ruang kelas kehidupan.

Nilai edukasi yang ketiga adalah pentingnya materi seven liberal arts yang terdiri atas trivium dan quadrivium. Trivium terdiri atas materi tata bahasa, dialektika, dan retorika. Tata bahasa merupakan materi yang penting, didalamnya terkandung kecerdasan verbal untuk menganalisa bahasa dalam dimensi ruang dan waktu. Kemampuan mendalami tata bahasa sangat berguna sebagai dasar pemahaman ilmu pengetahuan yang lain. Dialektika sangat penting diajarkan agar kehidupan menjadi dinamis, sebab dalam dialektika senantiasa terkandung thesa, antithesa, dan sinthesa. Dengan mendalami dialektika seseorang tidak akan mudah taklid, truth claim, dan berpikiran sempit karena tumbuhnya kesadaran bahwa teori bersifat spekulatif. Retorika penting untuk dikuasai guna meyakinkan pendapat, menyampaikan gagasan, mengasah meta kognitif, dan berpikir logis.

Quadrivium terdiri atas aritmetik, geometri, astronomi, dan musik. Aretmetik sangat penting dikuasai sebagai dasar keilmuan khususnya yang berkaitan dengan numerik. Dari nalar berpikir inilah munculnya konsep analog dan digital. Geometri adalah landasan pemahaman kecerdasan spatial yang nantinya berguna dalam arsitek, sipil, aerospace, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan dimensi ruang. Astronomi menjadi bagian penting dalam seven liberal arts karena dari sinilah munculnya kompas, penentu waktu, penentu arah, musim, dan lainnya. Dan musik menjadi pamungkas dalam quadrivium karena sebagai media untuk harmoni jasmani rokhani yang pada gilirannya sebagai penyelaras hidup.

Kurikulum seven liberal arts mestinya menjadi pijakan dalam pengembangan kurikulum di tanah air sebab dengan gamblang mampu mendudukkan Islam pada masanya dalam daya tawar yang tinggi. Pengadopsian tersebut tentunya tidak sekedar taken for granted tetapi dengan asimilasi sesuai kondisi di tanah air.

Pembelajaran Wacana Global

Isu-isu global telah menjadi wacana yang melekat dalam dinamika masyarakat ‘kampung besar’ dunia. Sebagai konsumen wacana atau isu, masyarakat Indonesia dihadapkan pada tiga pilihan yakni; alienatif dengan menolak dan menghindar dari segala isu, asimilatif dengan mengadaptasikan isu atau wacana dengan kondisi yang ada, atau taqlid dengan menghamba dan menjadi pengikut wacana atau isu yang ada.

Mengambil satu dari tiga pilihan tersebut tidaklah mudah, sebab pemilihan sikap selalu diikuti berbagai prasyarat dan kondisi. Kadangkala masyarakat sebagai konsumen dihadapkan pada pilihan yang sulit ketika wacana itu benar dari sisi metodologi atau premis umum, namun tidak cocok dengan religiusitas masyarakat atau kenyataan lokal yang berlaku dalam masyarakat lokal.

Wacana yang akhir-akhir ini muncul secara sporadis dalam tatanan masyarakat adalah pluralisme, multikulturalisme, humanisme, dan demokratisasi disamping wacana lain seperti pemanasan global dan kesetaraan gender. Sampai dengan saat ini sebagian masyarakat kita masih gagap bahkan latah dalam menghadapi berbagai wacana yang muncul. Dan wacana tersebut tidak jarang menyebabkan friksi yang melibatkan banyak unsur atau elemen masyarakat.

Menurut penulis ada beberapa penyebab mengapa masyarakat gagap dan latah dalam menyikapi wacana yang ada yakni: pertama; budaya membaca masyarakat yang rendah. Akibatnya sumber-sumber wacana dan rujukan-rujukan sebagai alat untuk justifikasi dari wacana tidak diperoleh. Kedua; derasnya wacana yang muncul sehingga belum sempat satu wacana dipahami telah muncul wacana yang lain. Akibatnya dalam masyarakat muncul apa yang dinamakan chaos wacana dan berpotensi membingungkan serta mengaburkan wacana itu sendiri.

Ketiga; pada generasi tertentu tidak atau kurang respect terhadap wacana yang berkembang karena merasa tidak berkepentingan secara langsung. Sikap demikian menurut penulis kurang tepat sebab mestinya wacana tetap dipelajari untuk ditransfer kepada anak cucu sehingga terbangun kultur peduli terhadap ilmu pengetahuan.

Keempat ; kurangnya figur yang memberi pencerahan secara arif dan bijaksana terhadap wacana ayang ada. Selama ini dalam masyarakat yang muncul adalah saling perang wacana dengan saling klaim kebenaran. Disatu pihak secara sporadis menyebarkan wacana dilain pihak mengkounter wacana dengan tak kalah sporadisnya.

Dan yang kelima; ketiadaan persiapan secara sistematis untuk menyiapkan generasi yang sanggup beradaptasi dengan dinamika wacana. Penyiapan ini penting sebab generasi kedepan adalah generasi yang harus tangguh menghadapi wacana global, dan penting untuk diketahui bahwa masa depan adalah dunia wacana.

Wacana itu penting

Kemunculan wacana selalu berangkat dari spektrum masyarakat atau cita-cita masyarakat. Realitas sejatinya selalu hadir lebih dahulu, hanya seringkali belum terwacanakan. Pluralitas misalnya, telah ada sejak dunia ini ada, begitu juga dengan multikultural. Sedangkan demokrasi dan humanisme adalah cita-cita masyarakat dunia untuk membangun peradaban yang tinggi.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keragaman, pluralitas dan multikultur adalah realitas yang kita miliki, sedangkan demokrasi dan humanisme adalah dua cita-cita yang sedang kita perjuangkan bersama-sama. Untuk memberi penyadaran atas realitas dan untuk memupuk perjuangan atas cita-cita maka penting untuk dibuat atau digulirkan wacana.

Dan perlu dicatat bahwa kehadiran wacana bukan untuk memperkeruh pikiran atau mengacak-acak keyakinan, tetapi persiapan menghadapi ritme pemikiran global untuk kehidupan dan peradaban lokal yang lebih mulia, dan tentu saja untuk mempertebal keyakinan yang dianut yang pada gilirannya tercipta insan yang humanis religius.

Menyampaikan wacana global di kelas

Idealnya wacana global disampaikan keseluruh lapisan masyarakat. Untuk proses ini penulis pandang relatif sulit sebab seperti penulis sampaikan di atas pada generasi tertentu (lanjut) merasa tidak atau kurang berkepentingan dengan wacana karena banyak tuntutan hidup yang lebih mendesak. Menurut hemat penulis, wacana global paling tepat disampaikan pada generasi yang sedang menempuh pendidikan, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dengan porsi yang berbeda-beda.

Dalam pembelajaran wacana global di kelas hambatan yang mungkin adalah: pertama; belum adanya kurikulum yang secara eksplisit memuat setiap wacana yang berkembang, kedua; belum semua guru tahu dan memahami berbagai wacana global yang ada, ketiga; pada daerah tertentu sumber-sumber wacana belum ada, dan keempat; ketiadaan sisipan wacana dalam berbagai mata pelajaran.

Idealnya diperlukan kurikulum yang memuat mata pelajaran wacana sehingga peserta didik selalu mendapatkan wacana yang segar , namun ketiadaan mata pelajaran wacana sejatinya dapat diantisipasi oleh guru mata pelajaran yang lain. Mata pelajaran bahasa, sosiologi, antropologi, IPS (untuk SD), dan kewarganegaraan sesungguhnya mata pelajaran yang potensial untuk disisipi wacana.

Mata pelajaran bahasa misalnya dapat disisipi bacaan yang berisi wacana sehingga pembelajaran bahasa sekaligus pembelajaran wacana. Untuk mata pelajaran sosiologi, antropologi, IPS (untuk SD), dan kewarganegaraan sudah tentu sangat mudah disisipi wacana global dengan dianalisis sesuai pisau bedah mata pelajaran itu sendiri.

Kontekstualisasi wacana

Kontekstualisasi wacana dalam pembelajaran di kelas adalah penting. Tanpa adanya kontekstualisasi maka wacana yang disajikan tidak meaningful, kurang bermakna. Mengkontekstualisasikan wacana berarti mengkaitkan wacana yang ada dengan realitas yang ada di lingkungan kelas, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat tempat peserta didik tinggal. Wacana pluralitas misalnya dapat dikontekskan dengan latar belakang atau keragaman agama yang dianut siswa, dan multikultur dapat dikontekskan dengan keragaman seni dan budaya dari siswa. Bahkan karakteristik siswa baik fisik atau psikis (kecerdasan majemuk) dapat dipakai sebagai contoh pluralitas.

Demokratisasi dapat ditanamkan melalui pembelajaran andragogik dengan memandang siswa sebagai insan dewasa yang dapat memilih dan bertanggung jawab terhadap sikap yang dilakukan di kelas ataupun di sekolah dan masyarakat.

Tujuan akhir yang hendak dicapai dari kontekstualisasi wacana global adalah membekali siswa dalam mengimplementasikan segala wacana yang ada dalam hidup sehingga pilihan yang diambil tidak merugikan bagi dirinya, keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Dan yang lebih utama adalah dalam rangka mempertebal keimanan sehingga yang muncul dalam hidup adalah virtues (berkepribadian terpuji).

About Me

My photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam