SILABUS LAS

SILABUS PROGRAM PELATIHAN PENGELASAN TINGKAT TERAMPIL

Nama LPKS : Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
Tingkat : Terampil
Standar Kompetensi : Melakukan proses pengelasan menggunakan peralatan las busur manual posisi di bawah tangan, horizontal dan vertikal

Kompetensi Dasar Materi Pokok / Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber belajar
Teknik Bentuk Instrumen Instrumen
1. Memperagakan pengesetan peralatan las busur manual secara lengkap 1. Peralatan Utama
2. Peralatan Bantu
3. Peralatan Keselamatan Kerja
4. Elektrode 1. Tanya jawab mengenai produk las
2. Menjelaskan pengertian pengelasan
3. Mengidentifikasi peralatan las busur manual
4. Menjelaskan fungsi dan teknik pemakaian peralatan las busur manual 1. Menjelaskan definisi pengelasan busur manual
2. Mengidentifikasi peralatan utama las busur manual
3. Mengidentifikasi peralatan bantu las busur manual
4. Mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja las busur manual
5. Mengeset peralatan las busur manual hingga siap pakai 1. Tes
2. Perbuatan 1. Isian
2. Format Penugasan 1. Lembar soal
2. Lembar jobsheet 120 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
2. Mengidentifikasi bahan dan memperagakan pengolahan bahan menggunakan peralatan kerja bangku 1. Logam Ferro dan Non Ferro
2. Pemotongan bahan
3. Pengeboran bahan
4. Pengikiran dan penggerindaan bahan 1. Menjelaskan logam ferro dan non ferro
2. Mempraktikkan pemotongan bahan
3. Mempraktikkan pengeboran bahan
4. Mempraktikkan pengikiran dan penggerindaan bahan dan hasil las 1. Mengidentifikasi logam ferro dan non ferro pada pengelasan
2. Memotong bahan mengguna- kan gergaji manual dan mesin
3. Mengebor bahan mengguna- kan mesin bor tiang
4. Mengikir dan menggerinda bahan serta hasil akhir pengelasan 1. Tes
2. Perbuatan 1. Isian
2. Format Penugasan 1. Lembar soal
2. Lembar jobsheet 90 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
3. Memperagakan gambar teknik dan finishing menggunakan peralatan gambar kerja pengelasan 1. Gambar sambung- an las dan kampuh
2. Gambar sambung- an I, T dan Pipa
3. Pemeriksaan Visual
4. Pengujian Manual 1. Menjelaskan sam- bungan dan kampuh las
2. Menggambar sam- bungan I, T dan Pipa
3. Mempraktikkan pemeriksaan visual
4. Mempraktikkan pengujian manual hasil las 1. Mengidentifikasi gambar sambungan dan kampuh las
2. Menggambar sambungan I, T dan Pipa
3. Memeriksa visual hasil pengelasan
4. Menguji manual hasil pengelasan menggunakan palu dan alat ukur 1. Tes
2. Perbuatan 1. Isian
2. Format Penugasan 1. Lembar soal
2. Lembar jobsheet 90 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
Kompetensi Dasar Materi Pokok / Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi
Waktu Sumber belajar
Teknik Bentuk Instrumen Instrumen
4. Memperagakan teknik penyalaan las busur manual menggunakan peralatan kerja pengelasan 1. Peralatan kerja las busur manual lengkap
2. Teknik goresan
3. Teknik sentakan 1. Mempersiapkan peralatan kerja las busur manual secara lengkap
2. Memperagakan teknik goresan dan sentakan 1. Mengeset peralatan kerja las busur manual secara lengkap
2. Menyalakan las busur manual menggunakan teknik goresan
3. Menyalakan las busur manual menggunakan teknik sentakan 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 150 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
5. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi bawah tangan 1. Pengelasan sambungan I
2. Pengelasan sambungan T
3. Pengelasan sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I
2. Mengelas sambungan T
3. Mengelas sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I posisi bawah tangan
2. Mengelas sambungan T posisi bawah tangan
3. Mengelas sambungan Pipa posisi bawah tangan 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
6. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi horisontal 1. Pengelasan sambungan I
2. Pengelasan sambungan T
3. Pengelasan sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I
2. Mengelas sambungan T
3. Mengelas sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I posisi horisontal
2. Mengelas sambungan T posisi horisontal
3. Mengelas sambungan Pipa posisi horisontal 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
7. Memperagakan pengelasan sambungan I, T dan Pipa posisi vertikal 1. Pengelasan sambungan I
2. Pengelasan sambungan T
3. Pengelasan sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I
2. Mengelas sambungan T
3. Mengelas sambungan Pipa 1. Mengelas sambungan I posisi vertikal
2. Mengelas sambungan T posisi vertikal
3. Mengelas sambungan Pipa posisi vertikal 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 1080 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes
8. Mengamati dan mengidentifikasi kegiatan industri pengelasan 1. Kunjungan industri
2. Penyusunan laporan 1. Pembelajaran lapangan
2. Evaluasi pembela-jaran lapangan 1. Mengamati kinerja industri pengelasan
2. Menyusun laporan hasil kun-jungan industri 1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Surat Tugas 600 menit Industri Pengelasan di daerah Tegal dan sekitarnya.
9. Memperagakan pembuatan benda jadi mengguna- kan peralatan kerja las busur manual 1. Persiapan bahan
2. Pengelasan bahan
3. Penyelesaian akhir pekerjaan 1. Mengukur dan memotong
2. Mengelas komponen
3. Menyelesaikan akhir hasil pekerjaan
1. Mengukur dan memotong komponen benda jadi
2. Mengelas komponen
3. Menyelesaikan akhir hasil pekerjaan
1. Perbuatan 1. Format Penugasan 1. Lembar jobsheet 450 menit 1. Modul Pelatihan Las LPKS Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes

Brebes, 1 Maret 2009
Tim Instruktur Las

Bab I :Proposal las

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG PELATIHAN LAS
Krisis moneter mendera kemampuan masyarakat bawah pada titik nadir. Segala aspek kehidupan terasa berat dan berhenti mendadak. Banyak di antara anggota masyarakat yang mengambil jalan pintas dengan hal-hal yang kurang layak. Seperti makin maraknya gelandangan, pengemis, anak-anak terlantar dan naiknya angka kriminalitas.
Tidak terkecuali pada dunia pendidikan formal yang kian berat menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat. Kemampuan masyarakat makin tak dapat menjangkau perkembangan multi aspek yang tengah melanda dunia. Hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat mengikuti dari jauh terhadap kemajuan berbagai bidang.
Sejalan dengan fenomena tersebut, pendidikan berbasis kemasyarakatan menjadi alternatif mengejar ketertinggalan zaman. Meskipun sudah barang tentu tidak dapat berjalan beriringan, tetapi paling tidak mengikuti di belakangnya. Hal itu mengingat aspek finansial yang dibutuhkan untuk pendidikan formal sangat mahal, sehingga jalan pintas pendidikan kejuruan berbasis masyarakat yang nota bene menyediakan fasilitas lebih terjangkau menjadi penting untuk ditumbuhkembangkan.
Pada tahap selanjutnya muncul lembaga pendidikan berbasis kemasyarakatan yang lebih populer dengan nama Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS). Kemunculan LPKS merupakan imbas dari makin tidak terjangkaunya lembaga pendidikan formal dari Sekolah Menengah hingga Perguruan Tinggi. Pada sisi lain, masyarakat makin menghendaki pemberian bekal kecakapan kerja secara instan bagi peserta didik agar segera dapat hidup mandiri secara layak.
LPKS merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang secara instan dapat mempersiapkan tenaga kerja terampil tingkat dasar dan menengah dengan berbagai spesifikasi. Salah satu spesifikasi kejuruan yang menjanjikan masa depan lebih mapan adalah Pelatihan Las. Karena secara faktual infrastruktur pembangunan fisik suatu negara makin banyak yang menggunakan aplikasi pengelasan. Seperti bidang transportasi, properti, komunikasi, elektronika dan sipil. Banyak fasilitas yang menggunakan teknologi pengelasan.
Seiring perkembangan zaman, teknologi pengelasan juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Cakupan materi standar minimal beradaptasi secara bertahap. Muatan kurikulum senantiasa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Asumsi logik adalah anggapan bahwa kemapanan kurikulum pendidikan, secara spesifik menjadi trade mark suatu lembaga. Alumni yang dihasilkan tak perlu susah payah berebut lowongan pekerjaan, karena kualifikasi, kompetensi dan porsinya sudah jelas. Mereka bisa mandiri dengan life skills yang diperoleh atau siap mengisi job discription di lembaga, instansi, industri dan grup usaha tertentu.
B. MAKSUD DAN TUJUAN PELATIHAN LAS
Masud pelatihan las, untuk memenuhi sebagian kecil tuntutan masyarakat. Yakni telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan las bebasis kemasyarakatan yang lebih terjangkau. Tujuan pelatihan las adalah mempersiapkan tenaga pengelasan yang terampil, siap kerja sesuai life skills yang telah dimilikinya baik untuk mengisi lowongan kerja maupun untuk membuka bengkel las secara mandiri.
C. SASARAN PELATIHAN LAS
Sasaran pelatihan las adalah tamatan sekolah menengah pada awal usia produktif yang berjumlah 20 (dua puluh) orang tiap angkatan dibagi menjadi 2 (dua) kelompok kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelatihan. Tiap kelompok berjumlah 10 (sepuluh) orang dipandu seorang istruktur dibantu seorang teknisi las yang berpengalaman.

BAB II
PROGRAM PELATIHAN

A. KEBUTUHAN PELATIHAN LAS

Dengan makin tingginya kebutuhan tenaga pengelasan yang terampil, maka kebutuhan pelatihan las menjadi penting untuk dilaksanakan. Berbagai variasi teknik pengelasan yang digunakan di seluruh dunia, masih tetap menggunakan teknik dasar pengelasan busur manual sebagai kompetensi dasar teknik las.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, kebutuhan pelatihan las busur manual sebagai kompetensi dasar teknik pengelasan pada umumnya menjadi penting untuk dilaksanakan. Karena tanpa kompetensi dasar tidak mungkin untuk mempunyai kompetensi lanjut.

B. KURIKULUM DAN SILABUS PELATIHAN LAS
Kurikulum yang dikembangkan pada pelatihan las busur manual mengacu kepada aspek kebutuhan minimum seorang tenaga pengelasan terampil yang siap kerja. Di sisi lain aspek efisiensi dan efektivitas materi pelatihan menjadi dasar penyusunan kurikulum pelatihan las.
Kurikulum pelatihan las busur manual tingkat dasar mencakup :
1. Las Busur Manual
a. Perangkat Las Busur Manual
b. Teknik Penyalaan Las Busur Manual
c. Sambungan Las Busur Manual Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal
1) Sambungan I Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal
2) Sambungan T Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal
3) Sambungan Pipa Posisi Bawah Tangan, Horisontal, dan Vertikal
4) Project Work
2. Bahan dan Pengolahan
a. Logam Ferro dan Non-Ferro
b. Pengolahan Bahan
1) Pemotongan Bahan
2) Pengeboran bahan
3) Pengikiran dan Penggerindaan Bahan
3. Gambar Teknik dan Finishing
a. Gambar sambungan las dan kampuh las
b. Gambar sambungan I, T dan Pipa
c. Finishing Hasil Las
1) Pemeriksaan Kesalahan Las
2) Pengujian Hasil Las
4. Kunjungan Industri dan Studi Banding ke Bengkel Pengelasan di Tegal dan sekitarnya
Silabus Pelatihan Las Tingkat Terampil pada halaman berikutnya.

JOB DESKRIPSI STRUKTUR MA….. TAHUN PELAJARAN ….

1. Kepala Madrasah
Kepala Madrasah mempunyai tugas memimpin seluruh pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pengajaran di madrasah. Uraian pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Kepala Madrasah adalah sebagai berikut:
a. Mengatur penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di madrasah
b. Mengatur penyelenggaraan urusan tata usaha madrasah
c. Mengatur penyelenggaraan urusan kepegawaian
d. Mengatur penyeleggaraan urusan keuangan madarasah
e. Mengatur penyelenggaraan urusan sarana dan peralatan madrasah
f. Mengatur peyelenggaraan urusan rumah tangga madarasah
g. Mengatur penyelenggaraan urusan asrama
h. Mengatur penyelenggaraan urusan perpustakaan dan Laboratorium
i. Mengatur pembinaan kesiswaan
j. Mengatur hubunga antara pimpinan, guru dan siswa
k. Menyelenggarakan hubungan dengan orang tua siswa dan masyarakat
l. Melakukan pengendalian pelaksanaan seluruh kegiatan di masyarakat
m. Melakukan tugas tugas lain yang diberikan atasan

2. Wakil Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah pada MA adalah 1 (satu) orang. Untuk itu dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan paling banyak 4 orang.
Wakil Kepala Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Penyusunan rencana, pembuatan program kegiatan dan program pelaksanaan,
b. Pengorganisasian,
c. Pengarahan,
d. Ketenagaan,
e. Pengkoordinasian,
f. Pengawasan,
g. Penilaian,
h. Identifikasi dan pengumpulan,
i. Penyusunan laporan.

Wakil Kepala Sekolah pada Madrasah Aliyah membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :

A. URUSAN KURIKULUM
1) Menyusun program pengajaran;
2) Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran;
3) Menyusun jadwal dan pelaksanaan ulangan umum serta ujian akhir;
4) Menerapkan kriteria persyaratan naik/tidak naik dan kriteria kelulusan;
5) Mengatur jadwal penerimaan buku Laporan Penilaian Hasil Belajar dan STTB;
6) Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan satuan pelajaran;
7) Menyusun laporan pelaksanaan pelajaran;
8) Membina kegiatan MGMP;
9) Membina kegiatan sanggar PKG/MGMP/Media;
10) Menyusun laporan pendayagunaan sanggar PKG/MGMP/Media;
11) Melaksanakan pemilihan guru teladan; dan
12) Membina kegiatan lomba-lomba bidang akademis, seperti : LPIR, LKIR, IMO, IPHO/TOFI, mengarang dan lain-lain.

B. URUSAN KESISWAAN
1) Menyusun program pembinaan kesiswaan/OSIS
2) Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pengendalian kegiatan siswa/OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah serta pemilihan pengurus OSIS;
3) Membina pengurus OSIS dalam berorganisasi;
4) Menyusun program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental,
5) Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, kerindangan, keindahan dan kekeluargaan (6K);
6) Melaksanakan pemilihan calon siswa teladan dan calon siswa penerima beasiswa;
7) Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah;
8) Mengatur mutasi siswa;
9) Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler; dan
10) Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara berkala.


C. URUSAN HUBUNGAN MASYARAKAT
1) Mengatur dan menyelenggarakan hubungan sekolah dengan orang tua/wali siswa;
2) Membina hubungan antar sekolah dengan BP3;
3) Membina pengembangann hubungan antara sekolah dengan lembaga pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sosial lainnya; dan
4) Menyusun laporan pelaksanaan urusan sarana dan prasarana secara berkala.

D. URUSAN SARANA PRASARANA
1. Menyusun rencana kebutuhan sarana prasarana
2. Mengkoordinasikan pendayagunan sarana prasarana
3. Mengelola pembiayaan alat-alat pengajaran
4. Menyusun laporan pelaksanaan urusan sarana prasarana secara berkala

E. WAKIL URUSAN KEAGAMAAN
1. Menyusun program pengajaran
2. Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran
3. Mengatur jadwal penerimaan buku laporan penilaian hasil belajar
4. Berkoordinasi dengan Madrasah Induk
5. Mengkoordinasikan pengelolaan kegiatan akademik, kesiswaan

F. WAKIL URUSAN KETERAMPILAN
1. Mengkoordiansikan kegiatan ekstra kurikuler terstruktur ( Komputer, tata busana
Pertanian berbasis perikanan, pengelasan, bahasa Inggris, Kitab kuning)
2. Menyusun program pengajaran keterampilan
3. Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal kegiatan keterampilan
4. Mengatur jadwal penerimaan buku laporan penilaian hasil belajar ketr.
5. Mengkoordinasikan kegiatan dengan DEPNAKER, DEPAG

H. PEMBINA SISWA ( BP )

1. PEMBINA SISWA BIDANG KETERTIBAN
a. Melaksanakan tata tertib sekolah
b. Melaksanakan baris berbaris
c. Melaksanakan wisata alam, kelestarian alam dan lingkungan

2. PEMBINA SISWA BIDANG KEPRIBADIAN DAN BUDI PEKERTI
a. Melaksanakan tata krama pergaulan
b. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran rela berkorban dengan jalan melaksanakan perbuatan amal untuk meringankan beban dan penderitaan orang lain
c. Meningkatkan sikap hormat siswa kepada orang tua, guru, dan sesama siswa di lingkungan masyarakat

3. PEMBINA SISWA BIDANG BELA NEGARA
a. Melaksanakan upacara bendera pada setiap hari Sabtu dan hari besar Nasional
b. Melaksanakan bakti sosial / masyarakat
c. Mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan penanaman sikap nasionalisme

4. PEMBINA SISWA BIDANG ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN
a. Memantapkan dan mengembangkan peran siswa dalam OSIS sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing
b. Membentuk kelompok belajar berdasarkan ketekunan, kepandaian, kebersihan, ketertiban, keindahan,kekeluargaan , dan kerindangan
c. Melaksanakan latihan kepemimpinan siswa
d. Mengadakan forum diskusi ilmiah
e. Mengadakan media komunikasi OSIS (Bulletin, majalah didnding, DLL)

5.PEMBINA SISWA BIDANG KETERAMPILAN DAN KEWIRAUSAHAAN
a. Meningkatkan keterampilan dalam menciptakan suatu barang lebih berguna
b. Meningkaatkan keterampilan I bidang teknik, elektronika, pertanian, dan peternakan
c. Meningkatkan usaha keterampilan tangan
d. Meniongkatkan usaha koperasi sekolah unit usaha dan unit produksi
e. Meningkatkan penyelenggaraan perpustakaan sekolah
f. Melaksanakan praktik kerja Nyata dan PKL

6. PEMBINA SISWA KESEGARAN JASMANI DAN BIDANG KREASI SENI
a. Meningkatkan kesdaran hidup sehat di lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat
b. Melakasanakan usaha kesehatan sekolah
c. Melaksanakan pemeliharaan keindahan sekolah, penghijauan, dan kebersihan sekolah
d. Melaksanakan pencegahan penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, minuman keras, dan merokok
e. Melaksankan senam pagi Indonesia, senam kesegaran jasmani, dan olah raga lainnya
f. Mengembangkan “MOTTO SEKOLAH”

7. PEMBINA SISWA BIDANG DAYA KREASI
a. Mengembangkan wawasan dan ketermpilan siswa di bidang seni suara, seni tari, seni rupa, seni drama, musik dan fotografi
b. Menyelenggarakan sanggar berbagai macam seni
c. Meningkatkan daya cipta seni
d. Mementaskan, memamerkan berbagai cabang seni , baik karya siswa, maupun karya seni di luar lingkungan sekolah

2. GURU
Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab seorang guru meliputi:
A. Membuat program pengajaran;
1) Analisis Materi Pelajaran (AMP)
2) Program Tahunan/Cawu
3) Program Satuan Pelajaran (Satpel)
4) Program Rencana Pengajaran (RP)
5) Program Mingguan Guru
6) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
B. Melaksanakan kegiatan pembelajaran;
C. Melaksanakan kegiatan penilaian belajar, ulangan harian, catur wulan/tahunan;
D. Melaksanakan analisis hasil ulangan harian;
E. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan;
F. Mengisi daftar nilai siswa:
G. Melaksanakan kegiatan membimbing guru dalam kegiatan proses belajar mengajar;
H. Membuat alat pelajaran/alat peraga;
I. Menciptakan karya seni;
J. Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum;
K. Melaksanakan tugas tertentu di sekolah;
L. Mengadakan pengembangan bidang pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya;
M. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar masing-masing siswa;
N. Meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pelajaran;
O. Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum;
P. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.

3. Wali Kelas
Wali Kelas membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pengelolaan kelas,
b. Penyelenggaraan administrasi kelas yang meliputi:
1) Denah tempat duduk siswa,
2) Papan absensi siswa,
3) Daftar pelajaran kelas,
4) Daftar piket kelas,
5) Buku absensi siswa,
6) Buku kegiatan pembelajaran/buku kelas, dan
7) Tata tertib kelas.
c. Penyusunan/pembuatan statistik bulanan siswa,
d. Pengisian daftar kumpulan nilai siswa (legger),
e. Pembuatan catatan khusus tentang siswa,
f. Pencatatan mutasi siswa,
g. Pengisian buku Laporan Penilaian Hasil Belajar,
h. Pembagian buku Laporan Penilaian Hasil Belajar.

4. Koordinator Pengelola Laboratorium/Ruang Media Belajar Koordinator Pengelola membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Merencanakan pengadaan alat dan bahan laboratorium IPA, Bahasa, Komputer, dan Media Belajar;
b. Mengkoordinasikan jadwal dan tata tertib pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium/ ruang media belajar secara terpadu;
c. Menyusun dan mengkoordinasikan program tugas setiap Penanggung jawaban Pengelola Laboratorium dan Media Belajar;
d. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium dan media belajar.

5. Pengelola Laboratorium/Penanggung jawab Pengelola Laboratorium
Pengelola laboratorium membantu Kepala Sekolah dalam kegiatan-kagiatan sebagai berikut :
a. Merencanakan pengadaan alat dan bahan laboratorium;
b. Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium;
c. Menyusun program tugas-tugas laboran;
d. Mengatur penyimpanan dan daftar alat-alat laboratorium;
e. Memelihara dan perbaikan alat-alat laboratorium;
f. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat laboratorium; dan
g. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium.

6. Kepala Tata Usaha Sekolah
Kepala Tata Usaha Sekolah bertanggung jawaban kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Menyusun program tata usaha sekolah; ( Ishaq )
b. Mengelola keuangan sekolah; ( Nelli )
c. Mengurus administrasi ketenagaan dan siswa; ( Ishaq – Jamil )
d. Membina dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah;
e. Menyusun administrasi perlengkapan sekolah; ( Jamil )
f. Menyusun dan penyajian data/statistik sekolah; ( Jamil )
g. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 6K; ( Jamil )
h. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala. ( Ishaq )

7. Laboran Laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia).
Laboran laboratorium IPA membantu Kepala Sekolah dan Penanggung jawab/Guru Pengelola Laboratorium Fisika, Biologi, dan Kimia dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Merencanakan pengadaan alat-alat/bahan kimia laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia);
b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib pendayagunaan laboratorium IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia);
c. Menyusun program kegiatan laboran;
d. Mengatur pembersihan, pemeliharaan, perbaikan dan penyimpanan alat-alat/bahan-bahan kimia laboran IPA;
e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat/bahan-bahan kimia laboran IPA;
f. Menyusun laporan pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium IPA.

8. Teknisi Laboratorium AVA / Bahasa
Teknisi Laboratorium Bahasa membantu Kepala Sekolah dan Penanggung jawab/Guru Pengelola Laboratorium Bahasa dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Merencanakan pengadaan alat-alat media;
b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib Pendayagunaan Laboratorium Bahasa;
c. Menyusun program kegiatan teknisi laboratorium bahasa;
d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat laboratorium bahasa;
e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat laboratorium bahasa; dan
f. menyusun laporan pendayagunaan/pemanfaatan laboratorium bahasa.

9. Teknisi Laboratorium Komputer/Akuntansi
Teknisi Laboratorium Komputer/Akuntansi membantu Kepala Sekolah dan Penaggung jawab/ Guru Pengelola Laboratorium Komputer/Akuntansi dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Merencanakan pengadaan alat-alat komputer baik perangkat keras maupun lunak;
b. Membantu menyusun jadwal dan tata tertib Pendayagunaan/Pemanfaatan Komputer;
c. Menyusun program kegiatan teknisi laboratorium komputer;
d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat komputer;
e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat/perangkat komputer; dan

10 Teknisi Media
Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Merencanakan pengadaan alat-alat media;
b. Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media;
c. Menyusun program kegiatan teknisi media;
d. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan dan perbaikan alat-alat media;
e. Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat media;
f. Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media.

Bio Energi: Bukan Sekedar energi Alternatif

Selama ini bio energi diposisikan sebagai energi alternatif. Posisi alternatif terkesan tidak penting dan hanya berguna pada keadaan darurat. Untuk saat ini bolehlah istilah itu digunakan, namun penulis meyakini dengan semakin langkanya energi yang bersumber dari fosil yang tak terbarukan maka istilah tersebut akan bergeser. Pada saatnya nanti bio energi menjadi energi utama, bukan sekedar alternatif.
Kini era minyak murah dunia telah berakhir. Perang, konsumsi yang meningkat, dan menipisnya cadangan minyak mentah dunia menjadi faktor melambungnya harga minyak. Dunia tidak lama lagi akan mengalami krisis energi. Menurut Energy Information Administration yang merupakan bagian dari Departemen Energi AS (dalam International Energy Outlook, 2005) memperkirakan dalam rentang waktu 23 tahun yakni dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2025 terjadi peningkatan konsumsi minyak dunia yang fantastis, sebesar 57 persen (Kompas, 20 Agustus 2005, hlm: 37). Kenaikan tersebut terdistribusikan dalam tabel di bawah ini:
Konsumsi Energi Dunia 1990 – 2025 (Dalam Kuadriliun British Thermal Unit)
Kawasan 1990 2002 2015 2025 Pertumbuhan rata-rata tahunan
1990-2002 2002-2025
Negara Maju 183,6 213,5 247,3 271,8 1,3 1,1
Perekonomian dalam transisi 76,2 53,6 68,4 77,7 -2,9 1,6
Negara sedang berkembang 88,4 144,3 237,8 295,1 4,2 3,2
Asia 51,5 88,4 155,8 196,7 4,6 3,5
Timur Tengah 13,1 22,0 32,4 38,9 4,4 2,5
Afrika 9,3 12,7 19,3 23,4 2,7 2,7
Amerika Tengah dan Selatan 14,5 21,2 30,4 36,1 3,2 2,3
Total Dunia 348,2 411,5 553,5 644,4 1,4 2,0
Sumber : Kompas, 20 Agustus 2005

Dengan peningkatan konsumsi seperti tabel diatas maka dalam kurun waktu 36,5 tahun (sejak tahun 2002) cadangan minyak akan ludes.
Kerisauan akan ludesnya minyak dunia mau tidak mau memicu setiap negara untuk melakukakan langkah ekstensifikasi maupun diversifikasi. Langkah ekstensifikasi berarti mencari sumber energi lain (bukan berasal fosil) dan diversifikasi berarti memperbanyak alternatif lagi dengan bahan dasar minyak dicampur dengan unsur lain.
Selama ini belum ada langkah ekstensifikasi energi, jikapun ada baru sebatas simulasi seperti pemanfaatan energi surya untuk penggerak mobil. Dengan demikian langkah terbaik untuk saat ini adalah diversifikasi energi.

Kondisi Indonesia
Pemerintahan Indonesia menyadari betul akan adanya krisis energi. Kesadaran tersebut dapat dicermati dengan ditetapkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain. Dan dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Baik Inpres dan Perpres tersebut pada dasarnya menekankan kepentingan bio energi.
Menghadapi krisis ennergi tersebut Kurtubi (2005) mewacanakan pentingnya dibangun kebun energi. Kebun energi nantinya akan menjadi penyuplai bahan bakar nabati (sebagai campuran) yang berupa jarak pagar, singkong, tebu, kacang-kacangan, jagung, kelapa, kelapa sawit, bunga matahari, dan lain sebagainya.
Sebagai negara yang luas, Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk pengembangan bio energi. Hanya saja selama ini belum tergarap dengan baik karena beberapa hal: petama; minimnya riset yang berkaitan dengan bio energi, kedua; belum adanya sinergitas antara masyarakat dengan pemerintah dalam pengembangan bio energi, ketiga ; masih sedikitnya petani plasma sebagai partner dalam pengembangan bio energi, ketidaktersediaan alat sederhana untuk pengolahan bio energi dalam home industri maupun UKM (Usaha Kecil Menengah).

Langkah Strategis
Menghadapi krisis energi memerlukan langkah strategis semua pihak. Produsen, peneliti, dan pemerintah harus sinergis sehingga tidak timbul anomali program bio energi. Posisi pemerintah dalam program bio energi tidaklah cukup dengan mengeluarkan Inpres maupun Perpres, yang paling ditunggu adalah regulasi nyata dalam program ini. Dalam hal ini pemerintah harus memfasilitasi dan memberi insentif terhadap riset-riset yang concern dalam bidang bio energi, jika perlu memfasilitasi dalam pemberian hak paten terhadap hasil penelitian. Dalam kaitanya dengan produsen maka pemerintah memfasilitasi pengadaan bio energi dari hulu sampai hilir. Dalam hal produksi maka pemerintah harus memperhatikan pemasok bahan baku bio energi (dalam hal ini petani) sampai pengolah (pemroduksi bio energi).
Dengan demikian maka program bio energi sejatinya program pemberdayaan petani, UKM, dan BUMN bidang energi. Dalam kaitanya dengan pemberdayaan petani (khususnya petani plasma) dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Survei lahan yang cocok untuk tanaman sumber bio energi, dapat pula memanfaatkan proyek lahat gambut yang terlantar.
2. Pengadaan bibit, pupuk, dan pembinaan menyangkut karakteristik produksi tanaman yang standar untuk pengolahan bio energi, semisal ukuran, kadar air, umur, dan lain sebagainya.
3. Pemberian kredit lunak terhadap petani plasma.
4. Membuka selebar-lebarnya peluang untuk menjadi petani plasma
5. Memberi insentif dan penghargaan khusus kepada petani yang berhasil.
6. Membangun sentra-sentra bio energi.
UKM dalam program ini dapat memposisikan diri dalam pengadaan mesin-mesin dari yang tepat guna (sederhana) sampai yang canggih, serta dapat menjadi broker bahan setengah jadi kepada BUMN atau perusahaan swasta lainnya.
Kelangsungan energi masa depan bergantung pada kemampuan melakukan diversifikasi dan ekstensifikasi energi, dan eksistensi suatu negara sangat ditopang oleh kondisi energi nasionalnya. Indonesia sebagai negara yang kaya akan potensi nabatinya sudah seharusnya menjadikan rintisan bio energi sebagai energi utama, bukan sekedar alternatif.

Implementasi Lesson Study dengan Pendekatan Multy Creative Learning Abstract

Pendahuluan
Tujuan lesson study adalah memotivasi peserta didik aktif belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan usaha individu pembelajar untuk mencapai suatu kompetensi akademis. Dengan demikian dalam belajar mandiri pembelajar menentukan tujuan pembelajarannya, merencanakan prosesnya, menggunakan sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajar (Brookfield dalam Paulinna Pannen, dkk. 2001). Model belajar mandiri adalah student centered, berpusat pada siswa. Tugas guru dalam belajar mandiri sebagai fasilitator dan mediator, tidak lagi memposisikan diri sebagai aktor utama yang mendominasi pembelajaran.
Realitas menunjukkan, sampai dengan sekarang belajar mandiri kurang berjalan dengan baik. Sepanjang pengamatan penulis, beberapa faktor penghambat dalam belajar mandiri adalah:
1. Kurangnya inovasi dalam pembelajaran sehingga cenderung menggunakan pola lama yakni pembelajaran yang berpusat pada guru.
2. Kurangnya pemanfaatan sumber daya sekitar baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
3. Belum terbentuknya komunitas keilmuan di lingkungan sekolah sehingga minim kegelisahan akademik baik pada level guru maupun siswa.
4. Ketiadaan program sister school yang berorientasi pada kualitas peningkatan pembelajaran.
5. Komunitas guru antarsekolah dalam program MGMP belum berjalan dengan optimal, program yang dilaksanakan sebatas pemenuhan administrasi profesi.
Tulisan ini berupaya menemukan breaktrough sehingga lesson study dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas dengan menitikberatkan pada model-model pembelajar atau strategi pembelajaran sebagai bentuk inovasi pembelajaran dan sebagai upaya menjadikan siswa tergugah untuk belajar mandiri sebagaimana tujuan lesson study.
Siklus Lesson Study
Ada tiga siklus dalam lesson study. Prinsipnya siklus selalu kontinyu, berulang untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Menurut Hendayana (dalam Parmin, 2008) tiga siklus dalam lesson study berupa plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi). Secara skematis digambarkan sebagai berikut:






Rencana yang dimaksud dalam siklus ini adalah rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran merupakan rencana jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran (Khaerudin dan Mahfud Junaedi, 2007). Dalam perencanaan beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian.
Dalam perencanaan terdapat beberapa prinsip yang dapat dikembangkan yakni:
1. Kompetensi yang dirumuskan dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran harus jelas.
2. Rencana yang disusun harus sederhana dan fleksibel.
3. Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam rencana pelaksanaan menunjang ketercapaian kompetensi yang digariskan.
4. Utuh dan menyeluruh.
5. Dikoordinasikan dengan lingkungan dan seluruh stakeholder sekolah.
Rencana pembelajaran yang disusun lebih mengerucut lagi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik. Dengan demikian RPP menekankan pada action guru dan murid. Agar model pembelajaran guru variatif maka diperlukan MCL (Model Creative Learning).
Do (melaksanakan) berangkat dari perencanaan. Melaksanakan merupakan bentuk tindakan yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana (Suwarsih Madya, 1994). Dalam praktiknya tindakan atau pelaksanaan dituntun oleh perencanaan, namun tidak mutlak mengikuti perencanaan karena yang dihadapi adalah dunia nyata (siswa di kelas atau laboratorium).
Dalam siklus kedua ini dilakukan observasi. Observasi dilaksanakan untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait, artinya tindakan sebagai buah dari perencanaan diobservasi sebagai bahan refleksi sekarang dan sebagai pijakan pada siklus berikutnya. Observasi penting dilaksanakan karena dalam praktik senantiasa terbatas oleh kendala dan terdapat celah untuk perbaikan.
Siklus yang ketiga adalah see (merefleksikan). Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam perencanaan dan tindakan.

Multy Creative Learning
Multy Creative Learning atau MCL didefinisikan sebagai model –model pembelajaran atau model-model strategi pembelajaran. Implementasi dari setiap strategi harus melihat kondisi, kompetensi dasar, materi, apersepsi dari siswa, dan tentu model pengelolaan kelas yang diterapkan (klasikal atau individual). Dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 46 model dan bentuk penilaian proses pembelajaran setidaknya terdapat 18 strategi (Hisyam Zaini, dkk., 2002).
Ke-46 model atau strategi pembelajaran yang dimaksud adalah critical incident, prediction guide, teks acak, reading guide, group resume, prediksi kawan, assessment search, quistions students have, instant assessment, active knowledge sharing, true or fals, inquiring minds want to know, listening teams, guided note taking, synergetic teaching, guided teaching, active debate, point-counterpoint, reading aloud, learning starts with quistion, planted quistions, information search, card short, the power of two, team quiz, jigsaw learning, every one is teacher here, peer lessons, learning contract, index card math, giving questions and getting answer, croosword puzzle, physical self assessment, keep on learning, modeling the way, billboard ranking, silent demonstration, practice rehearsal pairs, lightening the learning climate, metode ceramah, role play, the learning cell, diskusi, dan bermain jawaban (Hisyam Zaini, dkk., 2002).

Idealnya guru sebagai fasilitator dan mediator mempelajari berbagai ragam pembelajaran tersebut yang nantinya diaplikasikan dan divariasikan dalam pembelajaran.

Implementasi Strategi Pembelajaran dalam Lesson Study
Dalam implementasi strategi pembelajaran dalam lesson study tentu berangkat dari siklus pertama yakni perencanaan. Dalam konteks ini guru mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, pengelolaan kelas, dan karakteristik materi serta tingkat kesukaran. Langkah berikutnya adalah memilih strategi yang paling tepat agar daya serap siswa maksimal dan mengarahkan siswa menjadi pembelajar mandiri.

Ayo Lestarikan Hutan

Lestari hutanku, lestari alamku, lestari tanah airku. Lestari adalah kelanggengan, keberlanjutan, sustainability, lestari tidak ada jika tidak diciptakan. Salah satu unsur kehidupan yang harus dilestarikan adalah kelestarian lingkungan hidup. Hutan merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan hidup, bahkan bagian terpenting karena hutan adalah paru-paru dunia.
Banyak cara untuk melestarikan hutan, setiap individu memiliki cara tersendiri, namun banyak yang tidak memanfaatkan kapasitas diri untuk melestarikan hutan, bahkan terkadang justru merusaknya baik disadari maupun tidak. Hal penting yang perlu ditanamkan pada setiap individu adalah bagaimana berperan atau berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian hutan sebagai bagian terpenting dari lingkungan hidup. Partisipasi dari setiap individu ada jika ada yang menjadi volunteer dan ada yang mengajak . Untuk itu setidak-tidaknya yang perlu dilakukan adalah mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk melestarikan hutan.
Tidak semua individu tertarik dan mau mengikuti ajakan seseorang. Itu wajar, karena bisa jadi ajakan tidak menarik, susah dimengerti, tidak operasional, atau ajakan itu hanya sekedar jargon yang tendensius. Bahkan bisa jadi ajakan itu disikapi secara skeptis jika dilakukan oleh figur-figur yang memiliki track record kurang bagus dimata masyarakat. Mengajak tidak cukup hanya dengan wacana dan tidak cukup pula melalui iklan di media cetak atau elektronik. Ajakan akan diikuti jika ajakan itu menyentuh hati individu yang diajak. Dengan kata lain ajakan itu harus mampu menghipnosis individu yang diajak.
Mengajak yang efektif
Meminta seseorang untuk mengikuti kemauan kita tentu harus memperhatikan banyak hal antara lain waktu, karakteristik yang diajak, dan mengemas isi ajakan dengan baik. Waktu menjadi variabel penting yang haruis diperhatikan, ajakan tidak efektif jika kondisi masyarakat sedang kacau, chaos karena faktor ekonomi, alam, dan atau isu politik yang tidak menentu.

Contoh Proposal

I. KERANGKA DASAR PEMIKIRAN

Pada masa sekarang, kemampuan berbahasa merupakan syarat mutlak untuk dapat berkomunikasi, mempelajari perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, mengingat bangsa Indonesia merupakan pasar terbesar dunia dalam WTA (World Trade Assosiation).
Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 Jurusan Keagamaan (MAK) yang berlokasi di pondok pesantren salah satu penyelenggara jasa pendidikan yang bertujuan untuk memproduksi tenaga ahli di bidang agama yang sesuai dengan tuntutan zaman, berusaha menjawab tantangan yang semakin kompleks dengan cara memodifikasi kurikulum pendidikan dengan mengintegrasikan kurikulum keterampilan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar). Ketrampilan yang diintegrasikan dalam kurikulum MAK Al Hikmah 2 ini adalah ketrampilan Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Kajian Kitab Turats. Bentuk lain dari modifikasi kurikulum yang diberlakukan adalah dengan menambah masa belajar siswa siswa MAK dengan tujuan terpenuhinya standar kurikulum nasional, kurikulum pesantren dan juga kurikulum keterampilan, sehingga siswa-siswa MAK Al Hikmah menempuh masa studi 4 tahun. Tahun pertama adalah Kelas Persiapan (Matriculation) dimana siswa hanya menerima beberapa pelajaran yang merupakan pelajaran ilmu alat seperti Nahwu Shorof, B. Inggris, B. Arab, B. Indonesia dan Matematika, sehingga ketika masuk pada tahap kelas lanjutan siswa sudah siap belajar dengan media pengajaran berbahasa Arab dan Inggris.
Bahasa Inggris dan Bahasa Arab terus membenahi kurikulum sebagai software dalam PBM dan juga peralatan-peralatan laboratorium sebagai hardware guna memperoleh kegiatan pembelajaran yang optimal.
Untuk mengevaluasi pembelajaran Bahasa Inggris, setiap akhir tahun pelajaran , siswa spesifikasi Bahasa Inggris mengikuti program luar sekolah, yaitu School’s Out Programme (SOP) di pusat – pusat turisme di Yogyakarta dan Jateng, di samping test tertulis. Sejak tahun pelajaran 2002/2003 sampai sekarang, pengukuran kemampuan penguasaan Bahasa Inggris mereka dilakukan melalui Test TOEFL (kerjasama dengan PPB UGM); dan berdasarkan hasil tes tersebut, kemampuan bahasa Inggris mereka cukup menggembiran. Hampir 60% siswa TOFL memeperoileh nilai di atas 400.
Sementara itu, suatu PBM dapat berjalan dengan efektif bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam PBM salaing mendukung untuk mencapai tujuan, yang apabila komponen-komponen tersebut di gambarkan dalam skema adalah sebagai berikut:
















Pemberlakuan kurikulum hasil modifikasi adalah salah satu wujud konkret dari efisiensi PBM dengan keterkaitan eleme-elemen di atas, terutama pondok pesantren yang secara otomatis mempunyai komunitas ilmiah yang sangat mendukung. Memperhatikan bagan di atas maka hal yang masih sangat perlu dikembangkan adalah justru fasilitas-fasilitas teknisnya ( hardware).

II. TUJUAN

1. MAK Al hikmah 2 Benda berusaha untuk menyiapkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan yang komprehensip baik pengetahuan agama maupun umum.
2. Intensifikasi bahasa diarahkan untuk terciptanya komunitas yang lancar berbahasa Inggris dan berbahsa Arab.

III. PELAKSANAAN

Nama proyek : Pengembangan Program Bahasa MA Kegamaan PP Al Hikmah 2 Kegiatan : Peningkatan fasilitas Program Bahasa
Lokasi : MAK Al Hikmah 2, Pon-Pes Al Hikmah Sub Timur Benda Sirampog Brebes
Biaya : Rincian biaya terlampir
Sumber dana : a. Swadana
b. Bantuan

IV. LAIN – LAIN

A. Data Inventaris laboratorium Bahasa


NO NAMA BARANG KODE BARANG JUMLAH
1 Komputer Win 98 001/AVA/00 1
2 Priter canon 2100SP 002/AVA/00 1
3 TV 29' inch 003/AVA/00 1
4 Tape Recorder 004/AVA/02 1
5 Sound System 005/AVA/00 4
6 Lemari 006/AVA/00 1
7 White Board 007/AVA/00 1
8 AC National 008/AVA/02 1
9 Jam Dinding 009/AVA/00 1
10 Kursi Guru 010AVA/00 1
11 Meja Guru 011AVA/00 1
12 Taplak Meja 012AVA/00 1
13 Kursi Siswa 013AVA/00 26
14 Kaset
15 Tuning In The USA 014/AVA/00 2
16 Step By Step 015/AVA/00 2
17 Qosidah English 016/AVA/02 2
18 Kaset Latihan 017/AVA/02 22
19 Conversation Eng-Ame 018/AVA/00 1
20 Kaset Video 019/AVA/00 1
21 VCD Animal 020/AVA/01 2
22 Buku
23 Step By Step 021/AVA/02 2
24 Tuning In The USA 022/AVA/00 1
25 Kamus Hasta 023/AVA/00 1
26 Kamus Oxford 024/AVA/00 2
27 English Structure 025/AVA/00 1
28 Tata Bahasa English 026/AVA/00 1
29 TOEIC 027/AVA/02 1
30 English in use 028/AVA/00 4
31 English SMA GBPP 1987 029/AVA/00 1
32 English World's Window 030/AVA/00 1
33 Naseerdin 1-4 031/AVA/02 4

















































SUSUNAN PANITIA
PROYEK PENGEMBANGAN LABORATORIUM BAHASA
MA ALHIKMAH 2 BENDA SIRAMPOG BREBES

About Me

My photo
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Saya adalah seorang pendidik, alumni pasca sarjana dalam bidang pemikiran pendidikan. Essay-assay saya dipublikasikan di Kompas Jateng, Suara Merdeka, Gerbang, Rindang, Media Pembinan, detik.com, okezone.com Pernah Menjuarai penulisan ilmiah kelompok guru di harian Kedaulatan Rakyat, menjadi finalis lomba inovasi pembelajaran di UNNES, dan menjadi pemakalah terpilih dan pembicara dalam Konferensi Guru Indonesia tahun 2007. Tahun 2008 menjadi pemakalah dalam International conference on lesson study di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2009 terpilih sebagai penerima dana bantuan penulisan dari PUSBUK. Tahun 2010 menjadi pemenang harapan 3 lomba media pembelajaran tingkat nasional .Buku: 1. Kebijakan Publik Bidang Pendidikan.2. Profil Guru SMK Profesional 3. Editor buku Sejarah Kebudayaan Islam