Disparitas Pendidikan

Kesenjangan pendidikan semakin nyata kita temui. Bukan dari perspektif geografis antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat yang sering didiskursuskan, tetapi kesenjangan itu kini semakin dekat jaraknya, antara sekolah di kota dan di pinggiran dalam satu wilayah, antara yang berlabel dan tidak berlabel, antar jenis atau rumpun pendidikan, atau antar yayasan yang saling berebut pangsa pasar dalam memperoleh siswa baru. Disparitas pendidikan tidak saja menandakan bahwa kastanisasi pendidikan benar adanya, tetapi juga kurangnya penghayatan dari pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan atas eksistensi sekolah. Dengan mudah kesenjangan itu dapat kita lihat dengan mata telanjang bagaimana sekolah-sekolah yang dianggap sebagai dewa penolong masyarakat dalam membangun knowledge anaknya telah penuh sebelum penerimaan peserta didik baru dimulai, adanya sumbangan pendidikan yang sifatnya memilih dengan besaran yang variatif, dan tentu servis dari pendidik yang deskriminatif. Pendidik cenderung memilih lembaga pendidikan dengan kasta lebih tinggi dengan asumsi insentif tambahannya akan linier dengan kelas sekolahnya. Disparitas pendidikan akan semakin nyata terlihat jika kita mencermati sekolah di pinggiran. Pada tingkat SD/MI dan SMP/MTs di daerah pinggiran terutama sekolah swasta mulai kesusahan mendapatkan siswa baru. Munculnya banyak yayasan yang mendirikan lembaga pendidikan menjadi sumber utama meruncingnya persaingan sekolah dalam mendapatkan siswa. Maklum, eksistensi sekolah swasta bergantung jumlah siswanya, semakin banyak siswa yang diperoleh semakin banyak pula dana yang akan diperolehnya. Kasus penerimaan peserta didik baru yang berlangsung beberapa minggu yang lalu sungguh mengusik hati penulis. Di daerah pinggiran, persaingan mendapatkan siswa baru sungguh gila-gilaan. Tak ubahnya coblosan pemilihan lurah atau presiden, dalam kasus ini dikenal pula istilah serangan fajar, pembagian semboko, dan tentu dibumbu-bumbui dengan agitasi murahan. Banyak sekolah yang menerapkan sistem ijon sebagaimana tengkulak padi yang membeli padi sebelum siap dipanen. Banyak pengelola pendidikan yang sudah gerilya untuk merayu calon peserta didik baru sebelum kelulusan diumumkan. Dengan spanduk, promo ke sekolah, dan yang lebih tragis lagi adalah door to door dengan iming-iming sekolah gratis, dibawakan seragam, dan tak lupa pula orang tuanya dirayu dan diyakinkan untuk sekolah yang dikelolanya. Bahkan guru dan pihak lain pun diberi kesempatan untuk mensukseskan promosi penerimaan peserta didik baru. Ada sekolah yang menghargai satu siswa dengan bonus Rp 20.000,- sampai dengan Rp 50.000,- kepada individu yang turut andil mendaftarkan calon siswa ke lembaga pendidikan yang dikelolanya. Pada level SMP/MTs lebih parah lagi, pengelola sekolah/yayasan sudah mengkalkulasi dulu untung dan ruginya mengeluarkan budjet untuk promosi. Untung dan rugi tersebut berdasar pada dana BOS yang akan diterimanya. Dengan besaran BOS sekian, dana promosi sekian, akan dengan mudah diperoleh besarnya keuntungan yang didapat. Belum lagi dampak ke depan, jika siswa banyak maka diharapkan memperoleh grant yang banyak pula dari lembaga donor/pemerintah. Dengan berbagai propaganda, orang tua siswa di daerah pinggiran penulis cermati mudah untuk tergoda, maklum sekolah gratis plus mendapatkan sedikit fasilitas seperti seragam dan buku akan meringankan beban ekonomi yang semakin hari semakin berat. Berbeda dengan orang tua siswa yang memiliki perekonomian kelas menengah ke atas, bujuk rayu itu tidak akan mempan karena mereka memilih sekolah mahal, yang berlabel dan memiliki kasta yang tinggi karena mereka mampu membayarnya. Ada dua fenomena yang paradoksal, sekolah yang dikategorikan bermutu (dengan dibuktikan oleh label yang dimiliki) akan memperoleh banyak dana (keuntungan) dari calon peserta didik yang berlomba-lomba menyumbang dengan pilihan nominal yang tinggi, sementara dipihak lain harus membujuk rayu calon siswa untuk sekolah di lembaga yang dikelolanya dengan harapan memperoleh keuntungan pula, meskipun menggantungkan dari bantuan pemerintah. Dua gambaran tersebut di atas menandaskan bahwa disparitas memang benar adanya, tetapi kesemuanya bermuara pada satu hal yakni perolehan dana (baca: keuntungan). Pendidikan kita, disadari atau tidak telah mengamini, bahkan jauh-jauh hari telah mempraktikkan apa yang menjadi konsensus GATS (General Agrreement on Trade in services) dimana menempatkan pendidikan sebagai bisnis jasa. Dengan malu-malu kita menyadari bahwa ranah pendidikan telah mempraktikkan kapitalisme secara massif. Disparitas pendidikan apapun bentuknya pertanda tidak baik bagi kelangsungan lembaga pendidikan di Tanah Air. Pengambil kebijakan perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurai dan mereduksi disparitas tersebut. Regulasi pendirian sekolah baru harus diperketat, begitu juga standar penerimaan peserta didik baru harus ditetapkan. Dalam konteks pendirian sekolah baru budaya ewuh-pekewuh harus dihilangkan. Penulis mencermati banyak pejabat penentu kebijakan pendirian sekolah baru tak kuasa menahan keinginan tokoh masyarakat yang akan mendirikan sekolah baru, meskipun letak sekolah baru tersebut nantinya berdekatan dengan sekolah yang sudah ada terlebih dahulu. Dalam aturan pendirian sekolah baru yang biasa disosialisasikan, sekolah sejenis pada jenjang sama minimal berjarak 5 km. Namun fakta dilapangan menyimpang dari ketentuan tersebut. Di daerah penulis dalam jarak 5 km ada lima lembaga pendidikan dengan jenis dan tingkat yang sama. Bahkan ada pula sekolah yang saling berhadap-hadapan sehingga persaingannya ketat sekali, bukan dalam wilayah akademik, tetapi dalam memperoleh siswa. Regulasi dalam penerimaan siswa baru juga harus ketat, mencuri start mestinya dilarang. Ketidaktegasan ini berakibat tidak meratanya potensi peserta didik dalam sekolah, disamping kecemburuan antar lembaga yang menjurus pada persaingan tidak sehat. Dengan tindakan tegas dan praktik regulasi yang tidak menyimpang penulis yakin disparitas pendidikan akan tereduksi.

Transformasi Manajemen Madrasah

Madrasah sebagai embrio pendidikan pribumi di Tanah Air menempati posisi strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sinergisitas corak kepesantrenan dan pendidikan formal tidak saja membekali peserta didik knowledge (pengetahuan) yang cukup, tetapi juga membentuk peserta didik dengan perilaku (behavior) yang relatif baik. Belakangan eksistensi madrasah mulai dibanding-bandingkan dengan sekolah umum yang oleh masyarakat diasumsikan lebih menjanjikan dari sisi kualitas pendidikan. Asumsi, stigma, dan apapun namanya adalah opini yang perlu kita cermati. Membicarakan madrasah sama halnya dengan membicarakan institusi/lembaga Islam yang menyelenggarakan pendidikan formal. Dan apapun yang namanya institusi/lembaga dalam perspektif Arie de Geus (dalam Kasali, 2006) merupakan sosok makhluk hidup (a living organism). Sebagai sosok makhluk hidup maka eksistensinya karena dilahirkan yang suatu saat akan sakit, tua, bahkan mati. Dalam kaca mata usia, madrasah yang telah lama ada digolongkan sebagai sosok makluk hidup yang telah tua. Karena usianya yang telah tua, madrasahpun tak dapat menghindar dari penyakit tua. Dalam usianya yang tua yang dibutuhkan adalah individu-individu yang membuatnya berjiwa muda, berpenampilan dewasa (bukan tua), dan perawatan yang baik agar fresh dan berenergi. Dalam konteks ini diperlukan transformasi manajemen madrasah, dari manajemen tradisional ke manajemen modern, dari pendekatan jadul ke pendekatan kekinian. Transformasi manajemen Munculnya banyak lembaga pendidikan baru disatu sisi menandakan menggeliatnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan dan dilain pihak memunculkan potensi persaingan antar lembaga pendidikan. Baik pendidikan swasta maupun negeri kini menawarkan program unggulan. Ada yang mengklaim sekolah plus, ada yang model full day school, ada yang membuka kelas olimpiad, dan ada pula sekolah alam. Belum lagi sekolah yang terstandarisasi sehingga muncul RSBN, SSN, RSBI, dan SSI. Melihat fenomena yang ada, pengelola madrasah tidak boleh hanya menjadi penonton, apalagi alienatif. Madrasah mau tidak mau harus berevolusi dengan tidak menanggalkan core keilmuannya sebagai pendidikan yang bercita rasa pesantren. Evolusi dalam konteks transformasi manajemen madrasah dimaknai sebagai upaya mempertahankan dan melangsungkan madrasah untuk lebih adaptif, menyesuaikan diri, dan lebih berdaya untuk meneruskan eksistensinya. Transformasi manajemen madrasah dapat merujuk pada dua perubahan manajemen yakni perubahan operasional dan perubahan strategis. Perubahan operasional merupakan perubahan-perubahan kecil yang sifatnya parsial (Kasali, 2006). Dalam konteks madrasah perubahan parsial dapat berupa perubahan desain kurikulum, seragam sekolah, dan penampilan madrasah. Munculnya banyak sekolah yang uniform-nya mirip tentara merupakan strategis operasional yang bersifat parsial. Madrasah dalam perubahan operasional dan melakukan dekonstruksi kurikulum atas dasar filosofi KTSP, dan redesain tata organisasi madrasah agar lebih smart. Perubahan strategis (strategic change) mengarah pada tiga perubahan mendasar yang meliputi perubahan budaya dan nilai, perubahan arah/fokus, dan perubahan cara kerja. Dalam perubahan budaya (shift culture) tidak boleh tercerabut dari lingkungan madrasah dengan corak dasar kepesantrenan. Budaya unggul yang perlu ditanamkan adalah budaya equalitas (kesamaan) tanpa memandang nasab siapa sehingga kesenjangan kasta dan pengkultusan individu tereduksi, syukur-syukur dihilangkan dan diganti saling menghargai dan menghormati. Budaya ilmiah dengan penemuan, inquiri, dan pendekatan berbasis masalah harus lebih ditanamkan. Begitu juga budaya disiplin dan beretos kerja yang tinggi. Perubahan arah/fokus berorientasi pada keunggulan komparatif yang dibangun. Sebagai sekolah umum yang berciri khas agama madrasah tidak cukup memenuhi standar nasional pendidikan, tetapi harus lebih sebagai keunggulan komparatif yang dimiliki. Ibarat orang jualan, jika semua menjual kecap, maka madrasah harus menjual saos agar tetap diburu pembeli, sebab penjual kecap semuanya mengklaim kecapnya nomor satu. Keunggulan komparatif dapat dibangun dengan basis dua model, model pertama penguatan pada kitab turats dan model kedua pada diversifikasi pendekatan pembelajaran dan life skill untuk menghasilkan lulusan yang kuat dalam keilmuan dan memiliki skill yang sifatnya pragmatis. Perubahan strategis yang ketiga adalah perubahan cara kerja untuk meningkatkan efisiensi dan penghasilan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Dalam perubahan cara kerja yang dibutuhkan oleh pengelola madrasah adalah bagaimana setiap kerja terukur, tidak sekedar berjalan apa adanya. Kerja terukur membutuhkan parameter atau standarisasi. Ini penting dilakukan agar setiap pekerjaan yang dilakukan ada ruh dan semangat kerja. Ruh dn semangat kerja menandakan kinerja yang sungguh – sungguh yang akhirnya bermuara pada hasil yang maksimal, man jadda wa jadda.

Altruisme Guru

UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dan diikuti PP No. 74 Tahun 2008 tentang guru menempatkan pekerjaan guru sebagai sebuah profesi. Dan profesionalitas guru sesuai dengan produk hukum di atas ditempuh melalui program sertifikasi guru. Mereka yang telah lulus sertifikasi guru ditasbihkan sebagai guru profesional.
Dalam kajian profesi, ada empat syarat suatu pekerjaan dikatakan sebagai sebuah profesi. Pertama; memiliki theoritycal knowledge. Syarat ini menegaskan bahwa profesi apapun harus dilandasi pengetahuan teoritis. Profesional seseorang dibangun melalui pengetahuan. Tanpa adanya knowledge maka pekerjaannya tak lebih seperti tukang, hanya berlandaskan pengalaman empiris, miskin teori. Kedua; adanya self regulated training and practice. Seorang profesional memiliki otonomi yang luas, bekerja tidak dalam bayang-bayang atasan ataupun supervisor. Memiliki otoritas untuk mengembangkan skill melalui pelatihan yang benar-benar dibutuhkan untuk mendukung profesinya. Ketiga; authority of clients. Seorang professional memiliki otoritas atas kliennya. Otoritas seorang guru sama halnya dengan penasihat hukum terhadap klien, dokter terhadap pasien, dan profesi lainnya. Dan syarat terakhir adalah community rather than self interest orientation. Seorang profesional mementingkan komunitas dibanding motif pribadi. Dalam perspektif filsafat, berbuat baik terhadap orang lain tanpa memperhatikan imbalan dan ganjaran lainnya disebut sebagai perilaku altruis.
Altruisme berasal dari bahasa Latin, alter yang berarti orang lain. Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Altruisme pada dasarnya dianjurkan oleh semua agama. Dalam Islam ada ajaran yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Artinya keberadaannya dibutuhkan oleh orang lain. Menjadi pencerah, tempat solusi bagi orang-orang disekitarnya. Diposisi manapun individu yang altruis selalu menunjukkan kebaikan sebagaimana ajaran ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Tergerusnya altruisme guru
Tiga syarat yang meliputi theoretical knowledge, self regulated training and practice, dan authority of clients relatif mudah dipenuhi oleh guru, namun syarat yang keempat yakni community rather than self interest orientation susah untuk diwujudkan. Di era materialisme, hanya manusia-manusia pilihan yang mampu menanggalkan motif pribadi dan orientasi materi.
Tidak terpenuhinya seluruh syarat profesi menandakan bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, tidak sembarang individu mencapai derajat guru sejati.Yang mudah dicapai baru pada tataran guru administratif. Guru administratif tidak akan memiliki ruh dan ghiroh sebagaimana guru sejati.
Ada banyak faktor yang menyebabkan tergerusnya altruisme guru. Sebab-sebab itu dapat dilihat sebagai dampak yang sistemik, di sisi lain faktor tersebut berwujud motif pribadi yakni peningkatan kesejahteraan. Dampak yang sistemik utamanya karena faktor aturan yang “memaksa”. Misalnya Ujian Nasional dan portofolio untuk sertifikasi guru yang tidak mudah. Adanya produk-produk peraturan yang tidak mudah untuk dijangkau memaksa guru melakukan”penyesuaian” dengan caranya sendiri. Dan selanjutnya mudah ditebak, reaksi tersebut berpotensi menggerus kapasitas guru sebagai manusia yang baik.
Wilayah pendidikan mestinya wilayah suci yang mengajarkan nilai-nilai luhur yang include dalam setiap materi pelajaran. Azzumardi Azra pernah menyatakan bahwa apa yang dilihat atau yang terjadi di negara adalah apa yang dilihat dan terjadi di sekolah. Carut marut di Tanah Air adalah proyeksi atas carut marut yang terjadi di sekolah. Lalu siapa yang salah?, gurunya, kurikulumnya, atau sistemnya?. Menyalahkan salah satu komponen tidaklah menyelesaikan masalah.
Guru sebagai ujung tombak pembelajaran sejatinya menjadi kunci dalam transfer pengetahuan dan nilai-nilai luhur. Yang menjadi persoalan adalah jika gurunya sendiri tergerus jiwa altruismenya bagaimana dapat menanamkan nilai-nilai luhur tersebut kepada siswanya. Tergerusnya altruisme guru menjadikan pembelajaran hambar, kehilangan elan vitalnya. Yang tercipta hanyalah generasi-generasi kognitif yang (oleh St. Kartono) disebut generasi yang besar kepalanya namun kerdil hatinya.
Meningkatkan pendidikan tidak cukup hanya memenuhi fasilitas dan insfrastruktur tetapi juga faktor mental pendidik. Pendidikan yang bermutu membutuhkan jiwa-jiwa altruis dari sang Guru. Salah satu pekerjaan rumah LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik) dan pemerintah adalah bagaimana mendesain calon-calon guru memiliki jiwa altruis yang kelak akan menjadi katalisator peningkatan mutu pendidikan yang sesungguhnya.

Kinerja Guru

Kinerja merupakan terjemahan dari istilah Inggris, performance yang berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, atau hasil kerja/unjuk kerja/penampilan kerja (LAN, 1992). Wirawan (2001:13) menyatakan “kinerja sering juga disebut dengan kinetika kerja atau performance:, kinerja juga merupakan suatu fungsi dari hasil atau apa yang dicapai seorang karyawan dan kompetisi yang dapat menjelaskan bagaimana karyawan dapat mencapai hasil tersebut. Stoner (1992: 206) mengemukakan teori bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, ability (kemampuan) dan role perception (pemahaman peran) atau pemahaman seseorang atas tugas dan perilaku yang diperlukan untuk mencapai kinerja.
Menurut Mahmudi (2005:20 faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:
a. Faktor personal/individu, meliputi: pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki setiap individu.
b. Faktor kepemimpinan, melipiti: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan pemimpin.
c. Faktor tim, meliputi: semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama tim, kekompakan dan keeratan anggota tim.
d. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja dalam organisasi.
e. Faktor kontekstual (situasional) meliputi: tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.

Menurut Steers&Proter (1991) bahwa tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian kompensdasi yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat meraka bekerja. Pemberian kompensasi yang tidk tepat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Ketidaktepatan pemberian kompensasi disebabkan oleh (1), pemberian jenis kompensasi yang kurang menarik (2) pemberian penghargaan yang kurang tepat tidak membuat para pekerja merasa tertarik untuk mendapatkannya. Akibatnya para pekerja tidak memiliki keinginan meningkatkan kinerjanya untuk mendapatkan kompensasi tersebut.
Dalam rangka pen ingkatan kinerja, paling tidak ada tujuh langkah yang dapat dilakukan:
1. Mengetahui adanya kekurangan dalam kinerja
2. Mengenai kekurang yang ada dan tingkat keseriusannya
3. Mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menjadi penyebab kekurangan baik yang berhubungan dengan pegawai itu sendiri
4. Mengembangkan rencana tindakan tersebut
5. Melakukan evaluasi apakah masalah tersebut sudah selesai atau belum
6. Mulai dari awal, apabila perlu.
Ada beberapa cara untuk memberikan kekuatan (empowerment) kepada karyawan agar bekerja lebih efektif (Walker, 1980;265) yaitu:
1. Memastikan bahwa pekerja memperolah sumber daya yang diperlukan khususnya sumber daya informasi, kemudian untuk mengakses informasi akan meningkatkan peranan (sense of involvement)
2. Memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada individu atau tim untuk bertindak dan mengatur dirinya sendiri.
3. Membantu mengembangkan hubungan lateral (lateral relationship) dalam sebagai sarana atau fasilitas problem solving dan learning.
Adapun ukuran kinerja menurut T.R. Mitchell (19890 dapat dilihat dari lima hal;
1. Quality of work, kualitas hasil kerja
2. Promptness, ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan
3. Innitiative, prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan
4. Capability, kemempuan menyelesaikan pekerjaan
5. Communication, kemampuan membina kerja sama dengan pihak lain

B. Lingkungan Kerja
Alex S. Nitisemito (1991:184), “lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan.Neuner dan Kallaus (1972) mengelompokkan interaksi faktor-faktor psikologi dan fisiologi dalam lingkungan kantor menjadi empat, yaitu lingkungan penglihatan (faktor cahaya, warna), lingkungan atmosfer (kelembaban, sirkulasi, udara, suhu), lingkungan permukaan (kebersihan) dan lingkungan pendengaran (peredam suara, tata surya).
Lingkungan kerja terdiri dari dua dimensi yaitu dimensi lingkungan fisik yang bersifat nyata dan dimensi lingkungan non fisik yang bersifat tidak nyata. Lingkungan fisik berkenaan dengan kondisi tempat atau ruangan dan kelengkapan material atau peralatan yang diperlukan karyawan untuk bekerja. Sedangkan lingkungan non fisik berkenaan dengan suasana sosial atau pergaulan (komunikasi) antar personel dilingkungan unit kerja masing-masing atau dalam keseluruhan organisasi kerja. Lingkungan kerja fisik meliputi peralatan, bangunan kantor, perabot, dan tata ruang. Termasuk juga kondisi jasmaniah tempat pegawai bekerja meliputi desain tata letak, cahaya (penerangan), warna, suhu, kelembaban, dan sirkulasi udara. Sedangkan yang termasuk ke dalam non fisik yaitu suasana sosial, pergaulan antar personil, peraturan kerja (tata tertib) dan kebijakan perusahaan.
C. Kinerja Guru
Berkaitan dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tuga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai, meliputi:
1. Kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang, suara, mata atau pandangan, kesehatan, pakaian, pendengaran, dan hal yang bersifat psikis seperti humor, ramah, intelek, sabar, sopan santun, rajin, kretaif, kepercayaan diri, optimis, kritis, objektif, dan rasional.
2. Kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka, disiplin, berdekikasi, tanggung jawab, suka menolong, bersifat membangun, tertib, adil, pemaaf, jujur, demokratis, dan cinta anak didik.
3. Kemampuan profesional, meliputi 10 kemampuan profesional guru: menguasai bidang studi, menguasai aplikasi, mengelola KBM, mengelola kelas, menguasai media, menggunakan landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi, mengenal fungsi dan program BK, administrasi sekolah, dan mengenal penelitian pendidikan.

Kepribadian

Jika Anda ingin benar-benar menguasai kepribadian dalam perspektif psikologi, Anda dapat membaca buku karya Calvin S. Hall & Gardner Lindzey yang berjudul Theories of Personality. Dalam bahasa Indonesia, buku tersebut disunting oleh Supratiknya dengan judul teori-teori holistic terbitan kanisius.
Mempelajari teori kepribadian diharapkan memberi nilai tambah knowledge Anda mengenai apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku manusia. Dengan kata lain, teori kepribadian akan menyibak tingkah laku manusia. Menyibak tingkah laku manusia tidak cukup hanya dengan angket karena akan memberikan hasil yang berpotensi bias.
Dimensi teori kepribadian terdiri atas:
1. Struktur kepribadian: aspek kepribadian yang relatif stabil, merupakan pembentuk sosok kepribadian. Meskipun dirubah, suatu sat dia akan muncul lagi.
2. Proses kepribadian: dinamika tingkah laku/kepribadian
3. Pertumbuhan dan perkembangan: perubahan struktur dari masa bayi dan factor-faktor yang mempengaruhinya.
4. Psikopatology: gangguan kepribadian
5. Perubahan tingkah laku: modifikasi tingkah laku
Dalam kaitanya dengan pandangan manusia (kepribadian manusia) ada tiga mazhab yg populer di dunia Barat:
1. Mazhab pertama; mazhab pesimistik; memandang manusia pada dasarnya jahat.
2. Mazhab kedua; mazhab deterministik; perkemb manusia dapat diarahkan dari luar, bersifat impersonal dan direktif
3. Mazhab ketiga; mazhab optimistic; manusia memiliki potensi positif dengan diterima dan didampingi (humanistic)

Struktur Kepribadian (Murray): pandanganya ; masa lampau atau sejarah individu benar-benar sama pentingnya seperti keadaan individu beserta lingkungannya di masa kini. Masa lalu menentukan kepribadian masa kini (psikoanalisis).
Struktur kepribadian terdiri dari ego, id, dan superego.
id: impuls primitive, membawa kea arah baik dan jahat (naluriah)
ego: menekan impuls ego. Mengorganisasi id agar motifnya ke naluri yang baik
Superego: ambisi pribadi yang diperjuangkan, mengarah pada sesuatu yg berbudaya.
Dianamika kepribadian: dipengaruhi oleh proses fisiologis dan neurologist. Berkaitan dengan motivasi individu
Lalu bagaimana kaitan antara teori kepribadian dg kompetensi kepribadian guru?
Mestinya teori kepribadian ini menjadi knowledge bagi guru untuk mengetahui hakekat kepribadian sekaligus menjadi filter bagi pengadaan guru kedepan. Perlu adanya rekam jejak kepribadian untukm memperoleh hasil yg baik.

PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS XI SEMESTER GENAP BAB AKHLAK TERPUJI DALAM PERGAULAN RE

Kualitas pembelajaran menjadi kunci dalam peningkatan sumber daya manusia. Pembelajaran yang berkualitas merupakan pembelajaran yang terencana dan sengaja diciptakan (intentional learning), bukan belajar yang terjadi secara insidental (incidental learning). Gagne (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Senyampang dengan pendapat Gagne, Patricia L. Smith dan Tillman J. Ragan (Benny A. pribadi, 2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan yang spesifik. Dari kedua pendapat di atas, kata yang perlu digarisbawahi adalah adanya unsur sengaja diciptakan yang secara implisit menggambarkan bahwa kesengajaan tersebut disusun secara sistematis dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Dengan demikian penyusunan lesson plan harus benar-benar faktual dan terukur operasionalnya.
Pembelajaran yang diciptakan membutuhkan perencanaan yang matang, sesuai alokasi waktu, mengandung setidaknya satu kompetensi dasar, terdapat langkah-langkah pembelajaran, menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan faktor pendukung lainnya, menyajikan model evaluasi, dan menunjukkan sumber referensi yang digunakan.
Desain pembelajaran merupakan kegiatan yang penting untuk dilaksanakan sebelum seorang guru melaksanakan aktifitas pembelajaran di kelas. Desain sistem pembelajaran terdiri atas empat komponen yang memiliki hubungan fungsional antara materi pembelajaran, kompetensi pembelajaran , strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat komponen tersebut digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Desain Pembelajaran








Sumber:Bermawy Munthe (2010:5)

Materi pembelajaran secara anatomis terdiri atas materi yang berisikan sekumpulan fakta (memuat subjek pelaku/tokoh, tempat kejadian, dan waktu), konsep (berisi definisi, eksplanasi atas suatu teori, dan identifikasi dari suatu objek), prosedur (berupa urutan yang sifatnya mekanis) dan prinsip (dalam bentuk dalil, hukum, atau aksioma). Kompetensi dari suatu mata pelajaran menggambarkan kemampuan yang harus dipenuhi (berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dari suatu materi pembelajaran. Dengan demikian jelaslah kaitan hubungan fungsional antara materi dan kompetensi pembelajaran karena sebelum menentukan kompetensi pembelajaran harus diurai terlebih dahulu anatomi dari suatu materi pelajaran. Hubungan antara anatomi materi pelajaran dan kompetensi pembelajaran akan bermuara pada penyusunan indikator dan perencanaan evaluasi pembelajaran. Hubungan keempat bagian tersebut digambarkan dalam gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2. Hubungan antara materi, kompotensi, dan
kisi-kisi soal



Strategi pembelajaran merupakan mata rantai ketiga yang menghubungkan antara materi pelajaran dan kompetensi dari suatu materi. Strategi yang ideal hendaknya linier dengan materi dan kompetensi yang dicapai. Sebagai contohnya jika materinya adalah berenang, maka kompetensinya adalah dapat berenang, dan strategi yang paling tepat adalah praktik renang.
Dewasa ini perkembangan strategi dan model pembelajaran sangat cepat dan beragam. Pembelajaran model ceramah yang menggunakan pendekatan teacher centered telah dianggap konvensional meskipun untuk materi tertentu pembelajaran ceramah masih diperlukan. Dalam direct instruction pembelajaran ceramah diimplementasikan pada materi yang sifatnya deklaratif dan prosedural di mana model tersebut masih merupakan kegiatan pembelajaran yang ideal.
Perkembangan model pembelajaran dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Jean Piaget, John Dewey, Vygotsky, David Ausubel, dan Savin. Dari pemikiran tokoh-tokoh tersebut muncul berbagai model pembelajaran seperti CTL (contextual teaching and learning, pembelajaran bermakna, pembelajaran sosial,pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif). Dari sekian banyak model pembelajaran tersebut, model computer assisted instruction paling intensif dikembangkan seiring dengan pesatnya program aplikasi komputer. Model computer assisted instruction memiliki banyak keunggulan antara lain:
1. Siswa dapat belajar mandiri
2. Pembelajaran lebih terasa fun
3. Siswa langsung mengetahui skor yang diperoleh (authentic value)
4. Menambah motivasi belajar
5. Aplikasi dan pemanfaatan teknologi
6. Sangat potensial untuk pengembangan home schooling
7. Sebagai bentuk integrasi teknologi dan agama
Menyimak banyaknya keunggulan dari model computer assisted instruction maka implementasi model tersebut dalam pembelajaran aqidah akhlak menjadi bernilai strategis karena:
1. Pembelajaran selama ini menggunakan pendekatan teacher centered sehingga siswa relatif pasif dalam pembelajaran.
2. Pembelajaran rumpun agama cenderung dogmatis sehingga nalar siswa tidak terasah.
3. Pembelajaran cenderung membosankan karena monoton.
4. Adanya kesan teknologi terpisah dengan agama sehingga membuat guru rumpun agama tidak memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi.
Dengan menyimak keunggulan pembelajaran berbasis teknologi dan nilai strategisnya maka pembelajaran mandiri berbantuan komputer menjadi urgen untuk diimplementasikan dalam praksis pembelajaran.

C. Tujuan Pembuatan Media pembelajaran Aqidah Akhlak
Setiap mempelajari materi pembelajaran muara terakhirnya adalah terpenuhinya standar kompetensi lulusan dalam tiga ranah pendidikan yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pembelajaran aqidah akhlak unsur yang ada meliputi kognitif dan afektif sehingga pembuatan media pembelajaran ini diharapkan:
1. Siswa dapat belajar mandiri; dari mempelajari materi hingga mengevaluasi diri.
2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari mata pelajaran aqidah akhlak sehingga prestasi siswa dalam mata pelajaran tersebut meningkat.
3. Dari rasa senang dalam belajar akan menimbulkan kesadaran tentang esensialnya materi aqidah akhlak dalam hidup.
4. Mengakomodasi semua gaya belajar siswa karena media mengandung unsur visual (melalui tampilan tulisan, grafik, dan gambar di monitor komputer), auditorial (melalui suara), dan kinestetik (gerakan).

D. Waktu Penggunaan Media
Dalam desain model pembelajaran dikenal dengan empat kegiatan yakni define, design, development, and decimination. Media ini pada mulanya berupa program Power Point konvensional tanpa diberi sentuhan animasi dan aplikasi teknologi lainnya. Seiring dengan interaksi penyusun dengan dunia teknologi, program tersebut dikembangkan hingga terbentuk media pembelajaran interaktif seperti sekarang. Setelah melalui tahapan diskusi dengan komunitas di madrasah dan konsultasi dengan para outsider akhirnya media pembelajaran ini didesiminasikan di kelas-kelas dalam bentuk simulasi. Dan setelah dipandang menarik, pembelajaran aqidah akhlak dirubah dari pembelajaran di kelas secara klasikal menjadi model pembelajaran mandiri di laboratorium multi media di Madrasah aliyah Alhikmah 2. Foto-foto (terlampir) dalam pembelajaran ini diambil di tahun pelajaran 2009/2010.
E. Deskripsi dan Cara Penggunaan Media Pembelajaran
1. Deskripsi Media Pembelajaran
Media ini menggunakan beberapa program yaitu :
a. Microsoft Power Point
b. Total.Recorder.Editor.Pro.12.0.1
c. Camtasia
d. Animasi
2. Petunjuk Penggunaan
Penggunaan media ini mudah dan bisa diakses oleh semua siswa dengan melihat petunjuk – petunjuk di bawah ini :
a. Buka dengan menekan dua kali klik
b. Pertama akan diantarkan oleh sebuah intro
c. Kemudian akan berlanjut ke home / tampilan awal
d. Home berisi beberapa menu yaitu :
• Profile yang mengirformasikan data pembuat program media pembelajaran ini.
• Apersepsi yaitu gambaran yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diterangkan agar siswa terbantu memahami materi yang di terangkan.
• SK/KD berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar materi yang terdapat dalam media ini.
• Materi, yang berisi point – point atau sinopsis dari kompetensi dasar. Poin-poin dari kompetensi dasar secara lebih luas dijelaskan lebih lanjut dengan menu tools audio yang di gambarkan dengan sebuah gambar Speaker. Selain dengan menggunakan tools bar audio, poin dalam materi ini ada juga yang langsung dijelaskan yakni slide yang menggunakan Camtashia dimana tanpa mengklik speaker (dalam tools bar) suara akan langsung keluar..
Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan langkah-langkah penggunaan media pembelajaran:



F. Langkah-langkah pembelajaran
1. Silabus
2. RPP
3. Sintaks atau alur pembelajaran
Pembelajaran akan efektif jika dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang telah terencana. Berikut ini disajikan sintak pembelajaran dengan berbantuan media computer (computer assisted instruction):
Fase Kegiatan Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran aqidah akhlak bab akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
Fase 2
Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa secara deklaratif dan diikuti tata cara penggunaan media pembelajaran interaktif
Fase 3
Membimbing siswa belajar mandiri Membimbing siswa saat belajar mandiri menggunakan media pembelajaran interaktif
Fase 4
Evaluasi Mengevaluasi siswa dalam pemanfaatan media sekaligus meng-input hasil belajar siswa
Fase 5
Memberi penghargaan Memberi apresiasi kepada siswa yang dapat belajar secara efektif dengan media pembelajaran interaktif




G. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dalam media ini menggunakan tes tertulis dengan tipe soal pilihan ganda. Soal-soal evaluasi telah tersaji di menu bar yakni menu evaluasi. Siswa yang akan mengikuti evaluasi tinggal masuk ke menu evaluasi dan dapat langsung mengerjakan soal dengan mengikuti petunjuk yang telah disajikan. Setelah mengerjakan soal media ini akan secara otomatis menampilkan skor nilai yang diperoleh.

Pendidikan Anak Usia Dini

Pendahuluan
Anda tentu sangat familiar dengan film Samson dan Delila. Personifikasi Samson adalah manusia dalam asuhan binatang, besar di rimba belantara, dapat berkomunikasi dengan semua penghuni rimba namun tidak bisa berkomunikasi dengan sesama manusia. Fenomena Samson sama halnya dengan Hayy bin Yaqzan yang besar dalam asuhan Rusa. Hayy memiliki sifat dan skill sebagaimana rusa yang dapat berlari dengan sangat kencang, gesit, dan lincah. Apa yang dapat kita baca dari film tersebut?. Sebagian besar dari kita tentu mengamini bahwa pendidikan dan pembiasaan akan membentuk kemampuan seseorang. Individu yang tidak mengenyam pendidikan bagaimanapun besarnya potensi yang dimiliki tidak akan efektif beraktualisasi di dunia modern yang menganut life based knowledge and technology.
Pendidikan sebagai sebuah kebutuhan telah disadari benar oleh masyarakat. Keyakinan bahwa pendidikan merupakan salah satu variabel kesuksesan hidup menjadi pendorong utama setiap individu untuk menjadi manusia pembelajar. Atas dorongan kebutuhan dan keyakinan sebagaimana ajaran agama yang menganjurkan menuntut ilmu semenjak dalam ayunan hingga menjelang ajal menempatkan pendidikan sebagai “barang mewah” yang dicari setiap manusia. Dampaknya jelas, diversifikasi pendidikan menjadi varian baru dalam bidang jasa pendidikan. Salah satu diversifikasi pendidikan yang semakin mendapatkan tempat adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
Dalam pandangan yang pragmatis, bagi sebagian orang PAUD adalah alternatif “penitipan anak” bagi pasangan suami isteri yang sibuk dari pada menitipkan anak dalam asuhan “pembantu”. Anak dalam bimbingan para guru di PAUD bagi masyarakat dianggap lebih safe dan lebih banyak mengandung unsur edukatif.
Dalam sejarahnya, keberadaan PAUD di manca negara diawali keinginan untuk “menyelamatkan” anak yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Sebagaimana penelitian yang menyebutkan bahwa anak-anak yang berasal dari profesional lebih banyak dalam perkembangan kata-kata dibanding anak-anak para pekerja dan penganggur. Anak-anak dari keluarga profesional dan pekerja cenderung memperoleh feed back yang membesarkan hati, sementara anak-anak dari keluarga penganggur cenderung memperoleh feed back yang mengecilkan hati. Anak-anak yang sejak kecil berada dalam kondisi tertekan akan cenderung mengalami kesulitan di masa dewasanya dan terjebak dalam kenakalan. Dari latar belakang tersebut munculah pendidikan pra sekolah yang di Indonesia populer dengan Pendidikan Anak Usia Dini.
Dalam perkembangannya, keberadaan PAUD tidak saja sebagai wahana penitipan anak, namun juga sebagai persiapan meningkatkan ketercapaian prestasi akademik. Bahkan lebih serius lagi, pendidikan pranatal disertai pengaturan gizi telah dipersiapkan oleh para orang tua untuk memperoleh kualitas maksimal dalam bidang akademik. Bahkan orang tua menyiapkan waktu khusus untuk pendidikan parenting agar tidak salah langkah dalam mengurus anak. Salah satu materi penting dalam parenting pranatal adalah memaksimalkan potensi perkembangan otak janin yang dalam kandungan akan berkembang dengan kecepatan 250.000 sel setiap menit.

Apa yang harus diajarkan di PAUD ?.
Diskursus tentang apa yang harus diajarkan pada Pendidikan Anak Usia Dini merupakan diskursus yang terus berkembang. Sebagaian masyarakat menginginkan anaknya diberi dasar-dasar calistung (baca, tulis, hitung), dan sebagian lagi menginginkan PAUD tak ubahnya tempat bermain bagi anak-anak karena dunia anak adalah dunia bermain. Di Amerika Serikat dan Inggris, saat ini telah terjadi pergeseran orientasi, PAUD tidak lagi sebagai wahana bermain anak-anak tetapi mengarah ke pembelajaran keterampilan dasar. Di Flanders dan Hungaria, PAUD lebih menekankan pembelajaran permainan, konstruksi spontan, dan latihan baca tulis (Muijs dan Reynold, 2010). Bagi penulis, materi terbaik yang diberikan anak-anak di PAUD adalah dasar-dasar keterampilan, baik keterampilan calistung maupun keterampilan sosial, namun dikemas dalam nuansa bermain.
Latihan menghitung dapat dikemas dalam permainan balok, latihan menulis dapat dimulai dari hal-hal yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak, begitu pula dengan materi membaca. Keterampilan sosial dan komunikasi penting karena masa-masa di PAUD adalah masa transisi dari rumah ke sekolah. Ayah dan ibu yang secara emosi dan psikologi sangat dekat harus digantikan oleh orang lain. Bahasa tubuh, gesture, yang sangat dipahami oleh ayah dan ibu kadang tidak dimengerti oleh orang lain sehingga anak harus berlatih komunikasi dengan orang lain. Demikian juga anak-anak harus menyerap informasi baru dari orang lain yang tentu caranya berbeda dengan kebiasaan di rumah. Intensitas komunikasi antar anak dan guru akan sangat menunjang keterampilan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi yang secara langsung akan menentukan sukses tidaknya masa transisi. Ketidaksuksesan masa transisi berakibat anak-anak phobi sekolah atau minta pindah sekolah. Untuk itu orang tua harus secara intens membangun komunikasi dengan guru dan memantau anaknya dalam fase-fase kritis.
Orang tua harus secara kontinyu membaca buku komunikasi sekolah dengan orang tua tentang perkembangan anaknya sehingga dapat mengambil tindakan dengan tepat. Dan bagi sekolah, buku komunikasi sangat penting tidak saja sebagai bagian dari service sekolah terhadap kostumer tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral sekolah terhadap orang tua yang telah percaya menyekolahkan anaknya.
Kompetensi apa yang diharapkan dari anak pra sekolah?
Kompetensi bergantung pada materi. Kompetensi merupakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dari suatu subjek materi pelajaran. Lalu apa kompetensi anak-anak yang harus dikuasai di PAUD. Dari uraian materi di atas dapatlah disimpulkan bahwa kompetensi yang harus dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi (baik reseptif maupun ekspresif), keterampilan bersosialisasi, dan keterampilan dasar-dasar calistung. Sebagai orang tua secara mudah dapat kita lihat perkembangan anak yakni dengan daya interest anak untuk berangkat sekolah, materi cerita anak di rumah, dan tentu input yang diberikan oleh sekolah. Jika anak-anak tidak betah di sekolah berarti ada yang tidak sukses dalam fase transisi, jika anak tidak pernah cerita di rumah tentang sekolah dan teman-temannya serta gurunya berarti sekolah gagal dalam menciptakan kesan asyik bagi anak didiknya.
Muijs dan Reynold mendefinisikan keterampilan kesiapan sekolah meliputi:
1. Keterampilan sosial, menghormati orang lain, bekerja secara kooperatif, dan berlatih mendengarkan orang lain.
2. Keterampilan komunikasi: seperti meminta bantuan ke orang lain, mengutarakan pikiran dan perasaan
3. Perilaku terkait tugas; tidak mendisrupsi (mengganggu) orang lain, menyelesaikan tugas dari guru

Strategi belajar PAUD
Strategi pembelajaran di PAUD tentu linier dengan materi dan kondisi anak-anak. Sebagaimana diuraikan di atas dimana materi dikemas dalam nuansa bermain, maka PAUD sudah seharusnya menggunakan strategi belajar yang menyenangkan, cenderung direktif dan konkrit. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan cerita, percakapan, dan demonstratif yang sekaligus mengandung unsur eksplorasi kemampuan anak. Mengeksplorasi kemampuan anak penting karena akan melatih anak untuk beraktualisasi di kelas. Di Amerika Serikat, pendidikan pra sekolah yang sangat berpengaruh adalah program High Scope. Di sekolah ini model pembelajarannya bersifat langsung dengan objek riil sehingga siswa aktif. Sementara di Italia, pendidikan pra sekolah yang dikenal dengan proyek Regio Emillio menerapkan pembelajaran tematik berbasis proyek dengan menekankan interaksi antara guru dan murid.
Strategi pembelajaran di PAUD dapat dilakukan dengan model sebagai berikut:
1. Bermain: mengembangkan bahasa reseptif dan ekspresif
2. Drama dan sandiwara pendek: membantu perluasan pemikiran dan pembentukan karakter
3. Diskusi dalam format bermain
4. Mengkategorikan objek: sebagai bentuk klasifikasi
5. Kerja berpasangan atau berkelompok
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, anak-anak dalam tingkatan PAUD kini telah diperkenalkan dengan dunia komputer. Pembelajaran berbasis komputer kini telah menjadi bagian dari model pembelajaran PAUD. CD-CD tentang materi PAUD kini telah banyak beredar di pasar dan dapat pula didown load untuk menggantikan sebagian objek pembelajaran.

Penilaian dalam PAUD
Masa kanak-kanak sering disebut sebagai fase golden growth. Pada fase ini perkembangan otak sangat cepat begitu juga dengan kemampuan fisik yang lain. Perubahan yang begitu cepat tentu menjadikan penilaian sesaat menjadi tidak tepat, tidak reliabel. Dengan demikian model tes standar sebagai bentuk assesmen tidak tepat lagi. Model yang relatif tepat adalah model portofolio atau rekam jejak siswa. Portofolio dan rekaman dapat dijadikan bahan analisis untuk mengevaluasi tingkat perkembangan siswa. Selain itu dapat pula dengan model pengamatan terstruktur yang kontinyu sehingga perkembangannya dapat jelas disimak.

About Me

My Photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam