Hypermaskulinitas di sekolah

Akhir- akhir ini dengan mudah kita jumpai kelompok-kelompok anak muda tergabung dalam sebuah geng. Diperempatan lampu merah mudah kita jumpai geng semacam punk, ska, atau rasta dengan pakaian dan ‘uniform’ yang khas. Rambut gimbal, pakaian mirip hansip dengan tempelan khas yang menjadi simbol aliran dijadikan penanda kelompok. Eksistensi kelompok-kelompok tersebut terorganisasi secara tidak resmi dan bermahdzabkan underground.

Kelompok-kelompok tersebut kini semakin menjamur dan tidak jarang migrasi antarkota dengan transportasi kereta barang atau tronton yang semua serba gratis dan modal pas-pasan. Minimnya modal tersebut berpotensi menimbulkan tindakan kriminalitas. Tidak itu saja, pertemuan dua kelompok dengan berbeda aliran berpotensi untuk tawuran.

Tindakan-tindakan tersebut merupakan perilaku hypermaskulinitas. Sudirman Nasir (Kompas, 18 September 2008) mengutip pendapat RaeWyn Connel (2000) bahwa maskulinitas harus dilihat bukan sekedar sebagai kebalikan feminitas, tetapi harus pula dikaitkan dengan status sosial ekonomi, latar belakang ras/etnik, bahkan orientasi seksual.


Hypermaskulinitas di sekolah

Di sekolah sejatinya embrio hypermaskulinitas mudah kita temui. Kelompok-kelompok siswa di sekolah seringkali membuat atribut-atribut kelompok. Atribut-atribut tersebut berupa stiker, kaos, jaket, atau yang lainnya. Atribut-atribut tersebut bukan saja sebagai lahan bisnis bagi siswa yang memiliki sense of business tetapi menjadi simbul eksistensi , media pengaman bagi diri sendiri dari ancaman geng lain, juga sebagai ajang untuk berekspresi secara bersama – sama dalam kelompoknya.

Sejatinya hypermaskulinitas di sekolah belum menunjukkan gejala yang ekstrim sebagaimana kelompok-kelompok yang ada di sekitar lampu merah. Namun demikian keberadaannya dapat menjadi destruktif dan agresif di sekolah. Siswa dalam satu geng di sekolah bisa saja memengaruhi kondisi sekokah, pemicu tawuran antarsekolah, menjadi koordinator konvoi-konvoi yang berpotensi destruktif juga menjadi biang keladi tindakan mengompas (meminta uang atau barang dengan paksa) teman sendiri di sekolah yang tidak mau bergabung dengan kelompoknya.

Ada dua fenomena yang menarik dari keberadaan kelompok-kelompok tersebut. Yang pertama adalah harus membayar atau memiliki atribut untuk ditasbihkan sebagai anggota kelompok atau geng, dan yang kedua adalah tidak mudah untuk keluar dari kelompok tersebut selama anggota dalam kelompok masis eksis di sekolah. Adanya paksaan untuk membayar atau menggunakan atribut nampaknya menyerupai bisnis yang dipaksakan. Dengan demikian sangat mungkin bahwa ketua geng tersebut memiliki atasan tak resmi sebagai pelindung dari ketua kelompok atau ada yang memaksakan bisnis asesoris melalui ketua geng di sekolah.

Dampak dari hypermaskulinitas di sekolah tentu saja merugikan citra sekolah sekaligus siswa yang terlibat. Mudah kita jumpai siswa lebih memilih membeli asesoris geng daripada menyisihkan uang untuk membeli buku pelajaran atau bacaan. Bahkan ada pula siswa yang harus menggunakan uang SPP untuk membeli ‘uniform’ gengnya. Lebih tragis lagi hypermaskulinitas kini tidak lagi didominasi siswa laki-laki, siswa perempuan di sekolahpun kini sudah mulai bermunculan geng-geng kecil di sekolah.


Solusi

Anak usia sekolah adalah masa-masa mencari jati diri. Pencarian itu menjadi salah arah manakala tidak ditemukan mentor yang mampu menjadi idola dan memengaruhi secara positif. Terlebih bagi anak yang belum beruntung karena sosial ekonominya yang rendah atau anak-anak yang brokenhome.

Sekolah sebagai salah satu unit yang sudah menjadi kewajibannya untuk memberi pencerahan kepada siswanya melalui guru dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tidaklah efektif jika pencerahan itu hanya melalui hukuman dan larangan-larangan, terlebih hukuman dan larangan terkadang kurang atau tidak edukatif.

Sejatinya sekolah dapat melakukan tindakan preventif semenjak kegiatan MOS (masa orientasi siswa) yang selama ini belum efektif membentengi perilaku hypermaskulinitas siswa di sekolah. Materi MOS idealnya berisi bagaimana agar tidak terjebak dalam geng sekolah, bagaimana strategi keluar dari geng jika sudah telanjur terjebak, dan bagaimana mencari perlindungan yang legal jika mendapat ancaman dari geng sekolah.

Sekolah juga semestinya giat untuk merazia simbul-simbul yang dapat memberi energi destruktif bagi siswa di sekolah. Tindakan tersebut tidak perlu menunggu setelah ada kejadian yang mengkhawatirkan karena di sekolah telah ada satpam atau guru BP/BK .

Fenomena tersebut di atas, meski belum pada stadium ekstrim harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena hypermaskulinitas kini tidak saja ada dalam kelompok anak usia SMA atau SMP namun juga sudah masuk dalam wilayah sekolah dasar.


0 comments:

About Me

My photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam